www.hidayatullah.com
Jumat, 20 Juli 2007
Hasil penelitian terbaru semakin menunjukkan bahwa manusi tidak mirip dengan 
monyet sebagaimana cenderung diyakini banyak orang. Artinya, hanya mitos
Hidayatullah.com--Hasil penelitian ilmiah terbaru semakin meruntuhkan 
mitos-mitos seputar teori evolusi. Salah satunya dimuat baru-baru ini di 
majalah ilmiah pro-evolusi kelas dunia Science, terbitan lembaga ilmiah 
bergengsi di dunia, American Association for the Advancement of Science, 
AAAS.
Science, 29 Juni 2007, jilid 316, halaman 1.836 menampilkan judul mencolok: 
"Relative Differences: The Myth of 1%" (Perbedaan-perbedaan Relatif: Mitos 
1%). "Dilihat dari genomnya, manusia dan simpanse sangatlah mirip, tapi 
penelitian-penelitian menunjukkan bahwa mereka tidaklah semirip seperti yang 
cenderung diyakini banyak orang", rangkum sang penulis artikel tersebut, Jon 
Cohen.
Akibat kurangnya pengetahuan
Di bagian News Focus, kolom biologi evolusi, laporan satu halaman itu 
memaparkan ulasan para pakar yang terlibat dalam penelitian tersebut. Di 
dalamnya dipaparkan pula kronologis mitos 1% itu, sebagaimana diulas di 
bawah ini.
Lebih dari 30 tahun silam, pakar biologi evolusi Allan Wilson dari 
Universitas California dan mahasiswanya Mary-Claire King membuat pernyataan 
meyakinkan yang mendukung adanya perbedaan genetis 1% simpanse-manusia. 
Temuan ini dimuat Science tahun 1975.
Namun perbedaan 1% ini ternyata lebih dikarenakan kurangnya pengetahuan di 
bidang genetika masa itu. Meskipun begitu, 99% persamaan genetis 
manusia-simpanse diyakini kuat para evolusionis kala itu. Namun, seperti 
kata Pascal Gagneux, pakar zoologi Universitas California San Diego, 
keyakinan keliru itu malah menjadi penghalang untuk memahami perbedaan yang 
sesungguhnya lebih besar antara simpanse dan manusia.
Beberapa puluh tahun kemudian, perangkat penelitian pun semakin canggih 
serta data genetik semakin berlimpah pula. Kini para peneliti memahami bahwa 
potongan-potongan DNA 'hilang', gen-gen 'tambahan', sambungan-sambungan 
'terubah' pada jaringan gen, dan rancang-bangun rumit kromosom semakin 
mempersulit penentuan kadar "ke-manusia-an" dan "ke-monyet-an".
Apa dampak fakta-fakta ilmiah baru tersebut? Pascal Gagneux menjawab: "Tidak 
ada satu-satunya cara untuk menampilkan jarak genetis antara dua makhluk 
hidup rumit".
Dari 1% menjadi 17.4%
Keyakinan perbedaan 1% simpanse-manusia pun tumbang beberapa dasawarsa 
kemudian. Majalah Science, 2 September 2005, halaman 1.468, melaporkan 
temuan tim Chimpanzee Sequencing and Analysis Consortium: DNA yang telah 
tersisipkan atau terhapuskan di dalam genome saja ternyata sudah beda 3%.
Setahun kemudian, tim yang dipimpin Matthew Hahn, yang melakukan genomika 
komputasi di Universitas Indiana, Bloomington, melaporkan temuannya di 
jurnal PLoS ONE edisi Desember 2006. Jumlah salinan gen manusia dan simpanse 
memiliki ketidaksamaan 6,4%.
Penelitian lain pun dilakukan dengan menghitung dan menganalisa perbedaan 
genetis otak manusia dan simpanse. Daniel Geschwind, pakar syaraf di UC Los 
Angeles (UCLA) dan timnya membandingkan mana dari 4000 gen yang 
terekspresikan secara bersamaan pada daerah-daerah tertentu di otak.
Dengan data ini, mereka membuat peta jaringan gen masing-masing spesies. 
Hasilnya, pada jaringan ini, sambungan tertentu pada otak manusia ternyata 
tidak dijumpai pada simpanse. Di bagian korteks, misalnya, 17,4% sambungan 
ditemukan hanya pada manusia, tulis Daniel Geschwind dalam Proceedings of 
the National Academy of Sciences, 21 November 2006.
Ditentukan faktor politik, sosial dan budaya
Bagian akhir artikel itu memuat tiga kalimat yang sangat mengejutkan 
sebagaimana dikutip di bawah ini:

"Dapatkah para peneliti mengumpulkan keseluruhan dari apa yang telah 
diketahui dan mendapatkan perbedaan prosentase pasti antara manusia dan 
simpanse? "Saya tidak berpendapat ada cara menghitung angka," kata pakar 
genetika Svante Pääbo, anggota konsorsium simpanse yang bermarkas di 
Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi, di Leipzig, Jerman. "Pada 
akhirnya, adalah hal bersifat politis, sosial dan budaya tentang bagaimana 
kita melihat perbedaan-perbedaan kita."
Demikianlah sebagian gambaran terkini tentang teori evolusi, yang lebih 
menampakkan kebingungan yang semakin parah dengan semakin majunya ilmu 
pengetahuan. Sisi politik, sosial dan budayalah, dan bukan data ilmiah, yang 
paling berperan memunculkan gambaran persamaan atau perbedaan antara manusia 
dan monyet. [sc/cr/www.hidayatullah.com] 



********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke