Jangan-jangan Tuhan Lagi Bercanda 

Oleh : KH Hasyim Muzadi 

Pernah sekali waktu, saat malam masih lekat memeluk bumi menjelang fajar, 
penulis harus meninggalkan Plaza PBNU di Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, 
menuju bandara internasional Soekarno-Hatta untuk sebuah kunjungan ke luar 
negeri. Sejatinya ini bukan perjalanan pertama di malam hari. Tetapi setelah 
sekian kali melakukan perjalanan serupa dengan waktu yang nyaris sama, dini 
hari, kesadaran penulis mendadak tergugah oleh sebuah rutinitas yang terjadi di 
puncak malam.

Laiknya ibu kota negara, Jakarta memang tak pernah ''mati''. Denyut kehidupan 
tiada pernah kenal kata berhenti. Denyut itu terasa benar di hampir semua 
bentangan jalan di Jakarta. Siapa gerangan yang malam-malam begini masih berada 
di jalanan? Untuk apa mereka begitu menikmati rutinitas yang jarang dilakukan 
komunitas masyarakat pada umumnya? Bukankah mereka seharusnya istirahat?

Ternyata mereka adalah saudara-saudara kita yang dalam stratifikasi sosial 
berada di lapisan paling bawah. Mereka terdiri dari para sopir angkot, sopir 
bus, sopir taksi, sopir pribadi, penjual sayur mayur, penjual ikan laut, kuli 
pasar, sopir angkutan kebutuhan pokok, sopir truk pengangkut bahan-bahan 
material bangunan, serta banyak jenis pekerjaan lainnya yang menggunakan malam 
sebagai fasilitasnya. Satu hal yang juga tak pernah lepas dari kehidupan 
masyarakat, adalah aparat yang menjaga lalu lintas kehidupan jalan di tengah 
malam. Beberapa kendaraan terpaksa harus dihentikan dan kebanyakan mobil 
pribadi justru dibiarkan pergi tanpa dicurigai. Beberapa terpaksa harus 
mengeluarkan korek api berisi rupiah dan beberapa lainnya entah memberikan apa. 
Yang jelas, ternyata malam hari juga bukanlah waktu yang ''aman'' bagi 
kehidupan saudara-saudara kita yang pekerja keras ini.

Ke manakah gerangan para penghuni strata teratas dalam kehidupan masyarakat 
kita saat malam tengah larut? Terbayangkankah bagi kita kalau pada malam hari 
kehidupan diistirahatkan sementara? Lalu tak ada sopir bus, tak ada sopir 
angkot, sopir pribadi harus istirahat, tak ada yang mengantar kebutuhan pokok 
ke pasar dan tak ada truk-truk, gandengan dan trailer, untuk mengangkut 
barang-barang ''kelas berat''? Kemudian, kalau malam masih juga diistirahatkan, 
maka tak akan kita temui ibu-ibu yang dengan rambut kusut masai dan masih 
terserang kantuk, duduk-duduk di atas tumpukan sayuran dengan menyerahkan nasib 
sepenuhnya kepada Allah SWT. Mereka seperti menemukan kedamaian di atas mobil 
bak terbuka. Siapakah gerangan yang menggantungkan kehidupan pada mereka; 
masyarakat kelas bawah ini? Orang bilang masyarakat kelas bawah menggantungkan 
hidup kepada penghuni strata atas. Tetapi sejatinya, masyarakat strata atas 
justru yang menggantukan kehidupan mereka kepada lapisan terbawah ini.

Begitu malam dilipat, dan matahari mulai lahir kembali, kehidupan seperti 
dijungkirbalikkan. Mereka, para penghuni siang hari, pernah terbayangkankah 
bagi mereka begitu harus sarapan, makan siang dan menikmati rutinitas di 
kantor? Siapakah gerangan yang menyiapkan ini semua? Tahukah mereka, begitu 
keras perjuangan masyarakat kelas bawah untuk membuat semua kehidupan siang 
enak dinikmati? Tahukah mereka, betapa berat perjuangan para kuli di pasar? 
Begitu berat tetapi begitu tak setimpal perhatian penghuni siang terhadap para 
penghuni malam. Allah Mahatahu atas semua ini. Karena memang Dialah yang 
merancangnya. 

Dialah yang mengatur siapa yang harus hidup di malam hari dan siapa yang harus 
di siang hari. Banyak sekali riwayat menjelaskan derajat para penghuni malam 
hari. Bekerja keras di malam hari, dengan ketenangan alam yang luar biasa, 
membuat kita seperti berdekatan dengan Dzat Yang Mahakuasa. Malam hari adalah 
penantian paling panjang bagi para pendamba kinasih Allah sejak siang hari. 
Malam hari adalah sebuah misteri. Lalu apakah mereka yang bekerja keras di 
malam hari, munajatnya tak pernah diqabul sehingga harus berkeringat dalam 
pelukan angin malam? Kenapa harus mereka yang berada di lapisan terbawah 
menerima ''nasib'' seperti ini? Bagi mereka yang berjuang di tengah malam 
dengan beragam niat mulia serta tujuan yang tulus, Allah tak akan pernah 
menyia-nyiakan mereka. 

Pernah sekali waktu dalam sebuah riwayat disebutkan; Allah memerintahkan para 
malaikat untuk segera mengqabul permohonan si fulan karena Allah jeri dengan 
tangisnya. Lalu malaikat turun ke langit dunia untuk memenuhi hajat si fulan. 
Padahal para malaikat mafhum si fulan bukanlah tipe hamba yang saleh. Rupanya, 
hal ini Allah lakukan karena Dia kurang berkenan dengan tangis si fulan yang 
tidak tulus, sehingga karena itu maka permintaannya harus segera dipenuhi agar 
tak berlama-lama menangis. Lalu ada pula si polan yang sudah tak terhitung 
jumlah munajat dan permohonannya tetapi tak juga ada isyarat qabul dari Allah 
SWT. Tangisnya tersedu dan suaranya tercekat di kerongkongan. Air matanya 
menetes secara teratur dan turun membasahi pipi. Malam membuatnya semakin 
khusyu' dan ibadahnya semakin tulus karena Allah SWT.

Secara bercanda Allah mengingatkan malaikat agar jangan disegerakan qabul atas 
permohonan dan munajat si polan. Malaikat mafhum, si polan jauh lebih berhak 
menerima haknya dibandingkan si fulan. Allah memiliki rahasia atas semua ini. 
Malaikat baru mafhum, ternyata Allah sangat menggemari tangisan si polan 
sehingga Dia selalu rindu mendengar suara tangisannya. Hadits Qudsi ini 
menjelaskan bahwa Allah memang setiap malam hari turun ke langit dunia menanti 
kedatangan para kekasih-Nya. Satu di antaranya si polan yang selalu tergetar 
hatinya begitu melakukan munajat di malam hari. Di manakah munajat dilakukan? 
Tidak selalu di atas bentangan sajadah atau sudut-sudut masjid dan mushala. 
Munajat juga bisa dilakukan di atas mobil bak terbuka, di belakang kemudi para 
sopir angkutan, di belakang setir sepeda motor, di sudut-sudut pasar serta di 
banyak tempat lainnya. Sungguh tinggi derajat seseorang yang di saat dia 
bekerja tetapi tak pernah melepas munajatnya kepada Allah. Ia membawa serta 
asma-Nya yang agung dalam setiap denyut kehidupannya. Dan ia merasa damai 
karenanya.

Mari kita bermunajat. ''Ya Allah! Hari demi hari usia kami kian berkurang, 
sementara kami tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Engkau datangkan rezeki 
kepada kami, sementara kami tak pernah memuji-Mu. Ya Robbi! Setiap hari Engkau 
datangkan rezeki untuk kami, sementara setiap malam malaikat datang kepada-Mu 
dengan membawa catatan keburukan kami. Kami makan dengan lahap rezeki-Mu, namun 
kami tak segan-segan berbuat durjana kepada-Mu. Kebaikan-Mu tak pernah putus 
mengalir untuk kami. Sebaliknya, catatan keburukan kami terbang kepada-Mu tiada 
henti. Ya Allah! Engkaulah Pelindung Terbaik bagi kami sedangkan kami adalah 
hamba-hamba terburuk bagi-Mu. Kami raup segala yang Engkau berikan untuk kami. 
Lalu Kaututupi kejelekan demi kejelekan yang kami perbuat secara 
terang-terangan tanpa malu kepada-Mu. Engkau menyatakan sungguh sangat malu 
kepada kami karena kejelekan amal kami sementara kami sedikit pun tak pernah 
merasa malu kepada-Mu. Ya Allah Wa Taqabbal Du'aa.'' Wallaahu A'lamu 
Bishshowaab. 




-- 
This message has been scanned for viruses and 
dangerous content by MailScanner, and is 
believed to be clean. 
-- 
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke