Cerita Harmoko Buktikan Soeharto Tak Anggap Dirinya Brutus
Tim detikcom - detikNews
Senin, 05 Jul 2021 06:46 WIB
https://news.detik.com/berita/d-5631222/cerita-harmoko-buktikan-soeharto-tak-anggap-dirinya-brutus?tag_from=wp_nhl_12
Foto: Harmoko (Kemendikbud)
Jakarta - Semasa hidup seorang Harmoko pernah dijuluki Brutus sebab dianggap
berkhianat pada Soeharto. Namun Harmoko membuktikan sebaliknya.
Sebelum ke cerita Harmoko ada baiknya memahami apa maksud julukan 'Brutus' itu.
Tersebutlah 'Et tu, Brute?' yang secara sederhana bisa diartikan sebagai
'Bahkan kamu, Brutus?' merupakan ungkapan pengkhianatan tak terduga dari
seorang kawan. Istilah itu dikenalkan William Shakespearce dalam drama 'Julius
Caesar'.
Alkisah Julius Caesar sang diktator Romawi ditikam di gedung Senat Romawi yang
diinisiasi oleh salah seorang senator Marcus Junius Brutus, yang juga dikenal
sebagai orang terdekat Julius Caesar. Maka di akhir ajalnya itu Julius Caesar
seolah tak percaya bila Brutus tega membunuhnya.
Julukan 'Brutus' itu pula yang lantas sempat dilontarkan ke Harmoko. Sebab,
Harmoko dikenal dekat dengan Soeharto bahkan selama 14 tahun menjadi Menteri
Penerangan bagi The Smiling General.
Namun di 1998 Harmoko yang menjabat sebagai Ketua MPR justru menyampaikan pesan
ke Soeharto untuk lengser keprabon. Hingga puncaknya saat rapat pleno di kantor
DPP Golkar yang membahas pengunduran diri Soeharto, kader Golkar Indra Bambang
Utoyo menyebutnya Brutus.
Baca juga:
Harmoko: Antara Cabe Keriting, Tomat Bulet dan Kelompencapir
Tak ayal sebab Harmoko kala itu juga menjabat Ketua Umum Partai Golkar di mana
Soeharto sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar. Namun di forum itu, Harmoko
menjelaskan apa yang menjadi alasan pimpinan DPR menyampaikan pernyataan agar
Soeharto mengundurkan diri.
Harmoko, mantan Menteri Penerangan. Foto: CNN Indonesia/Denny Aprianto
"Apa yang disampaikan pimpinan dewan merupakan hasil konsultasi dengan
pimpinan-pimpinan fraksi yang semuanya hadir," tegas Harmoko ketika
diwawancarai detikcom pada tahun 2008 lalu.
Harmoko pun menyebut Soeharto sama sekali tidak pernah menganggapnya 'Brutus'.
Sebagai bukti, Soeharto mengirimnya sebuah buku pada 27 November 2007.
"(Hubungan dengan Soeharto) Baik-baik saja. Ini buktinya," kata Harmoko sambil
memperlihatkan buku "The Life and Legacy of Indonesia's Second President". Di
buku itu ada tanda tangan Soeharto.
Harmoko, mantan Menteri Penerangan. Foto: Dokumentasi detikcom
Di buku tersebut juga tertera tulisan tangan Soeharto 'untuk saudara Harmoko".
Buku pemberian Soeharto itu tidak pernah sebelumnya diumumkan ke publik.
Baca juga:
RSPAD Ungkap Harmoko Meninggal Tak Lama Usai Tiba di IGD
Harmoko Meninggal
Diketahui, Harmoko meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Harmoko
meninggal dunia sesaat sesudah masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Mulanya Harmoko masuk IGD pada pukul 20.00 WIB. Disebutkan, saat itu Harmoko
sudah terjadi penurunan kesadaran.
"Jadi pukul 8 malam Pak Harmoko diantar oleh keluarganya ke IGD RSPAD karena
ada penurunan kesadaran," ujar Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD)
Gatot Soebroto, Letnan Jenderal TNI Albertus Budi Sulistya, ketika dihubungi,
Minggu (4/7/2021).
Kemudian, petugas medis memeriksa kondisi Harmoko. Namun, 2 jam setelahnya,
Harmoko dinyatakan meninggal pada pukul 20.22 WIB.
"Pukul 20.22 Pak Harmoko dinyatakan wafat, kemudian pemulasaraan jenazahnya
secara COVID," terang Budi.
Baca juga:
Harmoko Akan Dimakamkan di TMP Kalibata
(isa/dhn)
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2D0C398AE6264C2A86A4E1B2DE2958E2%40A10Live.