Xi Jinping Sampaikan Pidato Virtual kepada KTT Komunitas Negara Amerika Latin 
dan Karibia (CELAC) Ke-6
2021-09-19 12:06:51  
http://indonesian.cri.cn/20210919/2b9e39cd-8502-469a-1835-bed9900d809e.html

Pada Sabtu kemarin (18/9), KTT Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia 
(CELAC) Ke-6 diadakan di kota Meksiko, ibukota Meksiko. Presiden Tiongkok Xi 
Jinping menyampaikan pidato secara virtual kepada KTT tersebut atas undangan 
Meksiko, negara tuan rumah giliran CELAC tahun ini.

Xi Jinping menunjukkan, pihak Tiongkok sangat mementingkan pengembangan 
hubungan dengan CELAC, mendukung CELAC mengoordinasikan negara regional untuk 
melakukan kerja sama dan mengatasi tantangan. Pada Juli tahun 2014, dirinya dan 
pemimpin regional lainnya secara bersamaan mengumumkan untuk mendirikan Forum 
Tiongkok-CELAC yang membuka jalan baru untuk kerja sama Tiongkok-CELAC. Selama 
7 tahun ini, Forom Tiongkok-CELAC berkembang dengan pesat dan telah menjadi 
platform utama untuk mengumpulkan kekuatan bersahabat dari berbagai lapisan di 
Tiongkok dan CELAC, telah memberikan kontribusi penting untuk memperdalam 
hubungan Tiongkok-CELAC.

Xi Jinping menegaskan bahwa hubungan antara Tiongkok dan CELAC telah memasuki 
era baru yang setara, saling menguntungkan, inovatif, terbuka dan ramah rakyat 
setelah mengalami perubahan global. Sejak tahun lalu, menghadapi pandemi 
covid-19 yang tiba-tiba mendatang, Tiongkok dan negara CELAC saling membantu 
dan mendukung satu sama lain, melakukan kerja sama penanggulangan pandemi yang 
menyeluruh. Tiongkok akan terus menyediakan bantuan semampunya kepada 
negara-negara CELAC untuk membantu negara-negara CELAC secepat mungkin melawan 
pandemi dan memulihkan perkembangan ekonomi dan sosial. Tiongkok bersedia 
bersama dengan negara-negara CELAC untuk mengatasi kesulitan, menciptakan 
peluang, serta bergandengan tangan untuk membangun komunitas senasib 
sepenanggungan Tiongkok-CELAC.



Reporter CMG Kembali Ke Lokasi Kejadian Tragedi
2021-09-19 15:52:24  
http://indonesian.cri.cn/20210919/899d1900-5a48-3e7e-d615-e502ddcf7b8b.htmlKomandan
 Marbes Sentral tentara AS Jumat lalu(17/9) Kenneth Mckanzie kepada kalangan 
luar mengakui bahwa serangan udara dilancarkan pesawat tanpa awak militer AS di 
Afghanistan pada tanggal 29 Agustus lalu tidak mengenakan target terorisme, 
melainkan menewaskan sebanyak 10 penduduk sipil, termasuk 7 anak, Mckenzie 
menyatakan sesal dan maaf bagi hal ini.


Reporter CMG(China Media Group) untuk Kabul Sabtu kemarin(18/9) sekali lagi 
datang di tempat tinggal yang mengalami serangan dan mewawancarai sanak 
keluarga korban tewas dalam serangan udara itu.




Menyinggung kelukaan kepada keluarganya, Romal Ahmadi mengatakan, rumah dibom 
adalah tempat tinggal bersama kakaknya Zamali Ahmadi dan tiga adiknya.

Romal mengatakan, “rumah dihancurkan, 10 orang tewas dalam pemboman itu. Tidak 
mempunyai rumah lagi, hanya tinggal di rumah kakak perempuan saya. Total lima 
keluarga tinggal di tiga kamar. Tiga anak saya tewas dalam serangan itu, tiga 
anak kakak saya pun dibunuh. Hanya tinggal seorang anak perempuan. Kami merasa 
sedih sekali.”

Romal mengatakan, sebelum serangan udara itu, kakaknya yang mengemudi mobil 
baru saja tiba di halaman, di atas mobilnya ada satu ember air yang besar. 
Karena mutu air kota Kabul sangat buruk, maka penduduk terpaksa membeli air 
dari pasar, ember air di atas mobil Zamali dianggap oleh tentara AS sebagai 
barel mesiun. Pembunuhan semaunya membuat 10 nyawa sekejap mata terhilang. Tapi 
saat ini tentara AS hanya dengan mohon maaf mau menyelesaikannya.




Seorang korban serangan udara itu bernama Mosawer Rahmani mengatakan, Zamali 
tidak pernah melukai siapapun. Dirinya berpendapat, ketika menghancurkan rumah 
satu keluarga miskin dan membunuh 10 anaknya. Hanya mohon maaf tidak ada 
gunanya.


Keponakan korban serangan bernama Masood  sangat marah dan menyatakan kepada 
reporter CMG, orang yang berbuat kesalahan serupa tidak boleh melepaskan 
hukuman karena mohon maaf, terutama AS yang selalu mempropagandakan 
pemeliharaan hak asasi manusia, tapi dengan teknologi canggih mengontrol mesin 
perang, kegiatannya dalam hukum internasional sama sekali adalah kejahatan.

Masood mengatakan, jika seorang warga AS mengalami hal serupa, pemerintah AS 
pasti melakukan investigasi, saat ini 10 orang dari satu keluarga Afghanistan 
dibunuh, komunitas internasional harus mengusut tanggung jawabnya, dan 
menanyakan mengapa AS berbuat begitu? 




Mohammad Naseem adalah paman Zamali Ahmadi. Perkataannya berfokus pada media 
Barat yang tidak mempedulikan kesengsaraan mereka. Dia mengatakan kepada 
reporter China Media Group (CMG) di Kabul, sejumlah media Barat berturut-turut 
datang ke kamar ini, sambil merekam mobil yang terhancur akibat ledakan bom, 
sambil menanyakan mereka apakah “bom” di mobil mereka ditransisi, ada wartawan 
bahkan ingin masuk ke kamar untuk menyelidiki ada tidak tanda-tanda “elemen 
teroris” tersembunyi. Mohammad mengatakan, media tersebut harus minta maaf atas 
tingkah laku mereka sendiri.

Kata Mohammad, “Pandangan saya terhadap media-media itu ialah, akhirnya mereka 
tahu kesalahan mereka sendiri. Mereka seharusnya mengatakan di siaran TV, bahwa 
kabar yang diumumkan sebelumnya adalah salah, mereka harus minta maaf atas 
kesalahan sendiri.”


Mohammad berkali-kali mengulangi kata “perang” dan kata “penjahat”, dia ingin 
seluruh dunia tahu pengalaman keluarga mereka bahkan seluruh warga Afghanistan. 
Mohamaad mengatakan, menurut dia, semua tentara AS adalah penjahat perang, 
mereka tidak melakukan apa-apa kecuali melancarkan perang di seluruh dunia. 
Sekarang mereka malah ingin menyelesaikan semua itu dengan satu kata maaf.

Mohamaad Naseem: “Orang AS mengira hanya mohon maaf di TV atau melalui media, 
ini sudah cukup? Mereka harus datang ke sini, dan minta maaf kepada semua 
anggota keluarga kami.” Mereka harus mengakui kesalahan dan memberikan ganti 
rugi kepada keluarga ini. Hal paling urgen yang dilakukan AS ialah mencari 
perancang dan pelaksana serangan udara, supaya mereka dihukum.


Usia Mosawer Rahmani, sama dengan anak sulung Zamali, Samir. Dia mengatakan 
kepada reporter CMG, Samir adalah seorang prajurit tentara pemerintah 
Afghanistan, tahun ini usianya baru 20 tahun. Sebelum terjadinya serangan udara 
pada 29 Agustus, mereka masih berobrol tentang upacara pernikahan Samir pada 
beberapa hari kemudian. Setelah Zamali kembali ke rumah, Samir segera kembali 
ke rumah. Lalu Mosawer mendengarkan suara ledakan bom sangat keras. Kemudian 
dia baru tahu, Samir dan adiknya berusia 2 tahun semua jadi korban dalam 
ledakan bom kali ini.

Mosawer berpendapat, tentara AS harus memberikan ganti rugi kepada keluarga 
tetangganya, sekurang-kurangnya uang untuk membangun kembali rumah. Namun 
setelah diam sebentar, dia mengatakan, apa gunanya ganti rugi kalau orangnya 
sudah meninggal?

Kata Mosawer: Saya berharap masyarakat internasional menghukum penjahat, dan 
mendesak pemerintah AS memberikan ganti rugi selayaknya. Tapi ganti rugi apapun 
yang diberikan Gedung Putih tidak dapat dibandingkan dengan nyawa anak.




-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A3121C41B8E14720B7C7A159D90D5414%40A10Live.

Reply via email to