Republika, Rabu, 08 Agustus 2007
Peluang Kedua Kandidat Imbang 
Pemilih dilarang berpindah ke TPS lain secara mendadak. 



JAKARTA -- Peta kekuatan suara kedua kandidat, Adang Daradjatun-Dani Anwar dan 
Fauzi Bowo-Prijanto, menjelang detik-detik pencoblosan hari ini (Rabu, 8/8), 
masih sama kuat. Hingga H-1 (Selasa, 7/8), jumlah persentase kedua kandidat 
belum bisa diprediksi secara akurat.

Namun, besarnya tingkat partisipasi masyarakat pemilih bakal menentukan hasil 
Pilkada DKI kali ini. Demikian analisis Direktur Lembaga Survei Indobarometer, 
Muhammad Qudori, dan Peneliti Senior LP3ES, Andi Agung Prihatna, dalam diskusi 
bertema ''Evaluasi dan Prediksi Sehari Menjelang Pilkada DKI Jakarta,'' yang 
digelar kemarin.

Jika partisipasi pemilih mencapai 60 persen, kecenderungan pemenang adalah 
pasangan Fauzi-Prijanto. Namun, jika partisipasi hanya sekitar 40 persen, 
pasangan Adang-Dani diperkirakan keluar sebagai pemenang. Menurut Qudori, 
asumsi tersebut berdasar banyaknya hasil survei yang mengunggulkan pasangan 
Fauzi-Prijanto.

''Namun, survei itu berangkat dari asumsi tingkat pemilihnya yang tinggi,'' 
ujar Qudori. Dia menyesalkan penayangan hasil quick count (penghitungan suara 
cepat) yang mengunggulkan pasangan tertentu di masa tenang. Hal itu dinilai 
akan memengaruhi pemilih.

Namun pada kenyataannya, kata Qudori, tingkat partisipasi pemilih tidak tinggi. 
''Pemilih yang tidak terdaftar saja mencapai 20 persen,'' katanya. Sebaliknya, 
berdasarkan survei LSI, sentimen mayoritas pemilih di Jakarta adalah 
antigolput. Mereka akan menolak ajakan golput dan cenderung berniat datang ke 
Tempat Pemungutan Suara (TPS).

`'Kalaupun ada Golput, faktornya bukan politis, tapi lebih karena faktor 
administrasi. Banyak yang mengaku tidak memiliki kartu pemilih,'' kata Direktur 
LSI, Deny JA, Selasa (7/8), Dalam survei, yang dilakukan seminggu sebelum 
Pilkada, baru 35 persen yang mengaku mempunyai kartu pemilih. Sementara hampir 
25 persen responden, tidak mengetahui apakah ia terdaftar atau tidak. Deny 
memperkirakan, jika tidak ada penanganan secara baik, niscaya angka golput akan 
tinggi.

Sementara, Ketua Pokja Kampanye KPUD Jakarta, Muhammad Taufik, menyatakan 
pemilih dilarang berpindah (eksodus) di TPS lain yang berbeda dengan alamat 
yang tertera di Kartu Pemilih, secara mendadak. Kebijakan itu hanya bisa 
diperbolehkan bila pemilih melaporkan diri tiga hari sebelum hari H 
(pencoblosan) kepada Ketua Panitia Pemungutan Suara (KPPS) setempat. dwo/zak/ind

() 
 
 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke