Setelah 37 Tahun Pembakaran Masjid Al-aqsa

Hari Isnin 21 Ogos adalah hari peringatan ke-37 tahun sejarah pembakaran Masjid 
Al-Aqsa. Hingga ke saat ini, ancaman pembakaran tersebut masih terasa, terutama 
dai kalangan Yahudi yang radikal, selaras dengan peningkatan projek meYahudikan 
wilayah al-Quds dan projek merobohkan Masjid Al-Aqsa oleh rejim Israel. 

Pada tarikh ini dalam tahun 1969, tangan-tangan durhaka dan penuh dengki telah 
membakar masjid yang penuh barakah ini, yang merupakan kiblat pertama umat 
Islam, wilayah al-Haram ketiga dalam Islam, dan tempat mi'rajnya Rasulullah saw 
ke Sidratul Muntaha. Kini masjid ini berada dalam bahaya ancaman golongan 
Yahudi radikal yang ingin menguasai tempat-tempat suci umat Islam di wilayah 
Palestin yang terjajah. 

Peristiwa pembakaran ini adalah rentetan penodaan mereka terhadap masjid 
Al-Aqsa yang terus dilakukan hingga saat ini. Golongan Zionis ini sering kali 
melanggar undang-undang dan ketetapan antarabangsa dengan sokongan dan dokongan 
dari rejim haram Israel. Mereka merobek semua hak bangsa Palestin, terutama 
terhadap peninggalan-peninggalan sejarah Islam. Pembakaran pertama kali itu 
telah berlaku di bahagian timur masjid Al-Aqsa, termasuk di dalamnya masjid 
Umar Al-Khattab, mihrab Salahuddin dan mimbar Sultan Nuruddin Zanki. Pada tahun 
1969 juga, rejim Israel telah melenyapkan perkamungan Islam al-Mugharabah yang 
berada di sisi masjid Al-Aqsa. Mereka juga menghancurkan sejumlah masjid dan 
sekolah yang telah dibangunkan pada zaman Bani Umayyah. 


Sejak penjajahan Israel ke atas al-Quds pada tahun 1967, Israel telah 
menghancurkan semua bangunan-bangunan yang bercirikan Islam di sekitar masjid 
Al-Aqsa, dengan tujuan untuk menghilangkan semua identiti umat Islam di wilayah 
tersebut. Termasuk dalam kekejidan mereka adalah menghancurkan jalan menuju ke 
maqam muslimin yang terletak di al-Haran al-Qudsy. Mereka juga menghancurkan 
maqam al-Rahmah dan Yusuf dan menggantikannya dengan pengkalan tentera Israel. 

Kejahatan mereka yang paling berbahaya adalah meYahudikan al-Quds dengan 
melakukan semua cara dan kaedah illegal, seperti rampasan tanah, hak-milik dan 
bentuk-bentuk intimidasi terhadap bangsa Arab dan kaum muslimin demi program 
imigrasi Yahudi dari seluruh pelusuk dunia ke wilayah al-Quds. Bahkan mereka 
ingin menjadikan wilayah tersebut sebagai ibu kota abadi Yahudi. 

Israel secara terus menerus menyiksa dan menakut-nakuti warga Palestin. 
Contohnya, dalam Februari 1994, sekelompok penduduk Yahudi memukul jamaah 
masjid al-Ibrahimi Hebron, Tepi Barat yang sedang melaksanakan shalat shubuh. 
Akibatnya, puluhan kaum muslimin meninggal syahid dan ratusan orang lainya 
tercedera. Pada bulan yang sama sejumlah kelompok Yahudi radikal mengancam akan 
menghancurkan Masjid al-Aqsha. Mereka merampas ribuan hektar tanah warga yang 
merupakan sumber penghidupan bagi ratusan keluarga Palestin. 

Mereka membina tembok pemisah yang menyekat rakyat Palestin dari kebun mereka, 
anak-anak dari sekolah mereka, masjid-masjid, dan berbagai lagi hak asasi. Pada 
bulan Julai 2004 PBB mengeluarkan ketetapan tentang penghapusan tembok pemisah 
tersebut, namun seolah-olah tidak ada apa yang boleh menggugat projek hina 
tersebut. 

Peringatan kepada peristiwa pembakaran masjid Al-Aqsa kali ini berlangsung di 
tengah rancangan Israel meYahudikan warga al-Quds dan melarang penggunaan 
simbol-simbol keagamaan di wilayah tersebut. Mereka semakin meningkatkan 
rampasan tanah milik bangsa Arab untuk dijadikan koloni pendudukan Yahudi, 
dalam usaha mereka untuk merubah demografi al-Quds dan penguasaan terhadap 
lembaga-lembaga dan yayasan milik Palestin. 

Wakil ketua gerakan Islam di wilayah jajahan, Syaikh Kamal al-Khotib mengajak 
seluruh bangsa Arab bergerak menekan pemerintah masing-masing agar bersikap 
tegas dalam masalah ini. Ia menekankan bahwa masalah al-Aqsa bukan masalah 
bangsa Palestina saja, namun menjadi sebahagian dari masalah kaum muslimin 
sedunia. Beliau juga mengajak semua pihak untuk membebaskan Al-Aqsha dari 
ancaman Yahudi tersebut. 

Khotib berkata, "saya menyeru kepada sebagian negara-negara Arab yang menyeru 
untuk berunding dengan Israel tentang hak-hak bangsa Palestina dan pembahagian 
al-Quds. Saya katakan Masjid al-Aqsha adalah hak murni bangsa Palestina. Hal 
ini tidak boleh dirunding-runding lagi." Pada kesempatan yang sama Khotib 
mengajak media Arab agar menghormati simbol-simbol ummat Islam, bahwa mereka 
pun mempunyai tanggung jawab terhadap Masjid al-Aqsha ini dengan menyiarkan 
semua kejahatan-kejahatan Israel terhadapnya. Khotib berkata, 37 tahun sudah 
berlalu, namun kelompok Yahudi radikal tidak beranjak dari niat mereka untuk 
menghancurkan Masjid al-Aqsha atas dokongan penuh rejim haram Israel. 

Dengan demikian kedudukan al-Aqsha saat ini semakin berbahaya. Semua tanda 
menunjukkan bahawa waktu penghancuran Al-Aqsha semakin dekat. Dimulai dengan 
penggalian terowongan di bawah masjid, terutama terowongan yang terletak antara 
Al-Aqsha dan perkampungan Silwan. Diteruskan pula dengan penggalian dan 
pembangunan gerbang al-Mugharabah. Bukti nyata niat mereka untuk menghancurkan 
al-Aqsha, dengan diberikan dana sebesar enam juta shekel atau USD1.5 juta untuk 
memperluas tembok al-Burak dan gerbang al-Mugharabah. 

Disamping itu, dikenakan juga larangan masuk Masjid Al-Aqsha bagi warga 
Palestina yang berumur kurang dari 45 tahun serta larangan mengadakan kegiatan 
agama selain shalat di dalam masjid. Semua larangan Israel ini berlangsung di 
tengah ketidak-pedulian banga Arab, dan Israel semakin mantap dan tenang 
menghapuskan identiti Islam dari wilayah al-Quds. 


 
regards,


       
____________________________________________________________________________________
Need a vacation? Get great deals
to amazing places on Yahoo! Travel.
http://travel.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke