Aku Lebih Baik dari Dia
--------------------------------
Suatu hari, Allah swt berfirman kepada Nabi Musa as, Hai
Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah
seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia. Nabi
Musa as lalu pergi ke mana-mana; ke jalanan, pasar, dan
tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap
orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam
beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi
Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri
orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak
mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat
berkata, Aku lebih baik dari dia.
Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ke
tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata
selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa.
Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh
lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa
melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, Mungkin
sebaiknya aku pergi membawa dia. Ia pun lalu mengikat leher
anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu
tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.
Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan
Allah swt, Tuhan bertanya, Ya Musa, mana orang yang Aku
perintahkan kepadamu untuk kaubawa? Nabi Musa menjawab,
Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih
baik darinya. Tuhan lalu berfirman, Demi keagungan-Ku dan
kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa
seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan
hapuskan namamu dari daftar kenabian.
Kata ana khairun minhu atau Aku lebih baik dari dia pertama
kali diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya.
Tuhan menyuruhnya untuk sujud kepada Adam as tapi Iblis
tidak mau. Ia beralasan, Aku lebih baik dari dia. Kau
ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah.
Takabur yang dilakukan oleh Iblis pertama kali itu adalah
takabur karena nasab, takabur karena keturunan.
Menurut Al-Ghazali, di antara beberapa faktor yang
menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir, Aku lebih
baik dari dia, adalah nasab. Iblis adalah tokoh takabur
karena nasab yang paling awal. Kebanggaan atau kesombongan
karena nasab ini pernah menjadi satu sistem dalam
masyarakat feodal. Feodalisme adalah sistem kemasyarakatan
yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian
masyarakat disebut berdarah biru dan sebagian lagi berdarah
merah. Ada sebuah buku yang dengan secara terperinci
mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah saw
yang merasa bahwa mereka lebih utama dari orang yang bukan
sayyid. Sebagian sayyid itu berpendapat bahwa jika ada
orang bukan sayyid yang beramal saleh sebanyak-banyaknya,
derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid yang
beramal maksiat. Menurut penulis buku tersebut, seorang
sayyid yang berpendapat seperti itu pastilah seorang sayyid
yang ahmaq atau tolol. Dalam salah satu buku itu, ia
memberikan contoh sayyid yang berpikiran seperti itu
sebagai orang yang takabur karena nasabnya. Ternyata,
penulis buku itu pun adalah seorang sayyid. Namanya
Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.
Penulis itu mengingatkan saya kepada Imam Ali Zainal Abidin
as. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan Baitullah.
Thawus Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, Wahai Imam,
mengapa engkau harus beribadat seperti ini? Bukankah
kakekmu Rasulullah saw dan ibumu Fathimah as? Lalu Imam
dengan marah menjawab, Jangan sebut-sebut di hadapanku
ibuku dan kakekku, karena Allah swt akan memberikan surga
kepada siapa saja yang taat kepada-Nya, walaupun ia adalah
seorang budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke
neraka siapa saja yang maksiat kepada-Nya walaupun ia
adalah seorang sayyid dari bangsa Quraisy.
Berbangga sebagai keturunan Rasulullah saw saja adalah
suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai
keturunan bukan Rasulullah saw. Orang yang berbangga karena
keturunannya yang bukan Rasulullah saw adalah seperti orang
miskin yang takabur. Hal itu bukan berarti orang kaya boleh
takabur. Orang kaya yang takabur pun akan dimasukkan ke
neraka.
Kehormatan dalam Islam tidak ditegakkan berdasarkan nasab.
Tuhan berfirman, Innâ akramakum indallâhi atqâkum.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
adalah yang paling takwa. (QS. Al-Hujrat 13 )
Pernah pada suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah
saw dengan membanggakan nasabnya. Di kalangan masyarakat
Arab waktu itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada
jumlah jasa yang dilakukan nasab itu. Karena itu, mereka
sering menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu
memperkenalkan dirinya dengan menyebut silsilah orang
tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah saw hanya
menjawab pendek, Wa anta âsyiruhum fin nâr. Dan engkau,
keturunan yang kesepuluh, di neraka. Ia masuk neraka karena
ketakaburannya.
Ketika berhadapan dengan orang yang takabur karena
nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya,
Sayidina Ali berkata, Ucapan kamu benar. Tapi alangkah
jeleknya yang dilahirkan oleh orang tuamu. Al-Ghazali
membagi takabur kepada dua bagian. Pertama, takabur dalam
urusan agama dan kedua, takabur dalam urusan dunia. Takabur
dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua; takabur karena
ilmu dan takabur karena amal. Menurut Al-Ghazali, yang
banyak takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filusuf,
dan ulama. Apa tanda-tanda orang yang takabur karena
ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang
lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan
tidak memerlukan bantuan orang lain.
Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence,
menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari
perguruan tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar
dan lulus dengan nilai tertinggi sementara seorang yang
lain lulus dengan nilai pas-pasan. Dua tahun kemudian,
diselidiki nasib kedua orang itu. Orang yang pintar itu
ternyata menganggur sementara orang yang tidak pintar telah
menjadi manajer di sebuah perusahaan. Selidik punya
selidik, ternyata orang pintar itu tidak tahan bekerja di
satu tempat, karena dia tidak bisa bekerja sama dengan
orang lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak
memerlukan bantuan orang lain.
Takabur yang kedua di dalam urusan agama adalah takabur
karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa menjadi
sombong. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang
datang ke majelis Nabi. Orang itu dipuji para sahabat
karena kebagusan ibadatnya. Tapi Nabi mengatakan, Aku
melihat bekas tamparan setan di wajahnya. Nabi kemudian
menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang itu merasa amal
dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain,
Rasulullah saw bersabda, Jika ada seseorang yang berkata,
Manusia ini semuanya sudah rusak, (dan ia merasa bahwa
hanya dirinya yang tidak rusak) maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya dia yang paling rusak.
Ada orang yang merasa amalnya sudah bagus sehingga dia
merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya
amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang
tidak salat berjemaah di masjid seperti dirinya. Ia pun
mengecam orang lain yang salatnya dijamak. Orang-orang
seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.
Sayidina Ali mengajarkan kepada para pengikutnya, Kalau
kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah
dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku.
Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua,
berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya lebih banyak dari
amalku." Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita juga
punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita
menjadi lebih mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa
diri kita lebih mulia dari orang lain dan ingin
diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif, kita
sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu
atau karena amal.
Takabur bagian kedua menurut Al-Ghazali adalah takabur
dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia disebabkan
oleh beberapa hal. Pertama, karena nasab, seperti telah
dijelaskan di atas. Kedua, karena harta kekayaan. Ketiga,
karena kekuasaan. Keempat, karena kecantikan. Kelima,
karena banyaknya anak buah dan pengikut. Penyakit yang
terakhir ini biasanya diderita oleh para ulama.
Rasulullah saw bersabda, Tidak akan masuk surga orang yang
di dalam hatinya terdapat takabur walaupun hanya sebesar
biji sawi. Kita dapat mengukur hati kita, apakah terdapat
sebutir takabur atau tidak, dengan menjawab beberapa
pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut:
Ketika Anda masuk ke dalam sebuah majelis dan melihat kawan
Anda yang setara dengan Anda duduk di tempat yang lebih
mulia, sementara Anda duduk di tempat yang lebih rendah,
apakah ada perasaan berat dalam diri Anda? Ketika Anda akan
memilih menantu dan memperhatikan keturunan calon menantu
itu, lalu ternyata keturunannya tidak sebanding dengan
Anda, apakah Anda merasa berat menerimanya? Apakah Anda
merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah
daripada Anda? Apakah Anda merasa berat untuk memakai
pakaian yang jelek ketika menghadiri pengajian? Jika Anda
menjawab ya untuk salah satu dari pertanyaan di atas,
ketahuilah, Anda sudah jatuh ke dalam takabur.
Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah hadis. Rasulullah saw
bersabda, Pastilah orang yang takabur itu punya cacat dalam
dirinya yang ia sembunyikan. Hadis itu saya kira sangat
modern. Menurut Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan
atau sombong di dunia ini sebetulnya adalah orang yang
menderita cacat tertentu yang tidak kita ketahui dan mereka
berusaha menutupinya.
Kita dapat mengobati perasaan takabur dengan istighfar dan
bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur selain
bersikap rendah hati. Rasulullah saw bersabda, Jika kamu
temukan di antara umatku orang yang bersikap tawadhu, maka
hendaklah kamu bersikap lebih tawadhu lagi kepada mereka.
Dan apabila kamu temukan di antara umatku orang yang
bersikap takabur, maka hendaklah kamu bersikap lebih
takabur lagi kepada mereka.
::::
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************