. AL ISRAA'
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari
Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar
Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
[ 27 Rajab 1428 H ]
BEBERAPA HAL YANG DAPAT MEMBANTU SIKAP TOLERANSI
Oleh
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali
1. Menahan Angkara Murka
Ketahuilah wahai saudaraku muslim, bahwasanya toleransi itu adalah
kerelaan hati dan kelapangan dada bukan karena menahan, kesempitan dan terpaksa
sabar melainkan toleransi adalah bukti kebaikan hati, lahir dan bathin.
Hanya saja, toleransi tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan
menahan angkara murka dan berupaya sabar, bila seorang hamba dapat dengan
mantap melewatinya, maka dia akan memasuki -pintu-pintu toleransi- dengan
pertolongan dan taufik dari Allah.
Allah Ta'ala berfirman memuji kaum mukminin.
"Artinya : (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu
lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah dan mema'afkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang berbuat kebajikan" [Ali-Imran :
134]
Dan firman-Nya yang lain.
"Artinya : ... Dan apabila mereka marah, mereka memberi ma'af" [Asy-Syura
: 37]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Barangsiapa yang dapat menahan angkara murkanya padahal dia
mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya dihadapan khalayak guna
disuruh memilih bidadari mana yang dia kehendaki untuk Allah nikahkan dia
dengannya" [Shahih Al-Jami 6394 dan 6398]
2. Mema'afkan dan Berlapang Dada
Kapan saja engkau menyaksikan wahai hamba yang toleran ! Keutamaan dari
sikap toleransi ini dan engkau telah merasakan kelezatan dan kemuliaannya, maka
engkau tidak akan berpaling darinya.
Ketahuilah ! Semoga Allah membantumu dengan pertolongan-Nya, bahwasanya
tidak ada yang berpaling darinya kecuali orang yang telah Allah
porak-porandakan hatinya dan Allah tutupi pandangan dan mata hatinya.
Bagaimana mungkin engkau berpaling dari derajat kemuliaan menuju tangga
kehinaan ? Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari keadaan yang demikian
itu.
Para cendekiawan telah mengetahui dengan ekseperimennya dan realita yang
ada, bahwa seorang hamba bila dia melampiaskan kemarahan dirinya, maka dia akan
hina dan tergelincir, sementara pada sikap mema'afkan dan berlapang dada
terdapat kelezatan, ketenangan, kemuliaan jiwa dan keagungan serta
ketinggiannya yang tidak terdapat sedikitpun pada sikap pembalasan dan
pelampiasan angkara murka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta benda, tidaklah Allah
menambahkan kepada seorang hamba dengan sikap pema'afnya kecuali kemuliaan dan
tidaklah seorang bertawadlu karena Allah melainkan Allah mengangkat
(derajat)nya" [Hadits Riwayat Muslim 2588 dan lainnya]
3. Mengharapkan Apa yang Ada di Sisi Allah dan Berbaik Sangka kepada Allah
Pengharapan adalah masalah yang urgen bagi muslim yang menempuh
perjalanan (menuju Allah) karena dia berkisar antara dosa yang diharapkan
pengampunannya, aib yang diharapkan perbaikannya, amal shalih yang diharapkan
diterima, istiqamah yang diharapkan eksitensinya dan taqarrub kepada Allah
serta kedudukan disisi-Nya yang diharapkan tercapai. Barangsiapa yang
mengharapkan apa yang ada disisi-Nya maka dia akan mema'afkan orang lain, sebab
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat
kebajikan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Ada seorang lelaki yang tidak beramal kebajikan sama sekali,
dulunya ia biasa menghutangi orang lain, dia menyuruh utusannya : "Ambillah
yang mudah dan tinggalkan yang kesulitan, ma'afkan semoga Allah mema'afkan kita
!" Tatkala dia meninggal, Allah bertanya : "Apakah engkau pernah beramal
kebaikan sedikitpun ?!" Jawabnya : "Tidak ! Hanya saja saya memiliki seorang
budak dan saya biasa menghutangi orang, bila saya mengutusnya untuk menagih
hutang saya perintah ia : "Ambillah apa yang lapang biarkan yang kesulitan dan
ma'afkan semoga Allah mema'afkan kita!" Allah berfirman : "Sungguh Aku telah
mema'afkanmu" [Shahih Al-Jami' 2074]
Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim tatkala beliau bersyair.
Kalaulah tiada bergantung dengan pengharapan
Niscaya jiwa sang pencipta
akan nelangsa dan terbelah
Begitu pula, kalaulah dia
tidak mendinginkan panasnya
Hati, niscaya akan lebur terbakar tirai
Apakah teman yang mengerumuni
tak berlihat sama sekali
Pengharapan yang terkait dengan kekasihnya
Ataukah, setiap kali kecintaan kepada-Nya menguat
Menguat pula rasa pengharapan
hingga menambah kerinduan
Kalaulah tiada pengharapan, kendaraan
berdendang berjalan
Membawa beban menuju negerinya
mengharap perjuampaan"
[Madarijus Salikin 2/42]
Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka dia akan
melupakan kebaikan terhadap orang yang pernah dia berbuat baik kepadanya,
hingga seolah-olah dia tidak pernah berbuat kebaikan. Dalam hal ini dikatakan.
"Dia melupakan segala perbuatannya dan Allah yang menampakkannya.
Sesunguhnya perbuatan baik bila dilupakan akan nampak dengan sendirinya"
[Disalin dari kitabToleransi Islam Menurut Pandangan Al-Qur'an dan
As-Sunnah, oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, terbitan Maktabah Salafy
Press, hal. 43-48, penerjemah Abu Abdillah Mohammad Afifuddin As-Sidawi]
TQ
*ijal*
--
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************