Senada dengan Syaikh Abdul Azziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Yusuf
Qardhawi  pun menganggap surat wasiat palsu tersebut mengandung penyesatan
aqidah, khurafat, dan lainnya.

Mudah-mudahan ini sudah cukup untuk menghentikan kita dari menyebarkan
kebatilan karena kebodohan kita. Bagi yang sudah pernah menyebarkannya,
alangkah baiknya penjelasan dari dua syaikh ini anda forwardkan ke
saudara-saudara yang pernah anda kirimi surat wasiat palsu tersebut.
Mudah-mudahan Allah mengampuni dan menghapuskan dosa karena kelalaian kita
ini.

Hadaanallaahu wa iyyaakum ajma'iin, wastaghfirullaaha lii wa lakum,

Abu Karimna


FATWA PERIHAL WASIAT PALSU SYEKH AHMAD

DR. Yusuf Qaradhawi

PERTANYAAN:

Pada  suatu  saat  secara kebetulan saya menerima sepucuk surat dan setelah
saya baca,  saya  merasa  bingung  mengenai  isinya.  Karena itu,saya mohon
kesediaan  Ustadz   untuk  menjelaskan isi surat tersebut,apakah benar atau
tidak.

Surat    tersebut   ditandatangani   oleh   seorang   fa'il  khair (pembuat
kebaikan,  dermawan)   yang   berisi  wasiat  Syekh Ahmad, juru kunci makam
(kubur)  Rasulullah saw.,  yang  ditujukan  kepada  segenap  kaum  muslimin
di  dunia   timur  maupun  barat.   Juga  berisi macam-macam nasihat.  Pada
bagian   akhir   surat tersebut dikatakan,   "Di  Bombay terdapat seseorang
yang   memperbanyak   surat tersebut dan  membagi-bagikannya  kepada   tiga
puluh   orang,   lalu  Allah memberikannya rezeki  sebanyak dua puluh  lima
ribu   rupee;  ada  pula yang membagi-bagikannya lalu  ia  mendapat  rezeki
dari  Allah  sebanyak  enam  ribu  rupee.  Sebaliknya, ada pula orang  yang
mendustakan  wasiat   tersebut,  sehingga anaknya meninggal dunia pada hari
itu."

Dalam     surat     tersebut     dikatakan    bahwa    orang   yang   telah
memperoleh  dan membaca    wasiat    itu    tetapi    tidak  menyebarkannya
kepada  orang lain, akan  ditimpa  musibah besar.

Bagaimanakah  pendapat  Ustadz  mengenai  masalah  tersebut?
Apakah benar atau tidak?

JAWABAN:

Memang    banyak   orang   yang    menanyakan    wasiat    tersebut.    Dan
sebenarnya   kemunculan     surat   wasiat   ini   bukan   saja   baru-baru
ini,tetapi   saya  telah  melihatnya  sejak  puluhan  tahun   lalu.   Surat
tersebut dinisbatkan kepada seorang   lelaki  yang terkenal  dengan sebutan
Syekh  Ahmad,  juru  kunci makam Rasulullah saw.

Untuk   mengecek   kebenaran   berita   yang   disampaikan  dalam selebaran
tersebut, saya    pernah   menanyakan    kepada orang-orang  di Madinah dan
di  Hijaz. Saya mencari  informasi  mengenai   orang  yang  disebut   Syekh
Ahmad  itu  beserta aktivitasnya.   Dari  informasi  yang didapat, ternyata
tidak  ada  seorang  pun  di  Madinah  yang  pernah  melihat  dan mendengar
berita    mengenai   Syekh   Ahmad  ini.  Tetapi   sayangnya,  wasiat  yang
menyedihkan itu telah menyebar  di negara-negara umat Islam.

Wasiat   tersebut   dengan   segala   isinya   tidak  ada arti dan nilainya
sama  sekali   dalam   pandangan   agama.    Di    antara   isi wasiat yang
didasarkan  pada  impian  Syekh  Ahmad  yang  katanya bermimpi bertemu Nabi
saw. itu ialah tentang telah  dekatnya hari kiamat.

Masalah    berita    kedekatan  kiamat ini sebenarnya tidak perlu mengikuti
impian  Syekh  Ahmad  atau  Syekh  Umar,  karena Al-Qur'an telah mengatakan
dengan jelas:

"... boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (Al Ahzab: 63)

Begitu pula Nabi saw. telah bersabda:

"Aku   dan  hari  kiamat  diutus  (secara  berdekatan)  seperti ini. Beliau
(mengatakan  demikian)  sambil  memberi  isyarat  dengan  jaritelunjuk  dan
jari tengahnya."
(Muttafaq  'alaih  dari  hadits  Anas  dan  Sahl  bin Sa'ad)

Hal  lain   dari  isi  wasiat   itu   ialah   bahwa   kaum  wanita sekarang
sudah  banyak   yang  keluar  rumah,   dan  banyak  yang  telah  menyimpang
dari    agama.    Masalah    ini  pun  sebenarnya  tidak   perlu  mengambil
sumber  dari  mimpi-mimpi,  karena  kita  sudah mempunyai  kitab Allah  dan
sunnah    Rasul  yang   sudah  memuaskan  untuk  dijadikan  pedoman.  Allah
berfirman:

"...   Pada   hari   ini   telah  Kusempurnakan  untukmu agamamu, dan telah
Kucukupkan
nikmat-Ku   atas  kamu,dan  telah  Kuridhai  Islam menjadi agamamu ..." (Al
Maa'idah: 3)

Orang   yang  beranggapan  bahwa   Din   Islam   yang   telah disempurnakan
Allah  ini   masih   memerlukan keterangan yang diwasiatkan oleh orang yang
tidak dikenal itu,   berarti   dia  meragukan kesempurnaan dan  kelengkapan
Dinul  Islam.  Islam  telah  sempurna dan telah lengkap,  tidak  memerlukan
wasiat apa pun.

Isi      wasiat      tersebut      justru      merupakan    indikasi   yang
memperlihatkan   kebohongan   dan   kepalsuan   wasiat   tersebut.   Sebab,
pewasiat   telah  mengancam  dan   menakut-nakuti   orang  yang  tidak  mau
menyebarluaskannya  bahwa  ia akan mendapat musibah  dan kesusahan, anaknya
akan  mati,  dan  hartanya akan habis. Hal ini   tidak   pernah   dikatakan
oleh     seorang     manusiapun   (yang normal pikirannya),terhadap   kitab
Allah  dan  Sunnah  Rasul-Nya.   Tidak   ada  perintah bahwa   orang   yang
membaca    Al-Qur'an     harus     menulisnya     setelah    itu   kemudian
menyebarluaskannya   kepada   orang   lain;   dan  jika  tidak,akan terkena
musibah.

Begitu   pula   tidak   ada   perintah   bahwa  orang yang membaca   Shahih
Bukhari  harus     menulisnya     dan  menyebarluaskannya  kepada  khalayak
ramai, sebab kalau tidak, akan tertimpa musibah.

Kalau   Al-Qur'an   dan  Sunnah Rasul  saja  tidak  begitu,  maka bagaimana
dengan  wasiat    yang   penuh   khurafat  itu?  Ini merupakan sesuatu yang
tidak  mungkin  dibenarkan   oleh   akal  orang  muslim yang memahami Islam
dengan baik dan benar.

Kemudian   dalam   wasiat  tersebut  dikatakan bahwa si Fulan di negeri ini
dan ini karena   telah  menyebarluaskan  wasiat tersebut ia mendapat rezeki
sekian  puluh  ribu   rupiah.   Semua itu merupakan khurafat dan penyesatan
terhadap   umat  Islam  dari    jalan   yang  benar  dan   dari   mengikuti
Sunnah serta peraturan Allah terhadap alam semesta.

Untuk   memperoleh  rezeki,  ada sebab-sebabnya, ada  jalan  dan aturannya.
Adapun bersandar   kepada   khayalan  dan  khurafat  seperti  dalam  wasiat
itu  adalah  merupakan   upaya   untuk  menyesatkan  dan meyelewengkan akal
pikiran umat Islam.

Kita     perlu     menjaga     dan   mengawasi  kaum  muslimin  agar  tidak
membenarkan  dan  percaya   kepada   khurafat   seperti  ini dan agar tidak
mempunyai   anggapan  bahwa  orang   yang   menyebarluaskan   wasiat  palsu
tersebut  akan mendapat syafaat dari Nabi  saw.  sebagaimana yang dikatakan
oleh penulis selebaran yang batil itu.

Sesungguhnya   syafaat   Nabi  saw.  juga  diperuntukkan  bagi umatnya yang
pernah   melakukan    dosa-dosa  besar.  Hal  ini  sudah  disebutkan  dalam
hadits-hadits  sahih  (dan    tidak     perlu   bersumberkan   pada  wasiat
lewat   mimpi;  penj.) bahwa Rasulullah bersabda:

"Orang   yang  paling berbahagia akan memperoleh syafaatku pada hari kiamat
ialah orang  yang  telah  mengikrarkan  laa ilaaha illallah dengan perasaan
ikhlas dan lubuk hatinya." (HR Bukhari)

Kami  mohon  kepada  Allah  Azza wa  Jalla  semoga  Ia  berkenan menjadikan
umat Islam  mengerti  tentang  agama  mereka.  Semoga  memberi petunjuk dan
bimbingan  kepada   mereka   ke    jalan    yang  lurus,   serta melindungi
mereka agar tidak mempercayai berbagai khurafat,khayalan, dan kebatilan.

Referensi :

Fatwa-fatwa  Kontemporer Jilid I, DR. Yusuf Al-Qaradhawi, Gema Insani Press
(GIP)





"Erwin Kurnia" <[EMAIL PROTECTED]>@usahamulia.net on 06/16/2007
10:18:15 AM

Please respond to Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
       <[email protected]>

Sent by:    [EMAIL PROTECTED]


To:    "Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP"
       <[email protected]>
cc:

Subject:    Re: [ FUPM-EJIP ] Fw: mohon dibaca sejenak




Kategori Al-Masaa'il
Wasiat Bohong : "Dari Syaikh Ahmad  Penjaga Kubur Rasulullah"
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, ditujukan kepada siapa saja diantara
orang-orang Islam yang mendapatkan surat ini, semoga Allah menjaga mereka
dengan  agama Islam, dan melindungi kita serta mereka dari kejahatan para
pendusta yang  bohong dan tengik.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Amma ba'du :
Kami telah membaca edaran yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad Khodim Al
Haram An Nabawi,
Dengan judul :

"Ini Adalah Wasiat Dari Madinah Munawwarah Dari  Ahmad Khodim Al Haram An
Nabawi "

Dalam wasiat ini dikatakan : pada suatu malam Jum'at  aku pernah tidak
tidur, membaca Al Qur'an, dan setelah membaca Asma'ul Husna aku  bersiap
siap untuk tidur, tiba tiba aku melihat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa
sallam yang telah membawa ayat ayat Al Qur'an dan hukum hukum yang mulia,
kemudian beliau berkata : wahai Syaikh Akhmad, aku menjawab : ya, ya
Rasulullah,  wahai orang yang termulia diantara makhluk Allah, beliau
berkata kepadaku : aku  sangat malu atas perbuatan buruk manusia itu,
sehingga aku tak bisa menghadap  Tuhanku dan para malaikat, karena dari
hari Jum'at ke Jum'at telah meninggal  dunia sekitar seratus enam puluh
ribu jiwa (160 000) dengan tidak memeluk agama  Islam .

Kemudian beliau menyebut contoh contoh dari perbuatan  maksiat itu, dan
berkata : "maka wasiat ini sebagai rahmat bagi mereka dari  Allah Maha
Perkasa", selanjutnya beliau menyebutkan sebagian tanda tanda hari  kiamat
dan berkata :" wahai Syaikh Ahmad, sebarkanlah wasiat ini kepada mereka,
sebab wasiat ini dinukil dari Lauhul Mahfudz, barang siapa yang menulisnya
dan  mengirimnya dari suatu negara ke negara lain, dari suatu tempat ke
tempat yang  lain, baginya disediakan istana dalam sorga, dan barang siapa
yang tidak menulis  dan tidak mengirimnya, maka haramlah baginya syafaatku
di hari kiamat nanti,  barang siapa yang menulisnya sedangkan ia fakir maka
Allah akan membuat dia  kaya, atau ia berhutang maka Allah akan
melunasinya, atau ia berdosa maka Allah  pasti mengampuninya, dia dan kedua
orang tuanya, berkat wasiat ini, sedangkan  barang siapa yang tidak
menulisnya maka hitamlah mukanya di dunia dan  ahirat".

Kemudian beliau melanjutkan :" Demi Allah 3x wasiat ini  adalah benar, jika
aku berbohong, aku keluar dari dunia ini dengan tidak memeluk  agama Islam,
barang siapa yang percaya kepada wasiat ini, ia akan selamat dari  siksaan
neraka, dan jika tidak percaya maka kafirlah ia".

Inilah ringkasan dari wasiat bohong yang dikatakan dari Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wa sallam itu, kita telah berkali kali mendengar wasiat
bohong ini, yang mana telah tersebar luas dikalangan umat manusia secara
terus  menerus, anehnya hal ini sangat laku dikalangan umum.

Dalam wasiat tersebut terdapat beberapa ungkapan yang saling kontradiktif,
diantaranya pendusta itu mengatakan bahwa ia (Syaikh Ahmad) melihat
Rasulullah  Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika hendak tidur, berarti ia
melihatnya ketika  berjaga (tidak dalam mimpi), ia juga telah mendakwakan
(dalam wasiat itu)  berbagai hal yang jelas jelas bohong dan bathil, dan
kami akan terangkan nanti  Insya Allah.

Pada tahun tahun yang lalu kami telah menjelaskan kepada semua orang
tentang kebohongan dan kebatilan wasiat itu secara terang-terangan, ketika
kami  membaca selebaran terahir ini, kami ragu ragu menulisnya, karena
jelas  kebatilannya dan keberanian pembohong itu, dan kami tidak menduga
sebelumnya hal  itu bisa laku di kalangan orang-orang berakal sehat, bahkan
banyak dari kawan  kami yang memberitahukan, bahwa wasiat bohong itu telah
tersebar diantara  mereka, dan ada yang mempercayainya.

Atas dasar itu semua kami memandang perlu untuk menulisnya ; menjelaskan
ketidakbenaran dan kebohongan wasiat itu terhadap Rasulullah Shalallahu
'alaihi  wa sallam, sehingga tak seorangpun dapat tertipu olehnya.

Barang siapa diantara para ahli ilmu yang beriman dan orang orang yang
berfikiran sehat mau mempelajarinya, niscaya ia akan tahu bahwa hal itu
adalah  kebohongan ditinjau dari beberapa segi, kami telah menanyakan
kepada keluarga  dekat Syaikh Ahmad yang wasiat bohong itu dinisbatkan
kepadanya, tetapi mereka  mengingkari kebohongan itu, bahkan hal itu
merupakan pembohongan terhadap  almarhum Syaikh Ahmad, sebab beliau belum
pernah mengatakannya sama sekali, dan  beliau telah lama meninggal dunia,
seandainya Syaikh Ahmad tersebut maupun yang  lebih hebat daripadanya
mendakwakan bahwasanya ia melihat Nabi Muhammad ketika  sedang tidur atau
berjaga, kemudian mewasiatkan seperti ini, pasti kita tahu  bahwa hal itu
bohong belaka, atau yang mengatakan kepadanya setan bukan  Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wa sallam, berdasarkan keterangan keterangan di  bawah
ini.

Diantaranya : bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam tidak akan
dapat dilihat oleh seseorang ketika ia berjaga setelah beliau wafat, jika
ada  dari kalangan sufi yang mendakwakan bahwasanya ia melihat Rasulullah
Shalallahu  'alaihi wa sallam ketika ia berjaga setelah ia wafat, atau
beliau menghadiri  peringatan maulid atau yang lainnya, maka betul-betul ia
telah berbuat salah dan  menyeleweng, karena sesungguhnya mayat itu akan
bangkit dari kuburnya pada hari  kiamat, bukan di dunia sekarang ini.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Kemudian sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian  pasti akan mati, kemudian
sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari  kuburmu) di hari
kiamat" [Al Mu'minun, 15-16]

Dengan demikian berarti Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan
bahwasanya kebangkitan mayat itu pada hari kiamat bukan di dunia seperti
sekarang ini, barang siapa yang menyalahi itu berarti ia jelas pembohong
dan  penyeleweng, ia tidak mengetahui kebenaran sebagaimana telah diketahui
oleh  ulama salaf, para sahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam,
dan para  pengikut mereka dengan sebaik-baiknya.

Kedua : bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam tidak akan
mengatakan sesuatu berlawanan dengan yang hak, baik di masa hidupnya maupun
sesudah wafatnya, dan wasiat di atas tadi benar-benar telah menyalahi
syariatnya  secara terang terangan ditinjau dari beberapa segi seperti di
bawah  ini.

Memang kadang kadang Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dapat dilihat
dalam mimpi, barang siapa yang melihat wajah beliau yang mulia, berarti ia
betul-betul melihatnya, karena syetan tidak bisa meyerupai wajah beliau,
sebagaimana hal itu dijelaskan dalam hadits hadits shohih. Yang paling
penting  ialah bagaimana keimanan orang yang mimpi tersebut, kejujurannya,
keadilannya,  hafalannya, agamanya dan amanatnya ? Apakah ia melihat wajah
Rasulullah  Shalallahu 'alaihi wa sallam atau yang lainnya ? Jika ada
hadits disabdakan oleh  Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam di masa
hidupnya diriwayatkan tidak  melalui jalur orang orang terpercaya, adil dan
kuat hafalannya, maka hadits  tersebut tidak bisa dijadikan landasan huhum
(argumen), atau hadits tersebut  melalui jalur di atas, tapi bertentangan
dengan riwayat para perowi lain yang  lebih terpercaya dan lebih kuat
hafalannya, sedangkan tidak ada jalur sanad yang  lain untuk dikorelasikan,
maka yang pertama dimansukh (dihapus masa berlakunya)  oleh yang kedua, dan
tidak boleh diamalkan, dan hadits kedua sebagai nasikh,  boleh diamalkan
dengan syarat syarat tertentu jika memungkinkan, jika tidak  memungkinkan
untuk dikorelasikan maka yang lebih lemah hafalannya dan lebih  rendah
tingkat keadilannya harus ditinggalkan, berarti kedudukan hadits tadi
syadz (bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak bisa
diamalkan.

Sekarang bagaimana dengan penyampaian wasiat yang tidak diketahui bahwa ia
telah menukil dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, tidak diketahui
keadilan dan amanatnya ? Benar benar wasiat ini harus ditinggalkan dan
tidak  perlu diperhatikan, walaupun isinya tidak bertentangan dengan
syariat Islam, dan  harus lebih ditinggalkan jika wasiat itu mencakup hal
hal yang menunjukkan  kebatilan dan kebohongan terhadap Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wa sallam,  bahkan mencakup pensyariatan agama yang
tidak diizinkan oleh Allah, sedangkan  Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa
sallam pernah bersabda :

"Artinya : Barang siapa yang mengatakan sesuatu hal  (yang dinisbatkan
kepada saya) yang saya sendiri tidak pernah mengatakannya maka  bersiaplah
ia menduduki tempatnya dari api neraka".

Pendusta itu telah mengatakan wasiat itu dari Rasulullah, sedangkan beliau
tidak pernah mengatakannya, berarti ia telah berdusta pada Rasulullah dan
pada  dirinya sendiri, bagaimana ia akan bebas dari azab Allah Subhanahu wa
Ta'ala  yang sangat pedih itu, jika ia tidak cepat-cepat bertaubat kepada
Allah  Subhanahu wa Ta'ala, dan memberitahukan kepada khayalak ramai bahwa
ia telah  mendakwakan dengan kebohongan wasiat itu atas diri Rasulullah
Shalallahu 'alaihi  wa sallam, sebab orang yang telah menyebarkan kebatilan
diantara manusia  tidak akan diterima taubatnya kecuali dengan
mengumumkannya, sehingga  diketahui oleh mereka bahwa ia telah kembali
kepada jalan yang lurus.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Artinya : Sesungguhnya orang orang yang  menyembunyikan apa yang telah
Kami turunkan, berupa keterangan keterangan (yang  jelas) dan petunjuk,
setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab,  mereka itu
dilaknat Allah dan dilaknat(pula)oleh semua (makhluk)yang dapat  melaknat,
kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan dan
menerangkan (kebaikan), maka terhadap merekalah Aku (Allah) menerima
taubatnya  dan Akulah penerima taubat lagi MahaPenyayang" [Al Baqarah :
159-160]

Dalam ayat di atas, Allah telah menjelaskan barang siapa yang
menyembunyikan suatu kebenaran, maka taubatnya tidak akan diterima, kecuali
jika  ia mengadakan perbaikan dan menjelaskan kebenaran tersebut, Allah
telah  menyempurnakan agama-Nya bagi hamba-Nya, dan menyempunakan
ni'mat-Nya kepada  mereka dengan mengutus Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi
wa sallam, dan wahyu  yang diturunkan kepadanya adalah sempurna, beliau
tidak akan dicabut nyawanya  kecuali telah disempurnakan agama-Nya,
sebagaimana yang telah dijelaskan dalam  firman-Nya :

"Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk  kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nu'matKu, dan telah Kuridloi Islam  sebagai agama
bagimu" [Al Maidah : 3]

Pendusta wasiat ini telah datang pada abad keempat belas untuk mengelabuhi
manusia dan mensyariatkan kepada mereka agama baru, barang siapa yang
mengikutinya, maka baginya disediakan sorga, dan barang siapa yang menolak
syariat itu, maka baginya disediakan neraka. Dengan demikian ia hendak
menjadikan wasiat ini lebih baik dari Al Qur'an, yang mana jika seseorang
tidak  menulisnya dan tidak mengirimkannya dari suatau negara ke negara
lainnya  diharamkan baginya syafaat Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa
sallam pada hari  kiamat, ini merupakan pembohongan yang paling hina dan
jelas sekali, betapa  tidak punya malu pembohong itu, ia telah berani
berbuat bohong, kerena barang  siapa yang menulis Al Qur'an yang mulia dan
mengirimkannya dari suatu negara ke  negara yang lain, atau dari suatu
tempat ke tempat yang lainnya, tidak akan  mendapatkan keutamaan seperti
itu jika ia tidak mengamalkan kandungannya,  bagaimana ia bisa memperoleh
keutamaan itu jika hanya menulis dan mengirimkan  wasiat bohong itu dari
suatu negara ke negara yang lain. Barang siapa yang tidak  menulis Al
Qur'an dan tidak mengirimkannya dari suatu negara ke negara yang  lain,
maka tidak diharamkannya baginya syafaat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa
sallam, jika ia benar-benar mengimaninya dan mengikuti syariatnya, satu
kebohongan dalam wasiat ini saja sudah menjadi bukti atas kebatilannya,
kebohongannya yang jelas, kecerobohan, kebodohan, dan jauhnya dari ajaran
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam.

Selain apa yang telah kami sebutkan tadi, masih banyak lagi hal-hal yang
menunjukkan ketidakbenaran wasiat tersebut, walaupun pendusta itu bersumpah
seribu kali atau lebih atas kebenarannya.

Seandainya pembuat wasiat itu bersumpah, jika ia berdusta pasti ia akan
tertimpa azab yang sangat pedih sebagai saksi atas sebenarannya, maka tetap
ia  tidak bisa dipercaya, dan wasiat itu tidak berubah menjadi benar,
bahkan saya  berani bersumpah demi Allah dan demi Allah, bahwa perbuatan
itu merupakan  kebohongan yang paling besar dan kebatilan yang paling hina,
kita bersaksi  kepada Allah dan kepada malaikat yang telah datang kepada
kita dan kepada kaum  muslimin yang telah memperoleh tulisan ini, suatu
kesaksian kita sampaikan  kepada Allah, bahwasanya wasiat ini dusta dan
bohong kalau dinisbatkan kepada  Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam,
semoga Allah membuat hina orang orang  yang menisbatkan wasiat itu kepada
Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam,  dan menyiksanya sesuai dengan
perbuatannya.

Diantara sekian banyak kebatilan dan kebohongan wasiat tersebut adalah

Pertama :
Isi kandungan wasiat tersebut yang berbunyi  :" karena dari Jum'at ke
Jum'at telah meninggal dunia sekitar 160.000 orang  dengan tidak memeluk
agama Islam ", kerena hal itu merupakan ilmu ghaib,  dan wahyu bagi
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam telah berhenti setelah  beliau
wafat, sedangkan pada masa hidupnya beliau tidak tahu ilmu ghoib, mana
mungkin hal itu bisa terjadi sepeninggal beliau ?

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Artinya : Katakanlah: aku tidak mengatakan  kepadamu bahwa perbendaharaan
Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui  yang ghoib dan tidak
(pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat,  aku mengetahui
apa yang telah diwahyukan kepadaku, katakanlah, apakah sama orang  yang
buta dengan orang yang melihat ? maka apakah kamu tidak  memikirkan(nya)?"
[Al An'am : 50]

"Artinya : Katakanlah tidak ada seorang pun di  langit dan di bumi yang
mengetahui perkara ghoib, kecuali Allah, dan mereka  tidak mengetahui kapan
mereka akan dibangkitkan" [An Naml :  65]

Dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa
sallam bersabda :
"Artinya : Banyak orang orang yang dijauhkan dari  telagaku pada hari
kiamat nanti, maka aku berkata : ya Rabb, mereka adalah  sahabat sahabatku,
mereka sahabat sahabatku, maka dikatakan kepadaku :  sesungguhnya engkau
tidak tahu tentang apa yang mereka perbuat setelah engkau  wafat ?, maka
aku berkata sebagaimana hamba sholeh(Nabi Isa) berkata :" Dan aku  menjadi
saksi bagi mereka selama aku hidup bersama mereka, maka setelah Engkau
telah mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi penguasa bagi mereka dan
sesungguhnya Engkau MahaMengetahui atas segala sesuatu".

Kedua :
Ungkapan yang mengatakan : "Barang siapa  yang menulisnya sedangkan ia
orang fakir, maka Allah akan menjadikan kaya, atau  ia berhutang maka Allah
akan melunasinya, atau ia berdosa maka Allah akan  mengampuninya serta
kedua orang tuanya berkat wasiat ini, ... dan  seterusnya", ini merupakan
kebohongan besar dan bukti nyata atas kebohongan  pedusta itu, betapa ia
tidak punya malu terhadap Allah dan hamba hambaNya,  karena ketiga hal di
atas tidak bisa dicapai hanya dengan menulis Al Qur'an,  apalagi menulis
wasiat ini yang jelas batilnya, tidak lain pelaku dosa ini  hanyalah akan
mengkaburkan manusia saja, serta menjadikan mereka selalu  bergantung
kepada wasiat itu, sehingga mereka mau menulisnya dan mengelu elukan
keutamaan yang dijanjikan, dengan meninggalkan tuntunan yang telah
disyari'atkan  Allah kepada hamba hambaNya, ia menjadikan wasiat itu
sebagai sarana mencapai  kekayaan, membayar hutang, dan ampunan Tuhan, kita
berlindung kepada Allah dari  kehinaan, mengikuti hawa nafsu dan syetan.

Ketiga :
Isi kandungannya yang berbunyi :"Sedangkan  barang siapa yang tidak
menulisnya, maka hitamlah mukanya di dunia dan  akhirat".

Ini juga merupakan kebohongan besar dan bukti nyata atas kebatilan wasiat
tersebut serta pengecutnya pendustanya, mana ada orang yang berakal akan
menerima perkataan itu, pembawa wasiat itu adalah seorang manusia yang
hidup  pada abad keempat belas hijriyah, dan tidak diketahui identitasnya,
ia  mendakwakan kebohongan atas diri Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa
sallam dengan  anggapan bahwa barang siapa yang menulisnya akan dijamin
dengan tiga jaminan di  atas.

Maha Suci Engkau Ya Allah, ini merupakan kebohongan yang besar, bukti bukti
dan realita yang secara empiris telah menunjukkan atas kebohongan pendusta
itu,  betapa besar dosanya di sisi Allah, sebab kelancangannya benar-benar
ia tidak  punya malu terhadap Allah dan semua manusia, karena telah banyak
orang yang  tidak menulis wasiat ini, namun mereka toh mukanya tidak hitam,
di lain pihak  telah banyak orang yang menulis wasiat ini, namun mereka
masih juga tetap tidak  bisa membayar hutangnya, dan tetap saja dalam
kefakirannya.

Maka marilah kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari
kecenderungan hati dan dari kotoran dosa, sifat-sifat dan balasan-balasan
di  atas tidak pernah di janjikan oleh syariat yang mulia bagi orang orang
yang  menulis kitab suci Al Qur'an, kitab yang paling mulia dan paling
agung,  bagaimana hal itu bisa dicapai oleh orang yang menulis wasiat
bohong, wasiat  yang mencakup berbagai kebatilah, dan dihiasi bermacam
macam kekafiran.

Maha Suci Allah, alangkah sabarnya Dia (Allah) terhadap hamba hamba yang
berbuat dusta atas-Nya.

Keempat :
Isi wasiat ini berbunyi :"Barang siapa  yang percaya kepada wasiat ini,
pasti akan selamat dari siksaan neraka, jika  tidak percaya kafirlah dia".

Ini juga merupakan keberanian yang luar biasa untuk berbuat bohong, dengan
kebatilannya pendusta itu mengajak semua manusia untuk mempercayai tipu
dayanya,  ia mengira bahwasanya mereka akan selamat dari api neraka jika
memang mau  mempercayainya, dan barang siapa yang tidak mempercayainya maka
ia pantas  dianggap kafir, demi Allah, pembohong itu tidak mengatakan
sesuatu yang haq,  bahkan sebaliknya, jika ada orang yang mempercayainya
maka ia pasti dianggap  kafir, bukan orang yang mendustakannya karena
dakwaannya tidak berdasar  dalil.

Kita bersaksi kepada Allah, bahwasanya dakwaan itu adalah bohong belaka,
pendusta itu hendak mensyariatkan kepada manusia apa apa yang tidak di
izinkan  Allah, dan sengaja memasukkan sesuatu hal baru dalam agama mereka
apa apa yang  tidak ada didalamnya, sedangkan Allah telah melengkapi dan
mencukupkan agama  umat ini, sejak empat belas abad yang silam, yaitu
sebelum datangnya pendusta  ini.

Maka berwaspadalah, wahai para sidang pembaca dan kawan-kawan seagama,
janganlah percaya terhadap dakwaan-dakwaan dusta seperti ini, jauhilah
penyebarannya di kalangan anda sekalian, karena yang haq selalu disinari
oleh  cahaya yang tidak kabur, carilah kebenaran disertai dalilnya,
bertanyalah kepada  para Ulama jika kamu mendapatkan kesulitan,

dan janganlah tertipu oleh sumpah sumpah bohong pendusta, karena iblis
telah bersumpah kepada kedua orang tua kita yaitu Adam dan Hawa, bahwasanya
ia  sebagai penasehat bagi keduanya, padahal ia tak lain adalah gembong
penghianat  dan pendusta ulung, sebagaimana yang diceritakan Allah dalam Al
Qur'an :

"Artinya : Dan dia (syetan) bersumpah kepada  keduanya (Adam dan Hawa),
sesungguhnya saya adalah termasuk orang orang yang  memberi nasehat kepadmu
sekalian " [Al A'raf : 21]

Maka dari itu, anda sekalian harus selalu waspada terhadap pendusta ini dan
para pengikutnya, sebab banyak diantara mereka yang mempunyai sumpah
bohong,  mengingkari janji, dan menghiasi perkataan-perkataannya untuk
membujuk dan  menyesatkan.

Semoga Allah tetap memelihara kami, anda sekalian dan kaum muslimin semua
dari segala kejahatan syetan, fitnah orang-orang yang menyesatkan,
penyelewengan  orang orang yang menyimpang, dan tipu daya musuh musuh Allah
Subhanahu wa  Ta'ala, mereka hendak membaurkan agama dan memadamkan cahaya
Allah dengan  mulut-mulut mereka dan mengkaburkan agamaNya bagi umat
manusia, tetapi Allah  pasti menyempurnakan cahaya-Nya serta menolong
agama-Nya, walaupun musuh  musuh-Nya baik dari kelompok syetan dan
pengikutnya maupun orang orang kafir dan  atheis itu tidak rela.

Adapun hal hal yang telah disebutkan pendusta ini tentang timbulnya
kemungkaran kemungkaran adalah realitas, dan Al Qur'an dan hadits pun telah
memperingatkan kita sejauh mungkin, pada keduanya (Al Qur'an dan Hadits)
terdapat hidayah dan kecukupan. Mari kita memohon kepada Allah, agar
berkenan  memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memberi karunia kepada
mereka untuk tetap  mengikuti yang haq dan tetap konsisten dalam
menjalankannya, serta mau bertaubat  kepada-Nya dan meminta ampunan-Nya
dari segala macam dosa, karena sesungguhnya  Dia Maha Penerima taubat,
Pemurah dan berkuasa atas segala galanya.

Adapun yang telah disebutkan tentang tanda-tanda hari kiamat, maka hal itu
sudah dijelaskan oleh hadits-hadits shahih, selain juga Al Qur'an telah
menyinggung sebagian saja, barang siapa yang ingin mengetahuinya ia dapat
mendapatkannya pada bab-bab tertentu dalam buku buku hadits serta karangan
karangan para ahli ilmu dan iman.

Akhirnya, sudah cukup jelas bagi kita bahwa kebohongan pendusta itu tidak
diragukan lagi, karena ia telah mengkaburkan dan mencampur adukan antara
yang  haq dan yang batil, cukup Allahlah sebagai penolong kita, Dia sebaik
baik  pelindung, tak ada kekuasaan dan kekuatan apapun kecuali di tangan
Allah.

[Disalin dari buku Waspada Terhadap Bid'ah, Penulis Syaikh Abdullah Bin
Abdul Aziz Bin Baz, Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia]



Sumber :
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1201&bagian=0








********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke