-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2062-nikel-sang-primadona



 Sabtu 06 Februari 2021, 05:00 WIB 

Nikel sang Primadona 

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Nikel sang Primadona MI/Ebet Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. UNI 
Eropa sedang berang kepada Indonesia. Musababnya, kebijakan larangan ekspor 
bijih nikel yang dikeluarkan pemerintah Indonesia pada 2019 dan mulai berlaku 
sejak 1 Januari 2020. Kebijakan tersebut, kata mereka, membuat industri baja 
Eropa yang bahan dasarnya bijih nikel kelimpungan karena seretnya pasokan. Uni 
Eropa lalu menggertak, menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia 
(WTO) hampir setahun lalu. Indonesia bergeming. Pemerintah punya argumentasi 
kebijakan tersebut dalam rangka melindungi sumber daya alam dari kepunahan 
sebelum bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Karena itu, 
Uni Eropa kian meradang. Pertengahan Januari 2021, mereka mendesak WTO untuk 
membentuk panel guna membahas sengketa bijih nikel tersebut. Pemerintah, 
melalui Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, mengatakan Indonesia siap 
menghadapi gugatan tersebut. Larangan ekspor nikel mentah bukan sekadar untuk 
kepentingan hari ini. Beleid yang tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan 
Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas 
Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan 
Mineral dan Batu Bara tersebut amat strategis untuk jangka panjang. Ada dua 
alasan mengapa langkah mengamankan bijih nikel bukan saja tepat, melainkan juga 
amat strategis. Pertama, Indonesia merupakan salah satu produsen bijih nikel 
terbesar di dunia, dengan cadangan yang amat melimpah. Kedua, nikel merupakan 
bahan baku baterai litium, penggerak utama kendaraan listrik. Saat dunia tengah 
mengembangkan industri kendaraan listrik secara besar-besaran, langkah 
mengamankan bijih nikel sangat strategis guna mewujudkan mimpi menjadi yang 
terdepan dalam industri baterai dan kendaraan listrik. Dengan kekayaan bijih 
nikel yang supermelimpah, mimpi seperti itu amat absah. Data Badan Geologi 
Kementerian ESDM menunjukkan pada 2019, total produksi nikel dunia mencapai 
2,66 juta ton Ni. Dari jumlah itu 800 ribu ton (sekitar 30%) berasal dari 
Indonesia. Produksi bijih nikel tersebut menjadikan Indonesia produsen terbesar 
di dunia pada 2019. Filipina, yang berada di posisi kedua, hanya memproduksi 
420 ribu ton. Disusul Rusia dengan 270 ribu ton, Kaledonia Baru 220 ribu ton, 
serta negara lainnya dengan total 958 ribu ton. Berdasarkan data dari Badan 
Geologi, sumber daya dan cadangan nikel yang dimiliki Indonesia masih sangat 
tinggi. Hingga Juli 2020, total neraca sumber daya bijih nikel Indonesia 11,88 
miliar ton, dengan total sumber daya logam nikel 174 juta ton. Neraca cadangan 
bijih nikel hingga Juli 2020 tercatat 4,34 miliar ton, dengan cadangan logam 
nikel 68 juta ton. Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara menjadi 
tiga provinsi dengan sumber daya dan cadangan nikel terbesar. Cadangan itu 
disebut-sebut tidak akan habis hingga 200 tahun. Tekad menjadi pusat industri 
baterai litium dan kendaraan listrik terbesar jelas bukan mimpi kosong. 
Cadangan nikel yang amat besar membuat beberapa industri kendaraan listrik 
membenamkan investasi mereka di Indonesia. Ini pula, boleh jadi, yang membuat 
Uni Eropa masygul, dengan mengamuflase kebijakan Indonesia semata merugikan 
industri baja. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan 
industri mobil listrik Tesla milik Elon Musk dan BASF asal Jerman segera 
berinvestasi di Indonesia. Dua produsen baterai listrik raksasa dunia itu bakal 
mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri, khususnya baterai 
listrik. Langkah Tesla dan BASF itu bakal menyusul produsen baterai kendaraan 
listrik asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), yang 
sudah lebih dulu menandatangani kontrak investasi senilai US$5,1 miliar (hampir 
Rp72 triliun). Tak lama setelah CATL, LG Chem Ltd asal Korea Selatan menyusul 
menandatangani kontrak investasi US$9,8 miliar (sekitar Rp140 triliun) di 
bidang yang sama. Jika keempat raksasa produsen baterai dan kendaraan listrik 
global tersebut merealisasikan investasi mereka, dunia tak bisa mengelak lagi 
bahwa Indonesia merupakan kontributor penting bagi energi terbarukan global. 
Syaratnya, Indonesia harus konsisten, teguh pendirian melindungi sumber daya 
alamnya, dan memanfaatkan kerja sama dengan industri global tersebut untuk 
transfer ilmu dan keahlian bagi anak bangsa. Dengan begitu, biarlah Uni Eropa 
geram. Kita punya sikap sebagaimana dulu Ki Hadjar Dewantara pernah menulis 
catatan satire yang membuat Belanda naik darah. Als Ik Eens Nederlander Was 
atau 'Seandainya Aku Seorang Belanda' begitu judul tulisan atas nama Soewardi 
Soerjaningrat di edisi 13 Juli 1913. Ia menyindir pemerintah kolonial yang 
ingin merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis secara besar-besaran 
di Hindia alias Indonesia dengan biaya pesta dari 'sumbangan' rakyat Hindia. 
Kini, kita sudah merdeka. Tak perlu lagi dengan satire. Kita tinggal mewujudkan 
'jembatan emas' itu menjadi nyata dengan memanfaatkan sebesar-besarnya nikel 
untuk rakyat, untuk bangsa.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2062-nikel-sang-primadona





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210206200740.e1a52ce888736565db97b3aa%40upcmail.nl.

Reply via email to