Itu Orang Asli/pribumi Nusantara....keturunan Afrika ....Serahkan kembali pada 
mereka....supaya bisa atur sendiri.jalan hidupnya...Jangan dieksploitasi dan 
genosida......

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Fri., Oct. 29, 2021 at 10:07 p.m., Chan CT<[email protected]> wrote:   
Pasifik, Resolusi Papua ala Retno?
D74 - Friday, October 29, 2021 19:12 
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pasifik-resolusi-papua-ala-retno Menteri 
Luar Negeri Retno Marsudi (Foto: Kabar24 – Bisnis.com)
7 min read

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi baru saja membuka Pacific Exposition 2021, 
sebuah pameran perdagangan dan investasi terbesar di Pasifik. Sebelumnya, 
Indonesia juga diketahui telah menyumbang dana sebesar US$18 juta untuk 12 
negara kepulauan Pasifik. Mengapa Indonesia sangat ingin membangun perekonomian 
kawasan yang mayoritas berpenduduk Melanesoid tersebut?

PinterPolitik.com

 
“For the only way in which a durable peace can be created is restoration of 
economic activity and international trade.” – James Forrestal, mantan Menteri 
Pertahanan Amerika Serikat


Di dunia yang semakin modern dan terbuka, hubungan antar-negara kerap menjadi 
andalan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ini dilakukan negara-negara dengan 
membangun sejumlah kesepakatan perdagangan internasional.

Selain karena kepentingan ekonomi, hubungan ekonomi yang dijalin secara 
internasional juga dianggap dapat mempererat hubungan sosial dan politik. Hal 
tersebut karena perdagangan dapat menghasilkan manfaat yang bisa dirasakan 
secara nyata, seperti ketersediaan sumber makanan dan lapangan pekerjaan.

Pada 27 Oktober 2021, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi membuka sebuah 
perhelatan yang bernama Pacific Exposition (PE) 2021. Ini merupakan pameran 
perdagangan dan investasi terbesar di kawasan Pasifik. Acara ini adalah 
penyelenggaraan yang kedua setelah pertama kali diselenggarakan pada tahun 2019 
di Auckland, Selandia Baru.

Pameran ini melibatkan 320 perusahaan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar 
Indonesia, seperti Pertamina dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Pada pertemuan 
yang pertama, diestimasikan hasil transaksi yang dijalin mencapai setidaknya Rp 
1 triliun. Sektor yang ditampilkan cukup beragam, mulai dari pangan, kerajinan, 
dan manufaktur.

Acara ini diklaim sebagai hasil gagasan Indonesia, khususnya Menlu Retno dan 
Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, dengan 
dukungan Australia dan Selandia Baru. Retno mengatakan acara ini adalah 
komitmen Indonesia dalam membantu memulihkan ekonomi negara Pasifik setelah 
diterpa pandemi Covid-19

 

Baca Juga: Jokowi Perlu ‘Politik Rekognisi’ Papua?

 

Menariknya, selain negara yang telah disebutkan di atas, negara yang dilibatkan 
di pameran ini hanyalah negara-negara kepulauan Pasifik seperti Fiji, Samoa, 
dan Kepulauan Solomon. Undangan tidak diberikan ke negara besar seperti Amerika 
Serikat (AS) ataupun Tiongkok. Retno sempat mengatakan ini adalah bukti 
komitmen Indonesia yang kuat untuk membangun perekonomian kawasan Pasifik.

Selain dengan penyelenggaraan PE, Indonesia juga telah memberikan sumbangan 
yang cukup besar pada 12 negara Pasifik, dengan angka sekitar US$18 juta selama 
dua tahun terakhir. Sumbangan ini dilakukan dengan program yang bernama 
Indonesian Agency for International Development (Indonesia AID).

Ya, tampaknya pembangunan ekonomi di wilayah Pasifik sekarang menjadi salah 
satu fokus kepentingan ekonomi Indonesia. Terkait ini, Retno juga sempat 
mengakui bahwa keterlibatan Indonesia di negara-negara Pasifik merupakan elemen 
penting dari kebijakan luar negeri Indonesia saat ini.

Lantas, mengapa Indonesia bersikeras terlibat dalam pembangunan ekonomi 
negara-negara Pasifik?
   
Sebuah Upaya Resolusi

Anggapan umum yang beredar tentang keterlibatan Indonesia di kepulauan Pasifik 
adalah karena wilayah tersebut sangat menjanjikan secara ekonomi, dan Indonesia 
berusaha mempenetrasi pasar. Namun, penulis melihat sesungguhnya ada faktor 
lain yang membuat Indonesia sangat berkeinginan mendekati negara kepulauan 
Pasifik. Yaitu tidak lain adalah terkait kecaman-kecaman terhadap isu Papua.

Seperti yang kita ketahui, permasalahan Papua seringkali diungkit-ungkit di 
forum internasional, contohnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Negara 
kepulauan Pasifik kerap menjadi kelompok yang paling sering menyindir 
Indonesia. Kita tidak bisa lupa bagaimana setiap tahunnya ada kecaman yang 
dilontarkan, contohnya oleh Kepulauan Solomon pada tahun 2016, Tuvalu pada 
tahun 2018, dan juga Vanuatu pada September lalu.

Kecaman-kecaman tersebut dilayangkan bukan tanpa alasan. Mayoritas penduduk 
negara Pasifik adalah dari ras Melanesoid, ras yang juga mengisi mayoritas 
penduduk di beberapa provinsi wilayah timur Indonesia. Keterkaitan etnis ini 
kemudian melahirkan sebagian besar persamaan budaya dan sejarah. Oleh karena 
itu, wajar jika negara-negara Pasifik memiliki sentimen politik yang cukup kuat 
pada Papua dan Papua Barat.

Terkait itu, menarik jika kita melihat perwakilan yang dikirim Indonesia untuk 
PE 2021. Berdasarkan pernyataan dari Kemlu, Indonesia telah mengirimkan 6 
provinsi wilayah timur. Mereka adalah Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, 
Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat, wilayah-wilayah yang mayoritas 
penduduknya dari ras Melanesoid.

Lantas, bagaimana pendekatan etnis dan ekonomi seperti PE dapat membantu 
menangani ketegangan politik antara Indonesia dengan kepulauan Pasifik?

Ada tulisan menarik dari seorang wartawan senior Selandia Baru, Johny Blades, 
yang dimuat di kolom Lowy Institute dengan judul West Papua: The Issue That 
Won't Go Away for Melanesia. Di tulisan ini, Blades mengatakan  permasalahan 
Papua tidak dapat diselesaikan oleh Indonesia hanya dengan melakukan pendekatan 
ke Papua, tetapi juga perlu membangun hubungan yang sehat dan saling 
menguntungkan dengan negara-negara Melanesia yang berada di Pasifik.

Di tulisan ini Blades juga menegaskan, jika Indonesia bisa melakukan pendekatan 
ke negara seperti Fiji, Vanuatu, dan Kepulauan Solomon, maka Indonesia bisa 
memperoleh kesempatan yang lebih tinggi untuk melakukan persuasi kesepakatan 
pemahaman terhadap permasalahan Papua. Akan lebih efektif lagi, kata Blades, 
jika mampu membangun rantai komersial, karena ekonomi akan memberikan efek yang 
lebih besar dibandingkan hanya dengan retorika-retorika politik.

 

Baca Juga: Membaca Manuver Retno di Afghanistan
  
Resolusi permasalahan dengan pendekatan ekonomi ini juga selaras dengan apa 
yang dikatakan oleh seorang ahli ekonomi, Will Kenton. Ia membawa sebuah teori 
yang bernama economic integration.

Pada dasarnya, teori tersebut membahas tentang pengaturan perdagangan di antara 
negara-negara yang mencakup pembukaan kesempatan luas dalam melakukan 
perdagangan. Teori ini juga sering disebut regional economic integration atau 
integrasi ekonomi kawasan karena sering terjadi di antara negara-negara 
tetangga.

Dengan teori ini, Kenton berpendapat bahwa ikatan ekonomi yang kuat dapat 
meningkatkan rasa percaya dan keterikatan di antara negara. Lalu, dapat menjadi 
insentif untuk menyelesaikan perbedaan pendapat secara damai dan mengarahkan 
kondisi hubungan antar negara ke stabilitas yang tinggi. Kenton kemudian 
mencontohkannya dengan pendirian Uni Eropa. Ketika organisasi kawasan tersebut 
belum didirikan, konflik sangat sering terjadi di antara negara-negara 
anggotanya.

Oleh karena itu, tampaknya adalah hal yang sangat lumrah jika Indonesia 
berusaha mencuri ide-ide perdamaian ekonomi dari Uni Eropa untuk diterapkan ke 
kawasan Pasifik yang masih sangat rentan terjadi perbedaan pendapat politik.

Lalu, jika memang resolusi di Papua bisa diselesaikan dengan pendekatan ekonomi 
ke negara-negara Pasifik, bagaimana strategi ekonomi yang perlu dilakukan 
Indonesia?

 

Membangun Jembatan Dunia

Hong Chen, seorang pengamat ekonomi, dengan tulisannya yang berjudul Pacific 
Island Countries: In Search of a Trade Strategy yang dimuat di International 
Monetary Fund (IMF), mengatakan alasan negara kepulauan Pasifik tertinggal 
secara ekonomi adalah karena mereka sangat lemah dalam perdagangan. Lemahnya 
perdagangan ini, tentunya muncul sebagai akibat dari minimnya konektivitas 
karena lokasi yang terpencil.

Karena itu, Hong Chen berpandangan, negara Asia Tenggara yang secara geografis 
terdekat dari kepulauan Pasifik dapat menjadi kunci pembuka kekayaan dan 
perdagangan internasional bagi negara-negara seperti Fiji dan Kepulauan Solomon.

Hal ini kemudian terrefleksikan dengan apa yang ingin dibawa Indonesia melalui 
PE. Jika kita melihat daftar perusahaan yang ikut dalam pameran, dari situs PE 
dan beberapa pernyataan dari Kemlu dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia 
(KADIN), mayoritas perusahaan besar yang dilibatkan adalah perusahaan 
manufaktur dan transportasi. Untuk tahun ini, Indonesia bahkan tidak hanya 
mengirim PTDI, sebuah industri pesawat terbang, tetapi juga PT PAL, sebuah 
industri kapal laut.

 

Baca Juga: Manuver Tiongkok di Balik Vanuatu?

 

Dengan demikian, kita bisa menalar dengan jelas bahwa selain berusaha membuka 
kesempatan dagang, Indonesia juga tampaknya ingin memperbaiki kelemahan 
terbesar negara kepulauan Pasifik, yaitu konektivitas.

Pada akhirnya, jika semuanya berjalan lancar, ini barangkali dapat menjadi 
perwujudan soft power paling kuat dari Indonesia. Karena sesuai yang dikatakan 
oleh Joseph S. Nye, upaya mendapatkan pengaruh dan mencapai tujuan nasional di 
era modern tidak lagi hanya bisa dilakukan melalui pendekatan kekerasan dan 
politik, tetapi terkadang justru lebih ampuh ketika melakukan gerakan berbasis 
kultural dan ekonomi.

Besar harapannya Indonesia bisa membangun hubungan ekonomi yang kuat dengan 
negara-negara Pasifik. Selain dapat membantu meringankan gejolak Papua, 
konektivitas Pasifik dapat membuka kesempatan perdagangan yang sebelumnya belum 
pernah dimaksimalkan. Menarik untuk kita saksikan perkembangannya. (D74)


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/AB05840FDC06474899174D50890063D8%40A10Live.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/775771106.1583097.1635561885475%40mail.yahoo.com.

Reply via email to