Belajar Islam Secara Keseluruhan

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

 

Pak ustadz, saat ini saya dalam kebimbangan, selama ini saya hanya
mengerjakan shalat lima waktu dan perintah Allah lainnya. Suatu saat saya
bertemu dengan salah satu ulama, beliau menyarankan kepada saya untuk
belajar Islam secara keseluruhan, artinya saya harus lebih mendalami lagi
makna dari semuannya, kemudian saya disarankan untuk mengikuti tarekat. Yang
ingin saya tanyakan, apakah benar dalam beriman kita ada tingkatannya
seperti syariat, tarekat, hakikat, dan ma'rifat? Apakah hukumnya kita masuk
tarekat? Mohon bantuannya segera agar saya tidak bingung, pak ustadz?

 

wassalam wr wb.

 

Dony

 

Dhony Himawan

dhony at eramuslim.com 

 

Jawaban

Assalamu 'alaimu warahmatullah wabarakatuh,

 

Tingkatan syariat, tarekat, hakikat dan makrifat itu adalah idiom-idiom yang
biasa digunakan kalangan tasawwuf atau ahli tarekat. Apa yang mereka
ajarakan itu sebagiannya ada yang benar, namun tidak ada jaminan semuanya
benar.

 

Sebab kalangan ahli tasawwuf dan tarikat itu sendiri ada banyak ragamnya.
Dari yang paling bersih hingga yang paling kotor. Paling bersih maksudnya
adalah bersih dari beragam bentuk bid'ah dan syirik. Di mana semua yang
diajarkannya selalu dilandaskan kepada riwayat dan sunnah-sunnah Rasulullah
SAW dan masih konsekuen dengan hukum-hukum syariah.

 

Namun tidak sedikit di antaranya yang justru sudah menginjak-injak syariah
itu sendiri serta sulit menghindarkan diri dari khurafat, bid'ah dan
fenomena syirik. Bahkan boleh dibilang sudah keluar dari syariah Islam yang
telah ditetapkan oleh para ulama. Sehingga idiom syariah, tarekah, makrifat
dan hakikat itu hanya sekedar pemanis di bibir. Namun pada hakikatnya tidak
lain merupakan sebuah pengingkaran terhadap syariah serta merupakan
penyimpangan dari manhaj salafus shalih.

 

Kalau syariah diletakkan paling rendah, akan muncul kesan bahwa demi
kepentingan tarekah, makrifat dan hakikat, syariah bisa dikesampingkan. Dan
paham seperti ini berbahaya bahkan sesungguhnya merupakan bentuk
pengingkaran terhadap agama Islam.

 

Jangan sampai ada anggapan bahwa bila orang sudah mencapai derajat makrifat
apalagi hakikat, lalu dia bebas boleh tidak shalat, tidak puasa atau
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat itu sendiri. Kalau ajaran
yang anda tanyakan itu cenderung berpikiran seperti itu, ketahuliah anda
telah salah dalam memilih ulama. Kalau makrifat dan hakikat boleh menyalahi
syariah, maka ulama yang anda sebut itu tidak lain adalah syetan yang datang
merusak ajaran Islam.

 

Sebab Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan makrifat dan hakikat, beliau
hanya meninggalkan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman dalam menjalankan
syariah. Dan tidaklah seseorang bisa mencapai derajat makrifah dan hakikah,
manakala dia meninggalkan syariah.

 

Wallahu a'lam bishshawab, Wassalamu 'alakum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke