Tanya Pak,
Masalah lama.
Bagaimana berbakti kepada mertua, orang tua lain yang menjadi orang tua 
kita, karena istri/suami kita.
Mohon pencerahannya.




----- Original Message ----- 
From: "Idham Sugiarto" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP" 
<[email protected]>
Sent: Tuesday, July 24, 2007 11:32 AM
Subject: [ FUPM-EJIP ] MENGGAPAI RIDHA ALLAH DENGAN BERBAKTI KEPADA ORANG 
TUA


>
>
>
> MENGGAPAI RIDHA ALLAH DENGAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
>
> Oleh
>
> Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
>
>
>
> Seorang anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada 
> kedua orang tuanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang telah 
> berkeluarga. Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah 
> berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. Mengingat pentingnya 
> masalah berbakti kepada kedua orang tua, maka masalah ini perlu dikaji 
> secara khusus.
>
>
>
> Jalan yang haq dalam menggapai ridha Allah 'Azza wa Jalla melalui orang 
> tua adalah birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang 
> tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur'an, 
> setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah 'Azza wa Jalla 
> memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya.
>
>
>
> Seperti tersurat dalam surat al-Israa' ayat 23-24, Allah Ta'ala berfirman:
>
> "Artinya : Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah 
> melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. 
> Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia 
> lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan 
> kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, 
> dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah 
> dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Ya 
> Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku 
> pada waktu kecil.'" [Al-Israa' : 23-24]
>
>
>
> Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa' ayat 36:
>
> "Artinya : Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu 
> mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada 
> kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, 
> tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil [1], dan hamba 
> sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang 
> sombong dan membanggakan diri." [An-Nisaa' : 36]
>
>
>
> Dalam surat al-'Ankabuut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua 
> yang kafir jika mereka mengajak kepada kekafiran:
>
> "Artinya : Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada 
> kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku 
> dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka 
> janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan 
> akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." [Al-'Ankabuut 
> (29): 8] Lihat juga surat Luqman ayat 14-15.
>
>
>
> ANJURAN BERBUAT KEPADA KEDUA ORANG TUA BAIK DAN LARANGAN DURHAKA KEPADA 
> KEDUANYA
>
> Yang dimaksud ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua 
> orang tua, yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita 
> dan bila memungkinkan mencegah gangguan kepada keduanya. Menurut Ibnu 
> 'Athiyah, kita juga wajib mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah (yang 
> diperbolehkan syari'at), dan harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan 
> keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang (selama tidak melanggar 
> batasan-batasan Allah 'Azza wa Jalla).
>
>
>
> Sedangkan 'uququl walidain adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak 
> terhadap keduanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan 
> berupa perkataan, yaitu mengucapkan "ah" atau "cis", berkata dengan 
> kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci maki dan 
> lain-lain. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar, seperti 
> memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau 
> menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak mempedulikan, tidak 
> bersilaturrahim, atau tidak memberi nafkah kepada kedua orang tuanya yang 
> miskin.
>
>
>
> KEUTAMAAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA DAN PAHALANYA
>
> a)              Merupakan Amal Yang Paling Utama
>
> 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu berkata.
>
> "Artinya : Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, 'Amal 
> apakah yang paling utama?' Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam menjawab, 
> 'Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal 
> waktunya).' Aku bertanya lagi, 'Kemudian apa?' Nabi menjawab: 'Berbakti 
> kepada kedua orang tua.' Aku bertanya lagi: 'Kemudian apa?' Nabi menjawab, 
> 'Jihad di jalan Allah' [2]
>
>
>
> b)              Ridha Allah Bergantung Kepada Ridha Orang Tua
>
> Sesuai hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, disebutkan:
>
> "Artinya : Dari 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash radhiyallaahu 'anhuma, bahwa 
> Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ridha Allah 
> bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada 
> kemurkaan orang tua" [3]
>
>
>
> c)              Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan 
> Yang Sedang Dialami
>
> Yaitu, dengan cara bertawassul dengan amal shalih tersebut. Dalilnya 
> adalah hadits riwayat dari Ibnu 'Umar radhiyallaahu 'anhuma mengenai kisah 
> tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul 
> dengan bakti kepada ibu bapaknya.
>
> Haditsnya sebagai berikut:
>
>
>
> "Artinya : ...Pada suatu hari tiga orang dari ummat sebelum kalian sedang 
> berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah 
> gunung. Ketika mereka berada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar 
> runtuh dan menutupi mulut gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: 
> 'Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.' Kemudian mereka memohon 
> kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar 
> Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu di antara mereka 
> berkata: 'Ya Allah, sesung-guhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah 
> lanjut usia sedangkan aku mempunyai isteri dan anak-anak yang masih kecil. 
> Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu 
> dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku 
> harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga 
> pulang sudah larut malam dan aku dapati orang tuaku sudah tertidur, lalu 
> aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku 
> pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. 
> Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak 
> memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu 
> yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu 
> sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan 
> susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada 
> anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik 
> karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah mulut gua ini.' Maka batu yang 
> menutupi pintu gua itu pun bergeser sedikit.." [4]
>
>
>
> d)              Akan Diluaskan Rizki Dan Dipanjangkan Umur
>
> Sesuai sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam
>
> "Artinya : Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan 
> umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahimnya." [5]
>
>
>
> Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan adalah silaturahmi kepada orang 
> tua sebelum kepada yang lain. Banyak di antara saudara-saudara kita yang 
> sering berkunjung kepada teman-temannya, tetapi kepada orang tuanya 
> sendiri jarang, bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil, dia 
> selalu bersama orang tuanya. Sesulit apa pun harus tetap diusahakan untuk 
> bersilaturahmi kepada kedua orang tua, karena dekat kepada keduanya -insya 
> Allah- akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan umurnya.
>
>
>
> e)              Akan Dimasukkan Ke Surga Ooleh Allah 'Azza wa Jalla
>
> Berbuat baik kepada orang tua dan taat kepada keduanya dalam kebaikan 
> merupakan jalan menuju Surga. Sedangkan durhaka kepada orang tua akan 
> mengakibatkan seorang anak tidak masuk Surga. Dan di antara dosa-dosa yang 
> Allah 'Azza wa Jalla segerakan adzabnya di dunia adalah berbuat zhalim dan 
> durhaka kepada orang tua. Dengan demikian, jika seorang anak berbuat baik 
> kepada orang tuanya, Allah akan meng-hindarkannya dari berbagai 
> malapetaka, dengan izin Allah 'Azza wa Jalla dan akan dimasukkan ke Surga.
>
>
>
> BENTUK-BENTUK DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA
>
> a)              Menimbulkan gangguan terhadap orang tua, baik berupa 
> perkataan atau pun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati.
>
> b)              Berkata "ah" atau "cis" dan tidak memenuhi panggilan orang 
> tua.
>
> c)              Membentak atau menghardik orang tua.
>
> d)              Bakhil atau kikir, tidak mengurus orang tuanya, bahkan 
> lebih mementingkan yang lain daripada mengurus orang tuanya, padahal orang 
> tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan 
> penuh perhitungan.
>
> e)              Bermuka masam dan cemberut di hadapan orang tua, 
> merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, "kolot", dan lain-lain.
>
> f)                Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau 
> menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, 
> terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi, jika si ibu melakukan 
> pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri, maka tidaklah mengapa, dan 
> karena itu seorang anak harus berterima kasih dan membantu orang tua.
>
> g)              Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau 
> mencemarkan nama baik orang tua.
>
> h)              Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah, misalnya alat 
> musik, mengisap rokok, dan lain-lain.
>
> i)                Lebih mentaati isteri daripada kedua orang tua. Bahkan 
> ada sebagian orang yang tega mengusir ibunya demi menuruti kemauan 
> isterinya. Nas'alullaahas salaamah wal 'aafiyah
>
> j)                Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu 
> dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggal ketika status sosialnya 
> meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang 
> sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.
>
>
>
> BENTUK-BENTUK BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
>
> a)              Bergaul bersama keduanya dengan cara yang baik. Di dalam 
> hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam disebutkan bahwa memberi 
> kegembiraan kepada seseorang mukmin termasuk shadaqah, lebih utama lagi 
> kalau memberi kegembiraan kepada orang tua kita
>
>
>
> b)              Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah 
> lembut. Hendaknya dibedakan adab ber-bicara antara kepada kedua orang tua 
> dengan ke-pada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan 
> perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.
>
>
>
> c)              Tawadhu' (rendah hati). Tidak boleh kibr (sombong) apabila 
> sudah meraih sukses atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir, 
> kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan, kita diberi 
> makan, minum, dan pakaian oleh orang tua.
>
>
>
> d)              Memberi infaq (shadaqah) kepada kedua orang tua, karena 
> pada hakikatnya semua harta kita adalah milik orang tua. Oleh karena itu 
> berikanlah harta itu kepada kedua orang tua, baik ketika mereka minta 
> ataupun tidak.
>
>
>
> e)               Mendo'akan kedua orang tua. Di antaranya dengan do'a 
> berikut:
>
> "Wahai Rabb-ku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah 
> mendidikku sewaktu kecil."
>
>
>
> Seandainya orang tua masih berbuat syirik serta bid'ah, kita tetap harus 
> berlaku lemah lembut kepada keduanya, dengan harapan agar keduanya kembali 
> kepada Tauhid dan Sunnah. Bagaimana pun, syirik dan bid'ah adalah 
> sebesar-besar kemungkaran, maka kita harus mencegahnya semampu kita dengan 
> dasar ilmu, lemah lembut dan kesabaran. Sambil terus berdo'a siang dan 
> malam agar orang tua kita diberi petunjuk ke jalan yang benar.
>
>
>
> APABILA KEDUA ORANG TUA TELAH MENINGGAL
>
> Maka yang harus kita lakukan adalah:
>
> a)              Meminta ampun kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan taubat 
> nashuha (jujur) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu 
> mereka masih hidup.
>
> b)              Menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya ke kubur.
>
> c)              Selalu memintakan ampunan untuk keduanya.
>
> d)              Membayarkan hutang-hutangnya.
>
> e)              Melaksanakan wasiat sesuai dengan syari'at.
>
> f)                Menyambung silaturrahim kepada orang yang keduanya juga 
> pernah menyambungnya.
>
>
>
> Semoga dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam tersebut, kita 
> dimudahkan oleh Allah 'Azza wa Jalla dalam mewujudkan keluarga yang 
> sakinah, mawaddah wa rahmah. Aamiin.
>
>
>
> [Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis 
> Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, 
> Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]
>
> __________
>
> Foote Note
>
> [1].          Ibnu sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan 
> maksiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui 
> ibu-bapaknya.
>
> [2].          Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 527), 
> Muslim dalam Kitabul Iman (no. 85), an-Nasa-i (I/292-293), at-Tirmidzi 
> (no. 173), ad-Darimi (I/278), Ahmad (I/351, 409, 410, 439).
>
> [3].          Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul 
> Mufrad (no. 2), Ibnu Hibban (no. 2026 al-Mawaarid), at-Tirmidzi (no. 
> 1899), al-Hakim (IV/151-152), ia menshahihkan atas syarat Muslim dan 
> adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh al-Albani rahimahullaah mengatakan 
> hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (al-Hakim dan 
> adz-Dzahabi). Lihat Shahiih Adabul Mufrad (no. 2).
>
> [4].          Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2272), 
> Fathul Baari (IV/449), Muslim (no. 2743), dari Shahabat 'Abdullah bin 
> 'Umar radhiyallaahu 'anhuma.
>
> [5].          Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5985, 
> 5986), Muslim (no. 2557), Abu Dawud (no. 1693), dari Shahabat Anas bin 
> Malik radhiyallaahu 'anhu.
>
>
>
> http://www.almanhaj.or.id/content/2123/slash/0
>
>
>
> ********************************************************
> Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
> ********************************************************
> Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
> http://www.usahamulia.net
>
> Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
> [EMAIL PROTECTED]
> ********************************************************
>
> 




********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke