17 August 2021

Taliban Rasul

Oleh : Dahlan Iskan

"Tahu saya, Taliban itu ya seperti ISIS."

Itulah jawaban yang dikirim ke WA saya. Pengirimnya seseorang yang sering
mengatakan ''Pancasila adalah kita''.

Saya memang bertanya padanyi: "apa yang Anda ketahui tentang Taliban?"
Jawabnyi, ya itu tadi, seperti kalimat pertama itu: Taliban sama dengan
ISIS.

Saya perlu bertanya karena dia baru saja kirim WA ke saya. "Waduh GAWAT!!!"
tulisnyi.


Yang dia anggap gawat adalah Taliban kini kembali menguasai Afghanistan.
Tapi yang dia anggap gawat juga ini: salinan komentar Mantan Wapres Jusuf
Kalla: "Afghanistan akan lebih baik di tangan Taliban."

Dia menganggap komentar seperti itu sangat berbahaya. Kok ada tokoh
Indonesia begitu pro-Taliban.

Gara-gara komentar itu Jusuf Kalla pun dia beri gelar ''juru bicara Taliban
untuk Asia Tenggara''.

Rupanya, selama ini, ia benci Taliban sekaligus benci Jusuf Kalla.

Saya cermati lagi WA yang dikirim ke saya itu. Oh... ternyata itu bukan WA
asli buatannyi sendiri. Itu WA yang dia terima dari orang lain. Lalu
di-forward ke saya.

Berarti bunyi WA seperti itu sudah beredar luas. Taliban itu ISIS. Dan JK
itu pro-Taliban.

Rasanya memang sangat banyak yang punya kesan seperti itu.

Bayangan umum tentang Taliban adalah kekejamannya. Termasuk kekejaman
kepada wanita. Luar biasa kejam. Bengis. Brutal. Beberapa film Hollywood
juga mengambil tema kekejaman itu.

Saya sudah membaca beberapa novel dengan latar belakang Afghanistan. Yang
ditulis novelis Afghanistan yang sudah jadi warga negara Amerika.

Isi novelnya juga seperti itu: zaman pemerintahan Taliban adalah zaman
kegelapan Afghanistan. Kejam, bengis, brutal menjadi satu.

Maka ketika hari Minggu kemarin Taliban berhasil menduduki ibu kota
Afghanistan, Kabul, bayangan lama itu muncul kembali. Afghanistan akan
kembali menjadi negara horor.

Warga Berebut Naik Pesawat Meninggalkan Kabul Afghanistan Setelah Dikuasai
Taliban disway.id Dahlan Iskan.jpegWarga berebut naik pesawat untuk bisa
meninggalkan Kabul, Afghanistan.

Tanda-tanda bahwa Taliban akan kembali menguasai Afghanistan sebenarnya
sudah terlihat sebulan lalu. Satu-per satu kota-kota di Afghanistan bagian
utara dikuasai Taliban.

Amerika Serikat pun tahu persis: Taliban akan kembali berkuasa. Mungkin
dalam waktu sebulan ke depan. Amerika kelihatannya tidak peduli lagi.
Amerika tetap memutuskan menarik semua pasukan dari Afghanistan.

Ternyata perkiraan ''satu bulan'' itu salah. Tidak sampai dua minggu
seluruh Afghanistan sudah jatuh ke tangan Taliban. Pun ketika masih ada
6.000 tentara Amerika yang lagi menunggu jadwal ditarik pulang.

Sejak dua minggu lalu Amerika juga sudah ''mencicil'' menerbangkan
orang-orang sipil Afghanistan ke Amerika. Yakni mereka yang memenuhi syarat
mendapatkan visa. Sudah 2.000 orang Afghanistan yang mendapat visa Amerika.

Maka hari Minggu kemarin adalah hari tergopoh-gopoh nasional di sana.
Tentara Amerika, para diplomat, orang-orang yang sudah mengajukan visa.
Semua berbondong ke bandara. Bayangan umum: akan terjadi apa yang pernah
terjadi di Saigon tahun 1975. Mereka akan diangkut dengan pesawat
meninggalkan Afghanistan dalam keadaan panik.

Di tahun 1975 itu, ketika Vietnam Selatan yang didukung Amerika kalah
perang, mereka berbondong ke bandara. Diangkut terbang ke Bangkok –untuk
selanjutnya jadi imigran di Amerika. Penguasa baru, komunis dari Vietnam
Utara, membiarkan mereka meninggalkan Saigon.

Yang terjadi di Kabul tidak sama. Amerika, yang sudah 20 tahun
''menduduki'' Afghanistan, memang kalah. Tapi oleh keputusan Amerika
sendiri. Untuk menarik diri dari negara itu.

Keputusan Amerika itu dibuat oleh Presiden Donald Trump, dua tahun lalu.
Joe Biden, pengganti Trump, mempercepatnya. Kini Trump berkoar agar Biden
mengundurkan diri: membuat Amerika malu. Langkah Biden dianggap menjadi
penyebab Taliban kembali berkuasa. Dan itu akan membuat maraknya kembali
terorisme internasional.

Yang juga ikut terbirit-birit adalah Presiden Afghanistan hasil Pemilu yang
lalu: Ashraf Gani. Ia meninggalkan istana menuju bandara. Lalu terbang ke
arah utara: Tajikistan. Gani ingin mengungsi di negara tetangga itu.

Tapi Tajikistan menolak.

Pesawat Gani tidak jadi mendarat di Tajikistan. Pesawat itu belok ke arah
barat daya. Menuju Oman. Dari sini Gani akan meneruskan perjalanan ke
Amerika.

Amerikalah yang dulu menciptakan Taliban –untuk melawan Rusia yang waktu
itu masih bernama Uni Soviet.

Setelah Taliban berkuasa di Afghanistan, jadilah negara itu sarang
terorisme internasional.

Amerika pun memusuhi Taliban. Menggulingkan pemerintahannya. Yakni setelah
terjadi serangan dua pesawat ke menara kembar  New York, 9 September 2010.
Yang menewaskan lebih 3.000 orang.

Setelah menguasai Afghanistan, Amerika membangun demokrasi di sana.
Mengizinkan banyak partai berdiri. Untuk ikut pemilu.

Tapi tidak pernah ada partai yang berhasil menang. Pemerintahan Afghanistan
selalu dibentuk berdasar hasil kompromi yang tidak kukuh.

Politik tidak pernah stabil. Hasil pembangunan juga tidak segera terlihat.
Rakyat frustrasi. Mereka juga merasa terhina. Mirip negara jajahan. Rakyat
Afghanistan adalah orang yang harga dirinya amat tinggi.

Dari sinilah Taliban kembali mendapat simpati. Terutama ketika muncul
pemimpin baru yang berbeda.

Di dalam Taliban sendiri memang terpecah-belah. Terlalu banyak faksi. Salah
satunya yang dipimpin Mullah Muhamad Rasul.

Rasul inilah yang membawa Taliban berwajah baru. Rasul berumur 56 tahun. Ia
dari daerah selatan, dekat perbatasan Pakistan.

Rasul berasal dari suku Pastun, suku terbesar di Afghanistan. Ia berpikiran
moderat. Ia Islam mazhab Sunni.

Taliban versi Rasul ini membawa ideologi Islam-nasional-Afghanistan.

Rasul melarang orang asing menjadi pejuang di Taliban. Tidak seperti
Taliban lama. Yang begitu banyak dipegang orang asing. Bahkan pemimpin
Taliban dari sayap Al-Qaeda adalah Osama Bin Laden, orang Saudi.

Di tangan Rasul, Al-Qaeda tidak akan boleh beroperasi di Afghanistan.
Demikian juga ISIS, dilarang.

Hizbut Tahrir pernah menawarkan sistem kekhalifahan untuk Afghanistan.
Rasul menolak.

ISIS juga menawarkan sistem pemerintahan Islamnya untuk Afghanistan. Rasul
juga menolak.

Jelaslah bahwa Taliban di bawah Rasul sangat berbeda dengan yang kita kenal
di masa lalu.

Taliban yang sekarang ini lebih tepat disebut sebagai nasionalisme Islam
Afghanistan. Mereka lebih mencintai Afghanistan dari pada demokrasi
Amerika. Mereka lebih mencintai Afghanistan dari pada Islam dari mana pun.

Mayoritas Islam di Afghanistan menganut aliran Deobandi. Aliran ini lahir
di kota Deobandi, dekat Mumbai, India. Di zaman dinasti Moghul tahun
1800-an.

Sampai sekarang sekitar 15 persen Islam di India dan Pakistan dari aliran
Deobandi. Aliran ini lebih berpegang pada Quran dan Hadis sesuai dengan
teksnya. Agak mirip Wahabi. Karena itu Wahabi pernah mewarnai Islam di
Afghanistan.

Bahwa Taliban era Rasul ini berbeda, sudah mereka buktikan selama dua
minggu terakhir. Perebutan kota-kota di utara itu misalnya, tanpa diwarnai
pertumpahan darah. Bahkan ketika mereka merebut ibu kota Kabul, tidak satu
pun yang kena tembak.

Media di negara tetangga melaporkan memang terjadi beberapa kasus
penjarahan, tapi hanya minor.

Sikap Presiden Gani sendiri mendukung peralihan yang damai itu. Di satu
pihak, Gani memang dianggap pengecut. Tapi Gani sendiri berdalih, ia
meninggalkan negeri itu agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Para pejuang Taliban itu masuk Kabul memang bersenjata. Ketika mereka
memasuki Istana juga dengan senjata lengkap. Tapi mereka hanya mengagumi
kehebatan fasilitas di istana itu.

Mereka pun mencoba seluruh sofa yang ada di Istana. Duduk-duduk di situ.
Dengan gaya duduk pejuang –sejenak mereka, tanpa aturan protokol Istana.

Sebagian lagi pergi ke gym milik Istana. Para pejuang itu terlihat mencoba
alat-alat olahraga di gym itu. Sambil tetap mencangklong senjata.

Mereka menduduki Istana dengan damai. Mereka menjadi penguasa baru. Mereka
berjanji akan membentuk pemerintahan inklusi –melibatkan kelompok lain.
Mereka juga berjanji menghormati wanita. Mereka ingin Afghanistan maju di
tangan bangsa sendiri.

Tiongkok kelihatannya sudah siap untuk digandeng. Keduanya memang
berbatasan di salah satu sudut sempit pegunungan mereka.

Amerika sudah tahu semua itu.

Tiongkok juga sudah tahu semua itu. (Dahlan Iskan)

Baca juga tulisan lain Dahlan Iskan hari ini: Merdeka Kalau.

https://www.disway.id/r/1462/taliban-rasul

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavjmJXL_JgXiW_Nta%3DVePTfCoe_6n5MR3Rca7W-2_Z1QBw%40mail.gmail.com.

Reply via email to