https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2219-tukang-sayur-dan-pertumbuhan-ekonomi



Jumat 06 Agustus 2021, 05:00 WIB 

Tukang Sayur dan Pertumbuhan Ekonomi 

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Tukang Sayur dan Pertumbuhan Ekonomi MI/Ebet Usman Kansong Dewan Redaksi 
Media Group. PENJUAL sayur di kompleks tempat saya tinggal mengeluh. Katanya, 
tiga hari belakangan pembeli sepi. Pasar tempat dia berbelanja sayuran untuk 
dijualnya kembali, katanya, juga tidak seramai sebelum-sebelumnya. Saya 
membayangkan bila si penjual sayur disodorkan angka pertumbuhan ekonomi 
triwulan II 2021 yang mencapai 7,07%, dia pasti tidak percaya. Itu karena dia 
tidak merasakannya, yang ditunjukkan sepinya pembeli. Kiranya banyak pedagang 
segolongan tukang sayur itu, misalnya penjual pecel lele diberitakan banyak 
yang bangkrut, tidak memercayai pertumbuhan ekonomi fantastis itu tersebab 
mereka tidak merasakannya dalam kehidupan sehari-hari. "Faktanya rakyat banyak 
masih susah, ratusan ribu UMKM macet, banyak PHK, usaha-usaha besar sesak 
napas," kata seorang teman mengomentari pertumbuhan ekonomi itu. Sebagai 
pegawai gajian dengan jabatan tinggi, teman itu semestinya tidak terlalu 
terdampak oleh pandemi covid-19. Dia kiranya masih merasakan pertumbuhan 
ekonomi. Mungkin dia sedang mencoba berempati, merasakan yang dirasakan tukang 
sayur, berpikiran serupa tukang sayur. Teman lain mengunggah satu berita media 
daring di grup aplikasi pertukaran pesan. Judul berita itu Sepinya Pusat 
Perbelanjaan di Saat Ekonomi Tumbuh 7 Persen. Dengan mengunggah berita itu, 
teman tersebut kiranya tidak memercayai pertumbuhan ekonomi kita 7,07%. Kalau 
ekonomi tumbuh 7%, mengapa mal sepi, pikirnya. Badan Pusat Statistik mencatat 
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2021 sebesar 7,07%. Bila 
dibandingkan dengan triwulan I 2021, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan 
3,31%. Jika dibandingkan dengan triwulan II 2020, atau secara year on year 
(yoy), perekonomian Indonesia tumbuh 7,07%. Secara kumulatif, Januari-Juni 2021 
terhadap Januari-Juni 2020, ekonomi Indonesia tumbuh 3,10%. Itu artinya, 
angka-angka pertumbuhan ekonomi berlaku sampai Juni 2021, ketika terjadi 
berbagai pelonggaran kegiatan masyarakat, saat belum berlangsung pemberlakuan 
pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM. Yang dirasakan tukang sayur dan 
tukang pecel lele bahwa pembeli sepi ialah dampak PPKM. Sebelumnya, tukang 
sayur dan tukang pecel lele kiranya merasakan pertumbuhan ekonomi 7,07% itu. 
Bukankah mereka mengeluh pembeli sepi setelah penerapan PPKM? Pun pusat 
perbelanjaan kini sepi karena berbagai pembatasan selama PPKM. Sebelumnya, 
pusat berbelanjaan terbilang ramai. Pusat perbelanjaan merasakan dan menyumbang 
pertumbuhan ekonomi 7,07% itu. Apakah rakyat betul-betul merasakan pertumbuhan 
ekonomi? Pasti merasakan. Bukankah BPS menghasilkan angka statistik pertumbuhan 
ekonomi tidak dari langit, tetapi dari lapangan, dari yang dirasakan rakyat? 
Pemerintah melaksanakan berbagai program untuk menjaga ekonomi selama pandemi. 
Pemerintah mengucurkan bantuan tunai, bantuan modal untuk UMKM, dan berbagai 
insentif individual untuk menjaga daya beli masyarakat. Pertumbuhan ekonomi 
kita sebagian besar ditopang konsumsi. Masyarakat menikmati dan merasakan 
berbagai program ekonomi pemerintah itu. Pemerintah juga mengguyurkan insentif, 
misalnya pajak, kepada perusahaan-perusahan. Bagi perusahaan di dalam negeri, 
insentif tersebut memudahkan mereka melakukan ekspor. Bagi perusahaan asing, 
insentif menarik mereka berinvestasi di Indonesia. Walhasil, 
perusahaan-perusahaan itu tetap bisa berproduksi dan mempertahankan para 
pekerja bahkan merekrut pekerja baru. Itulah sebabnya ekspor dan investasi ikut 
menyumbang pertumbuhan ekonomi 7,07% itu. Bahwa rakyat merasakan pertumbuhan 
ekonomi bisa pula dilihat dari berkurangnya tingkat pengangguran. Data BPS 
menyebutkan tingkat pengangguran terbuka Februari 2021 sebesar 6,26%, turun 
0,81% jika dibandingkan dengan Agustus 2020. Pertumbuhan ekonomi berkorelasi 
positif dengan penyerapan tenaga kerja. Makin banyak masyarakat yang merasakan 
pertumbuhan ekonomi bisa dilihat dari berkurangnya angka kemiskinan dan 
kesenjangan. Angka kemiskinan Maret 2021, menurut data BPS, berkurang 0,01 juta 
orang jika dibandingkan dengan posisi September 2020. Gini ratio yang 
menunjukkan kesenjangan pada Maret 2021 berkurang 0,001 jika dibandingkan 
dengan posisi Maret 2020. Di tengah pandemi covid-19, kita patut mensyukurinya 
meski pengurangan kemiskinan dan kesenjangan itu sangat tipis. Bila masih ada 
orang atau pengusaha yang mengatakan tidak menikmati pertumbuhan ekonomi 
kendati mereka menerima bantuan, insentif, atau mendapat pekerjaan, itu namanya 
tidak mensyukuri nikmat, kufur nikmat. Kita semestinya mensyukurinya dan 
mengapresiasinya. Apalagi, jika dibandingkan dengan negara lain, seperti 
Vietnam, India, dan Jepang, pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi. Yang mesti 
kita jaga ialah kondisi ekonomi akibat PPKM. Tukang sayur, tukang pecel lele, 
pengelola mal dan para tenant, serta masyarakat luas mulai merasakan dampak 
PPKM. Teman saya yang berpikiran serupa tukang sayur tadi bisa berkontribusi 
dengan membelanjakan duitnya, bukan cuma menabungnya, untuk menjaga ekonomi. 
Ekonomi triwulan III sangat bergantung pada perpanjangan PPKM. Namun, betapa 
pun kerasnya kita menjaga ekonomi, kita tak boleh mengecilkan pemulihan 
kesehatan.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2219-tukang-sayur-dan-pertumbuhan-ekonomi






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210806185933.5ac1f267251c06ff38707e0c%40upcmail.nl.

Reply via email to