Soekarno–Soeharto Bersatu di 2024?I76 - Sunday, November 14, 2021 19:58
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/soekarnosoeharto-bersatu-di-2024
 
Dari kiri, Ketua DPR Puan Maharani, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, 
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (Foto: Kompas.com)
7 min read

Perselisihan Soekarno versus Soeharto belum berakhir. Terdapat kohesi sosial 
yang mempengaruhi bangunan kelompok keduanya. Jika ketokohan Megawati dan 
Probowo adalah representasi kedua tokoh tersebut, apa yang terjadi pada 2024? 
Mungkinkah terdapat kompromi? Ataukah perselisihan tetap berlangsung?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Para penonton anime atau pembaca manga pasti tidak asing dengan kisah Naruto 
karya Masashi Kishimoto. Alur utama cerita berfokus pada Naruto, anak 
yatim-piatu yang dalam dirinya bersemayam Kyuubi (monster rubah ekor sembilan), 
yang ingin mewujudkan mimpinya menjadi Hokage (pemimpin desa) Konoha.

Dalam cerita Naruto, terdapat plot konflik klan yang menarik atensi banyak 
penggemar, yaitu pertarungan abadi klan Senju versus klan Uchiha, lebih 
spesifik pertarungan Hashirama Senju dengan Madara Uchiha. Pertarungan 
keduanya, adalah simbol  reinkarnasi dari Indra dan Asura yang  sudah 
ditakdirkan untuk menjadi rival bahkan sejak mereka dilahirkan.

Konfik klan seperti dalam cerita Naruto, rupanya ada dalam konteks politik 
Indonesia. Seolah lumrah dalam imajinasi kita untuk mengatakan ada pertarungan 
simbol ketokohan Soekarno versus Soeharto, dalam perebutan kekuasaan di 
Indonesia. Meskipun, seringkali pada beberapa kontestasi kedua    “klan” bisa 
berkoalisi, dan pada kontestasi yang lain mereka berhadapan menjadi musuh satu 
sama lain.

Baca Juga: Mengapa Megawati “Kultuskan” Soekarno?

Dalam geneologi politik Indonesia, paska kemerdekaan 1945, bangsa ini dipimpin 
oleh Presiden Soekarno dengan rezim Orde Lama-nya. Tragedi 1965, mengawali fase 
baru kepemimpinan Presiden Soehato yang berkuasa kurang lebih 32 tahun, yang 
jamak kita kenal sebagai rezim Orde Baru.

Layaknya pertarungan Madara versus Hashirama di Valley of the End, era 
reformasi, seolah menjadi simbol berakhirnya pertarungan antara Soekarno dan 
Soeharto dalam konteks politik Indonesia. Namun perlu dikoreksi, pertarungan 
keduanya belum berakhir, hadirnya Megawati Soekarnoputri dalam politik 
Indonesia, paska kepemimpinan  dua presiden, Habibie dan Abdurahmad Wahid (Gus 
Dur), menandakan bahwa “klan” Soekarno masih eksis dalam kanca politik.

Sering dihindari, tapi tak bisa dipungkiri bahwa stigma Prabowo Subianto, putra 
Soemitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi yang sangat dihormati, adalah 
representasi “klan” Soeharto. Alasannya, Prabowo pernah menjadi menantu 
Soeharto, dan dalam perhelatan politik yang dijalani Prabowo, kerap mendapat 
dukungan dari Tutut, Titiek, dan Tommy Soeharto, anak-anak Soeharto.


  
Mega-Prabowo, Hubungan Politik Dinamis
Hubungan Mega sebagai representasi Soekarno dengan Prabowo representasi 
Soeharto mengalami pasang surut. Ada kalanya, hubungan dua tokoh ini harmonis 
dan juga kadang merenggang seiring dengan posisi politik masing-masing.

Keduanya sangat akrab pada tahun 2009 karena maju sebagai capres dan cawapres 
kala itu. Duet Mega-Prabowo juga mengingatkan akan perjanjian Batu Tulis. 
Naskah yang dirumuskan di Batu Tulis, Bogor, itu berisi kesepakatan dua pihak, 
yakni Mega dan Prabowo. Dalam kesepakatan ini Prabowo meminta agar diberi 
keleluasaan mengatur ekonomi Indonesia dan menunjuk 10 orang menteri terkait. 
Sementara itu, Mega menyatakan akan mendukung pencapresan Prabowo pada Pilpres 
2014.

Namun janji tinggal janji, pada 2014 peta politik berubah. Mega tak mendukung 
Prabowo, malah mengusung Jokowi maju di Pilpres 2014. Akibatnya, hubungan Mega 
dengan Prabowo tampak merenggang.

Kerenggangan yang melahirkan cleavage (belahan) sosial politik terlihat pada 
dua pilpres, yaitu Pilpres 2014 dan 2019. Kontestasi politik pada dua pilpres 
ini, bukan hanya menciptakan dua tokoh dengan posisi berbeda, melainkan 
melahirkan pula dua kelompok dalam masyarakat yang bersitegang.

Sebut saja, kelompok yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan 
Koalisi Merah Putih (KMP) pada Pilpres 2014. Kemudian kelompok cebong versus 
kampret yang mengalami perseteruan pada Pilpres 2019.

Beberapa pengamat politik menilai perseteruan ini menggambarkan pertentangan 
dua representasi tokoh yang telah dijelaskan di atas, yaitu representasi 
Soekarno versus representasi Soeharto. Kelompok-kelompok ini menyiratkan 
terbentuknya kohesi sosial yang kuat di dalamnya, dengan memperlihatkan 
dukungan mereka kepada tokoh tertentu.

Baca Juga: Prabowo Dikhianati PDIP Lagi?

Bisma Putra Sampurna, dalam tulisannya Memahami Konsep Kohesi Sosial, 
menjelaskan mengenai konsep kohesi sosial awalnya berasal dari tesis Emile 
Durkheim. Menurutnya terdapat solidaritas mekanik yang diindikasikan dengan 
adanya aktor yang kuat dalam masyarakat, lalu terdapat solidaritas organik yang 
diindikasikan dengan saling bergantungnya individu, sehingga akan terbentuk 
suatu kohesi sosial dengan sendirinya.

Dalam konsep kohesi sosial, keterikatan kelompok terbentuk dengan sendirinya 
dan bukan hasil dari pemahaman untuk mencapai kohesi sosial. Hal ini didasari 
oleh persamaan nilai, dan rasa memiliki, persamaan tantangan dan kesempatan 
yang setara dalam mengartikulasikan harapan dan kepercayaan. Pengertian atau 
definisi yang terakhir didasari oleh kemampuan untuk bekerja bersama dalam 
suatu entitas yang akan menghasilkan kohesi sosial.

Selain terbentuknya kohesi sosial, terdapat pula fenomena bias in and out group 
yang menciptakan konflik. Kedua kelompok saling mendukung dan saling 
bertentangan pada dua pilpres tersebut.

Sosiolog sekaligus antropolog, William Graham Sumner, dalam penjelasannya 
mengenai klasifikasi kelompok sosial, melihat terdapat fenomena bias in and out 
group. Dalam hal ini sikap-sikap in group pada umumnya didasarkan pada faktor 
simpati dan selalu memiliki perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompok. 
Adapun sikap-sikap out group ditandai dengan antagonisme antipati.

Kedua konsep ini menjelaskan secara ilmiah lahirnya perseteruan antar kelompok 
yang mengikat diri   dalam kelompok dan mempunyai sikap permusuhan terhadap 
kelompok lainnya. Tapi perlu diingat, dalam politik tidak ada kawan sejati dan 
tidak ada musuh abadi, semua hal dapat berubah dalam dinamika politik. Lantas, 
apakah perseteruan ini terjadi di 2024? Atau kedua kubu berada di satu gerbong 
yang sama?

 
  
Dilema Berduet Kembali
Paska Pilpres 2019, konflik dua kelompok mulai mereda, indikasinya terlihat 
saat masuknya Prabowo dalam kabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). 
Hubungan Mega dan Prabowo mulai membaik, bahkan muncul wacana untuk menduetkan 
kembali keduanya.

Direktur Pro Mega Center, Mochtar Mohammad, mengatakan duet Mega-Prabowo 
merupakan kesuksesan yang tertunda.

Senada dengan pernyataan Mochtar, Adi Prayitno, Direktur Parameter Politik, 
mengatakan duet Mega-Prabowo punya kans besar terulang kembali pada 2024. Ada 
sejumlah alasan mengapa duet ini dapat terulang kembali.

Pertama, sampai saat ini tak satu pun parpol koalisi pemerintah yang berani 
vulgar melawan dominasi PDIP, yang belakangan didukung penuh Gerindra. Itu 
artinya, Mega dan Prabowo sangat mungkin bisa mendikte koalisi partai menuju 
2024. Kalau Mega-Prabowo berhendak, duet ini bakal terwujud.

Kedua, sejumlah nama versi survei, seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, 
Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, dan tokoh lain tak punya partai untuk maju. Duet 
Mega-Prabowo akan jadi duet maut karena keduanya cukup solid sejauh ini, dan 
tentunya punya kendali dalam pengambilan keputusan partai politik yang mereka 
pimpin.

Namun, wacana menduetkan kembali Mega-Prabowo akan menimbulkan kesan krisis 
figur muda yang dapat mengurus bangsa. Untuk menyiasati krisis figur muda dalam 
pilpres mendatang, muncul alternatif lain, untuk menduetkan dua  kekuatan 
politik ini. Yaitu, mencoba menyodorkan duet antara Prabowo dan Puan Maharani. 
Selain merepresentasikan figur perempuan muda, faktor Puan sebagai  pewaris 
Soekarno, sejauh ini menjadi  kalkulasi politik dalam menjalin duet 
Prabowo-Puan.

Pengamat Politik yang juga Direktur Lembaga Survei dan Polling Indonesia 
(SPIN), Igor Digantara, mengatakan duet Prabowo-Puan paling mungkin diwujudkan 
dan dinilai cocok karena faktor usia (tua dan muda), jenis kelamin (laki-laki - 
perempuan),  dan juga latar belakang sipil-militer.

Bisa jadi, tercipta perjanjian Batu Tulis jilid dua. Skenarionya, PDIP akan 
menjadikan Puan sebagai cawapres, tentunya mendukung Prabowo sebagai capres. 
Kemudian, pada Pilpres 2029, Gerinda gantian yang akan mendukung pencalonan 
Puan sebagai capres.

Baca Juga: Prabowo-Puan Lebih Realistis?

Meski bisa saja terjadi, tapi jangan dilupakan bahwa ada peristiwa Batu Tulis 
jilid satu yang tidak terlaksana dan menjadi sebuah wanprestasi bagi pihak 
Mega. Pada Batu Tulis jilid satu, Prabowo akan diusung PDIP sebagai capres 2014 
sebagai kompensasi dukungan Prabowo menjadi cawapres Mega pada Pilpres 2009. 
Hal ini tak terlaksana akibat dukungan Mega terhadap Jokowi pada Pilpres 2014.

Endah Murniaseh dalam tulisannya Wanprestasi: Pengertian, Bentuk, Penyebab, dan 
Dampak Hukumnya, menjelaskan wanprestasi adalah istilah untuk tindakan salah 
satu pihak yang terikat di suatu perjanjian, tetapi tidak melakukan 
kewajibannya sesuai dengan perjanjian awal. Kata wanprestasi berasal dari 
bahasa Belanda, wanprestatie yang berarti tidak dipenuhinya prestasi atau 
kewajiban yang telah ditetapkan terhadap pihak-pihak tertentu di suatu 
perikatan, yang dilahirkan dari suatu perjanjian.

Sejatinya, wanprestasi adalah istilah hukum, tapi juga dapat digunakan untuk 
melihat psikologis tokoh politik dalam mengambil keputusan. Jika kita lihat 
dari sisi wanprestasi, maka kemungkinan bersatunya dua klan politik antara 
Soekarno dan klan Soeharto bisa saja pupus. Ataukah Prabowo tidak 
memperhitungkan variabel wanprestasi dalam kalkulasi politiknya? Masih ada 
waktu sampai 2024 untuk melihat dinamika politik yang selalu berubah. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0E3A26ECEF6847ABB799B2ABCBB4650D%40A10Live.

Reply via email to