LTS, Jokowi Pilih AS Ketimbang Tiongkok?A72 - Monday, August 9, 2021 19:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/lts-jokowi-pilih-as-ketimbang-tiongkok
 
Presiden Joko Widodo bersama dengan Presiden AS Joe Biden (Foto: Nasional 
Tempo.co)
7 min read

Sebanyak 4.528 prajurit militer gabungan dari Indonesia dan Amerika Serikat 
(AS) ambil bagian dalam latihan gabungan militer terbesar sepanjang sejarah 
kedua negara. Beberapa pihak mengaitkan latihan ini sebagai indikasi 
keberpihakan pemerintahan Jokowi ke AS dalam konflik di Laut Tiongkok Selatan 
(LTS).


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Program latihan bersama militer bertajuk “Garuda Shield” ini sebenarnya 
bukanlah hal yang baru bagi kedua negara. Program ini sendiri tercatat telah 
terselenggara sejak sebelas tahun lalu. Akan tetapi ada yang berbeda dalam 
penyelengaraan program tersebut pada tahun ini.

Pertama, “Garuda Shield” tahun ini total melibatkan 4.528 prajurit gabungan 
dari Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang membuat latihan kali ini menjadi 
latihan militer gabungan terbesar bagi kedua negara sepanjang sejarah.

Kedua, latihan gabungan militer ini berlangsung di tengah-tengah ketegangan 
antara AS dan Tiongkok – sehubungan dengan peningkatan kehadiran militer 
Beijing di Laut Tiongkok Selatan (LTS).

Laporan dari Nikkei Asia menyebut latihan gabungan ini merupakan bagian dari 
usaha Washington untuk membangun front dengan Jakarta guna menghadapi 
peningkatan militer Beijing di LTS.

Lantas, apakah pemerintahan Jokowi lebih condong ke AS terkait LTS?



Mendekat ke AS?
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi saat melakukan pertemuan bilateral 
dengan Menlu AS, Antony Blinken memaparkan bahwa Indonesia telah memasuki “era 
baru” dalam hubungan bilateral dengan AS.

Merujuk pada latihan gabungan militer yang saat ini sedang berlangsung, Retno 
menyambut baik “keterlibatan” lebih AS di kawasan Asean dan menyatakan 
harapannya agar Indonesia dapat terus meningkatkan hubungan bilateral dengan 
Washington di bawah pemerintahan Joe Biden.

 
Derek Grossman, analis pertahanan senior dari Rand Coorporation US memaparkan 
bahwa penyelenggaraan latihan militer terbesar antar kedua negara ini jelas 
merupakan indikasi bahwa AS berupaya meningkatkan kehadirannya di Indonesia 
untuk melawan pengaruh Tiongkok, terutama dalam konflik Laut Tiongkok Selatan.

Grossman menambahkan, melihat kondisi ini Beijing akan mengharapkan Jakarta 
untuk menjaga keseimbangan.

Baca Juga: Biden, Jokowi dan Perangkap Thucydides

Namun, jika nantinya hubungan AS-Indonesia mulai menambahkan bentuk-bentuk baru 
kerja sama keamanan, maka Tiongkok mungkin mulai bertanya-tanya, apakah perlu 
khawatir tentang perubahan status non-blok Indonesia.

Institute for Defence and Strategic Studies (IDSS) menjelaskan bahwa sejak awal 
Indonesia menjadikan AS sebagai mitra utama dalam hal pertahanan dan keamanan, 
sementara hubungan dengan Tiongkok lebih cenderung bersifat ekonomis.

Akan tetapi, semakin intensnya hubungan kedua negara di bidang pertahanan 
ditambah penunjukan Indonesia sebagai koordinator kerja sama Asean-AS, 
dikabarkan membuat Beijing sedikit khawatir terutama di tengah konflik 
perebutaan wilayah Laut Tiongkok Selatan.

Dalam konteks ini, keterlibatan AS yang bukan negara pengklaim dalam sengketa 
LTS, secara teoritis dapat dikategorikan sebagai bentuk intervensi pihak ketiga.

Dalam situasi konflik, pihak yang berkonflik sulit untuk mempercayai pihak 
lawannya, sehingga proses komunikasi langsung sulit terjadi. Oleh karena itu 
pihak ketiga diharapkan dapat menjembatani ketidakpercayaan antar pihak dan 
membuat mereka mampu memasuki proses komunikasi langsung.

Secara teoritis tidak ada kewajiban bahwa pihak ketiga harus netral atau bebas 
kepentingan dalam berbagai aspek. Bahkan, pihak ketiga dimungkinkan untuk 
melakukan pemberdayaan terhadap salah satu pihak ketika terjadi defisiensi 
kekuatan.

Dalam menjalani peran sebagai “pihak ketiga”, AS dan Indonesia jelas memiliki 
motif dan tujuan yang berbeda. AS misalnya menggunakan strategi “power 
projection” dalam menangani konflik sengketa wilayah di LTS.

Mark A. Gunzinger dalam tulisannya yang berjudul Power Projection menjelaskan 
bahwa power projection (proyeksi kekuatan) merupakan pengaplikasian kekuatan 
militer oleh otoritas komando nasional untuk mencapai tujuan politik 
tersembunyi di luar batas wilayah negara tersebut.

Sementara Indonesia, walau bukan pengklaim dalam sengketa wilayah ini, akan 
tetapi secara tidak langsung tetap memiliki kepentingan.

Hal ini dikarenakan sebagian wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia 
masuk dalam wilayah klaim Beijing di LTS, sehingga menganggap tetap ada potensi 
ancaman militer yang meluas ke wilayah Indonesia jika konflik ini terus 
berlangsung.

Dengan posisi seperti ini, Indonesia dikabarkan lebih memilih untuk berperan 
menjadi pihak ketiga dalam proses penyelesaian sengketa. Peluang ini tidak akan 
diperoleh jika Indonesia ikut menyatakan klaim di wilayah tersebut.

Peran yang dilakukan Indonesia secara teoritis menjalankan apa yang disebut 
Bleddyn Bowen sebagai “deterrence strategy”, yaitu upaya persuasi untuk 
mencegah pihak musuh melakukan suatu tindakan tertentu yang dapat merugikan 
negara.

Walaupun memiliki peran dan tujuan yang berbeda, akan tetapi kedua negara 
dinilai saling membutuhkan satu sama lain dalam upaya penyelesaian konflik ini.

Zack Cooper, peneliti senior di American Enterprise Institute, sekaligus mantan 
anggota Dewan Keamanan Nasional memaparkan, bagi AS keberadaan Indonesia 
sangatlah strategis dalam isu ini, terutama dari segi teritorial dan pengaruh 
besar yang dimiliki di kawasan Asean.

Baca Juga: Perang Dunia III, Biden Lawan Tiongkok-Rusia?

Berbagai pihak menyatakan semakin meruncingnya konflik di Laut Tiongkok Selatan 
tidak menutup kemungkinan akan adanya bentrokan yang dapat memaksa 
negara-negara untuk memihak.

Lalu. dalam konflik ini tepatkah strategi pemerintahan Jokowi yang cenderung 
“mendekat” dengan AS?

 
Langkah Tepat
Beberapa saat terakhir, konflik yang terjadi di LTS kembali memanas setelah 
Amerika Serikat mengerahkan kapal perang dan kapal induk memasuki perairan 
dekat Taiwan.

Armada kapal induk USS Theodore Roosevelt pekan lalu dikabarkan berlayar di 
Laut Tiongkok Selatan untuk menggelar latihan militer sebagai bagian dari 
operasi kebebasan bernavigasi. Tak hanya itu, AS kembali mengirim kapal perang 
USS John S. McCain, yang berlayar dan transit di Selat Taiwan yang menjadi 
wilayah sensitif bagi Beijing dan Taipei.

Tiongkok menyebut latihan rutin AS sebagai sebuah upaya “unjuk kekuatan”. Tak 
lama dari itu, Beijing mengumumkan akan melakukan latihan militer serupa di 
Laut Tiongkok Selatan.

Seperti yang dikatakan di atas, meruncingnya konflik di LTS tidak menutup 
kemungkinan akan adanya bentrokan yang dapat memaksa negara-negara untuk 
memihak.

IDSS juga memaparkan bahwa Indonesia sejak awal telah menjadikan AS sebagai 
mitra utama dalam hal pertahanan dan keamanan, dalam konflik ini cenderung 
mendekat ke AS.

Kecenderungan itu sekiranya dapat dimengerti. Pasalnya, jika dianalisis dari 
segi kekuatan militer, AS jauh lebih superior dari Tiongkok.

Data yang dirilis Global Fire Power yang bertajuk 2021 Military Strength 
Ranking mencatat AS berada di peringkat pertama. Sementara kemampuan pertahanan 
Tiongkok membuntut di urutan ketiga dari 139 negara.

Masih dalam rilis yang sama, dari segi anggaran militer AS juga lebih unggul. 
Mereka mempunyai anggaran pertahanan sebesar US$740 miliar, sedangkan Beijing 
mengalokasikan biaya pertahanan hanya sebesar US$178 miliar.

Begitu pula dalam perbandingan alutsista militer yang dimiliki, AS masih unggul 
jauh dari Tiongkok.

Satu-satunya indikator militer yang menjadi keunggulan Tiongkok atas AS adalah 
terkait jumlah personel militernya. Tiongkok memiliki 2,1 juta personel aktif 
dengan 510 ribu tentara cadangan. Sementara AS hanya memiliki 1,4 juta tentara 
aktif dengan tambahan 845 ribu pasukan cadangan.

Oriana Skylar Mastro, pakar kebijakan keamanan Tiongkok dari Universitas 
Stanford memaparkan, secara umum kemampuan militer Tiongkok masih jauh di bawah 
AS. Militer Beijing dianggap belum memiliki kemampuan dan pengalaman yang 
mumpuni. Seperti yang diketahui mereka telah absen perang selama 40 tahun 
terakhir.

Dari semua data terkait perbandingan kekuatan militer antara AS–Tiongkok, 
keputusan Indonesia untuk meningkatkan hubungan diplomatik di bidang pertahanan 
dengan AS merupakan langkah yang tepat.

Baca Juga: Perang AS-Tiongkok, Jokowi Harus Bersiap?

Pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana 
memaparkan bahwa dari perspektif Tiongkok, keberpihakan Indonesia terhadap AS 
dalam konflik ini diyakini tidak akan memengaruhi hubungan bilateral antara 
Beijing dan Jakarta.

Hal ini justru akan menjadi cambuk bagi Tiongkok untuk meningkatkan diplomasi 
di bidang lain, seperti perdagangan dan ekonomi untuk mengimbangi posisi AS di 
Indonesia.

Jika demikian, jelas kondisi ini sangat baik bagi Indonesia karena berpotensi 
mendapat keuntungan dari dua sisi, yaitu pertahanan dan ekonomi.

Well, pada akhirnya dalam konflik ini keberpihakan pemerintahan Jokowi kepada 
AS sebagai salah satu negara yang mempunyai kemampuan militer terbaik bisa 
dianggap sebagai langkah yang bijak untuk meminimalisir segala risiko terburuk 
yang terjadi di Laut Tiongkok Selatan. (A72)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1F0B0E5551014BAFAC173D1EBB0ABE4C%40A10Live.

Reply via email to