Fadli Zon si Antagonis DemokrasiR53 - Tuesday, November 23, 2021 16:17
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/fadli-zon-si-antagonis-demokrasi
 
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon (Foto: Populis.id)
6 min read

Setelah mengkritik Presiden Jokowi, Fadli Zon mendapat teguran dari Prabowo 
Subianto melalui Sekjen Gerindra. Selepas mendapat teguran, Fadli Zon diketahui 
tidak membuat tweet dalam beberapa hari dan mendapat tawaran untuk bergabung ke 
Partai Ummat. Apakah Fadli Zon akan meredup sebagai antagonis demokrasi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Every act of creation is first an act of destruction,” – Pablo Picasso, 
pelukis Spanyol

Fadli Zon memiliki sejarah panjang dengan Prabowo Subianto. Terpaut usia 20 
tahun, Fadli Zon telah mengikuti Prabowo sejak era Orde Baru. Saat itu, alumnus 
Sastra Rusia Universitas Indonesia (UI) ini menjadi juru bicara sang jenderal. 
Pernah pula ia satu panggung dengan aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir 
ketika membahas dugaan pelanggaran HAM terhadap Prabowo.

Selepas Partai Ummat menawari Fadli Zon untuk bergabung, narasi kedekatannya 
dengan Prabowo terlihat mencuat dan menjadi headline pemberitaan berbagai 
media. Tawaran itu sendiri datang setelah Prabowo menegur Fadli Zon karena 
mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meresmikan sirkuit Mandalika 
meskipun belum mengunjungi banjir Sintang.

Menariknya, setelah ditegur, Fadli Zon terlihat puasa membuat tweet. Ini 
benar-benar fenomena yang tidak lazim. Rasanya asing mengetahui seorang Fadli 
Zon tidak mengomentari sesuatu. 

Baca Juga: Keberanian Fadli Zon, Sebuah Perjudian?

Atas narasi yang beredar, berbagai pihak memberi tanggapan, termasuk dari Fahri 
Hamzah. Tegasnya, tidak mungkin Fadli Zon meninggalkan Partai Gerindra. Tidak 
hanya menjadi sahabat dekat Prabowo, pada 2007 bersama dengan Hashim 
Djojohadikusumo, Fadli Zon juga menginisiasi pembentukan Partai Gerindra. 

“Beliau [Fadli Zon] adalah pendiri dan orang yang menemani Pak Prabowo pada 
masa-masa sulit membangun fondasi perjuangan partai sejak awal,” ungkap Fahri 
Hamzah.

Terlepas dari teguran yang menimpanya, sudah sejak lama Fadli Zon memang 
dikenal selalu keras mengkritik pemerintah. Ia kenal sebagai oposisi konsisten. 
Bahkan, setelah Gerindra bergabung ke kabinet, kekhasan itu juga tidak 
menghilang.

Lantas, apakah teguran ini akan membuat Fadli Zon bungkam, setidaknya untuk 
sementara? Atau justru kembali sebagai perannya sebagai antagonis demokrasi?


  
Agonisme
Terkait penggunaan istilah antagonis demokrasi, penulis terinspirasi dari 
gagasan seorang filsuf politik bernama Chantal Mouffe. Mengutip gagasan Carl 
Schmitt, Mouffe menegaskan bahwa politik dibangun di atas perbedaan "kita" dan 
"mereka" – us vs them. 

Mempopulerkan istilah agonisme, Mouffe justru melihat konflik sebagai entitas 
positif. Dengan adanya konflik dan konfrontasi, itu menjadi penanda bahwa 
demokrasi yang lekat dengan budaya dialog dan kritisisme tengah hidup.

Konsep Mouffe ini dapat dikatakan sebagai kontra atas demokrasi deliberatif 
yang dicetuskan Jürgen Habermas – disebut Habermasian. Berbeda dengan Habermas 
yang meyakini adanya konsensus universal yang dapat dicapai melalui musyawarah, 
Mouffe justru mengatakan itu tidak mungkin terjadi.

Alasannya sederhana dan sangat prinsipil. Konsensus universal mensyaratkan 
setiap aktor yang terlibat dalam musyawarah memiliki rasionalitas yang sama, 
serta mendukung prinsip-prinsip etika dan politik yang sama. 

Masalahnya, dalam masyarakat yang begitu plural, syarat itu tidak mungkin dapat 
terpenuhi. Ini yang mendasari terbentuknya teori pluralisme agonistik.

Mengutip Donny Gahral Adian dalam bukunya Demokrasi Substansial: Risalah 
Kebangkrutan Liberalisme, pluralitas adalah kondisi sebuah ruang publik yang 
menjadi tempat setiap orang menyingkapkan keunikannya dan sekaligus 
mengakomodasi keunikan orang lain dalam mengambil keputusan bersama.

Oleh karenanya, pandangan Mouffe yang memandang positif konflik, pada dasarnya 
bertolak dari ketidakmungkinan penyeragaman tersebut. Jika terjadi 
penyeragaman, maka itu adalah pembungkaman. Ini yang terjadi di negara-negara 
otoriter seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT). 

Baca Juga: Fadli Zon, Metronom Rasionalitas Gerindra

Mengadopsi pandangan Mouffe, dapat dikatakan Fadli Zon berperan untuk 
menghidupkan diskursus politik di tengah iklim demokrasi. Kembali mengutip 
Donny, politik dapat dimaknai sebagai pertentangan gagasan. Ia hanya hidup 
apabila ada dialog, adu pikiran, dan konfrontasi intelegensia.

Terlepas dari tepat tidaknya kritik-kritik Fadli Zon, faktanya, kritik-kritik 
tersebut melahirkan atensi publik. Masyarakat menjadi aware atas suatu isu, 
kemudian membahas dan memperdebatkannya. Seperti kata Mouffe, hiruk pikuk ini 
adalah indikasi iklim demokrasi masih terjadi. Di bawah payung otoritarianisme, 
misalnya di zaman Orde Baru, perdebatan politik terbuka tentu tidak dapat 
terjadi.

Kritik Fadli Zon terhadap Presiden Jokowi, misalnya, membuka kesadaran publik 
bahwa terjadi banjir di Sintang, Kalimantan Barat. Di tengah euforia peresmian 
sirkuit Mandalika, atensi publik dan media terlihat tipis pada bencana tersebut.

Kembali menyinggung istilah antagonis, kita dapat menarik korelasinya dalam 
alur film atau novel. Untuk menghadirkan cerita yang menarik, mutlak dibutuhkan 
antagonis yang bersitegang dengan protagonis atau pemeran utama. Nah, Fadli Zon 
adalah antagonis terhadap pemeran utama, yakni kekuasaan. 

 
  
Antagonis yang Penting 
Selain melihatnya dari teori agonisme, fenomena Fadli Zon yang menjadi 
antagonis kekuasaan dapat pula dilihat melalui tiga kacamata lainnya, yakni 
creative destruction dari Joseph Schumpeter, metode kebidanan dari Socrates, 
dan konsep devil's advocate.

Creative destruction atau yang juga dikenal dengan Schumpeter's gale adalah 
sebuah konsep yang menjelaskan soal inovasi ekonomi dan siklus bisnis. Dengan 
menghancurkan suatu tatanan, objek, atau ide, kemudian muncul kreativitas untuk 
membuat yang baru dan lebih baik. Kita mengenalnya dengan inovasi.

Sebagai contoh, hadirnya Gojek dan Grab pada dasarnya adalah destruksi atau 
kehancuran bagi penyedia jasa transportasi tradisional, khususnya tukang ojek 
pangkalan. Namun, dari destruksi itu kemudian lahir inovasi dan transformasi 
pelayanan transportasi untuk masuk ke era digital. Sekarang, tidak hanya 
transportasi, kegiatan untuk berbelanja dan memenuhi berbagai kebutuhan harian 
lainnya dapat dilakukan hanya dengan mengklik tombol di ponsel pintar — 
benar-benar praktis dan efisien.

Nah, kritik-kritik Fadli Zon, dapat menjadi destruksi agar objek sasaran kritik 
dapat berbenah dan melakukan evaluasi. Kritiknya terhadap Presiden Jokowi 
terkait banjir di Sintang harus menjadi penyadar agar pemerintah pusat dan 
daerah segera melakukan evaluasi dan memberikan solusi.

Kemudian, metode kebidanan. Bagi yang mengikuti dan tertarik dengan kajian 
filsafat, pasti mengetahui Socrates tidak meninggalkan legacy tulisan seperti 
muridnya, Plato. Apa yang ditinggalkan Socrates adalah sebuah metode 
penyingkapan ide dan kritisasi yang disebut dengan kebidanan. Seperti namanya, 
metode ini bertolak dari peran bidan yang membantu melahirkan anak.

Anak yang lahir adalah ide, gagasan, kritisisme, atau setidaknya kesadaran atas 
suatu masalah. Mungkin dapat dikatakan, kritik-kritik Fadli Zon seperti itu. Ia 
berusaha melahirkan anak, yakni kesadaran atas suatu masalah. 

Baca Juga: Fadli Zon Ingin Mahasiswa “Bangun”? 

Terakhir, Fadli Zon mungkin berperan sebagai devil's advocate. Istilah ini 
bertolak dari seorang pejabat Katolik Roma yang bertugas untuk memeriksa secara 
kritis bukti yang menjadi dasar tuntutan. Konsep ini kemudian dipahami sebagai 
seseorang yang mempertanyakan penalaran atau argumentasi yang kurang bisa 
diterima. Singkatnya, devil's advocate adalah istilah yang ditujukan kepada 
mereka yang memantik diskusi. 

Nah, seperti penjabaran sebelumnya, Fadli Zon sekiranya tepat disebut sebagai 
devil's advocate. Tweet dan segala kritiknya adalah pemantik diskusi. Sekalipun 
tidak tepat, itu membuat banyak pihak aware dan tertarik untuk berkomentar.

Jika memilih dari tiga kacamata tersebut, yang paling tepat mungkin adalah 
devil's advocate. Pasalnya, creative destruction mensyaratkan adanya intensi 
untuk membuat perubahan. Ada kemungkinan kritik Fadli Zon tidak memiliki 
intensi seperti itu. 

Kemudian metode kebidananan, rasanya jelas bahwa Fadli Zon tidak berlaku 
seperti Socrates. Ia seringkali hanya melempar kritik dan tidak terlibat dalam 
diskursus panjang dan mendalam.

Sebagai penutup, suka atau tidak, Fadli Zon sekiranya dapat disebut sebagai 
antagonis demokrasi yang penting. Sosoknya diperlukan di tengah iklim demokrasi 
agar diskursus tetap hidup. Seperti tweet Fahri Hamzah pada 18 November, jangan 
kapok ya, Bro Fadli Zon. Tetaplah kritis dan giat memantik diskursus publik. 
(R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/377FD7CD05854DCCBAE75139D1FD2883%40A10Live.

Reply via email to