Jokowi Mulai Ditinggalkan?R53 - Wednesday, July 7, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-mulai-ditinggalkan
 
Presiden Joko Widodo (Foto: Kompas)
7 min read

Tidak seperti di periode pertama, saat ini berbagai isu justru menggerus citra 
Presiden Jokowi, bahkan sejak sebelum pelantikannya. Apakah mantan Wali Kota 
Solo ini menjadi lame-duck president?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “I think we imagine that presidents have powers that they don’t actually 
have.” – Joel Achenbach, dalam Obama doesn’t have as much power as you think

Pada 28-29 Juni (24 jam), PinterPolitik membuat polling atau jajak pendapat di 
Instagram @pinterpolitik dengan tajuk “Jika Presiden boleh 3 periode. Kamu 
pilih siapa?”. Ada dua pilihan yang disediakan, yakni Joko Widodo (Jokowi) dan 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pemilihan keduanya tentu karena masih hidup dan 
sudah terpilih di dua periode.

Hasilnya menunjukkan gap suara yang lebar. Dari 18,2 ribu suara, 13.351 (73 
persen) memilih SBY, dan 4.934 (27 persen) memilih Jokowi. Di kolom komentar 
juga dibanjiri banyak dukungan terhadap SBY yang sekarang menjadi Ketua Majelis 
Tinggi Partai Demokrat.

Namun tentu harus digarisbawahi, polling yang dilakukan PinterPolitik hanya 
merupakan gambaran dan tidak memiliki pertanggung jawaban ilmiah. Sekalipun 
demikian, hasil polling tersebut dapat memberi satu kesimpulan menarik, yakni 
citra SBY tampaknya dinilai lebih baik dari Jokowi.

Baca Juga: Manajemen Isu, SBY Ungguli Jokowi?

Indikasi ini juga dapat dilihat dari berbagai diskursus di media sosial dan 
media massa. Tidak sedikit pihak yang membandingkan masa pemerintahan SBY 
dengan Jokowi, khususnya di aspek penegakan demokrasi.

Anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi 
Anggraini, misalnya, menyebut indeks demokrasi Indonesia masuk kategori negara 
tidak cukup bebas (half free) sejak 2014 sampai 2019.

Laporan The Economist Intelligence Unit (EIU) juga jamak dirujuk sebagai data 
perbandingan. Tidak hanya terdapat tren penurunan, indeks demokrasi Indonesia 
pada 2020 bahkan mencatat skor terendah dalam 14 tahun terakhir.

Lantas, jika merujuk pada kasus penurunan citra dan tidak dikeluarkannya Perppu 
untuk membatalkan revisi UU KPK karena besarnya tekanan dari partai politik 
(parpol), apakah itu menunjukkan Presiden Jokowi telah menjadi lame-duck?

 
Kutukan Periode Kedua
Seminggu sebelum pelantikan Jokowi-Ma’ruf pada 14 Oktober 2019, Indonesia 
Corruption Watch (ICW) memberikan prediksi yang tidak mengenakkan. Koordinator 
Divisi Korupsi Politik ICW, Donal Fariz menyebutkan Presiden Jokowi dapat 
mengalami second-term curse atau kutukan periode kedua.

Menurut Donal, kutukan tersebut juga menimpa SBY di periode keduanya. Saat itu, 
SBY disibukkan dengan proses hukum dan politik yang belum selesai di periode 
pertamanya. Konteks itu dinilai akan menimpa Presiden Jokowi.

Bagaikan nubuat, prediksi Donal seolah menemui afirmasinya. Gejolak demi 
gejolak terus menghantam pemerintahan Jokowi. Mulai dari demonstrasi penolakan 
revisi UU KPK, kasus Harun Masiku, pandemi Covid-19, demonstrasi UU Cipta 
Lapangan Kerja (Ciptaker), hingga persoalan ekonomi.

Persoalan tersebut selaras dengan tulisan Colleen J. Shogan yang berjudul The 
Contemporary Presidency ketika menyebutkan periode kedua seorang presiden 
biasanya dipenuhi oleh berbagai gejala bermasalah.

Baca Juga: Jokowi Memimpin Sampai 2027?

Biasanya, di periode kedua dinilai menjadi periode waktu yang membebaskan 
presiden dari berbagai beban politik karena menyediakan ruang bagi 
agenda-agenda kebijakan yang berani. Konteks tersebut terlihat dari beberapa 
kebijakan Presiden Jokowi yang terkesan anti-populis, seperti pembubaran FPI, 
revisi UU KPK dan UU Ciptaker.

Kendati demikian, kutukan periode kedua disebut-sebut juga dapat menghantui 
seorang presiden dalam periode lanjutannya. Istilah ini kerap digunakan untuk 
menggambarkan menurunnya performa seorang presiden dalam menjalankan 
pemerintahan di periode keduanya. Ini kemudian membuat tingkat kepercayaan 
publik (approval rating) terhadap seorang presiden menurun drastis.

Ari Saphiro dalam tulisannya Is There Really a Second-Term Curse?, dengan 
mengutip Donna Hoffman dari University of Northern Iowa, menjelaskan beberapa 
alasan yang membuat periode kedua seorang presiden bermasalah.

Hoffman menilai para politisi di lembaga legislatif mulai mengabaikan kekuatan 
presiden yang menjabat dalam periode kedua, termasuk partai pemerintah sendiri. 
Jika itu terjadi, ini menjadi momen bagi partai oposisi untuk semakin berupaya 
mengupas dan mencari kesalahan yang dimiliki oleh eksekutif.

Presiden AS Barack Obama, misalnya, dianggap sebagai presiden yang gagal oleh 
Partai Republik dengan munculnya berbagai polemik atas kebijakan 
pemerintahannya.

Nah, jika benar Presiden Jokowi tengah mengalami kutukan periode kedua, ini 
dapat membuatnya masuk dalam kategori lame-duck president atau presiden bebek 
lumpuh.



Lame-duck
Istilah ini merujuk pada presiden yang mulai kehilangan kuasanya. Biasanya 
terjadi di periode kedua pemerintahan. Salah satu contoh presiden yang 
mengalaminya adalah Presiden AS, Barack Obama.

Pada 19 Mei 2019, South China Morning Post (SCMP) mempublikasikan tulisan Resty 
Woro Yuniar yang berjudul Indonesian President Jokowi’s Second Term: Free as a 
Bird or a Lame-Duck President?.

Yuniar memberikan pertanyaan menarik, “Apakah di periode kedua kepemimpinannya, 
sang presiden akan menjadi presiden bebas (berkuasa) atau justru menjadi 
presiden lame-duck (tidak berkuasa)?”

Mengutip analisis dari Kevin O’Rourke, Yuniar menjelaskan pada periode pertama 
kepemimpinannya, Presiden Jokowi disibukkan dengan upaya untuk mengamankan 
konsensus dukungan dari kalangan para elite politik. Kini, para elite tersebut 
akan mencari “hadiah” mereka sebagai pertukaran atas dukungan politik.

Analisis tersebut sejujurnya tidak mengejutkan. Pasalnya, fenomena spoils 
system memang lumrah dilakukan di Indonesia. Spoils system sendiri adalah 
sistem di mana pemenang pemilu memberikan posisi kepada pendukungnya sebagai 
hadiah. Selain sebagai insentif, pemberian posisi juga ditujukan sebagai 
garansi kesetiaan.

Baca Juga: Jokowi Terjebak dalam Vetokrasi?

Istilah ini berasal dari frasa "to the victor belong the spoils" yang 
diungkapkan Gubernur New York, AS William L. Marcy ketika mengomentari 
kemenangan Andrew Jackson di Pilpres AS 1829.

Meskipun terdengar baik, Kathy Sawyer dalam tulisannya Spoils System Evils Echo 
In Debate on Civil Service menyibak sisi negatif spoils system karena 
berkonsekuensi pada rendahnya akuntabilitas dan kontrol politik, serta tingkat 
penyalahgunaan kekuasaan.

 
Tidak seperti tujuannya sebagai garansi kesetiaan, spoils system kerap kali 
menjadi jebakan tersendiri bagi pemimpin yang terpilih. Pasalnya, dengan 
mahalnya biaya politik, kandidat yang berlaga membutuhkan sokongan logistik 
dari pihak ketiga. Alhasil, itu membuat pembagian kursi lebih cocok disebut 
sebagai praktik membayar utang.

Seperti yang disebutkan Sawyer, karena praktiknya seperti membayar utang, ini 
membuat presiden tidak memiliki kontrol yang kuat terhadap pejabat-pejabat yang 
dipilihnya. Presiden tersandera berbagai kepentingan, khususnya dari parpol dan 
pemberi bantuan logistik.

Barisan Relawan Nusantara (Baranusa) yang menjadi bagian kelompok relawan 
pendukung Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019 juga pernah menegaskan hal ini. Menurut 
Ketua Umum Baranusa, Adi Kurniawan, pembentukan kabinet yang tidak bebas karena 
terbelenggu kepentingan parpol merupakan salah satu alasan mengapa pihaknya 
ragu visi “Indonesia Maju” dapat terwujud.



Re-definisi Lame-duck
Mengacu pada konteks-konteks yang ada, mungkin dapat disimpulkan bahwa Presiden 
Jokowi tengah menunjukkan tanda-tanda menjadi lame-duck. Namun, tampaknya perlu 
ada re-definisi atas apa yang disebut sebagai lame-duck.

Lame-duck yang pada dasarnya satu paket dengan kutukan periode kedua, 
sebenarnya tidak dapat dipahami sebagai berkurangnya kuasa presiden, melainkan 
fenomena ketika presiden mulai ditinggalkan oleh benteng-bentengnya selama ini.

Mengacu pada penjelasan spoils system sebelumnya, di mana politik tidak ubahnya 
seperti aktivitas ekonomi, ini membuat para pendukung dalam politik cenderung 
bersifat partisan. Mereka akan mencari kapal-kapal baru agar tetap bisa 
berlayar karena kapal yang sedang ditumpangi sebentar lagi akan berlabuh.

Konteks itu sebenarnya yang menghinggapi berbagai presiden, mulai dari Obama, 
SBY, dan Jokowi. Tidak seperti di periode pertama, di mana mantan Wali Kota 
Solo tersebut masih memiliki kesempatan memimpin, di periode kedua ini berbagai 
pihak mulai mencari proyeksi tunggangan baru.

Baca Juga: Tiga Periode, Mitos Suara Rakyat?

Indikasinya jelas terlihat dalam berbagai survei kandidat untuk Pilpres 2024. 
Coba bayangkan, berbagai survei tersebut bahkan sudah ada sejak awal-awal 
pelantikan Jokowi-Ma’ruf di 2019. Tidak peduli ada pandemi Covid-19 atau 
gejolak ekonomi, survei-survei proyeksi RI-1 nyatanya tetap bermunculan.

Mengacu pada sejarawan AS, Arthur Schlesinger Jr. yang menyebut televisi dan 
lembaga survei sebagai electronic manipulators, dilemparnya survei-survei 
tersebut adalah upaya pengondisian persepsi publik. Mereka, pihak-pihak yang 
berkepentingan tengah melakukan “tes ombak” untuk melihat kapal mana yang 
paling potensial.

Well, pada akhirnya, fenomena yang menimpa Presiden Jokowi saat ini tergambar 
dari pernyataan Joel Achenbach di awal tulisan. Seorang presiden sebenarnya 
tidak memiliki kuasa sebesar yang kerap kita pikirkan selama ini. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/F5422BEF04BF45DCB24671E45397763B%40A10Live.

Reply via email to