Sdr. Nio,
Saya memang menulis 100 tahun ITB dalam bahasa Belanda untuk Majallah
perkumpulan Hua Yi Nederlad. Juga terkirim digital pada teman2 di Belanda,
Kanada, Amerika yang masih berbahasa
Belanda. Kemudian saya buat terjemahannya antara lain untuk WA Ureca dan
teman2 berbahasa
Indonesia baik yang di Indonesia, Amerika, Kanada.

Baru 3 minggu yang lalu, ada dari WA Ureca minta dibolehkan teruskan
tulisan saya pada seorang
teman sekolahnya dulu dari SMA Budi Utomo, yang kemudian jadi Prof. di ITB,
dan yang bertugas
menulis sejarah ITB.
Sebenarnya peserta Reunie TFI di Surabaya tahun 2017 sudah tahu kalau
engkong buyut dari Sucipto
Nagaria itu salah satu orang yang ditunjuk pemerintah Hindia Belanda di
Komisi 13 orang untuk pendirian suatu Fakultas Teknik di Hindia Belanda,
karena saya beri tahu ketua reunienya, yang duduk semeja dengan kami, bahwa
teman semeja kita yang lain itu, cucu buyut dari Nio Hoey Oen, yang ikut
aktif kumpulkan dana pendirian Fakultas Teknik yang akhirnya jadi ITB.
Ketuanya tanya Sucipto apa betul
begitu. Waktu Sucipto bilang betul, ketuanya memperkenalkan pada semua
hadirin bahwa cucu buyut
dari Nio Hoey Oen yang ikut kumpulkan dana sehingga jadi ITB ada di tengah
kita, dan Sucipto diminta ceritakan.
Tetapi sebetulnya hal Nio Hoey Oen, Phoa Keng Hek dan HHKan diangkat di
komisi 13 orang itu, sudah ada ditulis di buku Pancaran Cahaya Tujuh
Generasi halaman 100 yang terbit di tahun 2012, lima tahun sebelum reunie
Surabaya. Kok kelihatannya tidak ada peserta yang sudah baca??
Saya tahu pertama kalinya di tahun 2010, waktu saya dalam bus di Shanghai
disodori copy Staatsblad Hindia Belanda oleh Soetjipto, tentang pembentukan
komisi 13 orang tadi, yang ada nama2 3 Tokoh Tionghoa, Phoa Keng Hek,
kapitein der Chinezen Nio Hoey Oen, dan HH Kan. Saya bilang Phoa Keng Hek
dan Nio Hoey oen yang dirikan THHK di tahun 1900, dan sekolah THHK pertama
di Jakarta Pa Hoa
(Patekoan Tionghoa Hwee Koan di Jalan Paekoan) di tahun 1901. Soetjipto
tanya saya, kok saya tahu. Saya bilang, baca di bukunya Benny Gatot
Setiono, : Tionghoa dalam Pusaran Politik.
Soetjipto bilang, Nio Hoey Oen itu engkong buyutnya. Saya tanya apa engkong
buyut luar. Dijawab : Engkong buyut dalam. Nama lain Liong Yin Tang.
Karena istri saya juga lulusan TH Delft, jadi kami dapat kiriman berkala
majallah dari TU Delft, yang pada waktu 100 tahun ITB, ada tulisannya
tentang pendirian TH Bandung dan hubungan eratnya hingga sekarang dengan
ITB. Tulisan saya sebagian besar berdasarkan tulisan itu.
Ada juga cerita lisan dari famili, yang mertua perempuannya dari famili Tan
di Jawa Barat, yang diundang hadir waktu peresmian TH Bandung. Ini cerita
pada menantunya, penyumbang2 diminta tulis namanya, dimasukkan dalam botol,
kemudian ditanam. Tetapi famili saya tidak tahu presis lokasinya, waktu
saya tanya apa di dekat Aula Barat, atau Aula Timur, atau mungkin di bawah
jam masuk ITB. Teman yang bangun suatu complex di Australia, bilang itu
juga kebiasaan di Australia untuk masukkan surat dalam botol, ditanam. Jadi
kalau botol itu ditemukan, orang tahu riwayat daerah itu.
Saya pernah baca tulisan Azmi Abubakar (Insinyur orang Aceh, pemilik Museum
Pustaka Peranakan Tionghoa di Serpong) beberapa tahun yang lalu kalau dia
diceritai Suseno Bunarto (Djie Sing Boen? menurut famili saya) yang aktif
dalam mendirikan kembali sekolah Pa Hoa, tentang 3 tokoh Tionghoa yang
berhasil kumpulkan dana f 500.000 untuk pendirian fakultas teknik, yang
berkat sumbangan 30 ha tanah dari walikota Bandung, akhirnya didirikannya
di Bandung.
Berapa sumbangan per orang atau per perusahaan belum pernah saya lihat
datanya. Nanti saya kirimkan terjemahan tulisan saya, karena yang saya
tulis ini barangkali sudah terlalu panjang.
Salam
K.H.

Op di 29 jun. 2021 om 06:47 schreef Robert Nio <[email protected]>:

> Selamat pagi pak KH Djie
>
> Apa kabar? Semoga sehat selalu
>
>
>
> Perkenalkan nama saya Robert lansia usia 80 tahun
>
>
>
> Saya mendapatkan nama pak KH Djie dari sdr Billy
>
>
>
> Saya sangat tertarik sekali akan sejarah ITB sejak pendiriannya
>
>
>
> Oleh sebab itu mohon bantuannya untuk dikirimi tulisan-tulisan
>
> maupun informasi yang berkaitan dengan sejarah ITB
>
>
>
> Pada saat ini ada hal yang membuat saya sangat ingin tahu sekali ialah
>
>
> konon pada saat pendirian ITB
>
> telah terkumpulkan dana sebesar tiga juta Gulden
>
> siapa donaturnya dan dari perusahaan mana saja mereka itu maupun jumlah
> yang telah mereka sumbangkan
>
>
>
> Mhn bantuan sekalian dikirimkan referensinya
>
> dalam Bahasa Belanda juga tidak apa
>
> sebab saya sudah pernah tinggal di Belanda tepatnya di kota Alphen a/d Rijn
>
>
>
> Dengan soja rangkap tangan dua
>
> saya ucapkan banyak terima kasih sebelumnya
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavhxX5K96re7hqStX98oTXorRhPv--1ge%3DGBKM62MfxLTg%40mail.gmail.com.

Reply via email to