--
j.gedearka <[email protected]>
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1999-menggugat-keturunan-nabi
Jumat 27 November 2020, 05:00 WIB
Menggugat Keturunan Nabi
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Menggugat Keturunan Nabi MI/Ebet Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group.
MASYARAKAT Arab awal di Indonesia yang berasal dari Hadramaut atau Yaman
memiliki struktur kelas kaku berbasiskan keturunan. Struktur masyarakat Arab
masa itu terdiri atas sayid, syekh, qabili, dan masakin. Sayid menempati
lapisan paling atas. Mereka mengklaim keturunan Nabi Muhammad melalui cucunya,
Husein. Sebagai keturunan Nabi, mereka menempati kedudukan istimewa secara
sosial keagamaan. Di bawah sayid terdapat dua kelompok yang menduduki lapisan
tengah masyarakat. Kedua kelompok itu ialah syekh dan qabili. Kedua kelompok
mengaku keturunan leluhur semua orang Arab Selatan. Syekh berstatus lebih
tinggi jika dibandingkan dengan qabili. Syekh elite agama asli Hadramaut dan
keturunan teolog. Syekh juga dianggap orang bijak yang menjalankan tugas serupa
sayid. Namun, karena jumlahnya lebih kecil jika dibandingkan dengan sayid,
syekh posisinya berada di bawah kelompok yang mengaku keturunan Nabi itu.
Anggota suku disebut qabili. Oleh karena itu, meski menempati posisi lapisan
tengah masyarakat bersama kelompok syekh, qabili berstatus lebih rendah
daripada syekh. Padahal, qabili sesungguhnya penguasa Hadramaut sebenarnya. Di
lapisan sosial paling bawah terdapat masakin. Masakin secara harfiah berarti
orang miskin. Mereka yang da’fa juga masuk kelompok masyarakat terbawah. Da’fa
atau duafa secara harfiah berarti lemah. Mereka menempati posisi terbawah
karena asal usul mereka tidak penting. Kelompok ini beranggotakan pedagang,
saudagar, buruh, dan pelayan, termasuk budak pada masa lalu. Sayid sebagai
keturunan Nabi sangat dimuliakan, bahkan dianggap suci. Orang harus mencium
tangan sayid. Makam mereka diziarahi. Anak perempuan seorang sayid tak boleh
menikah dengan lelaki bukan sayid. Akan tetapi, laki-laki keturunan sayid boleh
menikahi perempuan bukan keturunan sayid. Pada 1912, datang guru bernama Ahmad
Soerkati ke Indonesia. Dia berasal dari Sudan dan lama menimba ilmu agama di
Mekah. Ia segera menjadi pemuka agama di Indonesia. Soerkati pengikut Muhammad
Abduh dan Rashid Ridha, modernis Mesir. Soerkati dikenal reformis. Ia ingin
menyelaraskan pengalaman Islam dengan tuntutan zaman. Ia juga mengajarkan
kesetaraan semua mukmin. Dalam konteks kesetaraan mukmin itulah, Soerkati
menggugat posisi istimewa sayid. Ia menyerang pemuliaan diri dan delusi
kesucian kaum sayid. Ia tegas mengatakan perempuan sayid boleh menikah dengan
laki-laki bukan sayid. Soerkati juga menganjurkan penghapusan tradisi mencium
tangan sayid. Sejarah sayid di Indonesia dan gugatan Ahmad Soerkati terhadap
mereka bisa kita baca di buku Mencari Identitas: Orang Arab Hadhrami di
Indonesia (1900-1950) karangan Huub de Jonge, Indonesianis asal Belanda. Salah
satu yang kita tangkap dari kisah para sayid dan gugatan terhadap mereka ialah
klaim keturunan Nabi menjadi alat memperoleh hak-hak istimewa secara sosial
keagamaan. Raja Maroko mengklaim diri sebagai keturunan Nabi. Raja Maroko juga
memosisikan diri sebagai pemimpin Islam. Karena raja keturunan Nabi, pers dan
masyarakat Maroko haram mengkritik raja, kerajaan, dan Islam. Begitu keterangan
yang saya dapat dari sejumlah wartawan Maroko saat saya mengikuti fellowships
East-West Center, Honolulu, Amerika Serikat, di Maroko pada 2017. Dewasa ini di
Indonesia kelompok yang disebut habib ada yang mengklaim atau diklaim keturunan
Nabi. Habib tersebut seolah tidak boleh dikritik. Mengkritiknya dianggap
menistakan keturunan Nabi. Siapa yang mengkritik atau menghinanya bakal kualat.
Seorang suporter satu kesebelasan sepak bola yang tewas dikeroyok suporter
kesebelasan lain dikatakan meninggal karena pernah menghina sang habib. Para
pengikut memuji dan memuja sang habib. Para pengikut, pemuja, dan pemuji bahkan
memaklumi ucapan-ucapan kasar yang tidak pantas diucapkan keturunan Nabi yang
selayaknya berakhlak luhur. Para pemuja tak hanya mengelu-elukan sosok sang
habib, tetapi juga fotonya yang terpampang di baliho. Ahmad Syafii Maarif
menyebut pemujaan berlebihan kepada yang mengaku keturunan Nabi semacam itu
sebagai perbudakan spiritual. ‘Bagi saya, mendewa-dewakan mereka yang mengaku
keturunan Nabi adalah bentuk perbudakan spiritual’, tulis Ahmad Syafii Maarif
dalam akun Twitter-nya pada 22 November 2020. ‘Gelar habib, dan 1.001 gelar
lain yang mengaku keturunan Nabi, atau keturunan raja, hulubalang/keturunan
bajak laut, sultan, dianggap suci oleh sebagian orang akan runtuh berkeping
berhadapan dengan penegasan ayat Alquran,’ sambung Buya Syafii. Di masa lalu
Ahmad Soerkati menggugat keturunan Nabi yang menciptakan delusi kesucian. Di
masa kini Ahmad Syafii Maarif menggugat keturunan Nabi yang memproduksi
perbudakan spiritual. Kedua ulama percaya semua manusia setara di hadapan Sang
Pencipta. Mereka percaya kemuliaan bukan diperoleh melalui garis keturunan,
melainkan lewat perbuatan baik.
Sumber:
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1999-menggugat-keturunan-nabi
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201127183000.a5feee2d2a33944c8af8359f%40upcmail.nl.