Kalau tak mampu bayar hutang berarti kas negara sudah menipis alias kosong.
Kosong bisa juga berarti negara menuju kebangkrutan total. Anda masih puja
puji rezim neo-Mojopahit yang penhuh dengan garong bin bandit berpayung
langit hitam? Mahfud MD bilang” korupsi sekarang  lebih gila dari zaman
orde baru” 
(*https://nasional.kompas.com/read/2021/06/05/20432301/mahfud-md-sekarang-korupsi-lebih-gila-daripada-zaman-orde-baru
<https://nasional.kompas.com/read/2021/06/05/20432301/mahfud-md-sekarang-korupsi-lebih-gila-daripada-zaman-orde-baru>*
)

fulus
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5617691/alasan-bpk-khawatir-pemerintah-tak-mampu-bayar-utang-rp-6500-t?tag_from=wp_cb_mostPopular_list



*Alasan BPK Khawatir Pemerintah Tak Mampu Bayar Utang Rp 6.500 T*

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance

Rabu, 23 Jun 2021 21:45 WIB


<https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5617691/alasan-bpk-khawatir-pemerintah-tak-mampu-bayar-utang-rp-6500-t?tag_from=wp_cb_mostPopular_list#comm1>
*Jakarta* -

Utang pemerintah
<https://www.detik.com/tag/utang-pemerintah?_ga=2.63341613.302422264.1624518289-1535370699.1610231951>
terus
bertambah. Hal tersebut membuat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) khawatir
pemerintah tak bisa lagi membayar utangnya.

Hal itu diungkapkan BPK dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LHP) LKPP 2020. BPK menilai ke depannya kemampuan
pemerintah untuk membayar utang makin menurun.

Dari catatan *detikcom*, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat utang
pemerintah mencapai Rp 6.527,29 triliun atau 41,18% terhadap PDB per April
2021.

"Tren penambahan utang pemerintah dan biaya bunga melampaui pertumbuhan PDB
dan penerimaan negara yang memunculkan kekhawatiran terhadap penurunan
kemampuan pemerintah untuk membayar," tulis BPK dalam ringkasan eksekutif
LHP LKPP 2020, dikutip *detikcom*, Rabu (23/6/2020).



"Tren penambahan utang pemerintah dan biaya bunga melampaui pertumbuhan PDB
dan penerimaan negara yang memunculkan kekhawatiran terhadap penurunan
kemampuan pemerintah untuk membayar," tulis BPK dalam ringkasan eksekutif
LHP LKPP 2020, dikutip *detikcom*, Rabu (23/6/2020).

*Baca juga**:**Bappenas Diminta Hati-hati Rencanakan Penambahan Pinjaman
Luar Negeri*
<https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5617479/bappenas-diminta-hati-hati-rencanakan-penambahan-pinjaman-luar-negeri>

BPK juga memaparkan beberapa indikator yang mendasari kekhawatirannya soal
kemampuan pemerintah untuk membayar utang
<https://www.detik.com/tag/utang-pemerintah>makin menurun.

Saat ini, BPK menilai rasio utang Indonesia terhadap penerimaan sudah
tembus 369% atau jauh di atas rekomendasi International Debt Relief (IDR).
Padahal, standar IDR untuk rasio utang yang stabil berada di 92-176%.
Kemudian, bila melihat rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) berada
di 90-150%.

Selain itu, rasio debt service terhadap penerimaan sebesar 46,77%, hal ini
telah melampaui rekomendasi IMF sebesar 25-35%.

Sementara itu, rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan sebesar 19,06%.
"Melampaui rekomendasi IDR sebesar 4,6-6,8% dan rekomendasi IMF sebesar
7-10%," papar BPK.

*Baca juga**:**Waduh! BPK Khawatir RI Nggak Mampu Bayar Utang Rp 6.500 T*
<https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5617301/waduh-bpk-khawatir-ri-nggak-mampu-bayar-utang-rp-6500-t>

BPK juga menyoroti indikator kesinambungan fiskal 2020 sebesar 4,27% yang
telah melampaui batas yang direkomendasikan The International Standards of
Supreme Audit Institutions (ISSAI) 5441- debt indicator yakni di bawah 0%.

"Pandemi COVID-19 meningkatkan defisit, utang
<https://www.detik.com/tag/utang-pemerintah>dan SILPA yang berdampak pada
peningkatan risiko pengelolaan fiskal," jelas BPK.

*Simak juga video** 'Sri Mulyani Ungkap Utang Negara Tahun ini Naik Rp
1.177 T':*

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DFR7t87peSMMy4BUQ2mUyH2csTGeViE22w0QyNDmcW4g%40mail.gmail.com.

Reply via email to