-- 
j.gedearka <[email protected]>




https://news.detik.com/kolom/d-5365825/banjir-dan-kesalahan-berpikir?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom Kang Hasan


Banjir dan Kesalahan Berpikir


Hasanudin Abdurakhman - detikNews

Senin, 08 Feb 2021 14:12 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Musim hujan nyaris identik dengan banjir di negeri kita. Berita soal banjir 
memenuhi ruang pemberitaan media massa. Banjir datang silih berganti ke 
berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Tanggapan penghuni kota, ya biasa saja. 
Kalau hujan, kan memang pasti banjir. Para pemimpin juga begitu cara 
berpikirnya. Banjir karena cuaca ekstrim, itu jadi kalimat populer sekarang.

Banjir sering kali terjadi oleh sebab-sebab yang sederhana. Di sebuah kota 
pemerintah membangun jalan beraspal. Air hujan yang tadinya diserap oleh 
permukaan tanah, kini tak lagi bisa diserap, karena permukaan aspal yang rapat. 
Kalau pakai logika sederhana, harus dihitung volume air yang tak terserap 
karena adanya aspal tadi, dan dibuatkan saluran sebesar volume tersebut, agar 
air bisa mengalir. Faktanya, sering terjadi di berbagai tempat, orang hanya 
membangun jalan tanpa saluran air.

Tentu saja ini tidak hanya soal jalan. Kawasan pemukiman, tadinya adalah lahan 
terbuka dengan pepohonan. Air hujan dulu jatuh ke permukaan tanah, perlahan 
meresap ke dalam tanah, menjadi air tanah. Sebagian mengalir menuju tempat yang 
lebih rendah. Alirannya perlahan, ditahan oleh akar pepohonan. Ketika lahan itu 
berubah jadi kawasan pemukiman, tak ada lagi penahan air, dan air tak bisa 
meresap ke permukaan tanah.

Air hujan semua mengalir di atas permukaan yang tidak bisa menyerap air, 
berkumpul membentuk genangan, dan mencari saluran untuk mengalir menuju ke 
titik paling rendah. Masalahnya persis seperti soal jalan tadi, tak tersedia 
saluran yang memadai. Terjadilah genangan tinggi yang kita sebut banjir.

Banjir sering terjadi akibat akumulasi hal-hal konyol yang dilakukan oleh 
pelaku pembangunan, baik perorangan yang melakukannya secara kolektif, maupun 
oleh pemerintah yang melakukannya secara terstruktur. Ringkasnya, pembangunan 
dilakukan dengan mengabaikan logika sederhana. Artinya, dipikir dengan logika 
sederhana saja pun sudah tidak masuk akal. Apalagi kalau dipikir dengan ilmu 
tata kota, perencanaan, hidrologi, dan sebagainya.

Kenapa hal-hal semacam itu bisa terjadi? Sebabnya adalah karena kita punya 
masalah pola pikir yang mendasar. Atau lebih tepatnya, kita punya masalah 
mendasar, yaitu tidak berpikir. Mengapa, misalnya, pemerintah membangun jalan 
tanpa membangun saluran air di kedua sisinya? Biasanya yang menjadi fokus 
aparat pemerintah saat ada pembangunan seperti itu adalah bagaimana membuat 
bangunan itu tampak wujudnya, bukan bagaimana fungsinya. Selebihnya, yang 
mereka pikirkan adalah bagaimana mendapat bagian dari uang anggaran pembangunan 
jalan itu. Akibatnya, hal-hal logis dan sederhana tadi tidak terpikirkan.

Tidak jarang pula pembangunan dilakukan dengan melanggar ketentuan yang dibuat 
oleh pemerintah sendiri. Di kawasan yang seharusnya jadi ruang terbuka hijau, 
dibangun sesuatuyang menghilangkan fungsi ruang terbuka tadi. Wilayah-wilayah 
yang sudah ditetapkan untuk suatu keperluan melalui rencana tata ruang, diubah 
fungsinya.

Sementara itu anggota masyarakat secara pribadi juga tidak peduli. Ketika 
membangun, mereka tak memikirkan soal resapan air tadi. Di perumahan tempat 
saya tinggal, misalnya, pengelola estate sudah menetapkan ketentuan soal lahan 
yang mesti disisakan untuk resapan air saat membangun rumah. Tapi selalu ada 
saja yang mencari-cari cara untuk melanggarnya. Di tempat-tempat yang tidak 
dikelola estate, tentu situasinya lebih parah.

Ketika banjir terjadi, orang hanya mengeluh sesaat. Atau, saling ejek 
antarpendukung politikus. Banyak yang menganggapnya sekadar musibah, ujian 
Tuhan. Solusinya? Banyak-banyaklah berdoa dan minta ampun pada Tuhan.

Setelah banjir berlalu, sedikit orang yang peduli soal apa yang telah terjadi 
dan bagaimana mencegahnya. Boleh dikata tak banyak yang peduli. Artinya, tak 
banyak yang benar-benar membenci banjir. Tak banyak yang berpikir bagaimana 
mengatasinya, dan bagaimana kita mesti berkontribusi untuk itu.

Demikian pula dalam soal-soal lain, seperti kebersihan kota, kemacetan, 
ketertiban umum, dan sebagainya. Intinya adalah, kita hanya mengeluh saat 
terjadi sesuatu yang tidak kita sukai. Kita tidak menyadari bahwa kita 
berkontribusi sebagai penyebabnya. Kita pun hanya mengeluh saat kejadian, 
setelah itu tidak berpikir bagaimana menyelesaikan masalahnya.

Jadi, masalah kita sebenarnya jauh lebih mendasar dari soal kesalahan 
pembangunan menurut ilmu tata kota, atau hidrologi. Masalah kita adalah soal 
cara kita berpikir. Kita tidak sanggup mendeteksi masalah, dan tidak sadar 
bahwa sumber masalahnya ada pada perilaku kita sendiri.

Bagaimana menyelesaikan masalah yang sangat mendasar ini? Kuncinya ada di 
pendidikan dan kepemimpinan. Pendidikan yang baik seharusnya membentuk pola 
pikir yang analitis. Masalahnya, pendidikan kita juga sedang dibelit masalah. 
Pendidikan kita tidak menghasilkan pola pikir analitis tadi. Demikian pula soal 
kepemimpinan, belum banyak pemimpin yang sanggup berpikir, dan yang sanggup 
mengarahkan masyarakat untuk berpikir.

Apa boleh buat, banjir masih akan terus menjadi berita di setiap musim hujan.

(mmu/mmu)
banjir


0 komentar






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210208174733.cd15ffe5d001cbef41fef511%40upcmail.nl.

Reply via email to