7 Fakta Aksi Intoleran Perusakan Makam di Solo yang Bikin Gibran Geram
Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 07:31 WIB
https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5616554/7-fakta-aksi-intoleran-perusakan-makam-di-solo-yang-bikin-gibran-geram?tag_from=wp_nhl_7
Melihat tayangan video klik link diatas!
Solo -  Peristiwa perusakan makam menghebohkan warga di sekitar TPU Cemoro 
Kembar, Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon, Solo. Ada 12 makam yang dirusak dengan 
dugaan aksi intoleran terhadap agama lain.

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka pun dibuat geram dengan tindakan 
tersebut. Dia sempat mengecek langsung kondisi makam yang dirusak hingga 
meminta kasus dibawa ke ranah hukum.

Berikut tujuh fakta terkait perusakan makam di Solo:

1. Dilakukan anak-anak dari sebuah rumah belajar

Informasi yang dihimpun, perusakan dilakukan sekitar 10 anak di TPU Cemoro 
Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, pada 16 Juni 2021. Mereka 
merusak batu nisan pada 12 makam.

      Baca juga:
      Ada Rumah Belajar di Solo Ajarkan Intoleran Rusak Makam, Gibran: Tutup! 

Para bocah tersebut diketahui sebagai anak didik sebuah rumah belajar atau 
sekolah nonformal (kuttab) yang tak jauh dari makam. Gibran Rakabuming 
mengatakan proses hukum bakal dilakukan kepada guru dan anak-anak tersebut.

"Iya (bentuk intoleransi). Ngawur banget. Apalagi melibatkan anak-anak. Nanti 
segera kami proses," ujar Gibran saat meninjau lokasi makam, Senin (21/6/2021).

2. Gibran minta rumah belajar ditutup

Gibran juga menyoroti keberadaan rumah belajar atau sekolah tersebut. Dia 
mengaku akan menutup sekolah itu karena tidak memiliki izin dari pemerintah.

"Tutup aja. Dah nggak bener, sekolahnya, gurunya," ujarnya.

3. Rumah belajar melanggar prokes
Selain karena ajarannya yang dianggap melenceng, rumah belajar itu juga ditutup 
karena melanggar protokol kesehatan. Gibran mempertanyakan bagaimana rumah 
belajar tersebut bisa beroperasi dengan leluasa di tengah pandemi COVID-19.

"Sekolahnya apa sudah berizin, kok selama penutupan seperti ini dia bisa PTM 
(pembelajaran tatap muka). Izinnya seperti apa, yang lain tutup kok bisa PTM. 
Dari prokesnya aja sudah nggak tepat," kata Gibran usai rapat bersama Satgas 
COVID-19 di Balai Kota Solo, Selasa (22/6/2021).

      Baca juga:
      Rumah Belajar Bocah Perusak Makam di Solo Ternyata Langgar Prokes 

4. Anak-anak akan dibina
Gibran pun menyerahkan penanganan kasus perusakan makam tersebut kepada 
kepolisian. Namun dia menginginkan agar anak-anak yang belajar di sekolah itu 
dibina.

"Pokoknya saya kembalikan ke Pak Kapolres. Yang penting ahli waris sudah 
ketemu, dari pihak sekolah juga sudah bersedia mengganti dengan yang baru," 
kata Gibran.

"Tapi proses nggak berhenti di situ, anak-anaknya seperti apa ke depan. Kan 
harus dibina, guru-gurunya harus diproses juga. Yang jelas anak yang kemarin 
akan kami bina dan diluruskan mindset-nya," imbuhnya.

      Baca juga:
      Bocah di Solo Rusak Makam, PBNU Ingatkan Hargai Perbedaan Keyakinan 


Selanjutnya: pengasuh rumah belajar diperiksa


5. Pengasuh rumah belajar diperiksa
Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak menuturkan pihaknya sudah 
memeriksa sejumlah saksi dalam kasus ini. Salah satunya pengasuh rumah belajar 
(kuttab) yang berlokasi tak jauh dari makam tempat ke-10 bocah itu belajar.

"Kita sudah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi, baik saksi korban, 
maupun pengasuh. Ada 6 pengasuh yang sudah kita mintai keterangan," terang Ade, 
Selasa (22/6).

      Baca juga:
      Kasus Perusakan Makam di Solo, 6 Pengasuh Rumah Belajar Dimintai 
Keterangan 

6. Koordinasi dengan Kemenag
Polisi juga berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) dalam menangani 
kasus perusakan makam ini. Sebanyak 39 anak di sekolah itu akan diberi 
bimbingan konseling.

"Kami melaksanakan koordinasi dengan Kemenag, kita dorong Kemenag melakukan tim 
terpadu untuk melakukan asesmen materi yang selama ini diajarkan di sana (rumah 
belajar). Kita ingin mendudukkan masalah ini sebenar-benarnya," kata Ade.

"Mengembalikan pada ajaran-ajaran yang disyariatkan oleh agama, tidak melenceng 
bisa menyikapi dengan baik. Agar semuanya bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

      Baca juga:
      Muhammadiyah Sesalkan Perusakan Makam di Solo: Hormati Simbol Agama Lain 

7. Masyarakat kerja bakti
Ade menerangkan rencananya akan ada kerja bakti dan perbaikan makam yang 
dirusak tersebut, mulai dari TNI, Polri, maupun tokoh masyarakat dan lintas 
agama.

"Kami sudah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama di sekitar 
lokasi bahwa besok akan memperbaiki nisan yang rusak," terangnya.

(bai/mbr)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6BCE7A7FCD9A4D1EA321AA9448EA9C59%40A10Live.

Reply via email to