Ahli Inggris David Robertson: 
Teori Kebocoran Laboratorium Virus Corona Tidak Tahan Pemeriksaan Imliah
2021-08-09 16:44:54  
http://indonesian.cri.cn/20210809/57832d20-4bb4-fa83-519f-c579cc94a553.html“Tiada
 bukti apa pun yang membuktikan bahwa virus Corona dibuat oleh laboratorium, 
semua teori tersebut tidak tahan pemeriksaan ilmiah.” Demikian tutur Profesor 
David Robertson, Penanggung Jawab Genomik Virus Pusat Penelitian Virus 
Universitas Glasgow Inggris.

David Robertson adalah ahli terkenal di bidang virologi. Dalam penelitian 
penelusuran sumber virus Corona, dia dengan keras mengkritik “Teori Kebocoran 
Laboratorium”. Ia menyatakan, selain menunjukkan bahwa Institut Virologi Wuhan 
terletak di Wuhan, teori ini tidak menyediakan bukti apa pun.

Surat terbuka yang dimuat pada Jurnal Science AS pada Mei lalu menyebut bahwa 
laporan penelitian bersama Tiongkok-WHO tidak secara seimbang mempertimbangkan 
teori asal-usul alam dan teori kebocoran laboratorium, dan dengan serius 
mengimbau untuk mempertimbangkan teori kebocoran laboratorium. Robertson 
menganggap surat terbuka ini membangun “hubungan setara yang salah” bagi kedua 
teori, sebenarnya, sampai sekarang semua bukti tertuju kepada teori sumber dari 
alam.

Menanggapi sejumlah orang yang yakin pada teori konspirasi, yaitu virus Corona 
RaTG13 adalah sumber virus Covid-19, Robertson menyatakan, perbedaan antara 
virus RaTG13 yang dipisahkan dari kelelawar Yunnan oleh peneliti Institut 
Virologi Wuhan dengan virus Covid-19 sangat besar, terdapat 1.100 jenis mutasi, 
maka virus RaTG13 tidak mungkin adalah leluhur virus Covid-19. Dia berpendapat 
tidak perlu menghubungkan Institut Virologi Wuhan dan virus RaTG13 dengan virus 
Covid-19.

Robertson mengatakan, pernyataan yang menyebutkan bahwa virus corona RaTG13 
yang ditemukan di Yunnan paling mendekati virus Covid-19 itu, mudah menyesatkan 
masyarakat. Sebab terdapat banyak virus corona yang tersebar di dunia alam, dan 
masih terdapat banyak virus yang tidak diambil sampelnya. Mengetahui bahwa 
hubungan kedua virus relatif dekat, sebenarnya di antara mereka terdapat jarak 
evolusi puluhan tahun.

“Semua data menunjuk ke satu arah, yaitu virus alami, bukan virus buatan 
laboratorium. Kita perlu yakin pada bukti yang sudah ada, yakin pada pakar yang 
berpengalaman di bidang penelitian evolusi virus.” Robertson mengatakan, “apa 
yang perlu kita lakukan ialah menemukan jenis hewan yang menjadi perantara 
penyebaran virus dari kelelawar kepada manusia”.

Berbicara tentang teori “kebocoran virus dari laboratorium” yang 
digembar-gemborkan AS, Robertson mengakui, dia sulit memahami semua itu, karena 
AS tidak mempunyai bukti untuk mendukung pandangan mereka.

Robertson mengatakan, bersikap terbuka dalam penelitian ilmiah sangat rasional, 
dugaan merupakan bagian yang penting dalam proses terkait. Para ilmuwan ingin 
melihat data baru untuk mengubah pengetahuan mereka terhadap sumber virus 
corona, tapi, “sains tidak boleh difokuskan pada pandangan, namun harus 
berdasarkan bukti.”

Mengenai AS yang mempolitisasikan penelusuran sumber virus, Robertson 
mengatakan, “Saya ingin mengatakan, penelusuran virus bukan lagi merupakan 
sains dalam pandangan AS.”






26 Juta Warganet Global Diskusi Jajak Pendapat Wadah Pemikir CGTN
2021-08-09 17:13:54  
http://indonesian.cri.cn/20210809/baed7c62-e950-6ffa-6366-aa40560c3043.htmlCGTN 
melancarkan survei jajak pendapat secara terpisah di Youtube, Twitter, 
Facebook, Weibo dan WeChat dalam enam bahasa resmi PBB pada 30 Juli malam lalu 
dan dibahas hangat oleh warganet seluruh dunia.

Jajak pendapat yang diumumkan pada 26 Juli lalu menunjukkan bahwa 80% netizen 
global yang mengikuti pemungutan suara menganggap masalah penelusuran asal usul 
virus Corona telah dipolitisasi. Sedangkan hasil jajak pendapat yang diumumkan 
pada 30 Juli lalu menunjukkan bahwa 83,1% responden menyetujui melakukan 
investigasi terhadap AS.

Terhitung sampai sekarang, laporan mengenai jajak pendapat wadah pemikir CGTN 
ini telah menarik perhatian sejumlah 26 juta lebih netizen seluruh dunia, 
melampaui 280 ribu warganet memberi pesan dan berinteraksi di kolom komentar, 
dan mereka semuanya menganggap penelusuran sumber virus Corona seharusnya 
dilakukan di lebih banyak tempat dan berbagai negara.

Netizen yang bernama Harmony Voice berkomentar, “Ya, investigasi tahap 
selanjutnya WHO seharusnya mempertimbangkan Fort Detrick sebagai pilihan 
prioritas. Namun media Barat belum pernah melaporkan laboratorium di sana.”

Para netizen menunjukkan, penelitian ilmiah di berbagai negara telah mengubah 
garis waktu wabah. Warganet Susanne Williansson berpendapat bahwa seiring 
dengan pengetahuan kami terhadap virus Covid-19 semakin banyak, dan sesudah 
mengenal penelitian sejumlah negara sebelum September 2019, kami seharusnya 
melakukan investigasi di seluruh dunia.

Masih terdapat banyak netizen menyatakan ketidakpercayaan dan ketidakpuasannya 
terhadap AS, khususnya mengkritik AS mengambil standar ganda ketika menangani 
masalah dalam dan luar negeri, yaitu memanipulasi politik dan bertindak nekat 
dalam masalah penelusuran sumber virus Covid-19, sedangkan terus bertambahnya 
diskriminasi dan kejahatan kekerasan terhadap orang Asia-Amerika terutama sejak 
pandemi merebak.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1C841661550B429DBE9B073DA4E89F04%40A10Live.

Reply via email to