AS Nekat Kecam HAM Tiongkok Saat Pekerja Mati Kepanasan 2021-07-05 08:46:16 http://indonesian.cri.cn/20210705/ab3a1385-b349-367b-ff11-bbe93e15f5d0.html
Belakangan ini, AS selalu mengecam keadaan HAM Tiongkok, tapi dirinya terdapat banyak kekurangan. Misalnya, di bawah temperatur antara 40-50 derajat Celcius dan kepadaman listerik di sejumlah daerah, kaum buruh di kebun tanaman AS tetap dipaksa untuk bekerja sehingga ada pekerja yang langsung meninggal dunia karena terlalu panas. Dalam beberapa hari yang lalu , di pesisir laut bagian barat AS dan Kanada, sejumlah tempat temperaturnya terus melambung hingga di atas 45 derajat Celcius bahkan sampai 50 derajat Celcius. Konsumsi listrik di sebagian kota terus meningkat sehingga penyuplaian listrik pun menghadapi tekanan cukup tinggi. Pemasokan listrik di sejumlah daerah dilakukan sesuai “aturan zonasi”. Kondisi ini benar-benar menjadi sengsara bagi warga AS dan Kanada yang diterpa suhu udara panas dan ancaman pemadaman listrik. Akan tetapi, dalam kondisi cuaca yang ekstrem ini, buruh-buruh di sejumlah kebun tetap dipaksakan untuk bekerja di bawah terik matahari dan suhu udara yang panas. Dikabarkan, seorang pekerja di negara bagian Oregon langsung meninggal dunia. Pekerja ini berasal dari Guatemala, baru saja tiba di AS pada beberapa bulan lalu, dia bertugas memindahkan pipa penyiraman air, jenazahnya ditemukan saat pergantian shift pada tanggal 26 Juni lalu. Otoritas Keamanan dan Kesehatan Profesi mengakui bahwa buruh ini meninggal karena kepanasan akibat suhu udara yang tinggi. Tetapi pemilik kebun tanaman tidak ingin memikul tanggung jawab. Dikatakannya, para pekerja boleh memilih hari-hari yang sejuk untuk bekerja, mereka mau mencari duit dan sukarela berbuat begitu. Sebelunya, ada media AS melaporkan,para tenaga kerja yang betugas di kebun tanaman tidak mempunyai asuransi pengobatan. Pengobatan adalah hal terlalu mewah bagi mereka. Meskipun kondisi tubuhnya kurang enak, mereka tidak ada pilihan lain selain bertahan. Dikabarkan, di Washington juga terjadi kasus-kasus meninggal karena cuaca ekstrem panas, sebanyak 9 orang meninggal ketika bekerja di bawah cuaca ekstrem. Kesengsaraan para tenaga kerja yang terpaksa bekerja di bahwa cuaca ekstrem itu juga dialami kaum etnis minoritas. Media AS melaporkan, karena lazimnya tinggal di komunitas yang dekat dengan jalan tol atau pabrik yang berpolusi tinggi, apalagi tidak dilengkapi fasilitas yang ramah seperti taman dan rumputan, rumah-rumah yang dihuni warga etnis minoritas pun berubah menjadi Pulau Panas. Kesengsaraan yang diderita mereka jauh lebih buruk daripada apa yang diderita oleh orang-orang kulit putih, ini juga adalah semacam diskriminasi ras di AS. Pada tahun-tahun terakhiri ini, AS selalu mengecam keadaan HAM negara lain, menjadikan HAM sebagai senjata, negara yang tidak menurutinya akan dikecam keras oleh AS dan mitranya. Pada tahun ini, AS mengambil tindakan serupa terhadap Tiongkok. Tetapi kenyataan lebih kuat dari pada penjelasan, AS barulah negara yang kondisi HAMnya sangat buruk. Sampai abad ke-19, AS masih memaksakkan orang hitam memetik kapas di kebun tanaman, sampai abad ke-20, orang putih AS masih melancarkan serangan terhadap suku etnis minoritas, sampai abad ke-21, polikus AS tetap nekat melakukan hegemonisme di Timur Tengah atas nama memberantas terorisme. Inilah HAM versi AS, inilah wajah asli AS yang sudah terbiasa mengecam negara-negara lain tidak mempunyai HAM. Biarkan AS berseribu satu upaya berdalih, sejarah tidak akan pernah melupakan kejahatan AS, rakyat yang ditindas tidak akan melupakannya, imigran asing yang bekerja di bawah cuaca ekstrem tidak akan melupakannya. Membicarakan HAM? AS tidak pantas, dia tidak berkualifikasi mengecam negara lain. Sebaiknya AS memawas diri dan memedulikan kesengsaraan yang daialmi rakyat di lapisan akar rumput terlebih dulu sebelum membicarakan HAM negara lain. Acuh Tak Acuh Pemerintah AS di Hadapan Keruntuhan Gedung Florida Melukai Hati Masyarakat 2021-07-04 10:40:50 http://indonesian.cri.cn/20210704/3e021398-e8df-2d43-6810-5bd6e1d020e0.html “Tragedi Dalam Tragedi”. Sebelumnya kekacauan pemerintah AS dalam perlawanan wabah virus corona telah mengejutkan rakyat seluruh dunia. Sekarang hal yang mengejutkan terjadi lagi -- dalam waktu 10 hari lalu, pertolongan yang terlalu lambat dan berefisiensi rendah dalam keruntuhan apartemen di Florida dan sikap acuh tak acuh pemerintah AS sungguh melukai hati masyarakat. Menurut data statistik pihak berwajib AS, hinggal tanggal 2 Juli lalu, peristiwa keruntuhan apartemen di Florida telah mengakibatkan 22 orang tewas, tetap ada sebanyak 126 orang hilang kontak. 10 hari kemudian, ke-126 orang masih terjebak dalam reruntuhan, harapan hidup mereka sangat kecil. Warganet AS yang marah-marah mengkritik, mengapa “pahlawan AS” dalam film Hollywood dan teknologi canggih yang dipamerkan oleh pemerintah AS lenyap semua? Bahkan ada warganet mengironi bahwa tugas urgen pemerintah AS saat ini adalah melakukan pertolongan jiwa sebanyak 126 orang, bukan membomi Suriah…. Dalam kondisi terjebak, berapa lama manusia bisa bertahan hidup? Waktu diakui kalangan pertolongan internasional adalah 72 jam, 24 jam pertama adalah waktu urgen untuk menyelamatkan jiwa manusia. Tapi di AS, teori ini dihancuri oleh birokrasi. Dilaporkan media AS, setelah peristiwa keruntuhan terjadi, proses pengesahan pertolongan dilakukan pemerintah Federal dan pemerintah local makan waktu sepanjang 16 jam. Tim pertolongan pertama tiba di lapangan peristiwa juga pada 16 jam kemudian, jumlahnya hanya belasan orang. Dalam laporan televisi, rakyat telah melihat tim perolongan membersihkan puing-puing reruntuhan dengan tangan , pertolongan tersebut dicemooh oleh warganet mancanegara seperti melakukan “arkeologi”. Menurut laporan media AS, setelah terjadi keruntuhan, pejabat-pejabat AS sibuk mengadakan jumpa pers dan menganggap “masih punya harapan”. Mengapa gedung apartemen bisa runtuh? Mengapa pertolongan begitu lambat? Siapa harus bertanggung jawab? Menghadapi masalah-masalah krusial ini, pemerintah federal dan pemerintah setempat saling menimpa kesalahan. Dari 600 ribu warga AS yang meninggal dalam wabah virus corona, hingga rakyat yang mati kedinginan dalam peristiwa putus listrik di Texas, sampai jiwa yang meninggal dalam keruntuhan gedung Florida, politikus AS tidak menampilkan keprihatian sedikit pun pada hak untuk hidup, hak asai manusia yang paling dasar, mereka mana mungkin berkualifikasi main tuding kepada negara-negara lain berdalihan HAM. Acuh tak acuh mereka telah melukai hati masyarakat AS, inilah tragedi AS sesungguhnya. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B78291FAC4734D45A778427EC1234AE8%40A10Live.
