Tdk ada islamphobia yang ada malah Jokowiphobia. ???
On Wed, Nov 24, 2021, 06:59 Chan CT <[email protected]> wrote: > Narasi Pembubaran MUI, Islamofobia? > *I76 * <https://www.pinterpolitik.com/author/i76>*- Tuesday, November 23, > 2021 22:59* > > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/narasi-pembubaran-mui-islamofobia > *Foto: Times Indonesia* > > *7 min read* > > *Mencuatnya tagar #BubarkanMUI di media sosial merupakan buntut dari > protes warganet tentang indikasi terorisme dalam tubuh lembaga umat Islam > ini. Polemik narasi pembubaran MUI diwarnai dengan berbagai nalar-nalar > yang beragam. Muncul pertanyaan sensitif di antara nalar-nalar tersebut, > mungkinkah narasi ini disebabkan karena islamofobia?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/> > > Narasi pembubaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) bergema di media sosial > dengan tagar #BubarkanMUI. Masifnya tagar bubarkan MUI ini buntut dari > adanya salah satu pengurus MUI yang ditangkap Densus 88 karena diduga > terlibat terorisme, yaitu Zain An-Najah yang kini telah dinonaktifkan dari > anggota Komisi Fatwa MUI. > > Banyak yang menilai ini sebagai fenomena delegitimasi MUI sebagai > institusi umat Islam yang telah lama berdiri dan mempunyai pengaruh yang > kokoh bagi bangsa Indonesia. Akibatnya, banyak tokoh-tokoh yang bereaksi > untuk menetralisir narasi pembubaran MUI. > > Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko > Polhukam) mengatakan sepenuhnya memang karena ada permasalahan. Jangan > sampai diartikan dengan penyerangan aparat terhadap MUI. Teroris bisa > ditangkap di mana pun, di hutan, *mall*, rumah, gereja, dan masjid. Kalau > aparat diam dan terjadi sesuatu bisa dituding kecolongan akan ada proses > hukum dan pembuktian secara terbuka. > > > > *Baca Juga: MUI Kritik SKB, Manuver Tersirat Ma’ruf Amin? > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mui-kritik-skb-manuver-tersirat-maruf-amin>* > > > > Mahfud meminta tak ada pihak yang memprovokasi soal isu pembubaran MUI. > Menurutnya, itu semua provokasi yang bersumber dari khayalan, bukan dari > pemahaman atas peristiwa. > > Tidak hanya itu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan > bereaksi dengan mengatakan, tuntutan pembubaran MUI berlebihan. MUI penting > sekali untuk bangsa dan negara, kontribusinya banyak untuk menjaga umat dan > nilai-nilai luhur agama bagi kehidupan kita bermasyarakat. > > Teten Masduki, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, juga ikut > berkomentar, bahwa jika terdapat oknum yang terlibat tentu saja tidak bisa > dikatakan bahwa MUI harus dibubarkan. Sebenarnya itu tidak ada kaitan > langsung dengan MUI, itu pribadi, terangnya. > > Dari komentar-komentar di atas, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan > antara oknum terduga terorisme yang merupakan pengurus MUI, dengan MUI > sebagai sebuah lembaga. Seperti apa konstruksi nalar terkait hal ini? > *Meraba Penalaran* > > Nalar yang membawa narasi pembubaran MUI, pada dasarnya bertolak pada > semacam *labelling *terorisme terhadap MUI. George Herbert Mead dalam > bukunya *Mind, Self, and Society*, menggambarkan tentang teori interaksi > simbolik yang mengilhami lahirnya* labelling theory* atau teori > penjulukan yang dapat disebut juga sebagai reaksi sosial. Mead menyebut > proses *labbeling *ini lahir dari dunia orang-orang yang menyimpang ( > *devians*). > > Teori interaksi simbolik, menggambarkan perilaku manusia yang belajar > memainkan peran dan mengasumsikan identitas yang relevan dengan peran-peran > dalam sebuah masyarakat. Munculnya penjulukan atau *lebelling *disebabkan > oleh sebuah peristiwa sosial yang mengandaikan terjadinya suatu > penyimpangan. > > Penyimpangan dalam konteks ini tentunya terorisme. Masyarakat menilai MUI > sebagai lembaga yang luhur karena punya peran mengagregasikan kepentingan > umat Islam. Tapi, muncul oknum yang terduga teroris. > > Namun, seperti yang dikemukakan berbagai pihak, *labelling *terhadap MUI > sepenuhnya tidak dapat diterima. Jika menelisik menggunakan ilmu logika, > kekeliruan simpulan tersebut berakar pada kesalahan penalaran yang disebut > dengan “kuantifikasi tersembunyi”. > > Yohanes Pande Hayon dalam bukunya *Logika: Prinsip-prinsip Bernalar > Tepat, Lurus, dan Teratur, *menyebutkan kuantifikasi tersembunyi adalah > bentuk proposisi atau simpulan yang tidak tegas menunjuk jumlah atau > kuantitas objeknya. Kuantifikasi tersembunyi dibagi ke dalam dua jenis, > yakni “komposisi” dan “divisi”. > > Komposisi digambarkan ketika seseorang menilai anggapan yang berlaku pada > individu atau sebagian kelompok (parsial), pasti berlaku pada seluruh > kelompok secara menyeluruh (kolektif). Sementara divisi terjadi ketika > seseorang menilai anggapan pada suatu kelompok pasti terjadi pada semua > individu dalam kelompok tersebut. > > > > *Baca Juga: Intoleransi Mana Yang Dimaksud Jokowi? > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/intoleransi-mana-yang-dimaksud-jokowi>* > > > > Pada kasus narasi pembubaran MUI, jenis komposisi yang terjadi, yakni > kasus salah satu pengurus MUI yang ditangkap Densus 88, kemudian > disimpulkan untuk menyebutkan MUI adalah lembaga terindikasi terorisme. > > Amirsyah, Sekretaris jenderal (Sekjen) MUI, juga mengatakan narasi > pembubaran MUI sangat naif dan tidak masuk akal. Logikanya, jika ada warga > negara terduga teroris, Indonesia tak akan bubar. Jika ada oknum menteri > yang terduga korupsi, maka Indonesia tetap utuh, demikian juga jika ada > oknum TNI/Polri yang melanggar peraturan-perundangan-undangan, maka > TNI/Polri tetap utuh untuk mengawal NKRI. > > Komentar Amirsyah dapat menjadi contoh logika penalaran kuantifikasi > tersembunyi jenis komposisi yang telah dijelaskan di atas. > > Setelah membedah penalaran keliru tersebut, mungkinkah ada intrik politik > di balik mencuatnya tagar pembubaran MUI? > *Memotret Framing Islamofobia* > > Din Syamsuddin, Cendekiawan Muslim mantan Ketua Dewan Pertimbangan MUI, > mengatakan terdapat pihak tertentu yang mengkampanyekan pembubaran MUI. > Menurutnya, desakan dari pihak tertentu untuk membubarkan MUI tidak perlu > ditanggapi serius. > > Setidaknya, terdapat dua alasan untuk itu. *Pertama*, terdapat kelompok > anti-Islam atau islamofobia yang merasa mendapat dukungan oleh rezim > berkuasa yang diam saja dan terkesan membiarkannya. > > *Kedua*, desakan itu palsu, yakni hanya merupakan manuver untuk > mengalihkan perhatian (pengalihan isu) dari masalah besar yang sedang > dihadapi bangsa, atau pelanggaran etika kekuasaan yang sedang disegerakan > penyelesaiannya. > > Dua alasan yang disampaikan Din, sejatinya mengandaikan prinsip kausalitas > (sebab-akibat). Sederhananya, narasi pembubaran MUI disebabkan oleh dua > kemungkinan, yaitu, karena islamofobia atau karena pengalihan isu. Rasanya, > di antara kedua hal tersebut, yang menarik untuk ditelisik lebih lanjut > adalah alasan pertama, yaitu tentang islamofobia. > > Jika melihat sejarah istilah islamofobia, maka kita akan mulai dari > peristiwa-peristiwa yang berawal dari pandangan Barat, terutama Amerika dan > Eropa, tentang pemahaman mereka akan gagasan agama dan masyarakat Islam. > > Karen Armstrong dalam bukunya *Islamofobia*, menjelaskan bahwa > islamofobia masih menjadi momok menakutkan untuk sebagian kalangan, > termasuk kalangan Barat. Salah satu penyebabnya adalah kemunculan > representasi Islam yang keras melalui fenomena terorisme, ISIS, dan > wahabisme yang dianggap sebagian orang sebagai paham radikalisme. Sumber > pengetahuan yang representatif terkait hal tersebut, tentu saja media massa. > > Walter Lippman dalam bukunya *Public Opinion*, menjelaskan media masa > juga memiliki sejumlah fungsi, salah satunya *cultural transmission*. > Terkait dengan fungsi ini, dalil populernya ialah “*world outside and > pictures in our heads*”, mengartikan bahwa media berfungsi sebagai > pembentuk makna. > > Kemudian, melalui interpretasinya mengenai berbagai peristiwa secara > mengakar dapat mengubah interpretasi orang tentang suatu realitas dan pola > tindakan mereka. Sederhananya, pandangan terhadap realita ditampilkan oleh > media dengan sebuah cara tertentu. > > Dalam pandangan media Barat, stereotip yang terbangun terhadap Muslim > adalah kesan radikal yang kerap melakukan kekerasan dan anti perdamaian. > Muslim kerap dianggap sebagai penganut Islam konservatif. Muslim juga > dipandang sebagai golongan yang lemah sementara Barat dipersepsikan > superior. > > > > *Baca Juga:* *Rizieq dan FPI Bangkitkan Islamofobia? > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/rizieq-dan-fpi-bangkitkan-islamofobia>* > > > > Edward W. Said dalam bukunya berjudul *Orientalisme, *menerangkan media > Barat dalam hal ini Eropa dan Amerika, kerap merepresentasikan Islam dengan > acuannya sendiri. Umumnya, yang terjadi adalah hegemoni. Adapun sisi yang > biasa dilihat oleh media Barat yaitu, *pertama*, Islam dan kekerasan; > *kedua*, Islam dan perdamaian; *ketiga*, Islam dan sifat lemah. > > Dengan gambaran yang timpang tentang Islam, bermuncul pemahaman yang > sempit dan membentuk semacam ketakutan yang kita sebut dengan istilah > islamofobia. Sekalipun dalam masyarakat Islam, seperti di Indonesia, > islamofobia dapat hadir di tengah masyarakat yang terikat oleh makna yang > dibuat oleh media, tak terkecuali media sosial maupun media massa. > > Jika mengikuti perdebatan di media sosial, paradigma orientalisme yang > memandang Barat lebih superior dari Timur, termasuk Islam, tidak jarang > ditemukan. Dalam perdebatan politik publik sekalipun, berbagai politisi > juga tidak jarang membawa narasi betapa berbahayanya intoleransi dan Islam > konservatif yang kerap dipersepsikan sebagai “ancaman”. > > Dengan demikian, pandangan Din Syamsuddin soal narasi pembubaran MUI > berkaitan dengan islamofobia, atau tepatnya orientalisme, sekiranya dapat > diafirmasi, atau setidaknya layak diperdebatkan lebih lanjut. > > Sebagai penutup, MUI sebagai organisasi keagamaan di Indonesia, yang lahir > dan asli terbentuk melalui kearifan lokal nusantara, harus menjadi > katalisator untuk berusaha merekatkan persatuan dalam kebinekaan. Alih-alih > merespons keras narasi pembubaran, MUI sekiranya lebih tepat memanfaatkan > momen ini untuk berbenah dan menjaga *raison d’etre*-nya. (I76) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/37CA074E2968410FA7ACFE157B376D91%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/37CA074E2968410FA7ACFE157B376D91%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAEaUOgtL6WmGg8c9dO-Pa_oF0i_i53GMX54Fa5C4%3Dd4A5Rj4gQ%40mail.gmail.com.
