indonesia... menyusul On 9/10/07, ^_^ ghodiy ^_^ <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > *Sebuah Model Dari Turki * > > Jumat, 07 September 2007 > > > > Benteng terakhir kaum sekuler jatuh. Maka seluruh jabatan kunci dikuasai > partai Islam AKP. Boleh jadi kelak Turki merupakan salah satu model negara > Islam > > > > *Oleh : Amran Nasution* > > > > Istana Kepresidenan Cankaya di Ankara, kini ditempati penghuni baru yang > ''aneh''. Ia haram minum alkohol, lagi pula istrinya berjilbab. Padahal, 84 > tahun lalu, dari istana inilah Jenderal Mustafa Kemal Attaturk memimpin > revolusi yang menumbangkan Kesultanan Usmani (The Ottoman Empire). > > > > Pada waktu itu, super power Islam ini memang lagi limbung, menyusul > kekalahannya bersama Jerman, menghadapi Sekutu dalam Perang Dunia I. > Jenderal Attaturk memanfaatkan kesempatan itu. Imperium yang sudah ratusan > tahun malang-melintang di seantero jagat, dia rubuhkan. > > > > Sejak itu, 1923, Turki menjadi republik. Simbol Islam yang menempel di > Kesultanan dia campakkan. Lalu semuanya mesti meniru Barat, termasuk dalam > urusan minum alkohol. Kemal Attaturk yang dijuluki ''Bapak Turki Modern'' > itu adalah seorang penikmat alkohol. Begitu pula para penggantinya. > > > > Tapi Selasa, 28 Agustus 2007, Parlemen Turki mengambil sumpah Abdullah > Gul, 58 thn, menjadi Presiden Turki untuk masa jabatan 7 tahun. Tokoh partai > Islam AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi) itu menggantikan Presiden yang > sekuler, Ahmet Necdet Sezer. Inilah untuk pertama kalinya seorang politisi > Islam menjadi Presiden sejak Kesultanan Usmani ditumbangkan. > > > > Beberapa jam sebelumnya, Gul memenangkan voting di Parlemen, dengan > mengumpulkan 339 suara. Dua lawannya, Tayfun Icli dari Demokratik Sol > Partisi (DSP) dan Sabahattin Cakmakoglu dari Milliyetci Hareket Partisi > (MHP), cuma dapat 83 suara. Parlemen Turki punya 550 kursi. Tapi partai > oposisi utama, Cumhuriyet Halk Partisi (CHP), yang punya 112 kursi, > memboikot perhelatan. > > > > Maka lengkaplah sudah dominasi partai Islam itu di dalam sistem politik > Turki, setelah benteng terakhir kaum sekuler ini direbut. Perdana Menteri > dipegang Recep Tayyip Erdogan, pendiri dan pemimpin puncak AKP. Ketua > Parlemen, Bulen Arinc, juga dari AKP. Lalu hampir seluruh kursi walikota > disapu kader AKP, yang selalu menang dalam berbagai Pilkada. Sekarang > Presiden pun menclok di tangan. > > > > Artinya, setelah 84 tahun disingkirkan Attaturk dari percaturan politik, > kini Islam telah kembali. ''Sesungguhnya hari ini kami berganti lembaran, > sebuah lembaran yang penting dalam sejarah politik negeri ini,'' kata Soli > Ozel, profesor hubungan internasional Bilgi University di Istambul (The New > York > > Times, 29 Agustus 2007). > > > > *Pengeritik Sekularisme Yang Galak * > > > > Di dalam sistem Turki, jabatan Presiden lebih seremonial belaka. Pekerjaan > eksekutif ada di tangan Perdana Menteri. Tapi dalam kondisi politik yang > berkembang sekarang, ia amat menentukan. Soalnya, Presiden membawahkan serta > mengangkat dan memberhentikan pimpinan militer. > > > > Padahal militer selama ini menjadi penghadang gerakan partai Islam itu. > Saat pelantikan Abdullah Gul, Kepala Staf Militer Jenderal Yasar Buyukanit > absen. Sehari sebelum pemilihan dia malah mengecam pencalonan Gul, dengan > menyatakan, ''pusat setan sedang bekerja untuk menghapus sekularisme''. > Ternyata itu tak lagi dipedulikan orang, menandakan kelompok militer mulai > kehilangan taring. > > > > Presiden juga bisa memveto pengangkatan jabatan birokratis, termasuk para > hakim. Kemudian dia memiliki hak veto atas rancangan undang-undang. > > > > Itulah selama ini yang membuat stress Erdogan. Ada ratusan usulan jabatan > birokratis dan tak sedikit RUU yang dia ajukan, dilemparkan Presiden Ahmet > Necdet Sezer ke keranjang sampah. Alasannya, bertentangan dengan konstitusi. > > > > Padahal para pejabat yang diusulkannya dianggap lebih jujur dan > profesional dibanding para pejabat sekarang – dari kelompok sekuler – yang > terbukti selama ini korup dan nyaris membangkrutkan Turki. > > > > Pemakaian jilbab, misalnya, jelas harus segera diatur undang-undang sebab > beberapa bulan lalu, Pengadilan HAM Eropa (European Court of Human Right) > telah menjatuhkan vonis atas pengaduan Merve Kavakci. Pengadilan menyatakan > kasus itu merupakan sebuah pelanggaran HAM. > > > > Begini ceritanya. Kavakci berhasil memenangkan pemilihan anggota Parlemen > pada Pemilu 1999. Namun dia gagal dilantik setelah datang ke gedung Parlemen > dengan jilbab. Kelompok politik sekuler dan militer menganggap jilbab adalah > simbol Islam. Karena itu diharamkan masuk ke semua gedung pemerintah. > > > > Perempuan yang satu ini tak mau mengalah, ia melancarkan protes. Eh, > tahunya kewarganegaraannya malah dicabut. Kavakci kemudian mengajar di > George Washington University, sekalian menjadi warga negara Amerika Serikat. > > > > Tapi sejak itu dia menjadi pengeritik sekularisme Turki yang galak. Dia > berkeliling dunia mengampanyekan jilbab sebagai simbol pemberdayaan kaum > perempuan. Terakhir dia bawa kasus jilbabnya ke European Court of Human > Right, dan menang. Keputusan itu tentu harus diadopsi undang-undang Turki > karena negeri itu sedang melamar menjadi anggota Uni Eropa. > > > > Ketika Abdullah Gul dilantik menjadi Presiden, ia tak didampingi sang > istri, Hayrunnisa Ozyurt yang berjilbab. ''Ibu tak hadir untuk mengelakkan > kontroversi,'' ujar Mehmet Emre, putranya, seperti dikutip The Washington > Post, 28 Agustus lalu. > > > > Kasus yang sama terjadi pada Nyonya Emine Erdogan. Istri Perdana Menteri > Erdogan itu juga tak pernah melepaskan jilbab. Sejumlah pelajar, mahasiswi, > atau anggota Parlemen, terpaksa pakai rambut palsu (wig) pengganti jilbab, > agar bisa masuk sekolah, kampus, atau kantor. Ini semua terjadi di sebuah > negeri berpenduduk 76 juta, dengan 99% di antaranya adalah pemeluk Islam. > > > > Setelah Gul jadi Presiden, agaknya kontroversi jilbab ini segera akan > selesai. Begitu pula ratusan usulan untuk merombak birokrasi, atau sejumlah > rancangan undang-undang yang selama ini diveto Presiden Sezer. > > > > Apa yang terjadi di Turki memang menyedihkan dan terkadang menggelikan. > Seorang wartawan Barat, tertawa ketika mengelilingi pedesaan Turki, melihat > para petani memakai topi petani Francis model tahun 1920-an, yang sudah lama > tak lagi dipakai di negeri asalnya. Rupanya, dulu Attaturk mewajibkan para > petaninya memakai topi itu agar mereka bisa semaju petani Perancis. > > > > Dalam pemilu 2002, untuk pertama kalinya AKP menang mutlak, mengantarkan > 363 anggotanya ke Parlemen. Sebelum pelantikan, mereka ramai-ramai mencukur > kumis dan jenggot (diliput media lagi), tak mau dituduh membawa simbol Islam > ke gedung Parlemen. > > > > Tapi memang yang begini-beginilah yang dilakukan Jenderal Mustafa Kemal > Attaturk dan sampai sekarang dipertahankan kaum politisi sekuler dan > militer. Pokoknya, semua bau Islam harus dibersihkan karena kolot dan sumber > kemandegan. Semua bau Barat harus dipeluk erat, karena sumber kemajuan dan > moderenisasi. Pada waktu itu, pikiran Attaturk ini merambah ke mana-mana, > termasuk ke India atau Indonesia. Bung Karno, misalnya, > > termasuk pengagum berat Attaturk. > > > > Kenyataannya Turki tak pernah maju. Coba, seluruh tulisan Arab diganti > Latin. Kebesaran Kesultanan Usmani tak boleh dikenali. Akibatnya generasi > muda Turki kehilangan akses pada bahan peninggalan sejarah Usmani. Mereka > terputus dari akar budaya masa lalu yang agung. > > > > Panggilan azan diganti berbahasa Turki, musik klasik Barat mengiringi > pengajian, kursi dimasukkan ke dalam masjid agar mirip gereja, pakaian > tradisional dilarang dan diganti jas dan dasi. Fez, kopiah tradisional Turki > dinyatakan terlarang. Ini semua memang kelihatan aneh. Maka banyak juga yang > tak diikuti rakyat, seperti panggilan azan, musik klasik, dan kursi masuk > masjid itu. Tapi satu hal yang pasti, semua pernak-pernik itu terbukti tak > ada hubungannya dengan maju atau moderen. > > > > *Erbakan Terlalu Bersemangat * > > > > Lama kelamaan Islam yang sudah dicampakkan Attaturk, pelan-pelan kembali > dipungut rakyatnya. Sebuah penelitian di tahun 1990 – 1991, tentang tingkat > religiusitas penduduk di 41 negara di dunia, menempatkan Turki paling > religius, setelah Nigeria, Brazil, dan Polandia (Samuel P.Huntington: Who > Are We, America's Great Debate, The Free Press, 2005). > > > > Apalagi kaum sekuler dan tentara yang menguasai negeri itu, tak juga > berhasil mendatangkan kemakmuran. Banyak orang Turki terpaksa berkelana ke > Eropa – terutama Jerman – untuk bekerja sebagai buruh murah. > > > > Bayangkan, di tahun 2000 - 2001, inflasi mencapai 45%, pertumbuhan ekonomi > mandeg. Krisis menerpa sektor keuangan dan perbankan. Lira Turki merosot > tajam terhadap Dollar atau mata uang asing lainnya. Yang lebih parah, partai > politik sekuler yang menguasai birokrasi – di-beking tentara – terlibat > berbagai skandal korupsi. Itu mempercepat ambruknya perekonomian. > > > > Secara resmi militer tak campur urusan politik. Tapi dengan dalih menjaga > konstitusi, mereka seenaknya bikin kudeta, membubarkan pemerintah atau > partai. Itu terjadi berulangkali. Lalu dengan cara itu mereka terus-menerus > berkuasa. > > > > Setelah puluhan tahun dijejali sekularisme rakyat mulai mencari > alternatif. Maka pada pemilu 1994, partai Islam Refah (Refah Partisi) > menang. Pemimpinnya, Necmettin Erbakan, menjadi Perdana Menteri. Dialah > Perdana Menteri pertama dari kelompok Islam, setelah revolusi Attaturk. Pada > waktu itu, Erdogan dan Abdullah Gul adalah kader Refah. Erdogan menjadi > Walikota Istambul, dan Gul menjabat Menteri Kabinet. > > > > Sayang Erbakan terlalu bersemangat. Gebrakan politiknya terlalu kasar. > Dengan tuduhan ingin mengganti konstitusi sekuler pada 1997, militer > menumbangkannya. Sekalian Partai Refah dibubarkan. > > > > Erdogan dan Gul terpaksa meninggalkan Erbakan. Mereka mendirikan partai > baru AKP, Agustus 2001. Partai inilah setahun kemudian, akhir 2002 – disusul > kemenangan Pemilu kemarin -- menyapu mayoritas kursi Parlemen Turki. > > > > Padahal di musim kampanye, Erdogan mau pun Gul tak tampil meledak-ledak. > Mereka hanya sibuk mengunjungi rakyat miskin di pinggiran kota atau di > pedesaan. Ada acara sunatan massal, kawinan massal, pengobatan massal, atau > bantuan bencana alam –mirip model kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS)-- > di sini. > > > > Dan ''keajaiban'' itu pun terjadi. Begitu dipegang Perdana Menteri > Erdogan, ekonomi Turki yang morat-marit, segera pulih. Inflasi terkendali > dan menurun tajam: sekarang di bawah 8%/tahun. Mata uang Lira menguat. > Perekonomian tumbuh konsisten 7 sampai 8%/tahun. Maka kota-kota pun berubah: > gedung jangkung bertumbuhan. Dan semua itu terjadi dalam tempo tak sampai > lima tahun. > > > > Ada lagi yang menarik. Selama ini, perekonomian dipegang kaum sekuler. > Mereka mapan karena puluhan tahun berkuasa dan kebanyakan tinggal di kota. > Kini bermunculan para konglomerat Islam yang umumnya adalah kaum urban dari > pedesaan. Mayoritas pendukung AKP memang orang desa. > > > > Yang paling fenomenal adalah Kombassan Holding milik Hasjim Bayram, > konglomerat top di Turki. Pada mulanya, Hasyim cuma guru di sebuah sekolah > Islam di kotanya, Konya. Ia memulai bisnis dengan membuka percetakan kecil > pada 1989. Kini, Kombassan menggurita mulai dari bisnis otomotif, > elektronik, konstruksi, tekstil, petroleum, pusat perbelanjaan, dan makanan. > Perusahaannya pun melebar ke mancanegara. Walau tak sebesar Kombassan, > perusahaan seperti itu bertumbuhan. > > > > Itu yang membuat kaum sekuler merasa kian terdesak. Apalagi banyak > konglomeratnya selama ini terlalu bergantung pada kekuasaan, dan langsung > rontok setelah AKP berkuasa. Tak aneh kalau Deniz Baykal, pemimpin partai > oposisi CHP, menuduh pemerintah Erdogan mengembangkan ekonomi berbasis > Islam. Katanya, kebangkitan ekonomi disebabkan besarnya suntikan modal dari > Arab Saudi. > > > > Setelah terjadi serangan teror 11 September 2001 di Amerika, banyak > pemilik modal Arab Saudi menarik uangnya dari negeri itu, lalu dipindah ke > Francis atau beberapa negara Eropa, Timur Tengah, dan Turki. Itulah yang > mereka sebut green money (uang hijau). Kebetulan Abdullah Gul akrab dengan > para penguasa Arab Saudi, karena pernah bekerja di Islamic Development Bank > (IDB) di Jeddah. > > > > *Negara Teroris * > > > > Dulu Erbakan tak peduli Uni Eropa, Erdogan sebaliknya. Gul sebagai Menteri > Luar Negeri sangat serius melobi agar Turki bisa menjadi anggota Uni Eropa. > Memang tampaknya tak mungkin Uni Eropa menerima Turki yang Islam. > > > > Tapi bagi Erdogan dan Gul, langkah itu sangat menguntungkan untuk > pertarungan politik internal. Berbagai survei menunjukkan mayoritas rakyat > ingin > > negerinya bergabung dengan Uni Eropa. Dengan langkah ini, dukungan rakyat > terhadap mereka pun kian menguat. > > > > Lagi pula persyaratan terpenting untuk menjadi anggota Uni Eropa adalah > demokratisasi dan penegakan HAM. Kedua isu itu kian memperkuat posisi AKP > dalam menghadapi militer. Ketika April lalu, situasi politik meninggi, > menyusul pencalonan Abdullah Gul sebagai Presiden dari AKP, Uni Eropa segera > mengingatkan militer Turki agar jangan melakukan kudeta. Turki adalah > anggota NATO sehingga militer negara itu punya hubungan ke Uni Eropa. > > > > Langkah ke Uni Eropa, menerima HAM, menegakkan demokrasi, mentrapkan pasar > bebas, semua ini membuat kebangkitan politik Islam di Turki memberi nuansa > berbeda. The Washington Post, 27 Agustus 2007, menulis, ''Terpilihnya Gul > sebagai kemenangan demokrasi, sejauh dilihat partai politik Islam bisa > moderat dan liberal.'' > > > > Namun harus dicatat, sekali pun dia moderat dan liberal –dalam kacamata > Barat -- AKP tetap konsisten memperjuangkan aspirasi pengikutnya. Apakah itu > soal jilbab, minuman keras, sampai hubungan dengan Israel. > > > > Michael Rubin dari American Enterprise Institute, pada 2005, menulis di > Middle East Quarterly, menguraikan betapa konsistennya AKP dalam soal itu. > Erdogan mengajukan proposal agar pelajar sekolah Islam dipermudah masuk ke > perguruan tinggi negeri yang sekuler. Erdogan juga mengusulkan peraturan > yang menyamakan sekolah sekuler dengan sekolah Islam, kenaikan pajak > alkohol, ancaman hukuman untuk perzinahan, jilbab, dan sebagainya. > > > > Yang membedakannya dengan Erbakan dulu, menurut Rubin, Erdogan dan > kawan-kawan melakukannya dengan sabar, hati-hati, tak mau grasa-grusu, yang > bisa mengejutkan kaum sekuler mau pun militer. Tapi dalam hal tertentu, > mereka ternyata bisa juga galak. > > > > Dalam politik luar negeri, misalnya. Dari dulu Turki punya hubungan baik > dengan Israel. Tapi sejak Erdogan menjadi Perdana Menteri, sudah > berkali-kali secara terbuka dia menuduh Israel sebagai negara teroris. > > > > Tuduhan seberani itu bahkan tak pernah terdengar dari para pemimpin negara > berpenduduk Muslim lainnya –Presiden SBY, misalnya– sekali pun apa yang > dilakukan tentara Israel kepada penduduk Palestina, jelas tindakan > terorisme. > > > > Pada 13 Juli 2004, Erdogan menolak kedatangan Deputi Perdana Menteri > Israel, Ehud Olmert, ke Ankara. Tapi di hari yang sama ia menerima > kedatangan Perdana Menteri Syria, Muhammad Naji al-Utri. Bukan cuma itu. > Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad – musuh besar Presiden Bush itu – disambut > hangat di Ankara. Begitu pula Khalid Messal, pimpinan Hamas. > > > > Hubungan dengan Presiden Bush dingin, terutama setelah Erdogan berani > menolak lapangan terbangnya digunakan pasukan Amerika sebagai pangkalan > dalam penyerbuan ke Iraq, 2003. Turki berkali-kali memperingatkan Amerika, > karena pesawat terbangnya yang beroperasi di Iraq, melintasi perbatasan > Turki. Belakangan Turki menyampaikan protes setelah terbukti senjata Amerika > untuk tentara Iraq, banyak merembes dan dipakai gerilyawan Kurdi di Turki. > > > > Tak aneh kalau menghadapi kontroversi pencalonan Gul sebagai Presiden, > Deplu Amerika mengeluarkan pernyataan agar soal itu dikompromikan. Artinya, > Amerika tak begitu setuju dengan Gul. Wajar kalau setelah Gul terpilih, > sambutan dari negeri Uncle Sam itu dingin-dingin saja. > > > > Semua yang terjadi di Turki menarik diamati. Mungkin kelak kita akan > melihat sebuah model negara Islam yang lain, dari yang sudah dikenal selama > ini: Iran, Arab Saudi, atau Pakistan. Wallahu a'lam > > > > * Penulis adalah mantan Redaktur TEMPO dan GATRA. > > Kini, bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies di Jakarta) > > ******************************************************** > Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP > ******************************************************** > Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : > http://www.usahamulia.net > > Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : > [EMAIL PROTECTED] > > Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : > [EMAIL PROTECTED] > ******************************************************** >
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
