Pandemi, Kegagalan Budi Gunawan?R53 - Sunday, July 11, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pandemi-kegagalan-budi-gunawan
 
Kepala BIN Budi Gunawan (Foto: Media Indonesia)
7 min read

Dalam studinya, Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) menempatkan Badan Intelijen 
Negara (BIN) dan Kepala BIN Budi Gunawan (BG) sebagai pihak yang paling baik 
dalam menanggapi pandemi Covid-19. Namun, apabila mengacu pada tugas utama 
intelijen, mungkinkah BG telah gagal memimpin BIN dalam menjalankan tugasnya?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Intelligence is major weapon in war,” – Sun Tzu, ahli perang asal Tiongkok

Ada studi menarik yang dilakukan Lembaga Pemilih Indonesia (LPI). Dalam 
rilisnya terkait pembantu presiden mana yang paling baik dalam menanggapi 
pandemi Covid-19, Badan Intelijen Negara (BIN) ditempatkan sebagai pucuk 
tertinggi. Pun begitu dengan Kepala BIN Budi Gunawan (BG) yang meraih skor 99 
dari 100. Ini merupakan skor tertinggi.

Dalam keterangannya, Direktur LPI Boni Hargens menyebut BIN memiliki banyak 
program dan kegiatan penanganan pandemi yang tidak diketahui banyak orang. 
Mulai dari kerja sama dengan berbagai pihak eksternal dalam menyediakan rapid 
test gratis, ketersediaan mobil keliling di sejumlah kota besar, hingga 
pengadaan posko bantuan di berbagai kota.

Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menyambut baik studi 
tersebut. “Dalam hal daya tanggap, Kepala BIN, Panglima TNI, dan Kapolri memang 
terbaik karena institusi itulah yang paling terdepan dalam mengatasi Covid-19 
sejak awal. Menteri lain kebanyakan sibuk dengan kompromi partai," begitu 
ujarnya.

Tanggapan baik juga datang dari pakar pertahanan dan keamanan Universitas 
Indonesia (UI) Kusnanto Anggoro. “Dulu BIN dikritik karena badan intelijen 
mencampuri urusan kesehatan. Sekarang orang mengerti bahwa pandemi melampaui 
urusan kesehatan karena sudah menyangkut keamanan dan keselamatan masyarakat 
dan negara," begitu tegasnya.

Menariknya, sama dengan Karyono, Kusnanto juga menyinggung soal baiknya 
koordinasi BIN dengan TNI dan Polri. Ia pun juga meminta menteri-menteri yang 
lain belajar dari pimpinan ketiga lembaga tersebut.

Baca Juga: Tuah Magis BIN Atasi Covid-19

Namun, pengamat pertahanan dan keamanan dari Institute for Security and 
Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi justru memiliki pandangan yang berbeda.

Tegas Fahmi, “intelijen itu tugasnya mengumpulkan bahan keterangan, melakukan 
mitigasi dan memberikan analisis ke pembuat kebijakan. Bukan ikut gelar 
panggung seolah tak mau kalah berperan dengan kementerian dan lembaga lain yang 
memang sudah semestinya menjadi garda depan penanganan kedaruratan dan 
penanggulangan pandemi.”

Lantas, jika mengacu pada kredo lembaga telik sandi, apakah BIN, khususnya Budi 
Gunawan telah berhasil dalam menjalankan tugasnya?

 
Keluar dari Kegelapan?
Sejak awal, BIN memang terlihat aktif menangani pandemi. Mulai dari pemberian 
tes swab, prediksi akhir pandemi, hingga kerja sama obat Covid-19.

Sederet usaha ini tampaknya adalah pengejawantahan pernyataan Deputi Bidang 
Komunikasi dan Informasi BIN, Wawan Purwanto terkait medical intelligence yang 
berada di bawah naungan lembaga telik sandi tersebut. Tegasnya, medical 
intelligence ini adalah arahan langsung dari Kepala BIN, Budi Gunawan.

Konsep medical intelligence sendiri bukanlah hal asing. Di Amerika Serikat 
(AS), misalnya, terdapat National Center for Medical Intelligence (NCMI) yang 
merupakan komponen dari badan intelijen pemerintah federal, Defense 
Intelligence Agency (DIA).

Namun, Tangguh Chairil dalam tulisannya Indonesia’s Intelligence Service is 
Coming Out to Counter COVID-19 melihat ada nuansa perluasan peran terkait 
respons BIN atas pandemi. Menurutnya, peran BIN adalah melakukan contact 
tracing untuk melacak penyebaran virus. Ini merupakan bagian dari sistem 
peringatan dini yang seharusnya dilakukan oleh dinas intelijen.

Namun, BIN justru terlihat meluaskan perannya ke segala sesuatu yang berkaitan 
dengan pandemi. Pada 13 Maret 2020, BIN mengumumkan ke publik terkait prediksi 
puncak pandemi pada Mei 2020. Pada 17 April 2020, BIN menyerahkan bantuan alat 
kesehatan dan obat-obatan ke Satgas Covid-19 dan pemerintah daerah.

Lalu menyiapkan laboratorium mobile rapid test di berbagai kota, penyemprotan 
disinfektan ke beberapa wilayah, dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya 
Covid-19. Kemudian pada 12 Juni 2020, BIN mengumumkan sedang mengoordinasikan 
percepatan produksi obat Covid-19.

Baca Juga: Jika Kejagung Dibakar, Di Mana Intelijen?

Menurut Tangguh Chairil, terdapat tiga persoalan terkait perluasan peran 
tersebut. Pertama, BIN tidak memiliki spesialisasi di bidang epidemiologi dan 
kesehatan masyarakat. Oleh karenanya, menjadi pertanyaan tersendiri mengapa BIN 
membuat pemodelan Covid-19 yang merupakan di luar kompetensinya.

Kedua, kalaupun BIN memiliki kompetensi membuat pemodelan pandemi, pekerjaan 
intelijen seharusnya hanya diserahkan kepada presiden sebagai klien tunggal. 
Pemodelan yang dibuat seharusnya bersifat rahasia dan tidak terbuka untuk umum. 
Ini jelas bertentangan dengan kredo badan intelijen yang bergerak secara senyap.

Ketiga, menyambung yang kedua, sebagai badan intelijen, sekalipun BIN melakukan 
tes dan tindakan lainnya di depan umum, BIN tidak boleh secara terbuka 
menyebutkan perannya dan seharunya menutupi peran tersebut dengan menggunakan 
nama lembaga lain.

Atas penunjukan eksistensi yang ada, Tangguh Chairil memberikan pertanyaan 
menarik. “BIN dulu tidak mencari kredit untuk pekerjaannya. Lalu, mengapa BIN 
keluar dari kegelapan untuk melakukan tugasnya secara terang benderang?”

 
Telah Gagal?
Pertanyaan tersebut juga menjadi perhatian Khairul Fahmi. Dalam 
kekhawatirannya, ia mewanti-wanti jangan sampai BIN justru menempatkan dirinya 
dalam ajang adu kebolehan. Lembaga telik sandi tidak boleh merasa kalah “keren” 
dengan lembaga lain karena harus bekerja di bawah keheningan.

Irawan Sukarno dalam bukunya Aku “Tiada” Aku Niscaya: Menyingkap Lapis Kabut 
Intelijen juga menegaskan hal ini.

Dalam bab Membedah Tubuh Intelijen, Irawan menulis, “Apa saja yang dilakukan 
para intel dan dalam bentuk apa pula aktivitas-aktivitasnya, tidak banyak orang 
tahu. Sebab memang tak ada intel yang mengaku intel, dan umumnya setiap orang 
tak pernah tahu jika di antara orang-orang yang hadir di sekelilingnya ada 
intel di dalamnya.”

Lanjut Irawan, intel diciptakan bukan untuk dipanggungkan, ditepuktangani, 
diketahui siapa pun, apalagi untuk sebuah popularitas.

Tidak hanya menyalahi kredonya sebagai entitas senyap, seperti yang dicatat 
Tangguh Chairil, peran-peran terbuka yang dilakukan BIN juga menunjukkan 
ketidakakuratan. Terkait tes Covid-19, misalnya, BIN tercatat pernah melakukan 
tes yang tidak akurat.

Lalu yang terpenting, ada kemungkinan BIN tidak memberikan informasi yang 
akurat kepada presiden selaku klien tunggalnya. Dalam wawancara Presiden Jokowi 
dengan Najwa Shihab pada 22 April 2020, misalnya, ketika menjawab pertanyaan 
mengapa pemerintah tidak menerapkan lockdown, sang RI-1 mengklaim tidak ada 
negara yang berhasil melakukan lockdown.

Padahal, pada saat itu Vietnam mengumumkan keberhasilannya dalam meratakan 
kurva tanpa satu pun kematian melalui penerapan lockdown. Persoalan ini membuat 
Tangguh Chairil menyimpulkan, kemungkinan Presiden Jokowi tidak mendapatkan 
informasi yang akurat dari BIN terkait pandemi Covid-19.

Lalu, apabila kita melihat lonjakan kasus Covid-19 akhir-akhir ini, bukankah 
itu buntut dari kegagalan pemerintah dalam melakukan pencegahan? Apakah BIN 
tidak memberikan informasi melalui medical intelligence-nya bahwa varian virus 
dapat masuk ke Indonesia?

Baca Juga: BIN Disorot, Kendali Jokowi Dipertanyakan?

Erik J. Dahl dalam tulisannya Was the coronavirus outbreak an intelligence 
failure? menyebutkan bahwa ledakan kasus Covid-19 di AS adalah kegagalan badan 
intelijen dalam mendeteksi krisis.

Lantas, seperti yang disebutkan Dahl, apakah ledakan Covid-19 di Indonesia 
adalah kegagalan BIN, khususnya Budi Gunawan sebagai pimpinan lembaga telik 
sandi?

Terkait pertanyaan ini, sekiranya bijak bagi kita untuk membaca buku mantan 
Kepala BIN, A.M. Hendropriyono yang berjudul Filsafat Intelijen Negara Republik 
Indonesia. Dalam bab “Necessitas Ante Rationem Est”, Hendro menegaskan bahwa 
badan-badan pelaksana intelijen tidak boleh disalahkan begitu saja ketika 
terjadi bencana atau krisis.

Ini karena intelijen merupakan alat negara yang bertugas untuk mengumpulkan dan 
memberikan informasi. Oleh karenanya, dipandang berguna atau tidaknya informasi 
yang diberikan bergantung atas penggunanya, yakni pemerintah.

Tulis Hendro, “Jika kita gagal menggergaji kayu, tidak benar jika kita 
membanting atau memaki-maki alat gergajinya.”

Nah sekarang pertanyaannya, seperti analogi Hendro, apakah yang salah adalah 
gergajinya atau justru orang yang menggunakan gergaji?

Jika yang salah adalah gergajinya, maka BIN telah gagal memberikan informasi 
yang akurat. Namun, jika yang salah adalah pengguna gergaji, maka pemerintah, 
khususnya Presiden Jokowi sebagai klien tunggal telah gagal dalam mengonversi 
informasi BIN ke dalam kebijakan yang tepat.

Terkait siapa yang gagal, itu tentunya tergantung atas interpretasi kita 
masing-masing. Silahkan menentukan. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4EF68DADA6474C42969D7ED9AFC0682C%40A10Live.

Reply via email to