DI BALIK RAPUHNYA KAPITALISME

Oleh : KH M Shiddiq Al-Jawi


Kapitalisme adalah istilah yang dipakai untuk menamai sistem ekonomi yang 
mendominasi dunia Barat sejak runtuhnya feodalisme sejak abad ke-16 (Dillard, 
1987). Milton H. Spencer dalam bukunya Contemporary Macro Economics (1977), 
mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah organisasi ekonomi yang dicirikan 
oleh kepemilikan individu atas alat-alat produksi dan distribusi serta 
pemanfaatan kepemilikan individu itu untuk memperoleh laba dalam 
kondisi-kondisi yang sangat kompetitif (Winardi, 1990). 


Tak dapat dipungkiri, kapitalisme sebagai sistem ekonomi kini tengah berjaya di 
tingkat global terutama setelah momentum hancurnya sosialisme di awal 1990-an. 
Hampir seluruh negara di dunia, menerapkan kapitalisme dengan berbagai 
variasinya. Robert Gilpin dan Jean Millis Gilpin dalam bukunya The Chalenge of 
Global Capitalism (2000) bahkan memuji kapitalisme sebagai "sistem ekonomi 
pencipta kesejahteraan paling berhasil yang pernah dikenal di dunia." 


Namun para pemuja fanatik kapitalisme itu lupa untuk menyoal, siapa yang 
menikmati kesejahteraan itu. Sebagian besarnya hanya dinikmati negara-negara 
penjajah kaya. Artinya, kapitalisme telah gagal total dalam distribusi 
pendapatan global. Pada tahun 1960, 20 % penduduk dunia terkaya menikmati 75 % 
pendapatan dunia; sedang 20 % penduduk termiskin hanya menerima 2,3 % 
pendapatan dunia. Pada tahun 1997 ketimpangan global itu bukan makin berkurang 
tapi makin parah. Sebanyak 20 % penduduk terkaya itu menikmati pendapatan 
global makin banyak, yakni 80 %. Sedang 20 % penduduk termiskin menerima 
pendapatan global makin sedikit, yakni menjadi 1 % saja (Spilanne, 2003).

Tak hanya gagal dalam distribusi, kapitalisme sesungguhnya saat ini tengah 
meluncur menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda kerapuhan kapitalisme makin 
terlihat. Harry Shutt dalam bukunya Runtuhnya Kapitalisme (2005) menyebutkan 
bahwa kapitalisme kini sedang mengalami "gejala-gejala utama kegagalan secara 
sistemik". Misalnya, semakin lesunya pertumbuhan ekonomi dan semakin seringnya 
krisis keuangan. 


Jelas ada yang salah dalam kapitalisme. Kesalahan ini bagaikan cacat bawaan 
yang melekat pada kapitalisme sejak kelahirannya. Cacat ini sedemikan fatalnya 
sehingga yang diperlukan bukan lagi koreksi berupa pembaruan atau perbaikan 
pada lapisan kulitnya saja, namun perombakan total untuk membentuk sistem yang 
sama sekali baru (Jerry Mander dkk, 2004). Tulisan ini berusaha menguraikan 
faktor-faktor yang menimbulkan kerapuhan kapitalisme dan akan langsung 
dibandingkan dengan solusi alternatifnya menurut Islam.


Ekonomi Berbasis Moneter 

Kapitalisme modern saat ini dibangun dengan monetary based economy (ekonomi 
berbasis sektor moneter/keuangan/non riil), bukan real based economy (ekonomi 
berbasis sektor riil). Artinya, kapitalisme dominannya bermain di level atas 
dari ekonomi riil. Rente (keuntungan) ekonomi diperoleh bukan melalui kegiatan 
investasi produktif (produksi barang dan jasa), melainkan dalam investasi 
spekulatif melalui sektior non riil (keuangan), misalnya melalui kredit 
perbankan serta jual beli surat berharga seperti saham dan obligasi (Harahap, 
2003). Dalam ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan inilah, kapitalisme tidak 
dapat dilepaskan dengan bunga (riba).


Sistem ekonomi non riil ini berpotensi besar untuk meruntuhkan sistem keuangan 
secara keseluruhan. Menurut The Morgan Stanley yang dikutip David Ignatius 
(Washington Post, 15/11/2002) pada tahun 2001 dan 2002 jumlah obligasi yang 
default (gagal bayar) sebesar Rp 1650 triliun. Jumlah ini lebih besar dari 
jumlah obligasi yang default selama 20 tahun sebelumnya jika seluruhnya 
diakumulasikan. Kompas (16/01/2003) memberitakan US $ 277 miliar obligasi di 
Amerika tidak bisa dibayar. Ini baru dari aspek surat berharga obligasi yang 
berbasis bunga (interest based) (Harahap, 2003).


Dari aspek kredit bank dapat diketahui juga bahwa kualitas aktiva produktif 
(kredit) di Amerika semakin lama semakin turun. Menurut data Moody's Ratio of 
Credit Downgrades to Upgrades, terlihat bahwa kredit bank di Amerika semakin 
menurun sejak tahun 1995 hingga tahun 2003. Ini membuktikan pola kredit 
perbankan berbasis bunga dapat membahayakan kelangsungan perbankan itu sendiri, 
dan pada akhirnya dapat membahayakan sektor riil dan perekonomian secara umum 
(Harahap, 2003).


Islam, berbeda dengan kapitalisme. Islam tidak mengakui keberadaan sektor non 
riil yang berbasis bunga, karena Islam telah mengharamkan riba, termasuk bunga 
(QS 2:275). Dengan kata lain, dalam Islam, uang bukanlah komoditi yang 
karenanya uang mempunyai harga. Harga uang inilah yang dalam teori-teori 
kapitalisme disebut bunga. Menurut buku UK Budget Red Books 1990,"...Suku bunga 
merupakan harga dari uang dan kredit..." (El-Diwany, 2003). Uang dalam Islam 
hanyalah sebagai alat tukar saja, bukan sebagai komoditi sebagaimana dalam 
kapitalisme.


Dengan kata lain, ekonomi Islam adalah real based economy (ekonomi berbasis 
sektor riil), yang merupakan kebalikan total dari ekonomi kapitalisme yang 
dibangun dengan monetary based economy. Keuntungan hanya diperoleh melalui 
jerih payah nyata (riil) dalam produksi barang atau jasa. 


Ekonomi Berbasis Uang Kertas (Fiat Money)

Fiat money (mata uang kertas) adalah uang kertas yang secara legal diakui 
pemerintah melalui dekrit sebagai uang resmi, tapi tidak ditopang dengan logam 
mulia seperti emas dan perak (Hamidi, 2007). 


Uang kertas itulah yang sekarang digunakan oleh negara-negara kapitalis seperti 
Amerika Serikat. Sejak berakhirnya sistem Bretton Woods yang mengaitkan dolar 
dengan emas (1 ounce/28,35 gram emas = 35 dolar AS) pada tahun 1970-an, dolar 
AS tidak ditopang lagi dengan emas dan dapat berlaku hanya karena kepercayaan 
(trust) orang pada dolar. Seiring dengan dominasi kapitalisme AS, mata uang 
dolar kini menjadi salah satu mata uang kuat (hard currency) dunia yang 
digunakan sebagai standar nilai dan alat pembayaran dalam perdagangan 
internasional.


Sistem uang kertas ini merupakan salah satu akar kerapuhan kapitalisme. Betapa 
tidak, sebab bila dibandingkan dengan mata uang Islam (dinar dan dirham), uang 
kertas sesungguhnya mempunyai kelemahan mendasar, antara lain selalu terkena 
inflasi permanen (Hamidi, 2007). Di samping itu uang kertas jauh dari nilai 
keadilan (fairness) lantaran nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai 
nominalnya. 


Mengenai inflasi permanen, perhatikan ilustrasi berikut. Misalkan Anda 
meminjamkan uang kepada teman Anda tahun ini sebesar Rp 100 juta rupiah. Teman 
Anda akan mengembalikan sejumlah Rp 100 juta juga tapi 10 tahun lagi. Samakah 
nilai Rp 100 juta sekarang, dengan Rp 100 juta untuk 10 tahun lagi? Jelas tidak 
sama, karena uang kertas rupiah ini akan mengalami depresiasi (penurunan nilai) 
karena inflasi permanen. Inilah kelemahan mendasar uang kertas.


Mata uang Islam (dinar dan dirham) berbeda dengan mata uang kapitalisme. Dinar 
dan dirham terbukti dalam sejarah sangat kecil sekali inflasinya. Di masa 
Rasulullah SAW dengan uang 1 dinar (4,25 gram emas) orang dapat membeli seekor 
kambing, dan dengan uang 1 dirham (2,975 gram perak) dapat dibeli seekor ayam. 
Pada masa sekarang ini di tahun 2007, dengan uang yang senilai 1 dinar orang 
masih dapat membeli seekor kambing. Dengan uang senilai 1 dirham orang sekarang 
masih dapat membeli seekor ayam. Luar biasa, bukan?


Pada mata uang kertas, nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai nominalnya. 
Ini jelas tidak adil. Misalkan untuk mencetak uang dengan nilai nominal 1 dolar 
AS, diperlukan biaya yang besarnya hanya 4 sen dolar AS. Jadi nilai intrinsik 
uang 1 dolar sebenarnya hanya 4 sen dolar. Kalau kurs 1 dolar AS misalkan 
senilai Rp 10.000, berarti 4 sen dolar hanya sebesar Rp 400. Nah, sekarang 
kalau mau mencetak uang 100 dolar AS, berapa biaya produksi yang diperlukan? 
Jelas sekali tidak akan jauh berbeda dengan biaya mencetak uang 1 dolar AS 
(Hamidi, 2007).


Beda dengan uang kertas, pada dinar dan dirham nilai intrinsik dan nominalnya 
menyatu, tidak bakal ada perbedaan. Mengapa? Sebab nilai nominal dinar atau 
dirham, ditentukan semata oleh berat logamnya itu sendiri yang sekaligus 
menjadi nilai intrinsiknya. Bukan ditentukan oleh dekrit atau pengumuman bank 
sentral. Kalau kita menyimpan uang Rp 100 ribu sebanyak satu karung, lalu Bank 
Indonesia mengumumkan uang itu tidak berlaku lagi dan tidak bisa ditukar dengan 
uang baru, kita tak bisa berbuat apa-apa. Sekarung uang itu hanya menjadi 
sampah tak bernilai. Beda kalau kita punya dinar emas seberat 100 gram 
misalnya. Dinar emas akan tetap berlaku sebagai alat tukar di mana pun dan 
kapan pun, tidak bergantung pada dekrit pemerintah atau bank sentral.


Keunggulan dinar dan dirham Islam itu tidak dimiliki oleh dolar AS yang dominan 
sekarang. Jika dinar dan dirham memperkokoh ekonomi karena tahan inflasi, 
sebaliknya dolar AS justru akan merapuhkan ekonomi lantaran rentan inflasi. 
Sebab ketika dolar tidak ditopang dengan emas lagi, pemerintah AS akan gampang 
tergoda mencetak dolar dalam jumlah tak terbatas (unlimited). Penciptaan dolar 
yang terus menerus oleh Federal Reserve (bank sentral) AS inilah yang dianggap 
para pakar seperti Friedman dan Schwartz (1983) sebagai biang keladi di balik 
depresi terburuk sepanjang sejarah Amerika. Mereka mengatakan Federal 
Reserve-lah yang menyebabkan inflasi terus menerus karena mencetak dolar yang 
melebihi nilai barang dan jasa yang ada (Hamidi, 2007).


Ekonomi Berbasis Utang 

Utang baik yang dilakukan negara-negara kapitalis maupun negara-negara Dunia 
Ketiga terbukti sama-sama membahayakan. Total out standing utang AS (pemerintah 
dan swasta) dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 1998 jumlahnya 
"baru" 5,5 triliun dolar AS, dan pada tahun 2002 jumlahnya menjadi 6,2 triliun 
dolar AS. Jelas ini jumlah yang luar biasa besar, kalau dibandingkan dengan 
utang Indonesia yang "hanya" 120 miliar dolar AS pada tahun 1998 dan turun 
menjadi 98 miliar dolar AS pada tahun 2002. Bagaimana AS mengatasi masalah ini? 
Gampang, AS tinggal mencetak dolar sebanyak-banyaknya lalu mengalihkan beban 
inflasinya ke segala pihak yang memegang uang dolar di seluruh dunia (Hamidi, 
2007). Dampaknya adalah pertumbuhan ekonomi yang muncul akan bersifat semu 
(bubble economy) dan ancaman kolapsnya pun tinggal menunggu waktu.


Bagi negara-negara Dunia Ketiga yang ikut-ikutan menerapkan kapitalisme, utang 
telah menjadi alternatif andalan dalam pembiayaan pembangunan mereka sejak 
berakhirnya Perang Dunia II (1945). Namun para penguasa Dunia Ketiga itu tidak 
sadar, bahwa utang luar negeri sebenarnya lebih bermotif ideologi-politik 
daripada motif ekonomi. John F. Kennedy tahun 1962 pernah menegaskan bahwa 
utang luar negeri merupakan metode AS untuk mempertahankan kedudukannya yang 
berpengaruh dan memiliki pengawasan di seluruh dunia (Beaud, 1987). Dengan 
demikian, utang luar negeri bagi negara-negara Dunia Ketiga bukan saja 
menimbulkan masalah ekonomi (beban utang yang berat), tapi juga masalah 
ideologi dan politik, yaitu hegemoni ideologi kapitalisme di negeri-negeri 
Islam. 


Islam dengan tegas mengharamkan utang luar negeri dengan dua alasan utama, 
Pertama, karena utang itu pasti disertai syarat bunga, padahal Islam 
mengharamkan bunga (QS 2 : 275). Kedua, karena utang itu telah menghancurkan 
kedaulatan negeri penerima utang dan hanya menjadi jalan hegemoni penjajah 
kafir. Padahal hegemoni kafir atas umat Islam tidak dibenarkan (QS 4 : 141). 


Ekonomi Berbasis Investasi Asing

Investasi asing yang dilakukan negeri-negeri Islam terbukti lebih menguntungkan 
negara-negara investor, dan sebaliknya malah merugikan ekonomi lokal. Ekonom 
Sritua Arief pernah menghitung, untuk 1 dolar AS investasi asing yang masuk ke 
Indonesia, ternyata yang balik lagi keluar dari Indonesia adalah sepuluh kali 
lipatnya, alias 10 dolar AS.


Investasi asing yang dilakukan ternyata lebih sebagai penghisapan dan 
eksploitasi yang kejam. Sebanyak 70 % sumber daya alam di Indonesia telah 
dikuasai asing. Indonesia hanya mendapat bagian sedikit, ditambah bonus 
mengerikan berupa kerusakan lingkungan dan konflik sosial. Emas Papua yang 
dieksploitasi PT Freeport misalnya, per tahun menghasilkan Rp 40 triliun. Tapi 
pemerintah Indonesia hanya mendapat bagian 9,4 % ditambah pajak dan royalti, 
serta itu tadi, bomus kerusakan lingkungan yang dahsyat dan konflik sosial 
antara penduduk lokal dengan PT Freeport karena ketidakadilan. 


Islam memberikan ketentuan syariah yang jelas mengenai investasi asing. Dalam 
investasi asing untuk SDA, misalnya, Islam telah menetapkan bahwa SDA seperti 
emas, minyak, dan gas, adalah milik umum, bukan milik individu atau milik 
negara. Jadi, tambang tidak boleh diserahkan kepada investor untuk dieksplorasi 
dengan sistem bagi hasil. Yang benar, 100% hasil tambang adalah milik umum yang 
dikelola negara. Jika ada pihak swasta yang dilibatkan, itu sebatas kontrak 
tenaga kerja atau kontrak sewa peralatan yang dibayar sesuai jasa mereka. [ ]


DAFTAR PUSTAKA


Beaud, Michel, "Lompatan Kapitalisme Jauh ke Depan (1945-1980)", dalam M. Dawam 
Rahardjo (Ed.), Kapitalisme Dulu dan Sekarang, (Jakarta : LP3ES), 1987. 


Dillard, Dudley, "Kapitalisme", dalam M. Dawam Rahardjo (Ed.), Kapitalisme Dulu 
dan Sekarang, (Jakarta : LP3ES), 1987.


Ebenstein, William & Fogelman, Edwin, Isme-Isme Dewasa Ini (Today's Isms), 
Penerjemah Alex Jemadu, (Jakarta : Penerbit Erlangga), 1994


El-Diwany, Tarek, The Problem With Interest (Sistem Bunga dan Permasalahannya), 
Penerjemah Amdiar Amir, (Jakarta : Akbar Media Eka Sarana), 2003


Gilpin, Robert & Gilpin, Jean Millis, Tantangan Kapitalisme Global (The 
Chalenge of Global Capitalism), Penerjemah Haris Munandar & Dudy Priatna, 
(Jakarta : PT RajaGrafindo Perkasa), 2002


Hamidi, M. Luthfi, Gold Dinar Sistem Moneter Global yang Stabil dan 
Berkeadilan, (Jakarta : Senayan Publishing House), 2007


Harahap, Sofyan S., Pelajaran Dari Krisis Asia, (Jakarta : Pustaka Kuantum), 
2003


Mander, Jerry dkk, "Globalisasi Membantu Kaum Miskin?" dalam International 
Forum on Globalization, Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan (Does 
Globalization Help the Poor?), Penerjemah A. Widyamartaya & AB. Widyanta, 
(Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2004 


Shutt, Harry, Runtuhnya Kapitalisme (The Decline of Capitalism), Penerjemah 
Hikmat Gumilar, (Jakarta : Penerbit TERAJU), 2005


Spilanne, James J., "Industri Ringan Kaki : Neoliberalisme dan Investasi 
Global", dalam I. Wibowo & Francis Wahono (Ed), Neoliberalisme, (Yogyakarta : 
Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2003

Winardi, Ilmu Ekonomi (Aspek-Aspek Sejarahnya), (Bandung : PT Citra Aditya 
Bakti), 1990.
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke