Airlangga Pilih Ganjar Sebagai Pendamping?I76 - Friday, November 19, 2021 16:16
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/airlangga-pilih-ganjar-sebagai-pendamping
 
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar 
Pranowo (Foto: Republika)
6 min read

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto digadang-gadang maju pada Pilpres 
2024. Meski mempunyai modal politik yang kuat, Airlangga menurut survei, masih 
kurang populer dibanding tokoh lainnya. Strategi mendampingkan dirinya dengan 
Ganjar Pranowo menjadi alternatif pasangan ideal. Seperti apa kemungkinan 
pilihan  itu terjadi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, Partai Golkar membuka ruang 
komunikasi dengan tokoh-tokoh yang punya elektabilitas tinggi untuk bergabung. 
Elektabilitas Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Partai Golkar dirasa belum 
juga meningkat, Partai Golkar mengintai tokoh-tokoh lain yang dapat mendulang 
suara pada Pilpres 2024. Dalam radar, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo menjadi 
incaran untuk berdampingan dengan Airlangga, yang juga siap maju sebegai orang 
kedua.

Hal ini, terlihat dari akrobat politik Airlangga yang membuka komunikasi dengan 
sejumlah ketua umum partai lainnya. Airlangga menemui Ketua Umum Partai Nasdem 
Surya Paloh, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketua Umum Partai Demokrat 
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Potensi koalisi merupakan salah satu tema 
pembahasan mereka.



Baca Juga: Safari Airlangga Sinyal Tiga Poros di 2024?



Jika merujuk presidential threshold (PT), pencalonan kandidat presiden 
setidaknya mempunyai 20 persen kursi di DPR. Hanya PDIP yang mendapatkan tiket 
karena memiliki 22,26 persen kursi.

Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, mengatakan tiga 
partai dengan perolehan kursi terbanyak yang secara tradisi memasang calonnya 
dalam setiap pilpres. PDIP, Gerindra dan Golkar yang saat ini merupakan tiga 
besar partai politik dengan jumlah kursi signifikan di parlemen. Diketahui, 
Golkar dalam hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) menyatakan bakal 
menjagokan Airlangga Hartarto menjadi calon presiden 2024.

Berbeda dari dua gelaran pilpres sebelumnya, Golkar memperlihatkan keseriusan 
memajukan Airlangga sebagai calon presiden 2024. Lantas, bagaimana peluang 
Ketua Umum Partai Golkar ini?


  
Memotret Modal Politik
Memasuki dunia politik, seorang tokoh haruslah mempunyai modal politik atau 
political capital. Hal ini diungkapkan oleh Kimberly L. Casey dalam tulisannya 
yang berjudul Defining Political Capital. Casey mengungkapkan modal politik 
merupakan konsep dasar untuk memahami transaksi dan relasi politik. Secara 
alegoristik (perumpamaan), Casey menggambarkan, akumulasi dari berbagai modal 
politik ini membuat politisi mempunyai daya tawar tersendiri.

Lebih lanjut, Casey mengutip teori interconvertibility dari Pierre Bourdieu 
untuk menjabarkan berbagai jenis modal yang dapat menjadi modal politik, yakni 
modal institusional, modal sumber daya manusia (SDM/human capital), modal 
sosial, modal ekonomi, modal kultural, modal simbolik, dan modal moral.

Meski terdapat tujuh jenis modal politik, Casey menegaskan bahwa tidak ada 
modal politik yyang autentik. Dalam artian, besar kecilnya daya tawar modal 
politik tergantung atas modal yang dibutuhkan dalam sebuah kontestasi.

Untuk pilpres, setidaknya terdapat lima modal politik utama yang menentukan. 
Antara lain, modal ekonomi, modal partai politik, modal koneksi internasional, 
modal popularitas, dan modal elektabilitas. Jika kelima modal politik ini 
digunakan untuk menilai Airlangga, maka dapat diuraikan sebagai berikut.

Pertama, Airlangga mengokohkan dirinya sebagai pengusaha yang sukses. Ia 
memiliki banyak bisnis dengan berbagai perusahaan. Di antaranya,  PT. Graha 
Curah Niaga yang bergerak di bidang agraria (pupuk), kemudian PT. Jakarta Prime 
Crane, PT. Bisma Narendra, dan Komisaris PT. Sorini Corporation Tbk. 
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di Komisi 
Pemberantasan Korupsi (KPK), total harta kekayaan Airlangga mencapai Rp260,611 
miliar. Sebagai seorang pengusaha, Airlangga dinilai mempunyai modal ekonomi 
yang memadai.

Kedua, Airlangga merupakan Ketua Umum Partai Golkar, yang selalu berada pada 
peringkat papan atas. Di Pemilu 2019, misalnya, perolehan suara Golkar mencapai 
17.229.789 (12,31 persen). Hasil ini membuat Golkar berada di posisi ketiga, di 
bawah PDIP dan Gerindra.

Ketiga, koneksi internasional Airlangga tidak perlu diragukan lagi. Karena 
bersekolah di luar negeri, jika kita runut, mulai dari program S2 di Wharton 
School University of Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat (AS); program 
Master of Business Administration (MBA), Monash University Australia; dan 
terakhir ia menuntut ilmu di Melbourne Bussiness School University of 
Melbourne. Selain itu hubungan Airlangga dengan Jepang juga konon disebut cukup 
 spesial.



Baca Juga: Puan Redup, Airlangga Moncer?



Keempat, dari segi popularitas, dapat kita bagi menjadi dua, yaitu popularitas 
internal dan popularitas eksternal. Jika ukurannya popularitas internal, yakni 
partai politik dan elite politik, maka Airlangga termasuk tokoh yang populer. 
Tapi, jika ukurannya adalah popularitas eksternal atau popularitas publik, ini 
yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Airlangga.

Kelima, elektabilitas, juga bisa kita katakan adalah pekerjaan rumah tambahan. 
Airlangga dinilai masih mempunyai gap popularitas dan elektabilitas, yang 
dilihat dari survei, dibandingkan beberapa ketua umum partai politik dan 
pejabat politik yang dikenal oleh publik kebanyakan.

Saiful Mujani, pendiri Saiful Mujani Research and Consulting, mengatakan belum 
terlihat peluang Airlangga dapat memenangi pemilihan presiden karena tingkat 
popularitas dan elektabilitasnya masih kalah dengan enam nama potensial calon 
presiden. Di antaranya, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum 
Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, 
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan 
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Pertanyaannya, dengan modal politik yang besar pada modal ekonomi, modal partai 
politik, dan modal koneksi internasional, dan masih minim pada dua modal, yaitu 
modal popularitas dan elektabilitas, seberapa besar peluang Airlangga di 
Pilpres 2024?

 
  
Airlangga-Ganjar Pasangan Ideal?
Dalam kajian psikologi, motif dimaknai sebagai alasan seseorang (manusia) yang 
mendasarinya untuk melakukan sesuatu. Motif bukanlah sesuatu yang tampak. 
Sebab, itu tersembunyi. Motif dapat diketahui, di antaranya dari pengakuan 
seseorang terhadap alasannya melakukan suatu tindakan.

Untuk melihat maksud dari beragam kegiatan politik yang dilakukan oleh tokoh 
politik, perlu menyibak motif di balik perilaku politik. Dalam politik praktis, 
mengungkap tujuan di balik kompetisi adalah hal paling menarik untuk ditelisik.

Strategi nyapres Airlangga dengan jelas menunjukkan dirinya memiliki kalkulasi 
politik yang matang. Hal ini terlihat dari beberapa opsi yang dibentuk untuk 
memasangkan Airlangga dengan beberapa tokoh populer lainnya, seperti Anies dan 
Ganjar.

Nama yang belakang disebut, yaitu Ganjar, ramai diberitakan merupakan pasangan 
paling ideal untuk Airlangga. Ini disampaikan oleh Saiful Mujani kepada Koran 
Tempo edisi 12 November 2021. Saiful mengatakan, duet Ganjar-Airlangga 
merupakan pasangan yang tepat. Karena, ada kemungkinan Ganjar-Airlangga 
berhadapan dengan duet Gerindra dan PKS yang bisa saja mengusung Prabowo-Anies.

Namun, yang menjadi permasalahannya adalah status Ganjar sebagai kader PDIP. 
Selain terdapat potensi perpecahan dikarenakan santer PDIP lebih mendukung Puan 
Maharani untuk maju pada Pilpres 2024, sebagai kader yang dibesarkan oleh PDIP, 
belum pasti Ganjar akan bersedia melangkah tanpa dukungan PDIP.

Hal ini menyiratkan bahwa, dengan skema ideal pun, Airlangga masih memiliki 
penghalang untuk nyapres pada 2024. Atau mungkin, apa yang tengah dilakukan 
Airlangga tampaknya adalah investasi saham.



Baca Juga: Kok Bisa Ganjar Didukung?



Singkatnya, strategi nyapres Airlangga, dapat dianggap sebagai upayanya untuk 
mendeklarasikan harga saham politiknya sejak awal. Jika ingin membeli saham 
tersebut, maka harganya sekian. Hal ini, jelas merupakan strategi politik yang 
lihai. Dalam catur, langkah ini mungkin dapat disebut sebagai sham sacrifice.

Rudolf Spielmann dalam bukunya The Art of Sacrifice in Chess mendefinisikan 
sham sacrifice sebagai pengorbanan bidak dalam waktu tertentu, di mana nantinya 
pengorbanan tersebut menghasilkan keuntungan materil yang setara atau lebih 
besar. Ini berbeda dengan real sacrifice, di mana pengorbanan yang dilakukan 
tidak mendapatkan kembali keuntungan materil.

Jika motif nyapres Airlangga merupakan strategi sham sacrifice, maka ituadalah 
sebuah investasi politik. Dari inivestasi itu, keuntungan seperti apa  yang 
dituju pasti berujung pada posisi tawar yang tinggi.

Namun, menimbang pada pernyataan lugas Wakil Ketua Umum Partai Golkar Nurdin 
Halid yang mengajak Ganjar gabung ke partai beringin, opsi menduetkan 
Airlangga-Ganjar tampaknya dapat dikatakan cukup serius. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/33D9B30BCF1345E68B2906CA59D84176%40A10Live.

Reply via email to