https://suaraislam.id/di-ui-cukup-ada-masjid-saja/

*Di UI, Cukup Ada Masjid Saja*

30 Oktober 2021

Jumat kemarin (29/10) ada berita yang membuat kita, sebagai umat Islam,
mengelus dada. Yaitu kesepakatan antara Ketua Umum Alumni Universitas
Indonesia dengan Manteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Dalam pertemuan Jumat
kemarin di Jakarta, mereka bersepakat mendukung pendirian tempat-tempat
ibadah selain masjid, di kampus UI.

“Kami akan dukung. Sebab umat beragama di kalangan kampus juga butuh rumah
ibadah, seperti mahasiswa dan dosen,” kata Menag,

“Desain rumah ibadah yang kami siapkan mengusung konsep ramah lingkungan
dan kearifan budaya lokal. Misalnya ada desain rumah ibadah dengan konsep
rumah adat Batak Karo dan rumah adat Jawa. Begitu pun dengan sumberdaya
pendukungnya, sudah kami siapkan. Kunjungan audiensi ini selain silaturahmi
dengan Pak Menteri, kami juga meminta dukungan agar dapat disampaikan
kepada Rektor UI dan jajaran,” ujar Andre Rahadian, Ketua Umum ILUNI
UI. (*Lihat: Kemenag
Dukung Rencana Iluni Bangun Sejumlah Rumah Ibadah di Kampus UI
<https://kemenag.go.id/read/kemenag-dukung-rencana-iluni-bangun-sejumlah-rumah-ibadah-di-kampus-ui>)*

Kesepakatan Iluni UI dan Menag ini tentu hal yang aneh. Ada beberapa alasan
yang bisa kita berikan untuk menolak rencana ini.

*Pertama, *selama ini di UI dan kampus-kampus perguruan tinggi negeri
lainnya, hanya ada tempat ibadah umat Islam, yaitu masjid. Selama itu pula
toleransi berlangsung baik, kehidupan kampus berjalan tenang dan tidak ada
aksi-aksi terorisme di kampus. Berdirinya tempat-tempat ibadah lain justru
dikhawatirkan akan menimbulkan sikap ekstrem dan muncul aksi-aksi terorisme.

*Kedua, *masjid didirikan karena jumlah mahasiswa, karyawan dan dosen
mayoritas beragama Islam. Selain itu, tidak seperti umat beragama yang
lain, umat Islam dalam beribadah wajib harian. Bahkan lima kali sehari.
Sedangkan umat lain ‘mingguan’. Sehingga wajar umat Islam perlu mendirikan
masjid di sekitar yang dekat mereka. Sedangkan para mahasiswa non Islam
bisa beribadah di dekat tempat kos mereka atau di tempat yang difasilitasi
oleh kampus.

*Ketiga, *masjid didirikan di kampus UI dan kampus-kampus negeri yang lain
karena sebagai penghormatan umat Islam yang mayoritas di negeri ini.
Sebagaimana diketahui, para pahlawan yang mengusir penjajah Portugis,
Jepang dan Belanda adalah mayoritas Islam. Selain itu, negeri tercinta ini
lahir dari banyak kerajaan-kerajaan Islam. Kerajaan Samudra Pasai, Banten,
Cirebon, Demak, Tidore, Ternate dan lain-lain. Karena itu wajar negara
memberikan simbol masjid sebagai ‘balas jasa’ pengorbanan para pahlawan
Islam.

*Keempat, *umat non Islam tidak seharusnya iri terhadap keberadaan masjid
di kampus UI atau kampus-kampus negeri lainnya. Bukankah mereka telah
menikmati toleransi di negeri ini yang seluas-luasnya dari umat Islam. Di
Amerika sendiri yang sering dijadikan rujukan demokrasi, sampai saat ini
belum ditemui menteri yang beragama Islam. Umat Islam di negeri ini telah
memberikan toleransi yang luas bagi umat non Islam untuk beribadah,
bersosial, berpolitik, dan lain-lain, bahkan berekonomi mereka lebih
mendominasi daripada umat Islam.

Jadi kehidupan kampus yang tenang dan tenteram ini jangan diusik dengan
rencana pendirian tempat-tempat ibadah non Islam. Karena yang terusik bukan
hanya masyarakat kampus, tapi juga masyarakat di luar kampus.

Pendirian masjid di kampus UI dan kampus-kampus negeri lainnya sekali lagi
adalah hadiah negara untuk umat Islam. Atas jasa mayoritas para pahlawan
Islam dalam memerdekakan negeri ini. Karena itu, cukup tempat ibadah masjid
saja di UI dan kampus-kampus negeri lainnya.

*Nuim Hidayat, **Alumni UI dan Anggota MUI Depok*.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BZpHNmK5MNqVi%2Be1-y9x7uS8vqp1EpQCcb1s2jDJhCdA%40mail.gmail.com.

Reply via email to