Mampukah Jokowi Geser Dolar AS?
Seri Pemikiran John Mearsheimer
A43 - Thursday, July 1, 2021 21:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mampukah-jokowi-geser-dolar-as
Presiden Joko Widodo (Jokowi) tiba di Washington D.C., Amerika Serikat (AS), 
ketika berkunjung ke AS pada Oktober 2015 silam. (Foto: Facebook) 
8 min read

Bank Indonesia (BI) dikabarkan akan menerapkan local currency settlement (LCS) 
dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) – membolehkan transaksi di antara kedua 
negara dilakukan dengan mata uang masing-masing. Apakah pemerintahan Joko 
Widodo (Jokowi) akan dan mampu geser dominasi mata uang dolar Amerika Serikat 
(AS) dalam perdagangan internasional?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Cash rules everything around me. C.R.E.A.M. Get the money. Dollar dollar 
bill, y’all” – Wu-Tang Clan, “C.R.E.A.M.” (1994)

Di dunia, uang mungkin adalah segalanya. Boleh jadi, asumsi inilah yang ingin 
disampaikan oleh grup penyanyi rap Wu-Tang Clan yang berasal dari New York City 
dalam lagu mereka yang berjudul “C.R.E.A.M.” (1994).

Lagu yang disebut-sebut sebagai salah satu lagu hip-hop paling ikonik dalam 
sejarah ini kurang lebih juga menggambarkan bagaimana sulitnya kehidupan di 
kota besar Amerika Serikat (AS) tersebut. Di kota yang dijuluki sebagai the big 
apple tersebut, uang dolar (dollar bill) merupakan segalanya.

Alhasil, mereka harus berjuang sekuat mungkin agar mendapatkan dollar bill 
sebanyak-banyaknya. Pada intinya, mereka ingin mendapat C.R.E.A.M. di tengah 
realitas dunia yang dikuasai oleh kertas-kertas berwarna hijau itu.

Apa yang disebut dalam lirik-lirik Wu-Tang Clan bisa jadi tidak hanya isapan 
jempol belaka. Pasalnya, mungkin hampir semua negara sangat bergantung pada 
mata uang AS tersebut.

Baca Juga: Jokowi Lebih “Cuan” Gunakan Yuan?

 
Bagaimana tidak? Hampir semua perdagangan internasional dilakukan dengan 
menggunakan dolar AS. Bahkan, di Indonesia, bagaikan komoditas yang 
diperjualbelikan, cetakan uang dolar AS yang lebih baru dihargai lebih tinggi 
dibandingkan cetakan lama – meskipun nilai yang berlaku di negara asalnya bisa 
jadi masih sama.

Mungkin, inilah mengapa ada yang bilang bahwa Indonesia tidak ingin mengikuti 
jejak yang sama seperti Wu-Tang Clan – yakni dengan mengejar dolar sepenuhnya. 
Pasalnya, Bank Indonesia (BI) disebut akan segera menerapkan local currency 
settlement (LCS) dengan bank sentral dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Mekanisme LCS ini membolehkan perdagangan bilateral antara dua negara dilakukan 
dengan mata uang lokal – tergantung pada yurisdiksi mana yang dijadikan tempat 
settlement transaksi tersebut. Uniknya lagi, di luar Tiongkok, BI ternyata 
telah memiliki kesepakatan skema dengan sejumlah negara lain, yakni Jepang, 
Malaysia, dan Thailand.

Bukan tidak mungkin, sinyal keinginan Indonesia untuk melepaskan diri dari 
dominasi dolar AS ini dapat menimbulkan sejumlah pertanyaan. Mengapa akhirnya 
Indonesia yang berada di bawah pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dinilai ingin 
melepaskan diri dari dominasi mata uang yang dijuluki sebagai greenback itu? 
Lantas, mungkinkah keinginan itu terwujud dalam realitas di masa depan?



Bye­-bye, Dolar AS?
Adanya tendensi dari Indonesia untuk melepaskan diri dari dominasi dolar AS ini 
boleh jadi disebabkan oleh sejumlah faktor. Selain karena dolar AS dinilai 
semakin melemah semakin ke sini, faktor politis bisa juga mempengaruhi.

Anggapan bahwa dolar AS semakin ke sini semakin lemah ini telah banyak dibahas 
oleh para ahli ekonomi. Salah satunya adalah profesor ekonomi dan kebijakan 
publik dari Harvard University, Kenneth Rogoff, dalam tulisanya di The Guardian.

Kurang lebih, Rogoff berpendapat bahwa dominasi dolar AS pada suatu hari nanti 
bisa tergeser oleh mata uang besar lainnya, yakni renminbi (RMB) milik 
Tiongkok. Apalagi, baru-baru ini, pemerintah Tiongkok tengah menyiapkan 
sejumlah kebijakan yang bisa semakin mengancam takhta dolar AS, seperti mata 
uang digital (digital currency) resmi dari Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) yang 
merupakan bank sentral Tiongkok.

Salah satu kelebihan renminbi lainya yang disebutkan oleh Rogoff adalah 
fleksibilitas yang dimilikinya. Bahkan, pada tahun 2016, International Monetary 
Fund (IMF) telah memasukkan renminbi sebagai salah satu mata uang dalam special 
drawing rights (SDR) yang merupakan aset cadangan internasional untuk 
melengkapi cadangan negara-negara anggotanya.

Bukan tidak mungkin, berbagai instrumen kebijakan yang mendorong renminbi ini 
akan semakin memperluas penggunaan mata uang Tiongkok itu. Alhasil, Rogoff pun 
menyebutkan bahwa dolar bisa kehilangan hampir separuh dominasinya suatu saat 
nanti.

Tidak hanya dari sisi ekonomi dan kebijakan, situasi politik antarnegara yang 
terjadi disebut juga bisa memperburuk dominasi dolar AS. Pasalnya, mengacu pada 
sebuah artikel di The Economist, AS sempat menggunakan mata uang ini sebagai 
senjata diplomatik – khususnya di era Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Kerja Senyap Tiongkok Tata Dunia?


Kala dipimpin Trump, AS kerap mengobarkan ‘peperangan finansial’ terhadap 
negara-negara lain, seperti Rusia, Iran, Irak, dan sebagainya. Financial 
warfare ini dikobarkan melalui sanksi-sanksi yang diberikan terhadap 
negara-negara tersebut.

Pada tahun 2018, misalnya, sebuah perusahaan aluminium asal Rusia, Rusal, 
hampir bangkrut akibat sanksi dari AS. Trump disebut meblokir akses 
perusahaan-perusahaan Rusia ke greenback milik Federal Reserve System (bank 
sentral AS) alias The Fed. Akibatnya, banyak transaksi perusahaan tersebut yang 
menggunakan dolar macet dan tidak terselesaikan.

Keluhan atas penggunaan dolar sebagai senjata diplomatik ini juga pernah 
disampaikan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Rusia akhirnya terpaksa 
mengadakan skema-skema transaksi dan perjanjian dengan negara lain tanpa 
menggunakan mata uang dolar.

Apa yang dilakukan oleh Trump menggunakan dolar ini bisa jadi menggambarkan 
bagaimana AS diuntungkan oleh hegemoni dolar. Mengacu pada tulisan Carla 
Norloff yang berjudul Dollar Hegemony, kapabilitas ekonomi melalui dominasi 
mata uang semacam ini bisa saja membawa kekuatan politik bagi negara tersebut, 
yakni AS.

Apa yang disebutkan Norloff sejalan dengan penjelasan John J. Mearsheimer, 
seorang profesor politik dari University of Chicago, AS. Setidaknya, 
Mearsheimer menyebutkan bahwa negara bisa menggunakan kekuatan materialnya 
(material power) – seperti kemampuan ekonomi – untuk memaksimalkan kekuatannya 
dalam upaya menuju status hegemon.

Bukan tidak mungkin, upaya AS untuk menjaga hegemoninya dengan menggunakan 
dolar AS sebagai senjata diplomatik membuat banyak negara akhirnya merasa 
was-was bila masih bergantung pada greenback, termasuk Indonesia. Lantas, 
pertanyaan selanjutnya adalah apakah mungkin pemerintahan Jokowi menggeser 
dominasi dolar di Indonesia. Mungkinkah ada hambatan dan tantangan yang harus 
dihadapi?



Please Stay, Dolar AS?
Dua faktor yang disebutkan di atas bisa saja menjadi alasan bagi Indonesia 
untuk menggeser penggunaan mata uang dolar AS yang terlalu dominan. Namun, 
bukan tidak mungkin, BI dan pemerintahan Jokowi harus menghadapi sejumlah 
hambatan dan tantangan apabila benar-benar ingin menggeser dominasi greenback.

Sebenarnya, menjadi beralasan apabila pemerintah Indonesia ingin melepaskan 
diri dari dominasi dolar AS. Pasalnya, bukan tidak mungkin, Presiden AS Joe 
Biden kembali menggunakan dolar AS sebagai senjata diplomatik dalam 
sanksi-sanksi ekonominya.

Lagi-lagi, Rusia menjadi salah satu negara yang menjadi sasaran Biden. Beberapa 
bulan lalu, AS memberikan sanksi ekonomi kepada Rusia karena dugaan serangan 
siber dalam pemilihan presiden (Pilpres) pada 2020 lalu.

Belum lagi, Biden kini melancarkan politik luar negeri AS yang didasarkan pada 
nilai-nilai hak asasi manusia (HAM), demokrasi, dan perubahan iklim. Bisa jadi, 
Indonesia dibuat khawatir akan jargon politik luar negeri Biden.

Pasalnya, Indonesia sendiri kini dilaporkan sebagai negara yang mengalami 
kemunduran dalam pelaksanaan demokrasi dan perlindungan HAM. Pemerintahan 
Jokowi mungkin berpikir akan lebih aman dari sanksi ekonomi AS apabila 
penggunaan dolar AS bisa diminimalisir.

Ini sejalan dengan konsep tatanan dunia liberal (liberal international order) 
yang disebutkan oleh Mearsheimer dalam tulisannya yang berjudul Bound to Fail. 
AS bisa saja akan menerapkan prinsip-prinsip liberal kepada negara-negara lain 
melalui tatanan dunia yang telah dibangunnya pasca-Perang Dunia II berakhir.

Baca Juga: De-dolarisasi, Jokowi Setara Gaddafi?

 
Namun, bila benar pemerintahan Jokowi dan BI ingin lepas dari dominasi mata 
uang dolar AS, tentu saja terdapat sejumlah hambatan dan tantangan. Seperti 
yang dibilang oleh Rogoff, meski dominasi dolar AS mengalami penurunan, mata 
uang besar lainnya seperti renminbi belum mampu menyaingi dominasi greenback.

Renminbi hingga kini masih “dilemahakan” terhadap mata uang dolar AS. Ini 
terjadi akibat kebijakan renminbi peg yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok 
agar menjaga nilai mata uangnya relatif lebih lemah dibandingkan mata uang 
negara lain agar ekspor produk Tiongkok dapat meningkat.

Selain itu, dalam hal perdagangan dengan AS, Indonesia bisa jadi masih 
membutuhkan mata uang greenback. Pasalnya, Indonesia hingga kini masih 
menikmati surplus perdagangan dengan negeri Paman Sam tersebut dan Jokowi bisa 
saja tidak ingin surplus ini hilang begitu saja.

Selain itu, sejumlah sektor ekonomi di Indonesia masih membutuhkan 
komoditas-komoditas yang diimpor dari AS. Kedelai, misalnya, beberapa waktu 
lalu sempat mengganggu stabilitas harga tempe yang notabene merupakan makanan 
yang dengan permintaan tinggi di Indonesia.

Bila benar pemerintahan Jokowi ingin menggeser dominasi dolar AS dengan 
renminbi Tiongkok, Indonesia pun malah bisa mengalami kerugian dalam hal 
perdagangan. Hingga tahun 2020, Indonesia malah mengalami defisit neraca 
perdagangan terhadap negara Tirai Bambu tersebut. Sejumlah kebijakan yang 
menguntungkan renminbi bisa saja malah meningkatkan defisit tersebut di masa 
mendatang.

Melihat pertimbangan-pertimbangan ini, pertanyaan adalah apakah pemerintahan 
Jokowi benar-benar mampu dan efektif menggeser hegemoni dolar AS. Mungkin, 
perhitungan ini perlu dipikirkan matang-matang oleh pemerintah Indonesia dan BI 
dalam menjalankan politik mata uang ke depannya. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/440A40CC9B8541F0B87B8114C569F372%40A10Live.

Reply via email to