AS Yang Kewalahan Tangani Pandemi 
Nekat Sembunyikan Kepanikan dengan Kebohongan
2021-08-15 11:25:11  
http://indonesian.cri.cn/20210815/a0b63e1a-3a82-bb50-3ae2-8cb083bddb97.html

Situasi pandemi Covid-19 di AS semakin serius sesudah memasuki bulan Agustus 
ini, kasus positif Covid-19 harian yang jumlahnya melampaui 100 ribu orang 
telah mencapai level tertinggi selama tahun ini, dan jumlah kematian dalam dua 
minggu terakhir ini juga meningkat sebesar 89%.



Menurut statistik terbaru Worldometer, terhitung sampai pukul 6:30 waktu 
Beijing tanggal 13 Agustus, kasus terinfeksi Covid-19 di AS menambah 183.880 
orang dibandingkan sehari sebelumnya, peningkatan harian terbesar sejak 24 
Januari tahun ini, kasus kematian juga bertambah 468 orang. The New York Times 
melaporkan bahwa 583 rumah sakit di Amerika Serikat terdapat unit perawatan 
intensif, namun setidaknya 95% ICU tersebut sudah penuh.



Menghadapi situasi ini, Kepala Institut Kesehatan Nasional (NIH) Francis 
Collins mengakui bahwa “Benar, kami gagal, dan sekarang sudah membayar harga 
yang mengerikan”.



Selama satu setengah tahun lalu, AS tidak pernah menarik pelajaran dari 
kegagalan. Sebagai negara yang mempunyai sumber daya medis dan kemampuan 
perawatan paling kaya di seluruh dunia, AS tetap menduduki peringkat pertama 
dengan kasus positif dan kasus kematian terbanyak di seluruh dunia. Tampaknya 
AS  tengah menempuh jalan kegagalan babak baru dari sebelumnya.



Meskipun situasi pandemi sudah sangat parah, bayangan politik masih 
mempengaruhi pengambilan keputusan terkait penanganan pandemi. Sejak merebaknya 
wabah Covid-19, manipulasi politik tidak pernah berhenti di AS. Selama satu 
tahun lebih, Partai Demokrat dan Republik AS terus saling bertarung dan 
menyerang dalam perihal penanganan pandemi. Isu ilmiah seperti "memakai masker" 
dan "vaksinasi" semuanya dianggap sebagai masalah politik yang terkait dengan 
nilai-nilai Amerika. Sejumlah politikus AS yang tidak menghormati sains tidak 
hanya mencabik-cabik masyarakat AS selangkah demi selangkah, tapi juga secara 
serius menghambat upaya penanggulangan epidemi secara ilmiah.



Pencegahan dan pengendalian pandemi sudah gagal, kekacauan sosial yang 
terkoyak, dan masalah ekonomi yang parah… Sambil melihat kekacauan di dalam 
negerinya, sambil melihat prestasi besar yang dicapai oleh negara lain di 
bidang penanganan wabah dan pemulihan ekonomi, mana mungkin AS tidak merasa 
cemas? Tidak panik?

Karena kepanikan, AS yang sudah biasa menimpakan kesalahan kepada negara lain 
mulai membuat kebohongan untuk menyembunyikan kepanikannya. Jika kebohongan 
dapat menipu sejumlah orang, namun mutlak tidak menipu semua orang. Ketika 
tangan hitam yang memainkan "virus politik" ditangkap dan terungkap, AS 
pastilah lebih panik.



Marilah kita bersama melihat kebohongan-kebohongan apa yang dibuat AS baru-baru 
ini. Pemerintah Biden pernah memerintah badan intelijen AS untuk menyerahkan 
laporan tentang penelusuran asal usul virus corona dalam waktu 90 hari. 
Sekarang batas wakunya hampir datang, badan intelijen AS bersama CNN dan media 
AS lain mengatur lagi pertunjukan untuk memfitnah Tiongkok.

Pada 5 Agustus, CNN mengeluarkan laporan eksklusif yang menyebut badan 
intelijen AS telah mengumpulkan data genetik dengan jumlah besar dari 
Laboratorium Institut Virologi Wuhan, jika data tersebut diuraikan, mungkin 
akan menjadi data kunci yang dapat menyingkap asal usul virus corona. Namun, 
CNN menyatakan masih belum membuktikan sumber data tersebut.

Tiada bukti apapun namun disebut “laporan eksklusif” CNN? Bahkan kami masih 
belum tahu apakah data tersebut benar-benar berada. Pertunjukan terbaru AS ini 
tampaknya seperti perang opini publik yang diluncurkan AS, tujuannya hanya 
untuk menjadikan Tiongkok sebagai fokus penelusuran asal usul virus Corona, 
untuk mewujudkan  intriknya yang memfitnah Tiongkok.



Yang perlu diperhatikan ialah bagaimana badan intelijen AS mendapatkan “data 
kunci” tersebut? Apakah diperoleh dari  badan intelijen AS? Karena mantan Menlu 
AS Mike Pompeo pernah mengatakan, “Sebagai mantan Kepala CIA, kami berbohong, 
kami menipu, kami mencuri, kami bahkan memiliki kursus yang khusus mengajarkan 
ini. Inilah kebanggaan AS yang terus bermaju.”

Selain laporan media, juga tidak kekurangan partisipasi politikus AS. Anggota 
Kongres Michael McCaul mengeluarkan apa yang disebut edisi terbaru “Laporan 
Penelusuran Asal Usul Virus Corona” pada 2 Agustus lalu, untuk 
menggembar-gemborkan teori kebocoran laboratorium Wuhan. Namun laporan McCaul 
ini penuh dengan celah, tidak terdapat data asli, dan tidak berdaya mengikat 
secara hukum. Bahkan analis politik AS Andrew Kribko juga dengan terus terang 
menunjukkan bahwa laporan Partai Republik ini hanya untuk memfitnah Tiongkok, 
dengan tujuan mempolitisasikan masalah penelusuran virus, mewujudkan tujuannya 
yang mendapat lebih banyak dukungan dari para pemilih dalam pemilihan paruh 
waktu AS.



Abraham Lincoln, Presiden AS Ke-16 pernah mengatakan, kamu bisa menipu semua 
orang untuk sementara waktu, atau kamu dapat menipu sejumlah orang selamanya, 
tetapi kamu mutlak tidak bisa menipu semua orang untuk selama-lamanya.



Bagi AS sendiri, memfitnah negara lain tidak akan membantunya. Hanya dengan 
meninggalkan penyebarluasan kebohongan politik, dan memprioritaskan kesehatan 
dan keselamatan jiwa rakyat, serta bergotong royong dalam penanggulangan wabah 
dengan berbagai negara, barulah tidak usah panik dan memyebarluaskan kehobongan 
lagi.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/F6EEF53DD6EF440480E2F6C1B545131D%40A10Live.

Reply via email to