https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2089-visi-kenabian-di-peta-jalan-pendidikan





Selasa 09 Maret 2021, 05:00 WIB 

Visi Kenabian di Peta Jalan Pendidikan 

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial

   Visi Kenabian di Peta Jalan Pendidikan MI/Ebet Usman Kansong Dewan Redaksi 
Media Group. AGAMA tersusun atas akhlak, akidah, dan ibadah. Namun, kiranya 
banyak di antara kita yang mereduksi agama menjadi akidah dan ibadah. 
Sekurang-kurangnya, mereka lebih mementingkan akidah dan ibadah. Mementingkan 
akidah bisa memicu pertentangan. Kita seringkali mempertentangkan akidah agama 
kita dengan akidah agama lain. Pertentangan akidah bisa juga terjadi dalam satu 
agama, misalnya antara Ahmadiyah dan Islam arus utama atau antara Protestan dan 
Saksi Yehovah. Mereka saling mengafirkan. Kafir-mengafirkan biasanya berurusan 
dengan akidah. Berlebihan dalam memegang teguh akidahnya sendiri bahkan bisa 
memicu radikalisme dan terorisme. Islamic State, misalnya, mengidap paham 
taqfiri, yakni paham yang mengafirkan sesama muslim dan penganut agama lain. 
Mereka menebar teror mematikan terhadap siapa pun yang mereka anggap kafir atau 
murtad. Pun mengedepankan ibadah bisa memantik pertengkaran. Dalam Islam 
terjadi pertengkaran antara mereka yang salat subuh memakai qunut dan yang 
tidak. Agama tersusun setidaknya atas akhlak dan fikih. Akan tetapi, kiranya 
tak sedikit yang mengidentikkan agama dengan fikih semata. Paling tidak mereka 
lebih mengedepankan fikih ketimbang akhlak. Fikih juga seringkali menyebabkan 
perbedaan bahkan permusuhan. Fikih Muhammadiyah berbeda dengan fikih Nahdlatul 
Ulama. Syiah bermusuhan dengan Sunni gara-gara perkara fikih. Para nabi 
sesungguhnya diturunkan ke muka bumi pertama-tama untuk mengubah akhlak. "Aku 
tidak diutus kecuali untuk memperbaiki akhlak," kata Nabi Muhammad. Ajaran atau 
perintah terkait akidah dan ibadah datang kemudian. Kita-kiranya bersepakat 
perihal akhlak. Semua agama, peradaban, kebudayaan, bersepakat bertengkar itu 
buruk. Celaka bila pertengkaran itu disebabkan perbedaan akidah dan tata cara 
ibadah. Dibutuhkan akhlak mendamaikan pertengkaran itu. Pula, semua agama, 
peradaban, kebudayaan, bersepakat korupsi itu buruk. Ketua KPK Firli Bahuri 
merumuskan korupsi sebagai kekuasaan plus kesempatan minus integritas. 
Integritas terkait erat dengan akhlak. Supaya korupsi berkurang, perlu 
pendidikan akhlak. Celakanya, sejumlah koruptor kita kenal sebagai ahli ibadah. 
Ada koruptor bertitel haji bahkan berkali-kali berhaji sehingga bila boleh, 
gelar ‘H’ dipasang berderet di depan namanya. Sejumlah koruptor berasal dari 
partai politik berideologikan agama yang semestinya urusan akidah mereka sudah 
beres. Mereka kiranya tidak berakhlak meski rajin beribadah dan berakidah. 
Itulah sebabnya banyak ulama dan cendekiawan mengutamakan akhlak. Saya beberapa 
tahun lalu membaca artikel Haidar Bagir di Majalah Tempo yang mengajak kita 
lebih mengedepankan akhlak ketimbang akidah dan ibadah. Saya sedang membaca 
buku yang ditulis Jalaluddin Rachmat berjudul Dahulukan Akhlak di Atas Fikih. 
Mendahulukan akhlak bukan berarti mengabaikan atau meninggalkan akidah, ibadah, 
dan fikih. Tidaklah berakhlak mereka yang mendahulukan akhlak, tetapi melupakan 
akidah dan ibadah. Tidak sempurna beragama mereka yang mengutamakan akhlak, 
tapi meninggalkan ibadah dan akidah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 
diberitakan tengah merancang Peta Jalan Pendidikan 2020-2035. Kemendikbud 
merumuskan Peta Jalan Pendidikan itu sebagai ‘Membangun rakyat Indonesia untuk 
menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan 
berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila’. 
Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 itu menjadikan akhlak mulia, akhlakul karimah, 
sebagai salah satu tujuan pendidikan. Itu artinya peta jalan pendidikan kita 
mengandung visi kenabian. Akan tetapi, organisasi keagamaan dan partai politik 
berbasis agama mempersoalkan Peta Jalan Pendidikan 2020-2035. Mereka 
mempersoalkannya karena tidak ada kata agama dalam rumusan atau konsep besar 
peta jalan pendidikan itu. Mereka kiranya ingin ada kata agama secara formal. 
Padahal, secara substansial, ada agama di dalam peta jalan itu, yakni akhlak 
mulia. Sekali lagi, substansi diutusnya para nabi pembawa agama-agama ialah 
memperbaiki akhlak.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2089-visi-kenabian-di-peta-jalan-pendidikan






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210309170641.d0a70354b2277eba1c8b8339%40upcmail.nl.

Reply via email to