Pesan-Pesan Untuk Isteri<?xml:namespace prefix = o ns = 
"urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

Minggu, 27 Mei 2007 <?xml:namespace prefix = st1 ns = 
"urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />23:35:47 WIB

 

PESAN-PESAN UNTUK ISTERI

Oleh

Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

 

Anas berkata, "Para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika 
menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka mereka memerintahkan isteri 
agar berkhidmat kepada suaminya dan memelihara haknya."

 

Ummu Humaid berkata, "Para wanita Madinah, jika hendak menyerahkan seorang 
wanita kepada suaminya, pertama-tama mereka datang kepada 'Aisyah dan 
memasukkannya di hadapannya, lalu dia meletakkan tangannya di atas kepalanya 
seraya mendo'akannya dan memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah serta 
memenuhi hak suami"[1] 

 

'Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib berwasiat kepada puterinya, "Janganlah 
engkau cemburu, sebab itu adalah kunci perceraian, dan janganlah engkau suka 
mencela, karena hal itu menimbulkan kemurkaan. Bercelaklah, karena hal itu 
adalah perhiasan paling indah, dan farfum yang paling baik adalah air."

 

Abud Darda' berkata kepada isterinya, "Jika engkau melihatku marah, maka 
redakanlah kemarahanku. Jika aku melihatmu marah kepadaku, maka aku 
meredakanmu. Jika tidak, kita tidak harmonis." 

 

Ambillah pemaafan dariku, maka engkau melanggengkan cintaku.

Janganlah engkau berbicara dengan keras sepertiku, ketika aku sedang marah

Janganlah menabuhku (untuk memancing kemarahan) seperti engkau menabuh rebana, 
sekalipun

Sebab, engkau tidak tahu bagaimana orang yang ditinggal pergi

 

Janganlah banyak mengeluh sehingga melenyapkan dayaku

Lalu hatiku enggan terhadapmu; sebab hati itu berbolak-balik

 

Sesungguhnya aku melihat cinta dan kebencian dalam hati

Jika keduanya berhimpun, maka cinta pasti akan pergi 

 

'Amr bin Hajar, Raja Kindah, meminang Ummu Ayyas binti 'Auf. Ketika dia akan 
dibawa kepada suaminya, ibunya, Umamah binti al-Haris menemui puterinya lalu 
berpesan kepadanya dengan suatu pesan yang menjelaskan dasar-dasar kehidupan 
yang bahagia dan kewajibannya kepada suaminya yang patut menjadi undang-undang 
bagi semua wanita. Ia berpesan:

 

"Wahai puteriku, engkau berpisah dengan suasana yang darinya engkau keluar, dan 
engkau beralih pada kehidupan yang di dalamnya engkau naik untuk orang yang 
lalai dan membantu orang yang berakal. Seandainya wanita tidak membutuhkan 
suami karena kedua orang tuanya masih cukup dan keduanya sangat membutuhkanya, 
niscaya akulah orang yang paling tidak membutuhkannya. Tetapi kaum wanita 
diciptakan untuk laki-laki, dan karena mereka pula laki-laki diciptakan.

 

Wahai puteriku, sesungguhnya engkau berpisah dengan suasana yang darinya engkau 
keluar dan engkau berganti kehidupan, di dalamnya engkau naik kepada keluarga 
yang belum engkau kenal dan teman yang engkau belum terbiasa dengannya. Ia 
dengan kekuasaannya menjadi pengawas dan raja atasmu, maka jadilah engkau 
sebagai abdi, niscaya ia menjadi abdimu pula. Peliharalah untuknya 10 perkara, 
niscaya ini akan menjadi kekayaan bagimu. 

 

Pertama dan kedua, tunduk kepadanya dengan qana'ah (merasa cukup), serta 
mendengar dan patuh kepadanya.

 

Ketiga dan keempat, memperhatikan mata dan hidungnya. Jangan sampai matanya 
melihat suatu keburukan darimu, dan jangan sampai mencium darimu kecuali aroma 
yang paling harum.

 

Kelima dan keenam, memperhatikan tidur dan makannya. Karena terlambat makan 
akan bergejolak dan menggagalkan tidur itu membuat orang marah.

 

Ketujuh dan kedelapan, menjaga hartanya dan memelihara keluarga dan kerabatnya. 
Inti perkara berkenaan dengan harta ialah menghargainya dengan baik, sedangkan 
berkenaan dengan keluarga ialah mengaturnya dengan baik.

 

Kesembilan dan kesepuluh, jangan menentang perintahnya dan jangan menyebarkan 
rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya, maka hatinya menjadi 
kesal dan jika engkau menyebarkan rahasianya, maka engkau tidak merasa aman 
terhadap pengkhianatannya. Kemudian janganlah engkau bergembira di hadapannya 
ketika dia bersedih, dan jangan pula bersedih di hadapannya ketika dia 
bergembira"[2] 

 

Seseorang menikahkan puterinya dengan keponakannya. Ketika ia hendak 
membawanya, maka dia berkata kepada ibunya, "Perintahkan kepada puterimu agar 
tidak singgah di kediaman (suaminya) melainkan dalam keadaan telah mandi. 
Sebab, air itu dapat mencemerlangkan bagian atas dan membersihkan bagian bawah. 
Dan janganlah ia terlalu sering mencumbuinya. Sebab jika badan lelah, maka hati 
menjadi lelah. Jangan pula menghalangi syahwatnya, sebab keharmonisan itu 
terletak dalam kesesuaian.

 

Ketika al-Farafishah bin al-Ahash membawa puterinya, Nailah, kepada Amirul 
Mukminin 'Utsman bin 'Affan Radhitallahu 'anhu, dan beliau telah menikahinya, 
maka ayahnya menasihatinya dengan ucapannya, "Wahai puteriku, engkau 
didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih mampu untuk 
berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini : bercelaklah dan 
mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur hujan."

 

Abul Aswad berkata kepada puterinya, "Jangalah engkau cemburu, sebab 
kecemburuan itu adalah kunci perceraian. Berhiaslah, dan sebaik-baik perhiasan 
ialah celak. Pakailah wewangian, dan sebaik-baik wewangian ialah menyempurnakan 
wudhu.'"

 

Ummu Ma'ashirah menasihati puterinya dengan nasihat berikut ini yang telah 
diramunya dengan senyum dan air matanya: "Wahai puteriku, engkau akan memulai 
kehidupan yang baru... Suatu kehidupan yang tiada tempat di dalamnya untuk 
ibumu, ayahmu, atau untuk seorang pun dari saudaramu. Engkau akan menjadi teman 
bagi seorang pria yang tidak ingin ada seorangpun yang menyekutuinya berkenaan 
denganmu hingga walaupun ia berasal dari daging dan darahmu. Jadilah engkau 
sebagai isteri, wahai puteriku, dan jadilah engkau sebagai ibu baginya. 
Jadikanlah ia merasa bahwa engkau adalah segalanya dalam kehidupannya dan 
segalanya dalam dunianya. Ingatlah selalu bahwa suami itu anak-anak yang besar, 
jarang sekali kata-kata manis yang membahagiakannya. Jangan engkau 
menjadikannya merasa bahwa dengan dia menikahimu, ia telah menghalangimu dari 
keluargamu.

 

Perasaan ini sendiri juga dirasakan olehnya. Sebab, dia juga telah meninggalkan 
rumah kedua orang tuanya dan meninggalkan keluarganya karenamu. Tetapi 
perbedaan antara dirimu dengannya ialah perbedaan antara wanita dan laki-laki. 
Wanita selalu rindu kepada keluarganya, kepada rumahnya di mana dia dilahirkan, 
tumbuh menjadi besar dan belajar. Tetapi dia harus membiasakan dirinya dalam 
kehidupan yang baru ini. Ia harus mencari hakikat hidupnya bersama pria yang 
telah menjadi suami dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru, wahai 
puteriku. Inilah masa kini dan masa depanmu. Inilah mahligaimu, di mana kalian 
berdua bersama-sama menciptakannya.

 

Adapun kedua orang tuamu adalah masa lalu. Aku tidak memintamu melupakan ayah 
dan ibumu serta saudara-saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu 
selama-lamanya. Wahai sayangku, bagaimana mungkin ibu akan lupa belahan 
hatinya? Tetapi aku meminta kepadamu agar engkau mencintai suamimu, mendampingi 
suamimu, dan engkau bahagia dengan kehidupanmu bersamanya."

 

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abi 'Udzr ad-Du'ali -pada hari-hari pemerintahan 'Umar 
Radhiyallahu 'anhu- menceraikan wanita-wanita yang dinikahinya. Sehingga 
muncullah kepadanya beberapa peristiwa yang tidak disukainya berkenaan dengan 
para wanita tersebut dari hal itu. Ketika dia mengetahui hal itu, maka dia 
memegang tangan 'Abdullah bin al-Arqam sehingga membawanya ke rumahnya. 
Kemudian dia berkata kepada isterinya: "Aku memintamu bersumpah demi Allah, 
apakah engkau benci kepadaku?" Ia menjawab, "Jangan memintaku bersumpah demi 
Allah." Dia mengatakan, "Aku memintamu bersumpah demi Allah." Ia menjawab, "Ya."

 

Kemudian dia berkata kepada Ibnul Arqam, "Apakah engkau dengar?" Kemudian 
keduanya bertolak hingga sampai kepada 'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 
'anhu lalu mengatakan, "Kalian mengatakan bahwa aku menzhalimi kaum wanita dan 
menceraikan mereka. Bertanyalah kepada al-Arqam." Lalu 'Umar bertanya kepadanya 
dan mengabarkannya. Lalu beliau mengirim utusan kepada isteri Ibnu Abi 'Udzrah 
(untuk datang kepada 'Umar). Ia pun datang bersama bibinya, lalu 'Umar 
bertanya, "Engkaukah yang bercerita kepada suamimu bahwa engkau marah 
kepadanya?" Ia menjawab, "Aku adalah orang yang mula-mula bertaubat dan 
menelaah kembali perintah Allah kepadaku. Ia memintaku bersumpah dan aku takut 
berdosa bila berdusta, apakah aku boleh berdusta, wahai Amirul Mukminin?" Dia 
menjawab, "Ya, berdustalah. Jika salah seorang dari kalian tidak menyukai salah 
seorang dari kami, janganlah menceritakan hal itu kepadanya. Sebab, jarang 
sekali rumah yang dibangun di atas dasar cinta, tetapi manusia hidup dengan 
Islam dan mencari pahala"[3] 

 

Kepada setiap muslimah yang memenuhi hak-hak suaminya dan takut terhadap murka 
Rabb-nya karena dia mengetahui hak suaminya atasnya! Inilah contoh sebagian 
pria yang mensifati isterinya yang tidak mengetahui hak suaminya dan tidak pula 
memelihara kebaikannya. Ia tidak mempercantik diri dan tidak berdandan 
untuknya, serta bermulut kasar. Ia mensifatinya dengan sifat yang membuat hati 
bergetar dan telinga terngiang-ngiang. Camkanlah sehingga engkau tidak jatuh ke 
tempat yang menggelincirkan ini.

 

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan 
Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir 
Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]

__________

Foote Note

[1]. HR. Ibnu Abi Syaibah (IV/305-306).

[2]. Ahkaamun Nisaa', Ibnul Jauzi (hal. 74-78).

[3]. Syarhus Sunnah (XIII/120).

 

http://www.almanhaj.or.id/content/2126/slash/0

 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of eko.gustiawan
Sent: Sunday, August 19, 2007 3:55 PM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: [ FUPM-EJIP ] REQ :Hak - Hak istri


Assalamulaikum
 
Kepada afwan2 saya mohon bantuan nya ,
 
Jika ada yang memiliki artikel tentang Hak-Hak seorang istri dalam islam( 
beserta dalil ), mohon  berbagi ke saya. 
Karna saya akan segera menikah, takut nanti kurang dalam melaksanakan kewajiban 
sebagai suami dalam pandangan islam karna kurang mengerti. 
 
Wassalam

______________________________________________________________________
This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System.
For more information please visit http://www.messagelabs.com/email 
______________________________________________________________________


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke