25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak

 

Kiat 2 : Tunaikan Hak-hak Anak

 

DIANTARA hak paling penting yang wajib kita tunaikan kepada anak adalah
memahaminya, berempati kepadanya, dan menasihatinya jika ia melakukan
kesalahan. 

 

Temuan berikut ini akan mempertegas hal itu:

 

Seorang ahli pendidikan menunjuk tiga orang ibu dari para peserta Pelatihan
Seni Kebapakan. Ia mengatakan kepada mereka,

 

 "Saya akan memanggil ibu yang pertama dengan Hanan, yang kedua Su'ad, dan
yang ketiga dengan nama Laila. Dan saya akan bertanya kepada Anda semua
dengan beberapa pertanyaan. Saya ingin Anda semua menjawabnya."

 

la mulai dengan pertanyaan berikut: "Jika masing-masing Anda, pada suatu
pagi, sedang menyiapkan sarapan untuk suami Anda. Tiba-tiba telepon
berdering, anak Anda menangis, dan roti bakar yang sedang Anda siapkan untuk
suami hangus. Lalu suami Anda berkomentar dengan mengatakan, 'Kapan kamu
akan belajar memanggang roti tanpa menghanguskannya?' Bagaimana kira-kira
reaksi Anda?"

 

Hanan                           :  "Langsung saya lemparkan roti itu
kemukanya!"

Su'ad                            :  "Saya akan katakan padanya, 'Bangun dan
bakar sendiri rotinya!"

Laila                             : "Komentarnya itu melukai perasaan saya
dan saya rasa saya akan menangis."

 

Ahli pendidikan              : "Lalu bagaimana perasaan Anda terhadap suami
Anda?"

Ketiganya                      : "Marah, benci, dan merasa dizalimi."

 

Ahli pendidikan              : "Mudahkah bagi Anda untuk menyiapkan roti
bakar lain untuknya?"

Serempak semuanya      : "Tentu saja tidak."

 

Ahli Pendidikan              : "Jika suami Anda pergi bekerja, akan mudahkan
bagi Anda untuk membereskan rumah dan belanja kebutuhan sehari-hari dengan
lapang dada?"

Hanan                           : 'Tidak. Saya akan merasa sumpek sekali
sepanjang hari."

Su'ad                            : "Tentu saja tidak. Saya tidak akan
membeli apa pun untuk keperluan rumah hari itu."

Laila                             : "Saya akan merasa sesak dalam
menjalankan kewajiban-kewajiban saya."

 

Ahli pendidikan              : "Katakanlah bahwa roti itu memang hangus.
Akan tetapi suami Anda mengatakan kepada Anda,  'Tampaknya pagimu ini
melelahkan. Telepon berdering, anak menangis, dan sekarang roti hangus'.
Kira-kira apa reaksi Anda dengan komentar seperti itu?"

Hanan                           : "Saya tidak percaya bahwa yang berbicara
itu adalah suami saya."

Su'ad                            : "Saya akan merasa bahagia dan senang."

Laila                             : "Saya akan merasa bahagia dan saya fikir
saya akan memeluknya.

 

Ahli pendidikan              : "Mengapa Anda gembira? Bukankah anak tetap
menangis, telepon berdering dan roti hangus sudah ?"

Semua perempuan itu     : "Saya tidak akan peduli dengan semua itu."

 

Ahli pendidikan              : "Lalu apa yang berbeda kali ini?"

Hanan                           : "Saya merasa suami saya baik sekali karena
ia tidak mengkritik saya melainkan memahami perasaan saya. Dia berpihak
kepadaku dan bukan melawanku." Dan para ibu itu menyetujuinya.

 

Ahli pendidikan              : "Jika suami Anda pergi, akan mudahkah bagi
Anda untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga?"

Su'ad, mewakili para ibu itu : "Saya akan melaksanakan tugas-tugas saya
dengan senang hati."

 

Ahli pendidikan              : "Sekarang mari kita bicara tentang suami tipe
ketiga. Setelah roti itu hangus ia memandang isterinya sambil mengatakan,
nih, saya ajari kamu cara membakar roti'!"

Para ibu itu serempak     : "Tidak. Suami macam itu lebih buruk lagi dari
yang pertama. Sebab ia menganggap saya dungu." 

 

Saat itu si ahli pendidikan mengatakan, "Bagaimana kalau apa yang suami Anda
lakukan kepada Anda itu Anda lakukan kepada anak Anda?"

 

Hanan                           : "Sekarang saya mengerti tujuan Anda dengan
dialog ini. Saya memang selalu mengkritik anak saya, tanpa saya sadari,
dengan mengatakan, 'Kamu sudah besar dan usiamu sudah harus membuat kamu
tahu bahwa apa yang kamu lakukan itu salah.' Saya sekarang tahu mengapa ia
marah dengan kata-kataku."

 

Su'ad                            : "Saya juga selalu mengatakan kepada anak
saya, 'Biar saya tunjukkan kepada-mu bagaimana cara melakukan itu dan ini.'
Dan ia sering kali marah saat saya katakan hal itu."

 

Laila                             : "Saya selalu mengkritik puteri saya
hingga hal itu menjadi hal yang biasa bagi saya. Dan saya sering
mengulang-ulang kalimat yang dulu diucapkan ibu saya kepada saya, jika
memarahi saya, saat saya kecil. Dan saya juga dulu sangat tidak suka saat
mendengar ibu mengatakannya."

 

Ahli pendidikan              : "Dan sekarang Anda mengatakan kalimat yang
sama kepada puteri Anda?" 

Laila                             : "Betul, itu yang saya lakukan. Dan saya
membenci diriku ketika saya mengucapkannya."

 

Ahli pendidikan              : "Apakah sekarang Anda bisa melihat cara yang
lebih baik dalam berinteraksi dengan puteri Anda?" 

 

Segera Laila menjawab  : "Tentu, saya berharap saya dapat belajar tentang
cara baru yang lebih baik."

 

Ahli pendidikan              : "Kalau begitu mari kita cari tahu apa yang
mungkin kita pelajari dari kasus roti hangus ini. Apa yang membantu merubah
perasaan Anda dari benci menjadi senang terhadap suami Anda?"

 

Hanan                           : "Saya yakin sebabnya adalah karena suami
tidak mengkritik saya bahkan dia memahami perasaan saya." 

 

Su'ad menambahkan      : "Tanpa mencela saya." 

Laila menimpali              : "Tanpa mendikte saya."

 

Setelah sampai pada yang dituju, ahli pendidikan itu mengatakan, "Sekarang
Anda semua mengerti bahwa apa yang Anda inginkan dari suami Anda itulah pula
yang diinginkan oleh anak-anak kita dari kita : pengertian dan empati.

 

Baik orang dewasa maupun anak-anak sama-sama membutuhkan pengertian dan
empati bukan kritikan dan membutuhkan nasihat saat mereka melakukan
kesalahan sehingga mereka dapat belajar dari pengalaman untuk mengembangkan
kepribadian mereka. Oleh karena itu kita harus memenuhi hak itu kepada anak
jika kita ingin anak kita berkembang secara seimbang.

 

Memahami dan berempati kepada anak akan menanamkan sikap positif dalam
menghadapi kehidupan. Dia akan belajar bahwa dalam kehidupan ada memberi dan
menerima. Dia akan berlatih untuk tunduk kepada kebenaran sebab ia melihat
teladan yang baik di hadapannya. Ia akan membiasakan diri bersikap adil
dalam menerima kebenaran. Sehingga akan tumbuhlah kemampuan untuk memilih
cara mengungkapkan apa yang ada dalam jiwanya dan cara menuntut hak-haknya.
Dan sikap sebaliknya akan memasung, membunuh dan mengubur kemampuan itu.

 

Inilah Rasulullah saw. Beliau meminta izin kepada anak kecil yang ada di
sebelah kanannya untuk mengalah dari hak minum guna memberikannya terlebih
dahulu kepada orang dewasa yang ada di sebelah kirinya. Tapi ternyata si
anak itu tidak ingin orang lain mendahuluinya meminum air sisa Rasulullah
saw. itu. Rasulullah saw. pun kemudian memberikan minuman itu kepada si
anak. Dan si anak merasa nyaman dalam menikmati haknya.

 

Sahl Bin Sa'ad As-Sa'idi meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. diberi minuman
lalu beliau meminumnya sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang anak
laki-laki dan di sebelah kiri beliau ada orang-orang yang sudah tua.
Rasulullah saw bertanya kepada anak itu, "Apakah engkau mengizinkan aku
untuk memberi mereka terlebih dahulu?" Si anak itu menjawab, "Tidak, demi
Allah, aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapa pun." Maka
Rasulullah saw. meletakkannya di tangan anak itu. (Bukhari dan Muslim)

 

Ketika seorang anak memprotes Rasulullah saw. -sesaat sebelum perang Uhud-
karena merasa bahwa haknya dihalang-halangi, seraya mengatakan kepada
beliau, "Wahai Rasulullah saw, engkau mengizinkan anak pamanku ikut perang.
Padahal jika saya bergulat dengannya pasti saya mengalahkannya." Maka
Rasulullah saw. mengizinkan mereka bergulat. Dan benar saja ia dapat
mengalahkan anak pamannya itu. Maka tidak ada pilihan lain bagi Rasulullah
saw. selain mengizinkan anak itu menjadi prajurit Muslim dalam memerangi
orang-orang musyrik.

 

Adakah seseorang di dunia ini yang lebih tinggi kedudukannya, lebih
berwibawa, lebih banyak prajurit dan pengikutnya, dan lebih utama dari
Rasulullah saw.? Tidak dan seribu kali tidak. Tapi, beliau menerima
kebenaran dari anak kecil. Beliau mengajari kita menerima kebenaran dari
anak kecil tanpa rasa angkuh dan merasa turun gengsi. Kita mungkin bertanya
kepada sebagian para orang tua, "Untuk apa berkelit dan berbelit-belit
dengan anak; dan berusaha lari dari merespon dan memenuhi hak-hak mereka?"

 

Kepada orang seperti itu kita sampaikan hadits Nabi saw. berikut:

 

Dari Ibnu Mas'ud -semoga Allah meridhainya-berkata, "Saya berkata kepada
Nabi saw, 'Ajarkanlah kepadaku kalimat-kalimat yang padat namun singkat dan
bermanfaat.' Rasulullah saw. menjawab, 'Beribadahlah kepada Allah dan
janganlah kamu menyekutukan sesuatu apa pun dengan-Nya; berputarlah dengan
al-Qur'an kemana saja ia berputar; terimalah kebenaran dari siapa saja yang
membawanya, anak kecil ataupun orang tua, meskipun ia itu kamu benci dan
jauh (hubungannya dengan kamu) tolaklah kebatilan dari siapapun datangnya,
anak kecil ataupun orang tua, meskipun dia kamu cintai dan akrab'." (HR Ibnu
'Asakir dan Ad-Dailami)

 

Di antara hak anak adalah menjadi imam dan pemimpin jika ia mempunyai ilmu
dan bagus bacaan (Quran)-Nya. Dari Muhajir Bin Hubaib Az-Zubaidi, ia
mengatakan, berkumpullah Abu Salamah Bin 'Abdirrahman dan Sa'id Bin Jubair.
Berkatalah Sa'id kepada Abu Salamah, "Sampaikanlah hadits kepada kami, kami
akan mengikutimu." Abu Salamah mengatakan, Rasulullah saw. bersabda, "Jika
ada tiga orang dalam perjalanan maka hendaklah yang mengimami mereka adalah
orang yang paling baik bacaan (Quran)-nya walaupun ia paling kecil. Dan jika
ia mengimaminya maka dialah pemimpin mereka." Abu Salamah mengatakan,
"Itulah pemimpin yang diangkat langsung oleh Rasulullah saw." (HR
'Abdur-Razzaq) 

 

Dan sudah mafhum bahwa yang dimaksud dengan paling baik bacaannya adalah
paling memahami hukum-hukum shalat dan bacaan al-Qur'an. 

 

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Abu Musa minta izin sebanyak tiga kali untuk
masuk ke rumah 'Umar. Tampaknya ia mendapatkan 'Umar dalam keadaan sibuk
lalu ia pulang. "Tidakkah kamu dengar suara Abdullah Bin Qais (Abu Musa)?
Biarkan dia masuk," kata "Umar setelah Abu Musa pulang. Lalu dipanggillah
Abu Musa, seraya 'Umar berkata, "Apa yang membuatmu bersikap begitu?" la
menjawab, "Sesungguhnya kami diperintah begitu (oleh Rasulullah saw)" 'Umar
mengatakan, "Kamu harus mendatangkan bukti dan jika tidak akan aku hukum."
Maka keluarlah Abu Musa menemui majlis kaum Anshar dan mereka mengatakan,
"Tidak ada yang menjadi saksi untukmu selain orang yang paling kecil (muda)
di antara kita." Maka berdirilah Abu Sa'id seraya berkata, "Memang kita
diperintahkan demikian (oleh Rasulullah saw)" Umar berkata, "Aku tidak
mengetahui perintah Rasulullah saw tersebut. Urusan dagangan di pasar telah
membuatku lalai." (HR Muslim)

 

Dalam riwayat lain, "Tidak ada yang bisa menjadi saksi untukmu sekalian
kecuali orang yang paling muda usianya. Bangunlah wahai Abu Sa'id!"

 

Tidakkah Anda lihat, wahai saudaraku, bahwa Amirul Mu'minin menerima
kesaksian yang benar dari seorang anak kecil, Abu Sa'id Al-Khudri -semoga
Allah meridhai mereka- Mengapa kita tidak meneladaninya? Para salafus-salih
telah mempraktikkan dalam menerima kebenaran dari anak kecil bagaimana pun
keadaaannya.

 

Demikian pula Abu Hanifah -semoga Allah meridhainya. la menerima nasehat
dari anak kecil. Ketika melihat seorang anak bermain di tanah, beliau
menasehatinya, "Hati-hati, jangan sampai kamu jatuh ke tanah." Maka
berkatalah si anak kecil kepada imam besar itu, "Hati-hatilah engkau jangan
sampai terjatuh. Sebab jatuhnya seorang 'alim berarti jatuhnya alam
semesta." Maka tersentaklah jiwa Abu Hanifah demi mendengar ungkapan itu.
Karenanya ia tidak pernah berani mengeluarkan fatwa kecuali jika sudah
dikaji selama satu bulan bersama para muridnya.

 

Demikian pula 'Umar Bin 'Abdul-'Aziz. Saat ia menerima tampuk khilafah, para
utusan berdatangan untuk mengucapkan selamat atas jabatan barunya. Majulah
seorang anak kecil, mewakili satu rombongan utusan. Maka Khalifar 'Umar Bin
'Abdil 'Aziz berkata, "Tidak adakah di antara rombongan kamu orang yang
lebih tua darimu?" Maka anak itu menjawab, "Wahai Amirul Mu'minin, kalaulah
yang menjadi ukuran adalah usia, maka ada orang yang lebih tua darimu untuk
menduduki jabatan itu. Wahai Amirul Mu'minin tidakkah Anda tahu bahwa
manusia itu ditentukan oleh dua hal kecil yang ada padanya: lidah dan hati."
'Umar menjawab, "Nasihatilah aku wahai anak muda." Maka sang anak pun
menasehatinya hingga membuatnya menangis.

 

Anda lihat, jiwa-jiwa agung itu, kepala-kepala yang penuh dengan ilmu itu
menerima nasehat dan bimbingan dari anak-anak. Mereka mendengar anak-anak
itu dengan rendah hati lalu menerima pendapat mereka untuk mengoreksi dan
meluruskan pemikiran dan langkah mereka. Semoga Allah menjadikan saya dan
Anda berjalan di atas petunjuk dan menerima kebenaran dari anak kecil dan
orang tua.

 

Sumber : 25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak (Al Inshat Al In'ikasi
Khamsun Wa Isyruna Thariqah Fi Nafsi Ath Thifli Wa 'Aqlihi) Oleh Muhammad
Rasyid Dimas

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke