MODERNISASI
 
Berikut ini adalah interpretasi pribadi saya yang tercipta dan ter-' tangkap' 
sekilas setelah setengah mati saya membaca tulisan sosiolog Iran,-- siapa lagi 
bila bukan .....Mr. Ali Syari'ati. Menurut Syari'ati, semenjak renaisans dan 
revolusi industri, jelas sudah arah nahkoda peradaban Eropa adalah ke 
modernisasi dan konsumsi. Dalam penekanan buah pikirnya di naskah 'Peradaban 
dan Modernisasi', Syari'ati menjelaskan bahwa pangkal muasalnya adalah 
didewakannya mesin produksi, dimana semenjak revolusi industri terus - menerus 
dipacu produktivitasnya. Mesin produksi --pabrik-- dituntut untuk selalu 
berproduksi hari ini lebih banyak daripada kemarin. Sebetulnya ini adalah hal 
lumrah. Dalam hitungan teknik, hal ini biasa disebut dengan peningkatan 
unjuk-kerja. Dan hal ini adalah sah - sah saja. Efektifitas mesin produksi 
haruslah diukur dari skala produktivitas.
 
Yang jadi perkara adalah ketika pasar di Eropa sudah jenuh. Inilah yang 
di-'perkara'-kan oleh Syari'ati. Ya bagaimana lagi ? Mesin-mesin  ini terus 
saja mencetak produk - produknya makin banyak sahaja. Sementara untuk menyerap 
produk itu maka daya beli masyarakat didongkrak, daya konsumtif masyarakat 
ditingkatkan, ...tetapi tetap saja produksi lebih banyak dan lebih banyak. Dan 
ketika pasar Eropa sudah mbludak oleh barang - barang, maka direncanakanlah 
proyek lintas benua ekspansi penjualan. Mungkin hal ini mirip ekspansi di era 
penakluk-an. Cuma bedanya di era penakluk-an para saudagar dan tentara Eropa 
yang dipelopori Portugis, Spanyol, dan Inggris melakukan pendekatan Gold & 
Glory, ...dan kali ini mereka melakukan pendekatan dengan semboyan 
'modernisasi'.
 
Yang dimaksud Syari'ati dengan modernisasi di sini adalah suatu aktivitas untuk 
mengubah masyarakat non-Eropa agar berlaku seperti orang Eropa, agar mereka 
menjadi konsumtif seperti masyarakat Eropa, dan lantas mereka membeli barang - 
barang produksi Eropa. Hal ini menyentuh hingga tingkat kultur / budaya. Yang 
jadi santapan empuk adalah para mahasiswa dari Asia dan Afrika yang sekolah di 
Eropa, mereka terendam dengan kampanye 'westernisasi' ini, mereka diusahakan 
meninggalkan tatakrama, pakaian, dan bahasa asal mereka...Mereka diubah agar 
berlaku, berpakaian, dan berbahasa seperti orang Eropa. Seakan gayung bersambut 
dengan pikiran Syari'ati --tokoh kulit hitam Franz Fanon  juga menganggap bahwa 
setelah para mahasiswa itu kembali ke tanah airnya, mereka menjadi agen Eropa 
untuk mengubah masyarakatnya.
 
Nggak cuma lewat 'mahasiswa', para pegiat'modernisasi' ini-pun ekspansi dan 
penetrasi beneran ke tanah jajahan. Tengoklah ketika jaman Belanda dulu orang 
Jawa tidak ada yang memakai rok. Semua wanita Jawa memakai kain batik (sewek). 
Tetapi karena ada unsur penetrasi, maka beberapa mulai mengenakan rok, dengan 
mengesankan bahwa mengenakan rok adalah bangsawan kelas atas.
Di Afrika dahulu kala kaum lelaki menunggang kuda dan demikian bangga dengan 
kudanya, namun kini mereka bangga dengan mengendarai mobil. Mungkin sampai sini 
pikiran Ali Syariati bisa dinilai terlalu ekstrim dan menggelikan. Lha iya 
mosok jaman sekarang mau naik kuda ?
 
Tapi ambil makna dari uraian Syariati berikut ini. Syariati muda adalah seorang 
mahasiswa sosiologi di kampus Eropa-- yang mana pernah hendak direkrut oleh 
sebuah pabrik mobil. Dalam interview, diuraikan bahwa marketing produk tersebut 
hendak menjual mobil ke Asia dan Afrika --karena pasar Eropa sudah jenuh. Salah 
satu caranya adalah mengubah sosio-kultur masyarakat 'terbelakang' tersebut. 
Dalam konteks modernisasi, maka Asia dan Afrika adalah terbelakang. Diceritakan 
juga salah satu cara sales kendaraan itu untuk bisa menjual mobilnya ke suku 
pedalaman di daerah Chad-Afrika adalah dengan memberikan dua mobil untuk 
diparkir di pintu gerbang rumah kepala suku sebagai ganti kuda elit yang biasa 
diikat disitu. Lantas dibangun jalan darurat sepanjang delapan kilometer 
melintas tengah desa di pelosok hutan itu, soalnya memang nggak ada jalan sama 
sekali. Dan bensin harus dikirim dengan sampan. Seorang sopir didatangkan 
khusus untuk nyopiri kepala suku hilir mudik beberapa kali dalam sehari. Lama - 
lama warga kepincut juga. Dengan cara seperti ini, mobil bisa terjual di daerah 
itu. Sebetulnya itu cuma hal mobil, tetapi yang dahsyat adalah bahwa masyarakat 
itu sudah berubah. Mereka semula mendewakan kuda, tetapi kini mereka mendewakan 
mobil --mirip cowboy Amerika yang dulunya gagah dengan kuda dan laso, namun 
kini mentereng dengan Ford dobel-kabin-nya.
 
Demikian juga dengan kosmetik, pakaian, alat elektronik dan simbol konsumtif 
--sekaligus simbol modernisasi. Semua itu hendak di-'jual' ke Asia dan Afrika 
dengan cara mengubah keinginan masyarakatnya. Bila dulu pengen pergi naik kuda, 
bagaimana caranya supaya mereka jadi pengen naik mobil ? Bila mereka dulu 
menghiasi wajahnya dengan getah karet, bagaimana caranya agar mereka mau 
memakai Christian Dior dibubuhkan ke pipinya ? Apabila dulu orang mengenakan 
sarung, bagaimana caranya supaya mau menjajal celana jeans ?
Fenomena masuknya jeans berarti menggusur sarung. Sarung yang berpola khas 
daerah akan hilang beserta alat tenunnya, musnah. Seperti mozaik Astec, seperti 
kaligrafi Arab, seperti relief candi Borobudur, pola sarung adalah hasil 
budaya. Artinya, sebagian peradaban dan budaya masyarakat tersebut ikut musnah 
bersamaan dengan dicampakkannya sang sarung tadi. Ini adalah pertanda keretakan 
budaya.
 
Menurut Syari'ati, semakin modern masyarakat, belum tentu menjadi semakin 
beradab. Karena ada bukti peradaban yang  luhung / tinggi --jaman dulu-- tetapi 
tidak membutuhkan Renault,  tidak butuh Christian Dior, dan alat elektronik 
juga nggak ada. Contohnya adalah jaman nabi Muhammad, jaman keemasan China, dan 
sebagainya. Dan menurut Syari'ati lagi, bahkan banyak masyarakat yang makin 
tidak beradab gara - gara ikut - ikutan mengkonsumsi produk modern dari Eropa 
tersebut.
Ya, modernisasi memang tidak sama dengan peradaban (madani), karena peradaban 
lebih menekankan masalah budaya, hukum, ideologi masyarakat, dan tatanan 
sosial. Sementara modernisasi adalah menekankan penggunaan peralatan dan 
barang'baru'.
 
Singkatnya, menurut Syari'ati apa yang dilakukan bangsa Eropa adalah 
mengembangkan pasar, mempromosikan gaya hidup konsumtif untuk menghabiskan 
produk mereka yang makin bejibun itu. Ke seluruh penjuru alam semesta kalo 
perlu. Salah satu kampanyenya adalah kampanye 'nilai universalitas' ala Eropa 
dan Amerika. Maksudnya adalah membuat bangsa non- Eropa menjadi seragam dengan 
bangsa Eropa --dalam rupa apa-pun seperti bentuk atap rumah, corak pakaian, 
gaya hidup-- sehingga mereka mengkonsumsi barang yang serupa juga. Dan yang 
terakhir, Eropa dan Amerika juga kampanye mengenai 'globalisasi dunia', dengan 
maksud agar seluruh dunia seragam dari sisi apapun termasuk ideologi dan 
-isme-nya, hukum, tatanan masyarakat, dan kondisi kulturnya  sehingga makin 
mudah dikendalikan dan menjadi pasar yang mampu menyerap produk mereka. karena  
penghalang terbesar ekspansi pasar itu  adalah perbedaan -isme. Contohnya 
adalah dagangan rok mini musim panas yang demikian laku di Eropa, pasti 
penjualannya akan terganjal ideologi dan ajaran Islam di Asia.
 
Ah. Terus terang hal tersebut belum pernah saya pikirkan secara detail seperti 
itu. Sebagai seorang lulusan teknik, saya cukup ciut nyali juga ketika membaca 
analisa Syari'ati tentang dampak revolusi industri yang demikian getir ini. 
Namun bagaimana-pun Ali Syari'ati memang selalu memberi saya banyak hal - hal 
baru.[] 
 
 haris fauzi - 30 maret 2007
 
 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke