Mengesankan kesusu ngadep Boss...? 

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Fri., Nov. 27, 2020 at 7:37 p.m., Chan CT<[email protected]> wrote:   
Jokowi, Biden, dan Perang Dingin Baru
A43 - Friday, November 27, 2020 19:00 
https://www.pinterpolitik.com/jokowi-biden-dan-perang-dingin-baru Presiden 
terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden ketika menyambut kunjungan Presiden 
Joko Widodo (Jokowi) ke AS pada tahun 2015 silam. (Foto: Twitter/@jokowi)
8 min read

Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyebutkan bahwa negaranya 
akan segera bergabung kembali dengan dunia internasional setelah dirinya 
dilantik nanti. Perubahan kebijakan luar negeri AS bukan tidak mungkin akan 
terjadi dan berdampak pada respons pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) di 
Indonesia.

PinterPolitik.com

Bagi penggemar franchise Star Wars, istilah “Jedi” pastilah bukan hal yang 
asing lagi dan sudah sering terdengar. Istilah itu biasa disematkan pada sebuah 
ordo yang bertugas untuk menjaga perdamaian di galaksi.

Biasanya, seorang Jedi memiliki kemampuan khusus guna menjaga stabilitas dan 
perdamaian tersebut. Mereka dapat menggunakan Force untuk mengalahkan siapa 
saja yang mengancam ketertiban itu.

Selain dapat mengendalikan Force, Jedi juga biasa dikenal dengan kebijaksanaan 
yang dimilikinya. Nilai-nilai moral – seperti kemurnian pikiran – merupakan 
salah satu kunci utama dari Jedi.

Dengan peran yang besar dalam perdamaian galaksi, Jedi tentunya ditunggu-tunggu 
oleh banyak orang – apalagi ketika peperangan tengah terjadi antara Empire dan 
Rebel Alliance. Situasi diperburuk ketika Empire ini dipimpin oleh mereka yang 
dikenal dekat dengan dark side.

Alhasil, ketika seorang Jedi – yakni Luke Skywalker – muncul untuk mengalahkan 
Empire, masyarakat pun disebut menyambut gembira. Bahkan, mereka merayakan 
kemenangan Luke dan Rebel Alliance di film Star Wars: Episode VI – Return of 
the Jedi (1983).



Suasana seperti ini sepertinya juga terasa oleh sejumlah orang di dunia nyata, 
khususnya di Amerika Serikat (AS). Setelah Joe Biden dikabarkan keluar sebagai 
pemenang Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2020, sejumlah kelompok di AS pun 
turut merayakan kekalahan Donald Trump.

Bila film Star Wars mengakhiri sebuah trilogi, terpilihnya Biden di AS bisa 
jadi menandakan perubahan bagi kebijakan-kebijakan pemerintah negara Paman Sam 
tersebut, termasuk kebijakan luar negeri. Bukan tidak mungkin, perubahan 
kebijakan luar negeri ini akan berdampak pada dinamika politik internasional di 
sejumlah kawasan, seperti Eropa Barat dan Asia Timur.

Beberapa waktu lalu, misalnya, Biden mengunggah cuitan di akun Twitter-nya yang 
mengatakan bahwa pemerintahannya akan kembali mempersatukan AS dan 
negara-negara lain sebagai komunitas internasional.

Selain itu, politikus Partai Demokrat AS itu juga mengumumkan sejumlah pakar 
dan pejabat yang akan membidangi politik luar negeri – mulai dari Antony 
Blinken sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Jake Sullivan sebagai penasihat 
Keamanan Nasional (NSA), hingga John Kerry sebagai Utusan Khusus Presiden AS 
untuk Perubahan Iklim.

Sebagai negara adidaya, tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan kepemimpinan dan 
formasi dalam politik luar negeri AS ini akan berpengaruh pada hubungan negara 
Paman Sam tersebut dengan negara-negara lainnya, termasuk dengan Indonesia. 
Boleh jadi, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) juga harus mempersiapkan strategi 
yang berbeda ketika menghadapi pemerintahan Biden.

Lantas, perubahan apa yang dapat terjadi di bidang politik luar negeri di bawah 
pemerintahan Biden di AS? Selain itu, bagaimana dampak pada dan respons dari 
pemerintahan Jokowi di Indonesia?

 

Perang Dingin Baru?

Bila melihat susunan pejabat dan ahli yang ditunjuk Biden guna menyusun 
kebijakan luar negerinya, sejumlah pihak pasti menilai akan adanya kesamaan 
arah politik luar negeri dengan pemerintahan Barack Obama. Calon Menlu AS 
Blinken, misalnya, merupakan Wakil Menlu di era presiden AS ke-44 itu.

Alhasil, prediksi akan perbedaan arah kebijakan luar negeri antara Biden dan 
Trump dinilai akan mencolok. Apalagi, nama-nama tersebut merupakan sosok-sosok 
yang biasa disebut sebagai the Blob – istilah yang digunakan oleh lingkaran 
tradisional atas ahli dan pengambil kebijakan luar negeri – oleh Stephen M. 
Walt.

The Blob sendiri merupakan kelompok yang selama ini disebut-sebut dilawan oleh 
Presiden Trump dalam pemerintahannya. Tujuannya adalah agar dapat menerapkan 
kebijakan luar negeri yang lebih luwes – yakni meninggalkan “tanggung jawab” AS 
terhadap negara-negara lain, seperti Uni Eropa dan sejumlah negara di Asia 
Timur.

Meski the Blob ini akhirnya dinilai kembali dalam tampuk pengambilan keputusan, 
John J. Mearsheimer – profesor Hubungan Internasional (HI) di University of 
Chicago, AS – menilai bahwa Republik Rakyat Tiongkok akan tetap menjadi fokus 
utama dari politik luar negeri Biden.
  
Asumsi ini pun diungkapkan oleh Mearsheimer dalam sejumlah wawancara dan 
podcast. Salah satunya dalam sebuah podcast bertajuk Inside Politics milik 
Irish Times.

Menurut profesor HI tersebut, the Blob akan menghadapi dunia yang berbeda 
dengan pengalaman mereka di era Obama, yakni dunia yang mengarah pada dunia 
yang multipolar – dengan munculnya kekuatan baru seperti Tiongkok. Pada era 
Obama, dunia justru masih dikuasai satu kekuatan (unipolar), yakni oleh AS.

Maka dari itu, mengacu pada penjelasan Mearsheimer, Tiongkok akan tetap menjadi 
fokus utama dari politik luar negeri Biden – yakni untuk mengimbangi 
(balancing)kekuatan negara Tirai Bambu itu. Mirip dengan era pemerintahan 
Trump, persaingan akan tetap mengisi hubungan kedua negara ini – dengan kawasan 
Asia Timur dan Asia Tenggara sebagai kawasan yang penting.

Asumsi ini juga sejalan dengan konsep lain yang disebutkan oleh Mearsheimer, 
yakni offshore balancing – pengimbangan kekuatan melalui aliansi dengan 
negara-negara kawasan setempat seperti Jepang dan Filipina. Oleh sebab itu, 
Biden diprediksi akan kembali menguatkan hubungan diplomatik dengan 
negara-negara yang ada di kawasan-kawasan tersebut.

Bahkan, Mearsheimer juga menyebutkan bahwa situasi geopolitik di masa Biden 
nantinya bisa saja menjadi Perang Dingin Baru. Terdapat dua jenis kompetisi 
yang akan terjadi antara Tiongkok dan AS, yakni kompetisi keamanan dan 
kompetisi ekonomi.

Bila apa yang dibilang Mearsheimer ini benar terjadi di masa mendatang, lantas, 
apa alasan Biden untuk tetap mengimbangi kekuatan Tiongkok – seperti yang 
dilakukan Trump sebelumnya? Kemudian, bagaimana pemerintahan Jokowi akan 
merespons politik luar negeri AS tersebut?

 

Tantangan Biden?

Apa yang dijelaskan oleh Mearsheimer ini sejalan dengan pendekatan realisme 
ofensif dalam HI yang dicetuskannya. Dalam pendekatan ini, negara dianggap akan 
selalu mencari kekuatan lebih banyak guna menjadi hegemon – sehingga keamanan 
negara tersebut dapat terjamin di tengah situasi politik dunia yang merupakan 
sebuah anarki.

Bukan tidak mungkin, AS akan berusaha menjaga hegemoninya di berbagai bidang. 
Terkait hegemoni dolar, misalnya, pemerintah negeri Paman Sam juga beberapa 
kali berupaya menghalau bangkitnya mata uang lain – yakni Yuan atau Renminbi 
(RMB).

Maka dari itu, menjadi wajar apabila pemerintahan Biden akan tetap menjadikan 
Tiongkok sebagai fokus utama. Ini sejalan juga dengan eksepsionalisme yang 
dianut oleh AS.

Dalam sebuah buku yang berjudul Exceptional, mantan Wakil Presiden AS Dick 
Cheney dan putrinya, Liz Cheney, menjelaskan bahwa AS merasa negara mereka 
memainkan peran penting dalam sejarah – serta masa kini dan masa mendatang – 
dalam politik dunia. Negara Paman Sam selalu memiliki peran sebagai pelindung 
kebebasan dan demokrasi.

Eksepsionalisme ala AS ini juga mulai terlihat dari sejumlah retorika yang 
disampaikan oleh Biden. Salah satu rencananya untuk kembali mempromosikan 
demokrasi adalah dengan mengajak negara-negara demokrasi lainnya untuk 
membentuk sebuah forum multilateral yang bertajuk “Summit for Democracy”.



Meski terdengar indah, tidak semua negara bisa mengikuti apa yang dijadikan 
panduan oleh AS. Mearsheimer sendiri dalam podcast yang telah disebutkan 
sebelumnya mengakui bahwa sering kali negara-negara lain akan merasa terganggu 
kedaulatannya ketika AS mencampuri urusan politik negara-negara lain.

Hal yang sama bukan tidak mungkin berlaku juga untuk pemerintahan Jokowi di 
Indonesia. Boleh jadi, ambisi dan peran idealis ala AS ini akan menjadi 
tantangan Biden untuk merayu Indonesia.

Indonesia sendiri – tidak dapat dipungkiri – merupakan negara kunci untuk 
menggandeng kawasan Asia Tenggara guna menghalau Tiongkok. Di sisi lain, 
pemerintahan Trump disebut-sebut telah merusak kepercayaan negara-negara Asia 
terhadap AS.

Tantangan lainnya bisa muncul apabila Perang Dingin Baru – disertai dengan 
kompetisi keamanan – yang disebutkan oleh Mearsheimer benar-benar terjadi. 
Pasalnya, negara-negara Asia Tenggara – khususnya Indonesia, Malaysia, dan 
Filipina – telah beberapa kali menolak adanya peran militer yang besar dari AS 
di kawasan mereka, seperti di Laut China Selatan (LCS).

Penolakan pemerintahan Jokowi terhadap proposal AS untuk mendaratkan pesawat 
mata-mata P-8, misalnya, bisa jadi sinyal bahwa Indonesia tidak ingin 
ketidakstabilan muncul di kawasan Asia Tenggara yang telah stabil selama 
beberapa dekade.

Pentingnya stabilitas bagi Indonesia dan negara-negara Association of South 
East Asian Nations (ASEAN) ini terlihat dari bagaimana mereka menginisiasi blok 
dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Dengan adanya blok 
dagang itu, kerja sama ekonomi diharapkan dapat menciptakan keamanan dan 
stabilitas politik bagi pembangunan di kawasan – salah satu kepentingan utama 
dari pemerintahan Jokowi.

Pentingnya pembangunan dalam politik luar negeri Jokowi ini pernah dijelaskan 
oleh Ben Bland dalam bukunya yang berjudul Man of Contradictions. Dengan 
pendekatan yang terbilang pragmatis, bukan tidak mungkin kompetisi keamanan 
merupakan hal yang paling tidak dibutuhkan Jokowi dari pemerintahan Biden.

Inilah mengapa Jokowi kerap mendorong pentingnya multilateralisme dalam politik 
internasional. Berdasarkan pendekatan institusionalisme liberal, 
multilateralisme berupa kerja sama ekonomi seperti RCEP ini bisa membuat 
negara-negara semakin tidak ingin berperang – mengingat terdapat kerugian yang 
berasal dari norma, aturan, dan interdependensi ekonomi.

Maka dari itu, adanya Perang Dingin Baru dengan kehadiran pemerintahan Biden 
bukan tidak mungkin malah menjadi tantangan bagi AS untuk merayu Jokowi. Mari 
kita nantikan saja kelanjutan konstelasi kawasan pada tahun 2021 nanti. (A43)


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A7E813B2AB274BB8997C98225D122297%40A10Live.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1644026845.1376090.1606523987039%40mail.yahoo.com.

Reply via email to