Jokowi, Ironi Cantik Kelapa SawitS13 - Sunday, November 22, 2020 21:00
https://www.pinterpolitik.com/jokowi-ironi-cantik-kelapa-sawit
 
Jokowi saat kunjungi perkebunan sawit (Foto: istimewa)
3 min read

“Para perempuan menanggung beban kerja keras yang ‘brutal’ di perkebunan di 
Indonesia dan Malaysia terkait dengan nama-nama seperti Procter & Gamble dan 
Johnson & Johnson”. – Laporan Associated Press

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Beberapa hari lalu, sebuah laporan dikeluarkan oleh Associated Press alias AP, 
yang kemudian salah satunya dimuat oleh media asal Hong Kong, South China 
Morning Post, terkait kondisi para pekerja perempuan yang dianggap sangat buruk 
di perkebunan kelapa sawit.

AP melakukan investigasi ke beberapa perkebunan sawit di Indonesia dan Malaysia 
dan melakukan interview terhadap ratusan perempuan. Mereka menemukan bahwa 
banyak pekerja perempuan mendapatkan pelecehan seksual, beban kerja yang sangat 
berat, dan kondisi kerja yang buruk karena harus bersentuhan dengan zat-zat 
berbahaya.

Ancaman dan kekerasan yang dialami oleh pekerja perempuan bahkan ada yang sudah 
terjadi sejak berusia 15 hingga 16 tahun. Wih, ngeri-ngeri sedap nih kalau 
bicara industri yang satu ini.

AP juga menyebutkan bahwa ironisnya, dengan kondisi kerja yang buruk bagi 
perempuan itu, industri kelapa sawit ini justru berkontribusi besar untuk tetap 
berlangsungnya industri kosmetik – yang juga identik dengan kebutuhan kaum 
perempuan.


Well, oleokimia berbasis sawit seperti gliserin, fatty alcohol, lemak ester, 
dan lemak amina digunakan secara luas dalam kosmetik dan formulasi personal 
care dalam berbagai fungsi. Apalagi, banyak produsen kosmetik udah mulai 
meninggalkan bahan-bahan sintetik.

Nah, ini jadi ironi kan. Soalnya satu industri yang mengeksploitasi perempuan, 
menjadi penopang industri lain yang mengkapitalisasi kebutuhan perempuan.

Jadi, setiap kali mengoleskan lipstik yang ada bahan turunan minyak sawitnya, 
bisa dibayangkan ada kekerasan terhadap perempuan yang berkontribusi di 
dalamnya. Wih, sadis men.

AP bahkan menyebut beberapa nama besar loh yang disebut menggunakan produk 
turunan minyak sawit di produk-produk kosmetiknya tersebut.

Menariknya, pemerintah Indonesia sendiri – seperti ditulis oleh AP – tidak 
memberikan tanggapan yang tegas soal persoalan yang menimpa para pekerja 
perempuan ini. Pada saat yang sama, pemerintah juga malah makin mempromosikan 
minyak sawit – tentu saja karena kontribusinya yang besar untuk pendapatan 
negara – katakanlah lewat lobi-lobi politik di negara-negara yang sudah mulai 
melarang impor minyak sawit.

Presiden Jokowi sendiri juga jadi salah satu yang getol mendorong industri ini, 
katakanlah lewat berbagai kebijakan peremajaan lahan sawit, hingga izin-izin 
pengelolaan lahan di berbagai daerah yang tidak sedikit juga menimbulkan 
masalah dengan masyarakat sekitar.

Wih, jadi makin pelik kan persoalannya.

Intinya, laporan AP ini kudu dijadikan bahan untuk melihat lebih dalam industri 
ini. Jangan sampai kita terbuai dengan berharganya nilai sawit dan kosmetik 
yang bisa diproduksi dari bahan mentah itu, lalu kita lupa ada banyak perempuan 
yang menderita dalam upaya memproduksi komoditas tersebut.

Hmm, menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)


Semua Salah Mahfud MD?A43 - Monday, November 23, 2020 7:00
https://www.pinterpolitik.com/semua-salah-mahfud-md
 
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud 
MD ketika menyerahkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). 
(Foto: Antara)
3 min read

“All the decisions we made in the past leads us inexorably into the future.” – 
Tokyo, Money Heist (2017-sekarang)

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitk.com

Sudah seharusnya setiap peristiwa atau kejadian dipertanyakan kembali. Sebuah 
pemikiran analisis yang seperti ini merupakan hal yang penting untuk senantiasa 
diterapkan.

Saat kita masih duduk di bangku sekolah, misalnya, cara berpikir yang kritis 
terkadang juga perlu untuk meningkatkan pengetahuan kita, yakni dengan terus 
bertanya ketika ada bagian pelajaran yang belum dipahami.

Mungkin, pemikiran kritis kayak gini bisa berguna banget tuh buat para polisi 
ketika harus menghadapi tim perampok yang dipimpin oleh El Profesor di Money 
Heist (2017-sekarang). Pasalnya, bukan nggak mungkin Inspektur Polisi Alicia 
Sierra harus memutar otak buat ngebongkar rencana-rencana El Profesor yang 
dengan sangat baik tersusun.

Mungkin, aksi ala Alicia ketika membongkar rahasia-rahasia El Profesor ini juga 
tengah dilakukan tuh oleh seorang pengamat politik yang bernama Rocky Gerung. 
Soalnya tuh, Pak Rocky ini bilang kalau terdapat aksi dan manuver seseorang lho 
di balik polemik kerumunan Habib Rizieq Shihab (HRS) beberapa waktu lalu.

Sosok yang disebut-sebut Rocky tersebut adalah Menteri Koordinator Bidang 
Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. Hmm, banyak orang juga 
bilang sih kalau segala persoalan kerumunan dan pelanggaran protokol kesehatan 
(prokes) HRS itu bermula dari pembiaran yang dilakukan oleh sang Menko Polhukam.

Selain itu, Pak Rocky juga bilang kalau pemanggilan yang dilakukan kepolisian 
kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru-baru ini didorong oleh Pak 
Mahfud. Bisa aja sih ini asumsinya – mengingat Pak Menko Polhukam kan yang 
mengoordinasikan aparat-aparat yang berkaitan.


Meski begitu, pengamat politik yang dulunya merupakan seorang pengajar filsafat 
tersebut melihat Pak Mahfud ini koordinasinya amburadul. Perihal pengelolaan 
informasi, misalnya, pihak pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dianggap masih 
lemah.

Selain itu, Pak Rocky juga mempertanyakan tuh pemahaman Pak Mahfud soal 
Undang-Undang (UU) Karantina Kesehatan yang diduga dilanggar oleh Pak Anies. 
Coba diingat-ingat lagi. UU itu kan nggak jadi digunakan sebagai dasar 
penanganan pandemi dulu. Hmm.

Wah, melihat koordinasi yang amburadul gini, mungkin Pak Mahfud perlu belajar 
lagi deh ke El Profesor biar rencana-rencananya nggak gampang terbongkar. Atau 
mungkin, Pak Menko Polhukam belajar juga deh ke Clifford DeVoe alias The 
Thinker yang ada di series yang berjudul The Flash (2014-sekarang).

Wah, apalagi nih, Pak Mahfud sempat jadi perhatian warganet dan publik lho 
gara-gara polemik ini. Nggak sedikit dari sorotan itu menuntut Pak Menko 
Polhukam diberhentikan oleh Pak Jokowi.

Waduh, mungkin nggak ya Pak Mahfud ini dicopot nanti sama Pak Presiden? Pak 
Jokowi kan juga udah beberapa kali ngasih sinyal buat reshuffle. Hmm.

Kalau iya benar kena reshuffle, kasihan juga sih Pak Mahfud. Dulu sempat 
dijanjikan untuk dijadikan calon wakil presiden. Eits, Pak Jokowi malah memilih 
Kiai Ma’ruf Amin. Sekarang, sudah turun level jadi Menko Polhukam, terancam 
kena sial lagi di tengah isu reshuffle.

Ya, itu juga masih wacana dan tuntutan aja sih. Soalnya tuh, nggak sedikit juga 
yang menilai bahwa Pak Mahfud ini sebagai salah satu orang yang dipercaya Pak 
Jokowi. Jadi, semua kembali ke keputusan dari Pak Presiden ya, sobat-sobat. 
Hehe. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/69E1FE5567364E568AFC28E5F555FEE0%40A10Live.

Reply via email to