Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Kenyataannya tidak semudah itu. Ada berbagai kepentingan terkait dengan
penulisan sejarah. Bahkan terkadang, dalam sebagian sejarah begitu
transparannya pemutar balikan logika, namun toh masyarakat tetap dicekoki
dengan sejarah yang itu-itu juga.

Saya ambil contoh hari Kebangkitan Nasional. Kenapa berdirinya Budi Utomo
yang dijadikan hari Kebangkitan Nasional ? Di mana logikanya ? Perkumpulan
para bangsawan, yang menolak cacah kulicahan (rakyat jelata) menjadi
anggotanya, dijadikan standar kebangkitan kebangsaan Indonesia. Kalau anda
bukan Priyayi, Raden, anda tidak bisa bergabung dengan Budi Utomo ini.
Kalaupun anda Raden, tapi bukan bangsawan Jawa (katakanlah Raden dari
Pasundaan), maaf saja anda pun tetap tidak boleh menjadi anggota Budi Utomo
ini. Padahal dalam sejarah, kita melihat ada Syarikat Islam yang lebih
berkebangsaan Indonesia. Menyatukan berbagai suku bangsa (minimal di Jawa),
berbagai strata, bahkan pria dan wanita. Kenapa ?Jawabnya tentu mudah
ditebak.

Ambil contoh yang lain, Kartini. Mengapa Kartini yang dijadikan simbol
kebangkitan wanita. Seorang yang masih berkutat dengan angan-angannya saja.
Dan bukan tokoh wanita yang sudah kelihatan bergerak, menggerakkan
kesadaran kaum wanita di sekelilingnya. Mengapa pergolakan pribadi,
perlawanan individu bagi dirinya sendiri, yang dijadikan patokan ? Padahal,
ada tokoh wanita yang kita tahu bersama bahkan sudah membuat sekolah bagi
kaum wanita pertama. Ia terjun langsung bukan untuk kepentingan pribadinya.
Dan ia pun jelas melawan tradisi budaya pengekangan pada masanya.

Kembali kepada tokoh Ahmad Lussy, yang disamarkan dengan nama Pattimura
bahkan diselewengkan secara sengaja dengan nama Thomas Matulessy yang
mengarah kepada seorang Nashrani, ini hanyalah salah satu contoh. Contoh
lain, Sisinga Mangaraja dan Christina Marta Tiahahu. Siapa yang menyangka
mereka berdua adalah beragama Islam. Sejarah kita kental penipuan !
Ambillah contoh pahlawan-pahlawan nasional lainnya yang anda fikir sebagai
Nashrani, dan cobalah tanyakan kepada Dr. Ahmad Mansyur Suryanegara. Anda
akan terkejut dengan fakta-fakta akurat yang beliau berikan, bahwa ternyata
(hampir) semua beragama Islam.

 Ini mudah dimengerti. Belanda, Portugis, selain menjajah, mereka dahulu
juga menyebarkan agama mereka. Ingat Glory, Gold and Gospel. Maka
orang-orang yang masuk ke dalam agama mereka, jelas akan sangat sulit (atau
diposisikan sulit, sesuai dogma mereka) untuk menentang mereka.

Alhamdulillaah, Allah memperkenalkan saya dengan beliau (Ahmad Mansyur
Suryanegara) ketika saya masih SMA. Sekitar 20 tahun yang lalu. Beliau
masih muda dan sangat energik saat itu. Beliau banyak menjelaskan
hasil-hasil penelitiannya sebagai ahli sejarah Indonesia, terutama
perhatian beliau pada sejarah Islam di Indonesia. Kami pada waktu itu,
banyak mengundang beliau dalam training-training diniyyah di SMA kami di
Bandung. Dengan sukarela, tanpa meminta bayaran beliau bersedia hadir
meluangkan waktunya yang sangat berharga untuk kami. Dan saat itu pun
beliau pun sudah mengadakan usaha-usaha pelurusan sejarah bersama-sama
dengan para ulama kita. Bersama-sama para ahli sejarah, kolega beliau,
bahkan banyak di antaranya senior-senior beliau. Namun usaha ini seperti
membentur tembok baja yang sangat tebal dan berlapis-lapis.

Terakhir, usaha beliau adalah menerbitkan hasil penelitiannya tersebut agar
bisa tersebar secara luas. Saya lupa judul bukunya (kalau nggak salah ada
di rumah), namun akhirnya buku beliau berhasil diterbitkan. Setelah melalui
perjuangan yang sangat panjang, dan rintangan yang beraneka ragam, panjang
dan melelahkan. Mudah-mudahan Allah membalas jasa beliau mengembalikan
sejarah Islam Indonesia ke pangkuan kita, kaum muslimin Indonesia, dengan
sebaik-baiknya balasan.

Terakhir, saya ingat perkataan pertama guru sejarah SMA saya. History is
the story of the winner. Sejarah adalah cerita (versi) sang pemenang. Siapa
yang berkuasa, itulah yang merumuskan sejarah. Bahkan meski bertentangan
dengan fakta. (Di situlah gunanya ahli sejarah, menurut saya, untuk
meluruskan sejarah berdasarkan fakta-fakta yang obyektif).

* Jadi, tidak semudah yang anda bayangkan untuk meluruskan sejarah
(mengkoreksi buku sejarah resmi).

Wallaahul-musta'aan

Abu Karimna,






"harwoto" <[EMAIL PROTECTED]>@usahamulia.net on 07/25/2007 04:20:18
PM

Please respond to Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
       <[email protected]>

Sent by:    [EMAIL PROTECTED]


To:    "Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP"
       <[email protected]>
cc:

Subject:    Re: [ FUPM-EJIP ] Meluruskan sejarah Kapitan Ahmad `Pattimura'
       Lussy



maaf, kalau faktanya memang demikian kenapa hal ini  tidak di teruskan ke
depdiknas, agar buku-buku sejarah di koreksi, demi  anak-cucu kita
nantinya. ( kemungkinan ada debat, tetapi kalau datanya lengkap ,  Insya
Allah sejarah bisa di luruskan )

wassalam







********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke