Kerja Sama Ekonomi Tiongkok-ASEAN Bakal Alami Eskalasi dan Pembaruan
2020-11-18 15:57:43  
http://indonesian.cri.cn/20201118/5ed06b3a-8894-7e75-6a9e-c54242aa9603.html
 
Pada tahun-tahun belakangan ini, hubungan kerja sama bersahabat Tiongkok-ASEAN 
terus diperkuat, khususnya pasca pandemi COVID-19 di mana kerja sama kedua 
pihak di bidang ekonomi dan perdagangan menjadi semakin erat. Pada paro pertama 
tahun ini, ASEAN menggeser Uni Eropa menjadi mitra perdagangan terbesar bagi 
Tiongkok. ke depannya, seiring dengan penandatanganan kesepakatan kemitraan 
komprehensif ekonomi regional atau RCEP, perdagangan Tiongkok-ASEAN pasti akan 
mengalami peningkatan kelas dan pembaruan berkelanjutan.



Selama rentang waktu dari Januari hingga Agustus 2020, volume perdagangan 
Tiongkok-ASEAN tercatat 415,55 miliar dolar AS, meningkat 3,8 persen dibanding 
periode sama tahun lalu. Dengan demikian ASEAN secara historis melonjak menjadi 
mitra perdagangan terbesar bagi Tiongkok. Selain lonjakan nilai perdagangan, 
investasi dua arah antara Tiongkok dan ASEAN juga menunjukkan momentum 
pertumbuhan yang signifikan walaupun pandemi COVID-19 masih terus mewabah. 
Antara Januari hingga September lalu, investasi langsung Tiongkok di semua 
sektor negara-negara ASEAN sebesar 10,72 miliar dolar AS, atau meningkat 76,6 
persen dibanding periode sama tahun lalu. Sementara itu, realisasi investasi 
ASEAN di Tiongkok sebesar 5,47 miliar dolar AS atau naik 6,6 persen. Sejalan 
dengan dimulainya pengumpulan dana 1 miliar dolar AS putaran kedua Yayasan 
Kerja Sama Investasi Tiongkok-ASEAN (China-ASEAN Investment Corporation Fund), 
kerja sama investasi Tiongkok-ASEAN akan terus memelihara momen pertumbuhan 
yang mantap.



Peningkatan perdagangan dan investasi dua arah antara Tiongkok dan ASEAN di 
samping mencerminkan potensi besar kerja sama kedua pihak dalam bidang ekonomi 
dan perdagangan, juga mencerminkan persatuan kedua pihak dalam upaya 
menanggulangi pandemi COVID-19.

Kini Tiongkok, Singapura, Laos, Myanmar dan Indonesia telah menjalin hubungan 
“jalur cepat” untuk kunjungan personel serta “jalur hijau” untuk kemudahan 
pengangkutan barang. Dinas penerbangan langsung antara satu sama lain juga 
berangsur dipulihkan. Sekarang Tiongkok dan ASEAN tengah mengkaji kemungkinan 
membangun “jalur cepat” dan “jalur hijau” regional antara Tiongok-ASEAN dalam 
rangka menjaga kestabilan rantai pasok dan rantai industri kawasan. Kesemua 
tindakan itu akan berfungsi sebagai jaminan kuat bagi pemulihan ekonomi kedua 
belah pihak.



Yang patut diperhatikan ialah kedua pihak masih terus berupaya mengatasi 
kesulitan dan menjajaki bidang kerja sama yang baru. Sebagai contohnya, 
Tiongkok dan Indonesia sepakat meningkatkan kerja sama terkait e-commerce, A.I, 
Big Data, 5G dan Cloud Computing yang merupakan industri baru atau pola bisnis 
yang baru. Kerja sama itu telah memperlihatkan sifat saling melengkapi dan 
ruang perkembangan yang luas antara kedua belah pihak.

Pada 15 November 2020, kesepakatan RCEP yang diprakarsai oleh ASEAN resmi 
ditandatangani. Hal ini menandai pemberlakuan kawasan perdagangan bebas 
terbesar di dunia, dengan populasinya terbanyak, struktur anggota paling 
majemuk dan potensi perkembangannya paling potensial. Pencapaian ini bukan 
hanya hasil simbolis dari kerja sama kawasan Asia Timur, juga berarti 
kemenangan multilateralisme dan perdagangan bebas. Penandatanganan RCEP 
melambangkan terobosan baru yang dicapai pengintegrasian intern ASEAN maupun 
kerja sama regional. Dibanding peraturan baru yang didominasi oleh 
negara-negara maju, RCEP dalam proses perundingannya menerapkan pola ASEAN 
serta prinsip saling menguntungkan yang berbasis pada “keadaan istimewa 
negara-negara peserta perundingan”. Laos, Myanmar dan Kamboja yang merupakan 
negara-negara paling tidak maju diberikan pengaturan bersifat peralihan agar 
mereka dapat berbaur dengan proses integrasi ekonomi kawasan ini.



Tiongkok adalah ekonomi terbesar dalam RCEP. Sedangkan ASEAN memainkan peran 
dominan dalam proses integrasi ekonomi kawasan Asia Timur. Kedua pihak memiliki 
pasar raksasa dengan populasinya melampaui 2 miliar jiwa. Setelah RCEP 
diratifikasi dan diberlakukan, lebih dari 90 persen produk akan diperdagangkan 
dengan tarif bea masuk nol persen, di mana taraf perdagangan jasa dan 
keterbukaan investasi antara satu sama lain akan  jauh lebih tinggi daripada 
kesepakatan perdagangan bebas “10+1” yang sudah ada. RCEP akan benar-benar 
meningkatkan volume perdagangan Tiongkok-ASEAN, juga akan memberikan manfaat 
besar bagi perusahaan kedua belah pihak untuk memperluas investasi dan pangsa 
pasarnya di dalam maupun di luar kawasan ini. RCEP akan sangat mendorong 
perkembangan ekonomi, pertumbuhan inklusif, penciptaan lapangan kerja serta 
pemberdayaan rantai industri dan rantai pasok secara keseluruhan.



Pemberlakuan RCEP tentunya akan mendorong Tiongkok dan negara-negara ASEAN 
terus menciptakan peluang perkembangan di tengah pandemi, dan mendongkrak kedua 
pihak meningkatkan kerja sama dan membina komunitas senasib sepenanggungan 
Tiongkok-ASEAN yang semakin erat.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/ACF3AEE6ACC9430D8CD936271A980087%40A10Live.

Reply via email to