Kenyataan Baru

Senin 24 May 2021
Oleh : Dahlan Iskan

SIAPA yang bisa menasihati Amerika? Mungkin tidak ada. Tapi guru besar ini 
mencobanya. Ia juga seorang diplomat hebat. Namanya: Prof Dr Kishore Mahbubani. 
Ia pernah menjabat ketua Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia duta 
besar Singapura untuk PBB –selama dua periode yang panjang. Ia lantas menjabat 
dekan kebijakan publik Lee Kuan Yew School di Singapore National University.

Dan Mahbubani adalah juga penggemar lagu-lagu India. Khususnya yang dinyanyikan 
oleh Mohamad Rafi –yang lagunya menghiasi ribuan film India. Rafi sampai 
mendapat gelar ''Penyanyi Abad Ini'' - -meninggal tahun 1980. Di umurnya yang 
relatif muda: 55 tahun. Sambil menulis ini pun saya mendengarkan lagu-lagunya 
Rafi itu.

Mahbubani lahir di Singapura. Orang tuanya mengungsi dari India. Yakni saat 
terjadi kerusuhan masal yang hebat di India. Yakni saat tiba-tiba Inggris 
memisahkan Pakistan dari India. Tanggal 14 Agustus 1947. Penduduk yang Islam 
harus mengungsi ke wilayah yang disebut Pakistan. Yang Hindu harus pindah ke 
tanah yang disebut India. Dalam waktu satu hari. Sangat berdarah.

Profesor Mahbubani kini berumur 74 tahun. Masih sangat sehat dan segar. Sudah 
pula menulis 8 buku. Mengenai Amerika, Asia, Tiongkok, dan Singapura. Semuanya 
laris. Semuanya jadi pegangan para pengambil kebijakan di banyak negara.

"Kita harus membantu Presiden Joe Biden agar Amerika sukses," ujarnya dalam 
suatu Webinar internasional belum lama ini. Sampai sekarang video Webinar itu 
terus beredar luas. "Kita" yang ia maksud adalah para pemimpin Asia.

"Kalau sampai Biden gagal Donald Trump akan kembali," kata Mahbubani. Dan itu 
bencana bagi dunia.

Ia pun menasihati Amerika agar realistis. "Menghalangi Tiongkok menjadi 
kekuatan nomor 1 di dunia akan gagal. Pasti gagal," ujar Mahbubani.

Untuk apa Amerika punya niat seperti itu. Seperti tidak senang melihat orang 
lain maju.

Tiongkok sendiri tidak punya tujuan untuk menjadi nomor 1 di dunia. Tujuan 
utama Tiongkok adalah mengentas kemiskinan rakyatnya. Lalu memakmurkannya. Dan 
memajukan negaranya.

Hanya saja ketika tujuan itu tercapai secara otomatis Tiongkok menjadi kekuatan 
nomor 1 dunia.

Mahbubani juga menilai Amerika itu ingin komunisme lenyap dari Tiongkok.

"Itu juga tidak mungkin. PKC itu partai terkuat di dunia. Bahkan kini banyak 
universitas di Amerika mulai mengaji kesuksesannya," ujar Mahbubani.

Amerika, katanya, harus menyadari bahwa abad ini tidak sama lagi dengan abad 
yang lalu. Abad yang lalu adalah abad yang bisa membuat Amerika menjadi negara 
paling hebat di dunia. Ia lantas menguraikan kehebatan Amerika di segala bidang 
kehidupan.

Tapi Amerika kini punya persoalan internal yang berat. Itu sudah terjadi sejak 
30 tahun terakhir. Yakni, pendapatan 50 persen masyarakat Amerika terus menurun.

Menurut Mahbubani Amerika harus tahu kenyataan itu. Dan harus mengambil langkah 
mengatasinya. Tanpa pemikiran yang baru, pendapatan 50 persen masyarakatnya 
akan terus menurun.

Misalnya: mengapa Amerika menganggarkan USD 1,3 triliun untuk pertahanan. Yakni 
untuk menciptakan pesawat tempur tercanggih. Mengapa anggaran itu tidak untuk 
menaikkan ekonomi 50 persen masyarakatnya.

"Sebaliknya Tiongkok menganggarkan USD 1,7 triliun untuk membangun 
infrastruktur di banyak negara," ujar Mahbubani.

Itu akan membuat Amerika semakin kehilangan pengaruh di dunia.

Maka profesor itu tegas sekali mengatakan: hentikan perang dagang, hentikan 
memojokkan Tiongkok, jangan mancing-mancing soal Taiwan dan segera bebaskan 
Meng Wanzhou –putri pendiri Huawei itu.

Untuk memperbaiki ekonomi 50 persen penduduk lapisan bawahnya itu, menurut 
Mahbubani, tidak ada jalan lain kecuali kerja sama dengan Tiongkok. "Pasar 
ritel Tiongkok itu besar sekali," ujarnya.

Tahun 2019, pasar ritel Tiongkok sebesar USD 3 triliun. Pasar ritel Amerika 
memang masih USD 4 triliun. Tapi sekarang ini pasar ritel Tiongkok sudah USD 6 
triliun. Sedang pasar ritel Amerika USD 5 triliun.

Jadi Tiongkok memang sedang dalam proses menuju menang. Kenyataan baru ini 
tidak bisa dihalangi. Apalagi lewat kebijakan pemisahan ekonomi Amerika dan 
ekonomi Tiongkok. Itu pula topik bahasan buku terbaru Mahbubani: Has China Won.

Biden sendiri, kata Mahbubani, sebenarnya pernah mengatakan Tiongkok memang 
akan menjadi nomor satu dunia. Pada saatnya. Biden sudah menyadari kenyataan 
baru itu. Bahkan Biden mengatakan itu akan terjadi di depan matanya sendiri. 
"Tapi rasanya tidak mungkin dalam empat tahun ini," ujar Mahbubani. Yang 
mungkin adalah –saat itu nanti terjadi– Biden masih hidup dan mengalaminya.

Indonesia pun tidak akan bisa menolak kenyataan itu. Senang atau benci. 
Misalkan orang se Indonesia ramai-ramai kompak membenci Tiongkok. Pun tidak 
akan menghalangi negara itu menjadi nomor satu.

So what. Maka fokus kita baiknya terus menginventarisasi apa saja yang bisa 
kita manfaatkan dari Tiongkok. Terutama pasarnya yang sangat besar itu.

Tapi, sekarang ini, siapa yang berani bicara pro Tiongkok di Amerika? Pun di 
sini? Pembicaraan soal ini harus dibuka. Justru agar tahu apa yang harus kita 
lakukan atas kenyataan baru itu.

"Kalau di Washington DC ada yang usulkan kembali berhubungan baik dengan 
Tiongkok, ia bisa ditembak orang," ujar Mahbubani.

Juga di Indonesia? (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1324/kenyataan-baru#.YKrE4q_bSdY

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/74A63DCF88F54823B6B579276B37A610%40A10Live.

Reply via email to