Dengarkan Perkataannya Jangan Lihat Orangnya

 

 

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha 

 

Malam itu untuk ketiga kalinya maling pendusta itu tertangkap basah oleh Abu
Hurairrah RA ketika sedang beraksi mencuri makanan milik kaum muslimin. Kata
Abu Hurairah "Sungguh akan aku bawa menghadap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam. Ini adalah kali yang ketiga kau datang. Padahal kau telah
berjanji tidak akan kembali, tapi ternyata kau balik lagi." Kata orang itu,
"Lepaskanlah aku, akan aku ajari kau beberapa kalimat yang Allah memberikan
manfaat pada kalimat-kalimat itu."  "Apa itu?" "Jika engkau hendak tidur,
bacalah ayat kursi. Karena Allah akan menjagamu sampai kau bangun, dan
syetan tak akan berani mendekatikmu." Lalu Abu Hurairah pun membebaskannya.
Esok hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya kepada Abu
Hurairah tentang tawanannya semalam. Kata Abu Hurairah, "Wahai Rasulullah,
dia menyangka bahwa dia telah mengajariku beberapa kalimat yang bermanfaat
bagiku, maka aku bebaskan dia." "Apa itu?" kata Nabi. "Dia berkata padaku
agar aku membaca ayat kursi sebelum tidur. Dan apabila aku membacanya, maka
aku akan dijaga oleh Allah sampai subuh dan tidak akan ada syetan yang
mendekatiku," jawab Abu Hurairah. "Ketahuilah, sesungguhnya dia telah
berkata jujur padamu padahal sebenarnya dia itu pendusta. Tahukah kau siapa
orang yang kau ajak bicara selama tiga malam ini, hai abu Hurairah?"
"Tidak." "Dia itu adalah setan." (HR. Al-Bukhari) 

 

Lihat kisah di atas, bagaimana setan mengetahui fadilah ayat kursi, padahal
itu sama sekali tidak ada gunanya bagi dirinya. Malah Abu Hurairah yang
memanfaatkan apa yang diajarkan setan kepadanya. Begitulah setan, terkadang
dia mengetahui sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak ada
manfaatnya bagi dirinya sendiri. Demikian pula dengan manusia. Terkadang
seseorang mengetahui hal-hal yang baik dan berguna bagi dirinya, namun ia
tidak mengamalkannya. Lalu ilmunya diambil oleh orang lain dan bermanfaat.

 

Kalau kita perhatikan, hampir tidak ada bedanya atau bahkan tidak berbeda
sama sekali antara setan dengan orang yang suka menyuruh untuk berbuat baik
tetapi dirinya sendiri tidak melakukan yang dia katakan. Atau orang yang
mempunyai banyak ilmu tetapi ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya. Ilmu
yang dimilikinya sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi kehidupan
beragamanya dan fikrahnya. Orang yang seperti ini sama saja dengan setan.
Bahkan bisa jadi mereka lebih setan daripada setan. Sebab setan memang dari
sananya sudah memproklamirkan dirinya sebagai musuh Allah dan orang-orang
mukmin. Jadi wajar kalau mereka tidak mau melakukan amal kebaikan meskipun
mereka mengetahui.

 

Orang-orang model beginilah yang disinyalir oleh Allah swt dalam firman-Nya,
"Apakah kalian menyuruh orang-orang untuk berbuat baik sementara kalian
melupakan diri kalian sendiri padahal kalian membaca al Kitab?" (Al-Baqarah:
44)

 

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang
beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan? Besar
sekali kebencian di sisi Allah kalau kalian mengatakan apa-apa yang tidak
kalian kerjakan." (Ash-Shaff: 2-3)

 

Namun meskipun mereka "cuma pintar ngomong", bukan berarti kita tidak boleh
mengambil perkataan mereka. Selama itu tidak melenceng dari al-Qur'an dan
sunnah, boleh saja kita mendengarkan apa yang mereka katakan. Ali bin Abi
Thalib pernah berkata "Undzur maa qoola, walaa tandzur man qoola" Lihatlah
apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan.

 

Ada lagi yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari setan. Setan itu
terkadang berbuat baik kepada kita tetapi sebetulnya malah merugikan atau
bahkan mencelakakan. Jadi kita mesti hati-hati dan waspada terhadap segala
bentuk kebaikan setan. Karena setan itu licik.

 

Pernah suatu hari Abdullah bin Ummi Maktum RA, seorang sahabat yang buta,
hendak pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Di tengah jalan
dia terjatuh dan terperosok di sebuah lubang. Besoknya Ibnu Ummi Maktum
pergi lagi ke masjid seperti biasa, namun kali ini ada seseorang yang
berbaik hati yang menuntunnya. Tentu saja Ibnu Ummi Maktum heran karena
orang itu tidak turut sholat berjamaah. Tetapi Ibnu Ummi Maktum hanya
mengucapkan terima kasih seraya berkata "Kau ini baik sekali, siapakah kau
ini sebenarnya?" Jawab orang itu, "AKu adalah setan." 

 

Kaget Ibnu Ummi Maktum mengetahui siapa yang telah berbuat baik kepadanya.
Kata Ibnu Ummi Maktum, "Apa maksudmu menolongku?" Jawab setan yang berujud
orang baik itu "Kemarin ketika kau jatuh terperosok, setengah dari dosamu
diampuni oleh Allah. Aku khawatir kalau kali ini kau jatuh lagi, maka
habislah dosamu."

 

Setan memang licik setan. Dia tolong Ibnu Ummi Maktum bukan karena bermaksud
ikhlas ingin menolong. Tapi dia tidak mau kalau sampai dosa Ibnu Ummi Maktum
diampuni oleh Allah semuanya. Ada udang dibalik batu, kata orang. Jadi
bukannya kita su'uzh-zhon dengan orang-orang yang bertipe macam setan
begini. Namun sekedar hati-hati dan waspada.

 

Sekarang ini banyak orang-orang model setan bergentayangan di sekililing
kita. Mereka belajar agama, banyak membaca buku-buku keislaman dan banyak
mengetahui hukum-hukum Islam, tapi volume ibadahnya tidak berubah. Iman dan
akhlaknya tidak ada bedanya dengan orang yang tidak tahu agama (baca: orang
awam). Bahkan bisa jadi akhlak mereka lebih buruk dibanding orang awam. 

 

Selain itu juga tidak sedikit orang belajar Islam malah untuk menyerang
sendi-sendi Islam yang telah mapan. Atau untuk menyelipkan pikiran nyeleneh
dengan mengambil dalil dari al-Qur'an, sunnah, sirah, maupun perkataan ulama
dalam posisi yang tidak tepat. Seenaknya saja mereka memakai dalil.
Tampaknya maksud mereka baik, ingin memperbarui Islam. Namun sejatinya
mereka malah menghancurkan Islam dari dalam. 

 

Ada lagi yang sering mengisi pengajian di sana-sini, tapi hanya sebatas
menyampaikan ilmu. Bermanfaat bagi yang hadir namun tidak ada artinya bagi
dirinya sendiri. Memang benar kata sya'ir,"Al 'Ilmu bilaa 'amalin,
kasy-syajari bilaa tsamarin." Ilmu tanpa amal, bagaikan pohon tanpa buah.

 

Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa yang berkenaan
dengan Abu Hurairah dan Abdullah bin Ummi Maktum. 

 

Pertama, bukan tidak mungkin ada orang yang buruk akhlaknya dan pas-pasan
imannya, tetapi mempunyai ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. 

 

Kedua, bolehnya kita belajar atau mendengarkan perkataan orang-orang yang
"cuma pintar ngomong' selama itu benar dan tidak melenceng dari al-Qur'an
dan sunnah.

 

Ketiga, orang yang mempunyai suatu ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya,
tidak ada bedanya dengan setan. 

 

Dan, keempat, kita mesti hati-hati terhadap kebaikan-kebaikan orang-orang
model setan ini, karena siapa tahu ada maksud jahad dibalik kebaikannya.
Juga terhadap pemikiran-pemikiran yang bernada memperbarui agama, sebab
seringnya pemikiran-pemikiran yang berkulit pembaruan malah membuat 'pe-er'
bagi ummat Islam. 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke