Assalamualaikum wr wb
ini ada tulisan dari seorang sahabat yg beliau tulis di bisnis.com
PKS is our common enemy
oleh : Djony Edward, Wartawan Bisnis Indonesia
Suatu hari saya menelepon seorang mantan jenderal yang disegani dimasa
Presiden Megawati Soekarno Putri. Dalam percakapan dengan jenderal
tersebut
sempat tercetus diskusi ringan, bagaimana pendapat Anda tentang Partai
Keadilan Sejahtera (PKS)? Terutama kaitannya dengan pencalonan Gubernur
DKI
Jakarta.
Sang jenderal hanya menjawab singkat, "PKS common enemy (musuh
bersama)."
Tanpa hendak bermaksud menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud common
enemy
bagi PKS, sang jenderal mengalihkan pembicaraan dari A hingga Z tentang
perkembangan di tanah air.
Bagi penulis, pernyataan common enemy cukup menyentakkan. Karena
pernyataan
itu seolah mengingatkan saya pada kemenangan Front Islamic Salvation
(FIS)
di Aljazair dan Refa di Turki dalam pemilu setempat yang kemudian
kemenangan
itu langsung dijegal oleh militer.
Indikasi serupa sempat muncul saat Nurmahmudi Ismail memenangkan pilkada
di
Depok setelah mengalahkan calon incumbent Badrul Kamal. Karuan saja
setelah
MA dan PN Jabar memenangkan kader PKS ini jegal melalui aksi-aksi tak
konstitusional, mulai dari demostrasi tak berkesudahan, aksi tak
simpatik
anggota DPRD non PKS yang cenderung mendiskreditkan Nurmahmudi, hingga
aksi
pengempesan ban mobil sang walikota dan pelemparan bom molotov mobil
kader
PKS Depok.
Pernyataan itu juga mengingatkan ketika Zulkieflimansyah bersama
pasangannya
Marissa Haque saat mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wagub Banten.
Dimana tiga parpol besar: PPP, PDIP dan Partai Golkar bersatu untuk
melawan
kader dari PKS.
Tak kalah pentingnya saat pilkada bupati Bekasi dimana pasangan
Sa'aduddin
dan M. Darip Mulyana yang sempat dinyatakan kalah, namun akhirnya\ndimenangkan
oleh PN Jabar.\u003cbr\>\nPuncak gunung es relasi antara pernyataan sang
jenderal tentang PKS\u003cbr\>\nadalah\u003cbr\>\ncommon enemy saat calon PKS:
Adang Daradjatun dan Dani Anwar harus\u003cbr\>\nberhadapan dengan Fauzi
'Foke' Bowo dan Prijanto yang juga adalah sang\u003cbr\>\njenderal
militer. Tak tanggung-tanggung Foke-Prijanto didukung 20 parpol\u003cbr\>\nyang
tergabung dalam Koalisi Jakarta.\u003cbr\>\nSintesa bahwa PKS adalah common
enemy seolah menemukan justifikasi\u003cbr\>\npaling\u003cbr\>\nnyata di
pilkada DKI Jakarta. Ini juga yang mengonfirmasi
mengapa\u003cbr\>\npilkada\u003cbr\>\nDKI Jakarta begitu gegap gempita, riuh
rendah dan seolah memanas,\u003cbr\>\npadahal\u003cbr\>\nkedua calon belum lagi
memaparkan visi dan misi serta program
kerja\u003cbr\>\nmereka.\u003cbr\>\nPilkada DKI Jakarta begitu serius menyusul
ada unsur PKS yang
pada\u003cbr\>\nPemilu\u003cbr\>\n2004 menguasai pangsa suara sebanyak
1.057.246 suara atau jika\u003cbr\>\ndipresentir\u003cbr\>\nmenguasai pangsa
suara warga DKI sebesar 22,32%, vis a vis
dengan\u003cbr\>\nKoalisi\u003cbr\>\nJakarta yang merepresentasikan lebih dari
70% pemilih yang terhimpun di\u003cbr\>\n20\u003cbr\>\nparpol
pendukung.\u003cbr\>\nPraktis di atas kertas Foke harusnya menang, karena
didukung oleh 20\u003cbr\>\nparpol\u003cbr\>\ndengan menguasai pangsa suara
melebihi syarat untuk menang. Berikut al.\u003cbr\>\nparpol pendukung Foke:
Partai Demokrat (20,23%), PDIP (14,02%), Golkar\u003cbr\>\n(9,16%), PPP
(8,16%), PAN (7,03%), PDS (5,34%), PBR (2,90%),
PBB\u003cbr\>\n(1,45%),\u003cbr\>\nmaupun PKPB
(1,83%).\u003cbr\>\n\u003cbr\>\nMaksimalkan kemenangan\u003cbr\>\nJika
mengamati besarnya dukungan atas Foke, maka praktis
kemenangan\u003cbr\>\nputra\u003cbr\>\nBetawi itu sudah di atas kertas. Tapi
pertanyaannya, mengapa
sebegitu\u003cbr\>\nbesar\u003cbr\>\nsuara yang dibutuhkan Foke untuk
menguasai Jakarta 1? Padahal untuk\u003cbr\>\nsahnya\u003cbr\>\nseorang
kandidat cuma membutuhkan dukungan suara 15% dari parpol
peserta\u003cbr\>\npemilu 2004.\u003cbr\>\nTentu ada hidden story yang membuat
Foke tak terlalu memedulikan aspek\u003cbr\>\npendidikan politik untuk provinsi
tertinggi tingkat rasialnya sekaligus\u003cbr\>\nibukota negara. Foke ingin
memaksimalkan kemenangan setelah sebelumnya\u003cbr\>\nsempat ditolak oleh
Ustad Hilmi Aminuddin.",1] ); //-->
dimenangkan oleh PN Jabar.
Puncak gunung es relasi antara pernyataan sang jenderal tentang PKS
adalah
common enemy saat calon PKS: Adang Daradjatun dan Dani Anwar harus
berhadapan dengan Fauzi 'Foke' Bowo dan Prijanto yang juga adalah sang
jenderal militer. Tak tanggung-tanggung Foke-Prijanto didukung 20 parpol
yang tergabung dalam Koalisi Jakarta.
Sintesa bahwa PKS adalah common enemy seolah menemukan justifikasi
paling
nyata di pilkada DKI Jakarta. Ini juga yang mengonfirmasi mengapa
pilkada
DKI Jakarta begitu gegap gempita, riuh rendah dan seolah memanas,
padahal
kedua calon belum lagi memaparkan visi dan misi serta program kerja
mereka.
Pilkada DKI Jakarta begitu serius menyusul ada unsur PKS yang pada
Pemilu
2004 menguasai pangsa suara sebanyak 1.057.246 suara atau jika
dipresentir
menguasai pangsa suara warga DKI sebesar 22,32%, vis a vis dengan
Koalisi
Jakarta yang merepresentasikan lebih dari 70% pemilih yang terhimpun di
20
parpol pendukung.
Praktis di atas kertas Foke harusnya menang, karena didukung oleh 20
parpol
dengan menguasai pangsa suara melebihi syarat untuk menang. Berikut al.
parpol pendukung Foke: Partai Demokrat (20,23%), PDIP (14,02%), Golkar
(9,16%), PPP (8,16%), PAN (7,03%), PDS (5,34%), PBR (2,90%), PBB
(1,45%),
maupun PKPB (1,83%).
Maksimalkan kemenangan
Jika mengamati besarnya dukungan atas Foke, maka praktis kemenangan
putra
Betawi itu sudah di atas kertas. Tapi pertanyaannya, mengapa sebegitu
besar
suara yang dibutuhkan Foke untuk menguasai Jakarta 1? Padahal untuk
sahnya
seorang kandidat cuma membutuhkan dukungan suara 15% dari parpol peserta
pemilu 2004.
Tentu ada hidden story yang membuat Foke tak terlalu memedulikan aspek
pendidikan politik untuk provinsi tertinggi tingkat rasialnya sekaligus
ibukota negara. Foke ingin memaksimalkan kemenangan setelah sebelumnya
sempat ditolak oleh Ustad Hilmi Aminuddin.\nSuatu hari, Ketua DPD RI Ginandjar
Kartasasmita bertandang ke kediaman\u003cbr\>\nUstad\u003cbr\>\nHilmi di
bilangan Kali Malang. Setelah diterima dan ngobrol
ngalor\u003cbr\>\nngidul,\u003cbr\>\nsetengah jam kemudian Ginandjar mohon
izin.\u003cbr\>\n"Ustad, mohon maaf. Sebenarnya saya datang ke rumah Ustad
dengan adik\u003cbr\>\nsaya,"\u003cbr\>\ndemikian papar mantan Mentamben dan
Kepala Bappenas di masa Presiden\u003cbr\>\nSoeharto.\u003cbr\>\n"Siapa? Kok
tak disuruh masuk?" ungkap Ustad Hilmi.\u003cbr\>\n"Foke, Ustad," tambah
Ginandjar.\u003cbr\>\nPendek kata, akhirnya Foke yang berkeliling setengah jam
di gang-gang\u003cbr\>\nsekitar Kali Malang meluncur ke rumah Ustad Hilmi.
Singkat kata, dalam\u003cbr\>\nobrolan itu Ginandjar dan Foke minta dukungan
dari orang yang paling\u003cbr\>\ndisegani di PKS itu.\u003cbr\>\nApa jawaban
Ustad Hilmi? Tentu jauh panggang dari api.
Berikut\u003cbr\>\npetikannya,\u003cbr\>\n"Wah
permintaan dukungan ini telat. PKS sudah memiliki calon,
yakni\u003cbr\>\nAdang\u003cbr\>\nDaradjatun. Kalau begitu silakan saja
berkompetisi secara sehat."\u003cbr\>\nItulah sekelumit kisah dimana Foke
sempat juga meminta dukungan kepada\u003cbr\>\nPKS,\u003cbr\>\ndimana Golkar
sebagai inisiator bersama PPP cukup mendapat dukungan
PKS\u003cbr\>\ndan\u003cbr\>\nPDIP maka sudah mengusai pangsa suara lebih dari
51%. Artinya tingkat\u003cbr\>\nkonsolidasi akan lebih sederhana dan lebih
mudah.\u003cbr\>\nNamun dengan penolakan yang dilakukan Ustad Hilmi, yang
juga\u003cbr\>\nmerepresentasikan penolakan PKS, maka hal ini membuat gelisah
kubu\u003cbr\>\npendukung\u003cbr\>\nFoke. Maka untuk memastikan ketenangan dan
memuluskan kemenangan\u003cbr\>\ndigalanglah\u003cbr\>\nKoalisi Jakarta yang
melibatkan 20 parpol. Peduli setan dengan aspek\u003cbr\>\npendidikan politik,
yang penting bagaimana memaksimalkan
kemenangan.\u003cbr\>\nJadilah\u003cbr\>\nPKS sebagai common enemy bagi,
paling tidak, elit politik di DKI. Tapi\u003cbr\>\nbelum\u003cbr\>\ntentu bagi
rakyat DKI Jakarta.\u003cbr\>\nMenurut hemat penulis, dinamika yang terjadi
dalam proses pencalonan\u003cbr\>\nGubernur dan Wagub DKI ini, tak lepas dari
sikap Koalisi Jakarta yang\u003cbr\>\nmenganggap PKS sebagai common enemy.
Apalagi jejak rekam PKS yang telah\u003cbr\>\nmengikuti hampir 250 pilkada di
Indonesia (dari 297 pilkada yang pernah",1] ); //-->
Suatu hari, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita bertandang ke kediaman
Ustad
Hilmi di bilangan Kali Malang. Setelah diterima dan ngobrol ngalor
ngidul,
setengah jam kemudian Ginandjar mohon izin.
"Ustad, mohon maaf. Sebenarnya saya datang ke rumah Ustad dengan adik
saya,"
demikian papar mantan Mentamben dan Kepala Bappenas di masa Presiden
Soeharto.
"Siapa? Kok tak disuruh masuk?" ungkap Ustad Hilmi.
"Foke, Ustad," tambah Ginandjar.
Pendek kata, akhirnya Foke yang berkeliling setengah jam di gang-gang
sekitar Kali Malang meluncur ke rumah Ustad Hilmi. Singkat kata, dalam
obrolan itu Ginandjar dan Foke minta dukungan dari orang yang paling
disegani di PKS itu.
Apa jawaban Ustad Hilmi? Tentu jauh panggang dari api. Berikut
petikannya,
"Wah permintaan dukungan ini telat. PKS sudah memiliki calon, yakni
Adang
Daradjatun. Kalau begitu silakan saja berkompetisi secara sehat."
Itulah sekelumit kisah dimana Foke sempat juga meminta dukungan kepada
PKS,
dimana Golkar sebagai inisiator bersama PPP cukup mendapat dukungan PKS
dan
PDIP maka sudah mengusai pangsa suara lebih dari 51%. Artinya tingkat
konsolidasi akan lebih sederhana dan lebih mudah.
Namun dengan penolakan yang dilakukan Ustad Hilmi, yang juga
merepresentasikan penolakan PKS, maka hal ini membuat gelisah kubu
pendukung
Foke. Maka untuk memastikan ketenangan dan memuluskan kemenangan
digalanglah
Koalisi Jakarta yang melibatkan 20 parpol. Peduli setan dengan aspek
pendidikan politik, yang penting bagaimana memaksimalkan kemenangan.
Jadilah
PKS sebagai common enemy bagi, paling tidak, elit politik di DKI. Tapi
belum
tentu bagi rakyat DKI Jakarta.
Menurut hemat penulis, dinamika yang terjadi dalam proses pencalonan
Gubernur dan Wagub DKI ini, tak lepas dari sikap Koalisi Jakarta yang
menganggap PKS sebagai common enemy. Apalagi jejak rekam PKS yang telah
mengikuti hampir 250 pilkada di Indonesia (dari 297 pilkada yang
pernah\ndigelar), kader PKS berhasil memenangkan di 77 titik pilkada atau
lebih\u003cbr\>\ndari\u003cbr\>\n30%.\u003cbr\>\nKemenangan pilkada yang
diikuti kader PKS ada yang dilakukan sendiri,\u003cbr\>\nada\u003cbr\>\nyang
berkoalisi dengan elit politik lokal, maupun dengan birokrat
dan\u003cbr\>\npengusaha setempat. Lepas dari semua itu, kiprah parpol yang
memasuki\u003cbr\>\ntahun\u003cbr\>\nke-10 berpolitik di tanah air (maklum
sebelumnya cuma sibuk berdakwah),\u003cbr\>\nsudah mampu tampil dengan daya
pikat 30% di daerah pemilihan.\u003cbr\>\nItu sebabnya, bisa difahami jika
terbentuk Koalisi Jakarta yang tak mau\u003cbr\>\nmenganggap enteng calon yang
diusulkan PKS. Bukan semata-mata siapa\u003cbr\>\ncalonnya, tapi justru cara
kerja mesin politik PKS yang mampu menembus\u003cbr\>\njantung hati
rakyat.\u003cbr\>\nAda atau tidak ada pilkada ataupun pemilu, kader PKS
terbilang
rajin\u003cbr\>\nmenyapa\u003cbr\>\natau bahkan berjibaku ikut larut dalam
penderitaan yang dialami rakyat.\u003cbr\>\nFenomena banjir Jakarta, cuma PKS
yang dengan sigap membangun 60 titik\u003cbr\>\nposko\u003cbr\>\nyang
melibatkan ratusan, bahkan ribuan kadernya, serta bantuan
sukarela\u003cbr\>\nwarga, untuk menolong mereka yang terendam banjir. Posko
itu dibentuk\u003cbr\>\ndari\u003cbr\>\nawal Jakarta terendam banjir hingga
tetes banjir yang terakhir.\u003cbr\>\nBerbeda dengan parpol lain, yang mungkin
ada juga yang turun ke lokasi\u003cbr\>\nbanjir, namun staminanya tidak selama
PKS. Bahkan ada parpol besar yang\u003cbr\>\ncuma\u003cbr\>\nmemasang spanduk
mengucapkan turut berduka atas banjir yang
melanda\u003cbr\>\nwarga\u003cbr\>\nJakarta.\u003cbr\>\nBahkan Pemda DKI
Jakarta saja, baru minggu kedua pasca banjir menurunkan\u003cbr\>\nbantuan
bertruk-truk sembako dan pakaian serta selimut. Suatu sikap
yang\u003cbr\>\ntidak buruk. Tapi jika dilihat dari aspek
berlomba-lomba dalam\u003cbr\>\nkebajikan,\u003cbr\>\nmaka kader PKS lah yang
maju dimuka.\u003cbr\>\nKedekatan PKS dengan warga inilah yang menggelisahkan
lawan politik,\u003cbr\>\nkarena\u003cbr\>\nitu dibuatlah strategi common enemy
dengan membentuk Koalisi Jakarta.\u003cbr\>\nPenulis menduga, dinamika politik
menjelang penentuan calon seperti\u003cbr\>\nfenomena\u003cbr\>\nyang melanda
para jenderal: Slamet Kirbiyanto, Djasri Marin, maupun Agum",1] ); //-->
digelar), kader PKS berhasil memenangkan di 77 titik pilkada atau lebih
dari
30%.
Kemenangan pilkada yang diikuti kader PKS ada yang dilakukan sendiri,
ada
yang berkoalisi dengan elit politik lokal, maupun dengan birokrat dan
pengusaha setempat. Lepas dari semua itu, kiprah parpol yang memasuki
tahun
ke-10 berpolitik di tanah air (maklum sebelumnya cuma sibuk berdakwah),
sudah mampu tampil dengan daya pikat 30% di daerah pemilihan.
Itu sebabnya, bisa difahami jika terbentuk Koalisi Jakarta yang tak mau
menganggap enteng calon yang diusulkan PKS. Bukan semata-mata siapa
calonnya, tapi justru cara kerja mesin politik PKS yang mampu menembus
jantung hati rakyat.
Ada atau tidak ada pilkada ataupun pemilu, kader PKS terbilang rajin
menyapa
atau bahkan berjibaku ikut larut dalam penderitaan yang dialami rakyat.
Fenomena banjir Jakarta, cuma PKS yang dengan sigap membangun 60 titik
posko
yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan kadernya, serta bantuan sukarela
warga, untuk menolong mereka yang terendam banjir. Posko itu dibentuk
dari
awal Jakarta terendam banjir hingga tetes banjir yang terakhir.
Berbeda dengan parpol lain, yang mungkin ada juga yang turun ke lokasi
banjir, namun staminanya tidak selama PKS. Bahkan ada parpol besar yang
cuma
memasang spanduk mengucapkan turut berduka atas banjir yang melanda
warga
Jakarta.
Bahkan Pemda DKI Jakarta saja, baru minggu kedua pasca banjir menurunkan
bantuan bertruk-truk sembako dan pakaian serta selimut. Suatu sikap yang
tidak buruk. Tapi jika dilihat dari aspek berlomba-lomba dalam
kebajikan,
maka kader PKS lah yang maju dimuka.
Kedekatan PKS dengan warga inilah yang menggelisahkan lawan politik,
karena
itu dibuatlah strategi common enemy dengan membentuk Koalisi Jakarta.
Penulis menduga, dinamika politik menjelang penentuan calon seperti
fenomena
yang melanda para jenderal: Slamet Kirbiyanto, Djasri Marin, maupun
Agum\nGumelar, belum lagi fenomena Rano Karno, Sarwono Kusumaatmaja, tak
lebih\u003cbr\>\ndari bagian dinamika yang memperkaya dan mengarahkan PKS
sebagai common\u003cbr\>\nenemy.\u003cbr\>\n\u003cbr\>\nPlus
minus\u003cbr\>\nOleh karena itu, pilkada DKI cuma memiliki dua calon, yakni
pasangan\u003cbr\>\nFoke-Prijanto dan Adang-Dani. Pasangan mana yang oleh
banyak pengamat\u003cbr\>\ndan\u003cbr\>\nmantan pejabat sebagai pasangan yang
memiliki plus minus.\u003cbr\>\nKarena itu muncul ide-ide calon independen guna
menampung aspirasi\u003cbr\>\nkelemahan\u003cbr\>\ndua kandidat tersebut. Namun
kandidat PKS merasa tak keberatan kalau\u003cbr\>\nmemang\u003cbr\>\ndinginkan,
namun kandidat Koalisi Jakarta menolak lantaran
tidak\u003cbr\>\nmemenuhi\u003cbr\>\nkaidah dan ketentuan perundangan yang
berlaku.\u003cbr\>\nFoke sebagai calon incumbet, tentu sangat potensial
memenangkan
pilkada\u003cbr\>\nDKI\u003cbr\>\nJakarta. Karena selain didukung oleh 20
parpol, juga didukung birokrasi\u003cbr\>\nyang\u003cbr\>\nsaat ini
dipimpinnnya. Tambahan pula Foke cuti setelaha da
kepastian\u003cbr\>\nDaftar\u003cbr\>\nPemilih Tetap, hasil kerja Dukcapil yang
nota bene masih dikomandaninya.\u003cbr\>\nPada saat yang sama kader PKS, LSM,
pengamat, mahasiswa, dan sejumlah\u003cbr\>\ntokoh\u003cbr\>\nmencaci cara
kerja penjaringan calon pemilih karena ditengarai
adanya\u003cbr\>\nghost\u003cbr\>\nvooter lebi dari 1 juta. Tingkat diskusi pun
menemui jalan buntu, KPUD\u003cbr\>\ntetap\u003cbr\>\njalan terus dengan data
yang dimilikinya dari hasil proses yang lemah\u003cbr\>\nsekali, kendati
mendapat cap penyelenggara pilkada paling buruk
di\u003cbr\>\nIndonesia.\u003cbr\>\nPKS tetap ngotot bahwa proses itu tidak
aspiratif, arogan, dan\u003cbr\>\nmenghalangi\u003cbr\>\nkader-kadernya yang
belum terdaftar. Kendati KPUD merasa sudah membuka\u003cbr\>\nperpanjangan masa
pendaftaran yang juga sebenarnya serba dibatasi
oleh\u003cbr\>\nwaktu\u003cbr\>\ndan tempat pendaftaran.\u003cbr\>\nApa boleh
buat, DKI ke depan harus dipimpin oleh kedua pasangan
yang\u003cbr\>\ntelah\u003cbr\>\nada, yang dilahirkan dari proses demokrasi
yang rendah, bahkan mengarah\u003cbr\>\npada\u003cbr\>\nkartel
kekuasaan.\u003cbr\>\nFoke yang juga seorang doktor tata kota memiliki
justifikasi akademis\u003cbr\>\nyang\u003cbr\>\nmemadai, selain kaya raya, dia
juga dikenal penderma. Sejumlah",1] ); //-->
Gumelar, belum lagi fenomena Rano Karno, Sarwono Kusumaatmaja, tak lebih
dari bagian dinamika yang memperkaya dan mengarahkan PKS sebagai common
enemy.
Plus minus
Oleh karena itu, pilkada DKI cuma memiliki dua calon, yakni pasangan
Foke-Prijanto dan Adang-Dani. Pasangan mana yang oleh banyak pengamat
dan
mantan pejabat sebagai pasangan yang memiliki plus minus.
Karena itu muncul ide-ide calon independen guna menampung aspirasi
kelemahan
dua kandidat tersebut. Namun kandidat PKS merasa tak keberatan kalau
memang
dinginkan, namun kandidat Koalisi Jakarta menolak lantaran tidak
memenuhi
kaidah dan ketentuan perundangan yang berlaku.
Foke sebagai calon incumbet, tentu sangat potensial memenangkan pilkada
DKI
Jakarta. Karena selain didukung oleh 20 parpol, juga didukung birokrasi
yang
saat ini dipimpinnnya. Tambahan pula Foke cuti setelaha da kepastian
Daftar
Pemilih Tetap, hasil kerja Dukcapil yang nota bene masih dikomandaninya.
Pada saat yang sama kader PKS, LSM, pengamat, mahasiswa, dan sejumlah
tokoh
mencaci cara kerja penjaringan calon pemilih karena ditengarai adanya
ghost
vooter lebi dari 1 juta. Tingkat diskusi pun menemui jalan buntu, KPUD
tetap
jalan terus dengan data yang dimilikinya dari hasil proses yang lemah
sekali, kendati mendapat cap penyelenggara pilkada paling buruk di
Indonesia.
PKS tetap ngotot bahwa proses itu tidak aspiratif, arogan, dan
menghalangi
kader-kadernya yang belum terdaftar. Kendati KPUD merasa sudah membuka
perpanjangan masa pendaftaran yang juga sebenarnya serba dibatasi oleh
waktu
dan tempat pendaftaran.
Apa boleh buat, DKI ke depan harus dipimpin oleh kedua pasangan yang
telah
ada, yang dilahirkan dari proses demokrasi yang rendah, bahkan mengarah
pada
kartel kekuasaan.
Foke yang juga seorang doktor tata kota memiliki justifikasi akademis
yang
memadai, selain kaya raya, dia juga dikenal penderma.
Sejumlah\norganisasi\u003cbr\>\nparpol, organisasi sosial dan olah raga
diketuainya, atau setidaknya\u003cbr\>\nmenjadi\u003cbr\>\npenasihat,
menunjukkan supelnya sang calon.\u003cbr\>\nKelihaiannya dalam melakukan lobby
sangat mumpuni, terbukti 20 parpol\u003cbr\>\ndengan\u003cbr\>\nsedikitnya
didukung 70% pemilih pada 2004, dengan warna-warni
ideologi\u003cbr\>\nserta\u003cbr\>\nanutan, mampu disatukannya dalam upaya
mendukung pencalonannya.\u003cbr\>\nNamun Foke bukanlah manusia super. Sebab
pada saat dia menjadi Wakil\u003cbr\>\nGubernur dengan segala ilmu dan
kepandaian, serta lobbynya, toh tak\u003cbr\>\nmampu\u003cbr\>\nmencegah
banjir, padahal dia ahli tata kota. Juga tak mampu
membendung\u003cbr\>\nmeningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran di DKI
Jakarta, padahal\u003cbr\>\ntekadnya menyejahterakan warga.\u003cbr\>\nPaling
tidak itulah hasil polling Lembaga Survei Indonesia
(LSI)\u003cbr\>\npimpinan\u003cbr\>\nSaiful Muzani. Dimana dalam surveinya 70%
kecewa kepada pasangan\u003cbr\>\nSutiyoso-Foke atas banjir yang melanda
Jakarta, 90% kecewa karena\u003cbr\>\nkemiskinan\u003cbr\>\nmeningkat, dan 80%
kecewa karena pengangguran naik.\u003cbr\>\nMeskipun dalam dialog di Metro TV,
Foke berapologi banjir yang melanda\u003cbr\>\nsemata-mata karena fenomena
alam. Dia tak menjelaskan kenapa
kemiskinan\u003cbr\>\ndan\u003cbr\>\npengangguran bertambah di
Jakarta.\u003cbr\>\nSementara Adang Daradjatun tidak terlalu dikenal
prestasinya saat\u003cbr\>\nmenjabat\u003cbr\>\nWakapolri, ia berpendapat
sebagian besarnya bertugas dibidang intelijen\u003cbr\>\nPolri sehingga memang
tak terlalu dikenal.\u003cbr\>\nNamun ada yang bertanya, mengapa PKS
mencalonkan mantan Wakapolri itu,\u003cbr\>\nsementara sudah menjadi
pengetahuan umum mulai dari polisi
jalanan\u003cbr\>\nhingga\u003cbr\>\njenderal polisi sulit mencari orang yang
bersih. Berbagai predikat
buruk\u003cbr\>\ntentang polisi, tiba-tiba saja harus berbaur dengan citra PKS
yang\u003cbr\>\nbersih?\u003cbr\>\nPKS sempat memberi penjelasan memang tidak
ada orang yang suci, no body\u003cbr\>\nperfect. Dengan merekrut Adang dari
kepolisian diharapkan ke depan,\u003cbr\>\nitupun\u003cbr\>\nkalau terpilih,
paling tidak bisa melakukan reformasi kepolisian
dari\u003cbr\>\ndalam.\u003cbr\>\nSebuah spekulasi yang memang harus
diuji.\u003cbr\>\nSementara Prijanto yang merupakan pasangan Foke diketahui
sebagai",1] ); //-->
organisasi
parpol, organisasi sosial dan olah raga diketuainya, atau setidaknya
menjadi
penasihat, menunjukkan supelnya sang calon.
Kelihaiannya dalam melakukan lobby sangat mumpuni, terbukti 20 parpol
dengan
sedikitnya didukung 70% pemilih pada 2004, dengan warna-warni ideologi
serta
anutan, mampu disatukannya dalam upaya mendukung pencalonannya.
Namun Foke bukanlah manusia super. Sebab pada saat dia menjadi Wakil
Gubernur dengan segala ilmu dan kepandaian, serta lobbynya, toh tak
mampu
mencegah banjir, padahal dia ahli tata kota. Juga tak mampu membendung
meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran di DKI Jakarta, padahal
tekadnya menyejahterakan warga.
Paling tidak itulah hasil polling Lembaga Survei Indonesia (LSI)
pimpinan
Saiful Muzani. Dimana dalam surveinya 70% kecewa kepada pasangan
Sutiyoso-Foke atas banjir yang melanda Jakarta, 90% kecewa karena
kemiskinan
meningkat, dan 80% kecewa karena pengangguran naik.
Meskipun dalam dialog di Metro TV, Foke berapologi banjir yang melanda
semata-mata karena fenomena alam. Dia tak menjelaskan kenapa kemiskinan
dan
pengangguran bertambah di Jakarta.
Sementara Adang Daradjatun tidak terlalu dikenal prestasinya saat
menjabat
Wakapolri, ia berpendapat sebagian besarnya bertugas dibidang intelijen
Polri sehingga memang tak terlalu dikenal.
Namun ada yang bertanya, mengapa PKS mencalonkan mantan Wakapolri itu,
sementara sudah menjadi pengetahuan umum mulai dari polisi jalanan
hingga
jenderal polisi sulit mencari orang yang bersih. Berbagai predikat buruk
tentang polisi, tiba-tiba saja harus berbaur dengan citra PKS yang
bersih?
PKS sempat memberi penjelasan memang tidak ada orang yang suci, no body
perfect. Dengan merekrut Adang dari kepolisian diharapkan ke depan,
itupun
kalau terpilih, paling tidak bisa melakukan reformasi kepolisian dari
dalam.
Sebuah spekulasi yang memang harus diuji.
Sementara Prijanto yang merupakan pasangan Foke diketahui
sebagai\nmiliter\u003cbr\>\naktif, namun prestasinya pun tak terlalu menonjol.
Sedangkan Dani Anwar\u003cbr\>\nadalah mantan ketua fraksi PKS di DPRD, paling
tidak perjuangan sekolah\u003cbr\>\ngratis yang diusungnya berhasil menjadi
kenyataan, walaupun pelaksananya\u003cbr\>\nSutiyoso dan
Foke.\u003cbr\>\nKekhawatiran sebagaian warga Jakarta bahwa jika kader PKS
menang maka\u003cbr\>\nperjudian dan bisnis hiburan akan diberangus, karena
akan diterapkan\u003cbr\>\nsyariat\u003cbr\>\nIslam. Tuduhan itu dijawab oleh
Dani, bahwa di 77 kabupaten, pemkot dan\u003cbr\>\npemprov dimana kader PKS
memenangkan pilkada, tak satupun yang otomatis\u003cbr\>\nditerapkan syariat
Islam. Syariat Islam dengan sendirinya
akan\u003cbr\>\nterlaksana\u003cbr\>\njika akidah warga dibenahi, dan proses
pembenahan akidah memerlukan\u003cbr\>\nwaktu.\u003cbr\>\nLepas dari plus minus
sang kandidat, berikut plus dan minus
pelaksanaan\u003cbr\>\npilkada DKI Jakarta oleh KPUD, tanggal 8 Agustus warga
harus tetap\u003cbr\>\nmemilih.\u003cbr\>\nTermasuk memilih golput merupakan
satu pilihan, kendati maknanya hampa\u003cbr\>\nsama\u003cbr\>\nsekali.
Siapakah Gubernur DKI Jakarta ke depan, jawabnya ada pada
nurani\u003cbr\>\nAnda!!!\u003cbr\>\nSumber: \u003c/font\>\u003ca
href\u003d\"http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html\" target\u003d\"_blank\"
onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\>\u003cfont
size\u003d\"3\"
color\u003d\"blue\"\>\u003cu\>http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html\u003c/u\>\u003c/font\>\u003c/a\>\u003cfont
size\u003d\"3\"\>\u003cbr\>\n<\u003c/font\>\u003ca
href\u003d\"http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html\" target\u003d\"_blank\"
onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\>\u003cfont
size\u003d\"3\"
color\u003d\"blue\"\>\u003cu\>http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html\u003c/u\>\u003c/font\>\u003c/a\>\u003cfont
size\u003d\"3\"\>>\n\u003cbr\>\n<\u003c/font\>\u003ca
href\u003d\"http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html\" target\u003d\"_blank\"
onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\>\u003cfont
size\u003d\"3\"
color\u003d\"blue\"\>\u003cu\>http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html\u003c/u\>\u003c/font\>\u003c/a\>\u003cfont
size\u003d\"3\"\>\u003cbr\>\n<\u003c/font\>\u003ca
href\u003d\"http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html\" target\u003d\"_blank\"
onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\>\u003cfont
size\u003d\"3\"
color\u003d\"blue\"\>\u003cu\>http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html\u003c/u\>\u003c/font\>\u003c/a\>\u003cfont
size\u003d\"3\"\>>\n>\u003cbr\>\n\u003cbr\>",1] ); //-->
militer
aktif, namun prestasinya pun tak terlalu menonjol. Sedangkan Dani Anwar
adalah mantan ketua fraksi PKS di DPRD, paling tidak perjuangan sekolah
gratis yang diusungnya berhasil menjadi kenyataan, walaupun pelaksananya
Sutiyoso dan Foke.
Kekhawatiran sebagaian warga Jakarta bahwa jika kader PKS menang maka
perjudian dan bisnis hiburan akan diberangus, karena akan diterapkan
syariat
Islam. Tuduhan itu dijawab oleh Dani, bahwa di 77 kabupaten, pemkot dan
pemprov dimana kader PKS memenangkan pilkada, tak satupun yang otomatis
diterapkan syariat Islam. Syariat Islam dengan sendirinya akan
terlaksana
jika akidah warga dibenahi, dan proses pembenahan akidah memerlukan
waktu.
Lepas dari plus minus sang kandidat, berikut plus dan minus pelaksanaan
pilkada DKI Jakarta oleh KPUD, tanggal 8 Agustus warga harus tetap
memilih.
Termasuk memilih golput merupakan satu pilihan, kendati maknanya hampa
sama
sekali. Siapakah Gubernur DKI Jakarta ke depan, jawabnya ada pada nurani
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************