>Subject: "Malaikat" di kelas kami > > >Belajar dari siapa saja. >Kisah ini salah satunya......! > >Wassalam >Hasan > > >AyahnyaRafi_ <[EMAIL PROTECTED]> wrote: MALAIKAT DI KELAS KAMI > >Kisah ini kudapatkan dari lingkaran cahayaku tiap pekan. Tentang seorang >anak "malaikat" yang luar biasa. Murabbiku mulai bercerita dengan gayanya >yang khas. Tentang anak sepasang aktivis da'wah. Alkisah sang Umi dan Abi >mendidik anaknya begitu baik, dalam bi'ah yang teramat kondusif. Waktu-waktu >sang mujahid kecil lebih banyak dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat >di dalam rumah, berinteraksi intens dengan al-Qur'an, menjauhi berbagai >media hiburan apapun. Subhanallah, dia bagaikan cahaya dalam rumah itu. >Begitu sholehnya. Lisannya tak banyak bicara, pandangannya pun terjaga. Umi >mengelus dadanya lega, Ya Rabb alhamdulillah kau berikan qurata a'yun bagi >kami. Waktu terus bergulir, anaknya beranjak remaja. Dia kelas satu SMP saat >ini. Tapi tidak di SMP-IT seperti waktu SDnya. Jundi kecilnya masuk sebuah >SMP favorit di kota tempat tinggalnya. Umi dan Abi yakin mujahid kecilnya >bisa menjaga diri. Dia sudah kuat untuk membentengi dirinya dari berbagai >pengaruh luar yang mungkin menggoda imannya. > >Aku tersenyum mendengar kisah ini, tapi...tunggu sebentar ukh, ceritanya >belum berakhir. Hingga satu waktu,sang Umi mengikuti acara rapat orang tua >murid kelas mujahid kecilnya. Seorang ibu yang duduk disebelahnya >mengajaknya bicara. " Anak ibu siapa?" Sang Umi menjawab dengan kebanggaan >yang tak kuasa disembunyikan, entahlah, mengingat mujahid kecilnya terkadang >membuatnya sangat bangga. " Faris, bu.Anak ibu?" " Oh.faris, yang malaikat >kecil itu ya?" Umi terhenyak, malaikat kecil??? Ibu tersebut merasakan >kekagetan Umi, buru-buru dijelaskannya," Iya, anak saya Doni sering cerita >tentang Faris. Dia bilang ada malaikat dikelasku bu. Anaknya alim banget. >Begitu sampai kekelas dia langsung duduk dan membuka Al-Qur'annya. Kalau >belum bel, ga berhenti baca Qur'an bu. Keren kan. Trus istirahat, dia lebih >banyak baca buku-buku Islam. Ga pernah maen kartu bareng aa, bororaah maen >smack down-smack downan, maen games aja ga pernah. Pokoknya cool abiz. Trus >ma anak perempuan japan banget deh Bu. Katanya si Doni japan itu jaga >pandangan Bu. Jarang banyak bicara, waktunya terisi dengan sempurna. Makanya >anak saya dan teman-teman sekelasnya menyebut Faris, malaikat di kelasnya. >Begitu terjaga, hingga teman-temannya segan untuk sekedar berbicara >dengannya. Apalagi curhat atau ngajakin maen. Akhirnya Faris sering tampak >kesepian dan sendiri. Soalnya Doni bilang, ga enak atuh bu, Doni mah malu >and minder sama dia teh. Trus Faris juga da ga pernah cerita apa-apa, >ngobrol aja jarang Bu. Padahal ya Bu, aa teh kagum sama dia. Pengen jadi >kaya Faris, tapi aa tetep pengen gaul juga. Ga mungkin ya Bu? Aa jadi >malaikat? Kelaut aja kali ya Bu." Ibunya Doni terus berbicara. Sepertinya >memang sudah bawaan dari orok hobi bicarannya itu. Umi masih terkaget-kaget. >Rasanya seperti tersambar petir di siang hari.Beruntung, rapat itu segera >berakhir. Umi segera mencari tempat wudhu dan bergegas menuju mesjid. >Matanya mulai memerah. Ya Rabb, apakah yang salah? Ia dan suaminya tidak >pernah sedikitpun meniatkan anaknya menjadi sosok yang seperti itu. Meski ia >faham ghuroba adalah hal yang mungkin terjadi pada seorang da'i. Umi mulai >sesegukan, diambilnya Al-Qur'an dan mulai dibacanya untuk menenangkan diri. >Sayup-sayup dari lantai bawah mesjid sekolah, didengarnya suara tilawah yang >teramat dikenalnya. > >Umi mengintip dari pagar lantai atas. Mujahid kecilnya sedang asyik dalam >tilawahnya, sendirian di mesjid yang besar ini. Umi mulai mengevaluasi diri, >meski rasanya ingin segera ketemu abi dan menceritakan semua ini. Ada satu >fase yang terlupakan dalam pola pembinaan keduanya. Bahwa tarbiyah membangun >potensi anak sesuai dengan fitrahnya. Sesuai dengan usianya. Umi menyadari >ia telah membentengi Faris dengan sistem imun yang kuat, tapi umi jarang >mengingatkan Faris untuk menjadi kader yang muntijah ( produktif ). Yang >kebaikannya menyebar pada orang lain, yang kehadirannya memberi manfaat bagi >sekitarnya, yang kesholehannya menjadi kesholehan jama'I, bukan hanya >kesholehan pribadi, dan yang menjadi manusia-manusia luar biasa dengan >kemampuan komunikasi da'wah yang luar biasa. Bukan jamaah malaikat, tapi >jamaah manusia. Dihapusnya air matanya. Ada PR baru yang sangat besar untuk >ia syurokan dengan Abinya. Bagaimana mengajarkan mujahid kecilnya berbaur >tapi tidak lebur. Menjadikannya lebih mudah dijangkau oleh sekitarnya, >mengajarkannya lebih banyak berbicara dalam rangkaian da'wah fardiyah dan >mengajak sebanyak mungkin orang menuju surga Allah. Menjadikannya seorang >remaja yang memang melewati berbagai fase perjalanan kehidupannya seiring >fitrahnya. Mungkin satu waktu dia mengecengi seorang anak perempuan, mungkin >satu waktu dia sangat ingin bermain games, atau menonton bersama >teman-temannya. Umi tak ingin anaknya hanya bisa bersahabat dengan satu >komunitas yang baik saja, umi ingin anaknya jadi kader tangguh yang mampu >taklukan berbagai medan da'wah amah. Memiliki jaringan ukhuwah yang luas. >Hamasahnya menggelora, ditatapnya mujahid kecilnya dari kejauhan. Sebuah >kata terlontar dari bibirnya, Allahumaghfirlii, ya Rabb maafkan hamba. >Anakku sayang, maafkan umi dan abi. > >Aku ikut terhenyak. Entahlah, ada banyak rasa yang muncul dari hati ini >mendengar kisah Faris. Sekejap, aku seolah berhadapan dengan >binaan-binaanku. Bidadari-bidadari kecilku. Ya Rabb, sudahkah aku membina >mereka dengan benar? Membangun potensi dan fitrah mereka dengan baik? >Menjadikan mereka tetap dalam fitrah anak-anak seusianya, meski dengan nilai >plus yang luar biasa dari sisi dien mereka. Sekelebat ketakutan >menghampiriku, sungguh aku harus lebih banyak belajar lagi tentang sasaran >da'wahku. Memperhatikan psikologi perkembangan mereka. Menemani mereka >melalui masa labil mereka sebagai seorang remaja. Da'wah sekolah SMP ini >adalah sebuah fase awal perjalanan panjang da'wah thullaby. Aku tak ingin >jundi-jundi kesayanganku hanya bertahan dalam jangka waktu yang singkat. >Mereka harus lebih kuat bertahan dan bernafas panjang untuk istiqomah di >jalan Al Haq ini.Aku tak ingin melahirkan traumatis-traumatis pembinaan >Islam dalam diri mereka. Aku ingin mereka menjadi sosok yang merasakan >indahnya Islam, kasih sayang dari mentor-mentornya, dan peningkatan >kapasitas diri mereka sesuai fitrahnya. Aku ingin membawa mereka menjadi >bagian jamaah manusia, bukan jamaah malaikat. Mereka adalah remaja, kita tak >mungkin menghapus fitrah mereka, kita hanya bisa membantu mereka >mengendalikannya, menemani mereka melalui masa-masa sulitnya. Menjawab >setiap pertanyaan mereka dengan kesabaran luar biasa. Dan terutama >menjadikan mereka yang terbaik dari diri mereka sendiri. Tidak akan ada >azsya-azsya kecil, yang begitu mirip dengan ku. Yang ada adalah >mujahidah-mujahidah kecil dengan segala kekhasan dan potensi luar biasa dari >diri mereka sendiri. > >Kisah ini memulai evaluasi dan refleksi yang sangat panjang dari diriku >selama hampir 9 tahun aku malang melintang di DS ini. Perbaikan pola >pembinaan adalah suatu keniscayaan yang terus diupayakan. Untuk membina >seorang kader muntijah, melalui fase yang tepat, membangun fitrah dan >potensi yang hadir dalam dirinya.Untuk menjadi satu kekuatan da'wah bagi >umat ini. Azzam baru bergelora dihatiku, karena aku adalah walid ( umi >mereka di sekolah ), aku adalah syeik ( ustazah mereka di mentoring ), aku >adalah qiyadah ( pemimpin mereka di DS ), dan terutama karena aku adalah >sahabat mereka. Meski usiaku yang terpaut jauh dengan mereka. Asa ini takkan >pernah hilang, menjadikan mereka amanah terbaik yang Allah titipkan padaku. >Menjadi umi, ustadzah, qiyadah, dan sahabat terbaik bidadari-bidadari >kecilku. Allahu Akbar ! > >Azsya > > > > > > > >
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
