Mengapa Demokrasi Ala AS Gagal di Afghanistan 2021-08-20 16:38:28 http://indonesian.cri.cn/20210820/fa6dfca4-3173-2bbb-f4ad-8bc9c0952ea8.htmlPada 20 tahun yang lalu, Amerika Serikat (AS) dengan bendera “anti-terorismenya” masuk ke Afghanistan, mengusir Taliban dari panggung penguasa, serta membangun pemerintah baru Afghanistan dengan menyalin pola pemerintahan AS. Pada 20 tahun kemudian, pasukan AS mundur dari Afghanistan, pemerintah yang didukung mereka selama 20 tahun ini runtuh, Taliban kembali ke pusat panggung politik dalam waktu 3 bulan. Meskipun Presiden AS Joe Biden tanggal 16 Agustus lalu menyatakan bahwa misi AS di Afghanistan adalah anti-terorisme, bukan untuk rekonstruksi Afghanistan dan pembangunan demokrasi, perkataan ini tidak bisa menutupi kegagalan AS untuk melakukan demokrasi ala AS di Afghanistan dengan cara mengandalkan kekuatan dan agen pendukung.
Mengapa demokrasi ala AS gagal di Afghanistan? Pakar ilmu politik Afghanistan Matiullah Kharoti dalam wawancara menyatakan bahwa dasarnya adalah keegoisan dibalik pembentukan model Afghanistan oleh AS. Dia mengatakan bahwa “pemerintahan demokratis” yang didirikan AS di Afghanistan adalah untuk mewujudkan tujuan ekonomi dan militernya sendiri. Dalam penelitian dia menemukan bahwa AS sejak awal sudah menetapkan strategi dan rencana terhadap Afghanistan. Untuk mewujudkan strategi ini, AS mendukung dua presiden. Dengan slogan “memberantas terorisme dan Al Qaeda, membawa demokrasi ke Afghanistan”, pasukan AS dan NATO menetap di Afghanistan. Tapi ini hanya slogan saja, sepenuhnya mengabaikan demokrasi AS yang tidak berkaitan dengan kenyataan Afghanistan. Matiullah Kharoti menunjukkan bahwa AS mengadakan rencana perkembangan pemuda di Afghanistan, mengirim banyak pemuda untuk menerima pendidikan ala Barat di negara-negara Barat, setelah itu mereka kembali ke Afghanistan dan bergabung dengan pemerintahan. Akan tetapi pemuda-pemudi ini tidak mengenal keadaan riil Afghanistan, tidak bisa merasakan penderitaan rakyat jelata. AS juga memberikan banyak dana kepada berbagai pihak dan pemimpin kekuatan senjata, memperkukuh pengaruh AS di Afghanistan, namun mengabaikan kontradiksi yang telah mengakar antar fraksi. “Demokrasi” yang mengandung keegoisan ini memiliki sebuah kesalahan fatal, yaitu kurangnya landasan sosial. Di Afghanistan, tanah politik yang terbentuk dari perpaduan sistem multi-etnis dan sistem agama dengan suku, AS secara terpaksa menanamkan ideologi demokrasi gaya Barat, tidak menghiraukan tuntutan dasar penduduk Afghanistan terhadap kestabilan masyarakat dan perkembangan kehidupan, dan selalu sulit menyatukan semua rakyat Afghanistan, pada akhirnya mengakibatkan “pemerintahan demokratis” benar-benar hancur. Melihat seluruh dunia, rezim serupa yang didukung AS, tidak jarang sebuah negara jatuh miskin dan bergejolak dalam waktu yang lama. Matiullah Kharoti menunjukkan bahwa Afghanistan berada di pedalaman Eurasia, merupakan benteng strategis Asia Tengah yang dibentuk AS untuk memelihara hegemoni globalnya, bermanfaat untuk menciptakan pengaruh mendalam terhadap negara-negara Asia Tengah, Asia Barat, Asia Selatan serta Rusia dengan keuntungan geografis. Demi membina kekuatannya sendiri AS mengancam negara lain, dan akhirnya mengakibatkan korupsi yang serius, membuat demokrasi menjadi hanya sebuah nama. Dua puluh tahun AS di Afghanistan membuktikan bahwa sistem demokrasi Barat tidak sesuai dengan berbagai negara, dan hegemonisme yang berkedok demokrasi pasti akan mengalami kegagalan. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EB941DD75C6340FAAA2D57E8DEFDAA5B%40A10Live.
