Tadi pagi ketika saya menonton suatu acara televisi, ada iklan sebuah produk 
pembalut wanita. Iklan ini canderung berbeda dengan iklan-iklan produk sejenis. 
Di situ ditampilkan seorang perempuan yang menelpon sambil menangis. Tenyata 
perempuan tersebut sedang menghubungi teman laki-lakinya dan mengabarkan bahwa 
dia itu hamil. Keduanya tampak menyesal. Kemudian ditutup dengan pesan yang 
kira-kira bertuliskan "Keep Virgin...", saya lupa lanjutannya. Saya kira iklan 
ini sangat baik, bukan lagi mengkampanyekan penggunaan kondom, tetapi 
mengkampanyekan agar setiap wanita yang belum menikah untuk menjaga kesuciannya.

Arman

  ----- Original Message ----- 
  From: ArisEko[SEI-Electrical Design] 
  To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP 
  Sent: Saturday, July 21, 2007 11:46 AM
  Subject: [ FUPM-EJIP ] Iklan Kondom Menyesatkan


  Iklan kondom yang diklaim bisa mencegah penularan HIV/AIDS ditayangkan 
televisi secara vulgar. Padahal kondom sama sekali tak bisa mencegah penularan 
virus mematikan itu.

  Sekelompok laki-laki muda mengendarai beberapa motor. Mereka terlihat seperti 
akan bersenang-senang. Salah satu dari mereka mengajak membeli antibiotik di 
sebuah apotik. Pelayan apotik lantas bertanya, "Antibiotik itu untuk apa?" 
Lelaki muda itu mejawab bersamaan, "Supaya terhindari dari HIV." Lalu, pelayan 
apotik itu mengatakan, "Yang bisa mencegah HIV bukan antibiotik tapi kondom." 
Lantas, pemuda-pemuda itu pun membelinya.
  Itulah adegan salah satu iklan kondom di televisi yang akhir-akhir ini muncul 
bebas tak kenal jam tayang. Iklan sejenis yang diperagakan oleh bintang kartun 
juga sering muncul. Di situ diperlihatkan, seorang lelaki dan perempuan membeli 
kondom di swalayan berbeda, sebelum masuk ke tempat semacam cafe, bar atau 
diskotik. Setelah bertemu, keduanya lantas duduk sambil berangkulan, lalu 
berdiri meninggalkan tempat juga sambil berangkulan.
  Yang lebih mencengangkan, ada iklan kondom yang menggambarkan ABG yang akan 
hang out alias kongkow-kongkow. ABG itu digambarkan memakai helm sebagai simbol 
keamanan dan dibumbui kata-kata, "Cewek-cewek sukanya yang aman." Kemudian, 
diikuti tampilnya merek kondom terkenal sebagai penutup adegan.


  Dari iklan-iklan itu, Pengkaji Sosial Ekonomi Islam Merza Gamal menilai, 
kondom bukan lagi menjadi alat kontrasepsi bagi program Keluarga Berencana 
(KB), tapi sebagai alat penjaga kesehatan. Yang lebih parah, lanjut Merza, 
iklan itu tidak mempersoalkan hubungan seks yang akan dilakukan itu antara 
pasangan resmi atau bukan. "Iklan itu hanya mengajak pemirsa memakai kondom 
jika ingin terhindar dari penularan HIV/AIDS," tuturnya.
  Padahal, pada era sebelum reformasi, kondom hanya dikenal sebagai salah satu 
alat kontrasepsi bagi program KB. Iklan kondom di televisi saat itu, disajikan 
dengan bahasa isyarat yang malu-malu. Dulu digambarkan, seorang suami yang 
malu-malu menagih sesuatu pada sang istri. Kini, iklan kondom digambarkan tanpa 
malu-malu lagi.


  Merza juga prihatin, iklan ini secara langsung telah mensosialisasikan 
kehidupan seks bebas pada masyarakat. Apalagi, iklan-iklan itu muncul kapan 
saja, bukan pada jam tayang tengah malam. "Jika anak-anak menonton tayangan ini 
akan mudah menirunya. Orang dewasa bisa mematikan televisi jika berada di 
rumah. Tapi tidak setiap saat orang tua bisa mengontrolnya. Jika anak dilarang 
sama sekali nonton TV, apakah itu tindakan bijak?" keluhnya.
  Karenanya, pemerintah dan Komisi Penyiaran harus bertindak. Jika tidak iklan 
ini akan menjerumuskan generasi negeri ini. Apalagi, Psikiater Prof Dr dr H 
Dadang Hawari jauh-jauh hari sudah mengingatkan bahwa kondom sama sekali tidak 
bisa mencegah penularan HIV/AIDS. Virus HIV masih bisa menembus pori-pori 
kondom. "Penelitian di AS dan Afrika membuktikan hal ini. Di AS, juga terjadi 
kegagalan program kondom untuk menanggulangi AIDS, karena pemakai kondom masih 
tertular AIDS. Akhirnya, kondom pun tak boleh dikapanyekan lagi di AS," ujarnya.


  Guru Besar Psikiater UIini lantas mengutip hasil penelitian H Jafe dari Pusat 
Pengendalian Penyakit Amerika Serikat atau United State Center of Diseases 
Control (US CDC). Penelitian ini menunjukkan, kondomisasi di AS yang 
dilaksanakan sejak 1982 mengalami kegagalan. Evaluasi yang dilakukan pada 1995 
sangat mengejutkan. Ternyata, kematian akibat AIDS di AS menjadi peringkat 
pertama, menggeser penyakit jantung dan kanker.
  Kenapa bisa terjadi demikian? Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan 
Jiwa Indonesia (PDSKJI) ini merinci beberapa sebabnya. Pertama, kampanye kondom 
justru mendekatkan orang berbuat zina (sek bebas dan pelacuran), karena merasa 
aman dari bahaya penyakit kelamin termasuk AIDS. Akibatnya, frekuensi perzinaan 
bertambah. Dengan kata lain, kampanye kondom menjerumuskan orang pada 
perzinaan, sehingga resiko tertular AIDS semakin besar.


  Kedua, kondom memiliki pori-pori dan cacat mikroskopis (pinholes). Pori-pori 
kondom dalam keadaan tidak meregang sebesar 1/60 mikron, jika meregang 
pori-pori akan membesar. Kondom juga memiliki 32.000 cacat mikroskopis dan 
tingkat kebocoran 30 persen. Sementara itu, ukuran virus HIV/AIDS hanya 1/250 
mikron. Jauh lebih kecil ketimbang pori-pori kondom. Akibatnya, kondom tidak 
100 persen aman untuk mencegah AIDS dan penyakit kelamin lain.
  Tak heran, jika pakar HIV/AIDS dari Harvard AIDS Institute, Amerika Serikat, 
J Mann sejak 1995, tak lagi menganjurkan program kondomisasi. Rekomendasi ini 
pun diikuti pakar lainnya dan pemerintah AS hingga sekarang. Ironisnya, di 
negeri kita justru dikampanyekan.


  Lantas, bagaimana cara mencegah penularan HIV/AIDS. Prof kelahiran Pekalongan 
64 tahun lalu ini menyarankan beberapa hal. Pertama, tidak melakukan perzinaan 
(sex bebas, perselingkuhan, pelacuran, homoseksual dan penyimpangan 
psikoseksual lain). Kedua, melakukan transfusi darah dan jarum suntik yang 
tidak tercemar HIV/AIDS. "Persoalannya, pengetahuan yang benar tentang kondom 
sengaja ditutup rapat demi tujuan tertentu," Tegasnya.
  Inilah faktanya, pengetahuan ilmiah sepertinya dicampakkan demi tujuan 
ekonomi dan penjajahan budaya. Ironis.


  Dwi Hardianto
  Laporan: Eman Mulyatman

  Keterangan:
  Naskah ini sudah dipublikasikan Majalah Sabili No 1 Th XV 26 Juli 2007


------------------------------------------------------------------------------


  ********************************************************
  Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
  ********************************************************
  Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
  http://www.usahamulia.net

  Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]

  Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]
  ********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke