https://mediaindonesia.com/opini/416455/refleksi-dan-evaluasi-kunci-keberhasilan-pembelajaran




Senin 05 Juli 2021, 05:00 WIB 

Refleksi dan Evaluasi, Kunci Keberhasilan Pembelajaran

 Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma | Opini 

  Refleksi dan Evaluasi, Kunci Keberhasilan Pembelajaran Dok. Pribadi Syamsir 
Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma BILA saat 
ini—tulis Doni Kusuma (Media Indonesia, 21/6)—di hadapan kita hadir Bapak 
Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, dan kita bertanya prioritas apa yang 
harus dilakukan untuk menyelamatkan pendidikan anak-anak ini, jawab beliau 
pasti tegas dan jelas; pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup dan tumbuhnya 
anak-anak. Bagi Ki Hadjar—tulis Doni Kusuma lebih lanjut—keselamatan anak-anak 
lebih utama karena inilah tujuan pendidikan. Pada saat ini, dunia pendidikan 
dihadapkan pada situasi dilematis, yaitu tuntutan pentingnya menjaga 
keselamatan/kesehatan siswa dan 'ancaman' akan kehilangan kesempatan belajar 
(learning loss), yang akan berdampak pada kehidupan dan masa depan siswa secara 
lebih luas. Meskipun sebenarnya apabila proses switching mentality/mindset di 
kalangan pengambil kebijakan, guru, dan pemangku pendidikan lainnya sudah 
terjadi selama satu setengah tahun terakhir ini, kecemasan itu sebenarnya tidak 
mesti dilihat sebagai hitam putih, yang sayangnya terus dikapitalisasi, 
sehingga pembelajaran tatap muka (PTM) pada tahun ajaran baru pada pertengahan 
Juli 2021 ini sepertinya merupakan satu-satunya pilihan. Namun, dengan 
merebaknya kasus baru covid-19, PTM tampaknya harus ditunda. Belajar dari 
pengalaman selama satu setengah tahun terakhir ini, pilihan yang bijak 
Kemendikbudristek saat ini ialah menerima (embrace) pandemi sebagai sebuah 
keniscayaan. Sembari terus membantu guru dan manajemen sekolah memperbaiki pola 
komunikasi dengan orangtua dan siswa, serta mendorong perbaikan sarana, 
strategi, dan pendekatan pembelajaran yang tersedia dan digunakan selama ini. 
Karena pandemi sebenarnya tidak harus selalu dilihat dari sisi negatif yang 
telah membatasi ruang gerak fisik masyarakat dan mengganggu proses 
pembelajaran. Pandemi kenyataannya juga sudah berhasil menghadirkan beberapa 
dorongan akselerasi bagi munculnya berbagai inovasi pendidikan, baik yang 
diinisiasi oleh pemerintah berupa akselerasi pembelajaran daring, modul 
pembelajaran, inovasi kurikulum, dan lainnya. Inisiatif yang muncul dan 
berserak di masyarakat juga terus tumbuh dan berkembang jumlahnya, seperti 
gerakan relawan pendidikan, berbagai donasi pandemi untuk pendidikan." (Media 
Indonesia, 28/6). Komunitas daring Berkaca dari pengalaman belajar Gaurav 
Bhogale yang cukup inspiratif, sebagaimana ia tuangkan dalam MBA Blog, Harvard 
Business School (2021), guru kita juga dapat melakukan aktivitas serupa, yakni 
membangun komunitas daring (online community). Pandemi telah memisahkan guru 
dan guru juga dengan siswa secara fisik, bahkan untuk sebagian dari mereka 
sudah berlangsung selama lebih dari satu tahun. Dengan komunitas daring akan 
dapat membawa hubungan guru lebih dekat secara emosional dan menciptakan rasa 
kebersamaan dalam menghadapi tantangan pendidikan di masa pandemi ini. Dari 
pengalaman Sekolah Sukma Bangsa (Aceh), banyak guru meskipun harus tersandung 
selama berdiskusi dalam forum penguatan (capacity building) melalui Zoom, 
khususnya pada bulan-bulan pertama--banyak di antaranya masih bisu (muted) 
ketika harus membuat komentar. Namun, guru mulai saling membantu bersamaan 
dengan kemajuan yang mereka ciptakan sendiri. Selain hubungan bersifat 
profesional, hubungan emosional juga banyak terbantu. Pembatasan ruang gerak 
fisik bukan hanya berdampak secara ekonomi, tapi telah menyebabkan gangguan 
emosional pada sebagian masyarakat, termasuk guru dan siswa. Komunitas daring 
tentunya akan dapat menjadi sarana bagi guru untuk saling membantu dan 
meringankan beban psikologi yang mereka alami selama ini. Selain itu, 
pembelajaran berbasis proyek, yang beberapa di antaranya dikerjakan secara 
terintegrasi dengan melibatkan beberapa disiplin ilmu, akan dapat menumbuhkan 
kemampuan kerja sama dan berbagi pengetahuan dan informasi baru di kalangan 
guru dalam mendesain dan menyampaikan (delivery) pembelajaran kepada siswa. 
Sebagaimana dipahami bahwa pembelajaran berbasis proyek ini mengajarkan siswa 
untuk dapat bereksplorasi pada hal yang belum diketahui sebelumnya. Mereka 
harus membuat keputusan yang tepat sambil menghadapi kendala sumber daya dan 
waktu yang terbatas. Kebaikan pembelajaran berbasis proyek ini adalah ia akan 
melatih siswa memecahkan masalah rumit menjadi terperinci. Selain itu, melatih 
mereka setiap hari untuk mengembangkan kerangka kerja mental yang ketat guna 
menangani dan memecahkan masalah. Guru reflektif dan evaluatif Refleksi diri 
penting dan sangat membantu guru dalam merencanakan pembelajaran yang efektif. 
Refleksi berarti berpikir evaluatif terhadap hasil suatu pekerjaan. Evaluasi 
dilakukan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan hasil. Visible 
Learning Data Base, yang dimotori John Hattie (2020), telah berhasil 
mengindentifikasi pengaruh keberhasilan belajar siswa mulai dari yang tinggi 
hingga rendah. Mereka berhasil mengidentifikasi dua dimensi besar; keahlian 
guru dan berbagai strategi pembelajaran siswa. Ternyata, menurut Hattie (2020), 
“Dampak besar pada pembelajaran siswa lebih disebabkan bagaimana guru berpikir 
daripada apa yang dilakukan siswa, dan mereka telah menyelidiki secara spesifik 
cara berpikir itu disebut pemikiran evaluatif, yang melibatkan; (1) penalaran 
dan pemikiran kritis dalam menilai bukti (dari berbagai sumber) yang mengarah 
pada keputusan pengajaran, (2) menjaga konsistensi implementasi, (3) 
terus-menerus memeriksa konsekuensi yang tidak diinginkan, (4) menyelidiki 
kemungkinan bias dalam berpikir yang dapat mengarah pada kesimpulan yang salah, 
(5) menjelaskan kepada kolega guru dan siswa tentang apa yang dimaksud dengan 
‘dampak’ dan terus berupaya untuk mengetahui ‘dampak’ itu, dan selanjutnya (6) 
memahami sudut pandang lain (guru dan siswa) tentang dampak yang mengarah pada 
penilaian nilai atau nilai. Pemikiran evaluatif ini, menurut Hattie (2020), 
mengarah pada keseimbangan permukaan (isi) dan kedalaman (hubungan, transfer) 
yang lebih dapat dipertahankan dalam pelajaran, tugas, dan umpan balik. Sebuah 
praktik yang diinformasikan oleh pemikiran evaluatif juga membuat pembelajaran 
lebih mengundang siswa untuk bersedia berpartisipasi. Berfokus hanya pada apa 
yang dilakukan, berbagi sumber daya, dan hanya menonton orang lain mengajar 
akan berisiko kehilangan kedalaman pemikiran evaluatif ini. Gagasan sederhana 
yang banyak dikemukakan bahwa yang dibutuhkan hanyalah pelajaran yang hebat, 
dan bahkan seorang pemula dapat menjadi guru yang hebat dalam semalam (atau 
dalam 6 minggu), adalah penolakan total terhadap keterampilan dalam 
mengembangkan pemikiran evaluatif (Hattie: 2020). "Masalah utama yang kita 
hadapi saat ini, bagaimanapun, adalah bahwa begitu banyak pendidik menyangkal 
keahlian mereka sendiri. Mereka lebih memuji siswa karena termotivasi, berusaha 
keras, dan bertahan dengan tingkat ketabahan yang tinggi dalam menyelesaikan 
masalah rumit dan pola pikir yang berkembang untuk menyelesaikan tugas." 
(Hattie, 2020). Padahal, menurut Hattie (2020), "Gurulah sebenarnya yang 
meningkatkan pembelajaran siswa– ya dengan mereka, mereka sering kali menjadi 
penyebab peningkatan pembelajaran. Sampai guru mampu meyakinkan bahwa mereka 
yang menyebabkan perbaikan kualitas belajar siswa, guru akan terus dilihat 
pihak lain hanya sebagai penjaga (care giver), pemberi pelajaran yang tugas dan 
fungsinya dapat digantikan oleh AI dan komputer, sehingga pantas mendapatkan 
gaji dan rasa hormat yang rendah. Pembelajaran online terkait pandemi telah 
menunjukkan kepada orangtua dan wali siswa bahwa ada tingkat keahlian yang luar 
biasa dalam mengajar. Jadi, sekarang adalah waktu yang tepat untuk berbicara 
dan berinvestasi dalam keahlian pendidik." (Hattie: 2020). Wallahu a’lam.   
TAGS: # Opini

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/opini/416455/refleksi-dan-evaluasi-kunci-keberhasilan-pembelajaran






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210705190808.83fa9385c2fe6060d50846db%40upcmail.nl.

Reply via email to