MUI tidak menjamin umat masuk surga jadi apa gunanya?

On Wed, Nov 24, 2021 at 1:52 AM Ronggo Gmail <[email protected]> wrote:

> Tdk ada islamphobia yang ada malah Jokowiphobia.
>
> ???
>
> On Wed, Nov 24, 2021, 06:59 Chan CT <[email protected]> wrote:
>
>> Narasi Pembubaran MUI, Islamofobia?
>> *I76 * <https://www.pinterpolitik.com/author/i76>*- Tuesday, November
>> 23, 2021 22:59*
>>
>> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/narasi-pembubaran-mui-islamofobia
>> *Foto: Times Indonesia*
>>
>> *7 min read*
>>
>> *Mencuatnya tagar #BubarkanMUI di media sosial merupakan buntut dari
>> protes warganet tentang indikasi terorisme dalam tubuh lembaga umat Islam
>> ini. Polemik narasi pembubaran MUI diwarnai  dengan berbagai nalar-nalar
>> yang beragam. Muncul pertanyaan sensitif di antara nalar-nalar tersebut,
>> mungkinkah narasi ini disebabkan karena islamofobia?*
>> ------------------------------
>>
>> *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/>
>>
>> Narasi pembubaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) bergema di media sosial
>> dengan tagar #BubarkanMUI. Masifnya tagar bubarkan MUI ini buntut dari
>> adanya salah satu pengurus MUI yang ditangkap Densus 88 karena diduga
>> terlibat terorisme, yaitu Zain An-Najah yang kini telah dinonaktifkan dari
>> anggota Komisi Fatwa MUI.
>>
>> Banyak yang menilai ini sebagai fenomena delegitimasi MUI sebagai
>> institusi umat Islam yang telah lama berdiri dan mempunyai pengaruh yang
>> kokoh bagi bangsa Indonesia. Akibatnya, banyak tokoh-tokoh yang bereaksi
>> untuk menetralisir narasi pembubaran MUI.
>>
>> Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko
>> Polhukam) mengatakan sepenuhnya memang karena ada permasalahan. Jangan
>> sampai diartikan dengan penyerangan aparat terhadap MUI. Teroris bisa
>> ditangkap di mana pun, di hutan, *mall*, rumah, gereja, dan masjid.
>> Kalau aparat diam dan terjadi sesuatu bisa dituding kecolongan akan ada
>> proses hukum dan pembuktian secara terbuka.
>>
>>
>>
>> *Baca Juga: MUI Kritik SKB, Manuver Tersirat Ma’ruf Amin?
>> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mui-kritik-skb-manuver-tersirat-maruf-amin>*
>>
>>
>>
>> Mahfud meminta tak ada pihak yang memprovokasi soal isu pembubaran MUI.
>> Menurutnya, itu semua provokasi yang bersumber dari khayalan, bukan dari
>> pemahaman atas peristiwa.
>>
>> Tidak hanya itu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan
>> bereaksi dengan mengatakan, tuntutan pembubaran MUI berlebihan. MUI penting
>> sekali untuk bangsa dan negara, kontribusinya banyak untuk menjaga umat dan
>> nilai-nilai luhur agama bagi kehidupan kita bermasyarakat.
>>
>> Teten Masduki, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, juga ikut
>> berkomentar, bahwa jika terdapat oknum yang terlibat tentu saja tidak bisa
>> dikatakan bahwa MUI harus dibubarkan. Sebenarnya itu tidak ada kaitan
>> langsung dengan MUI, itu pribadi, terangnya.
>>
>> Dari komentar-komentar di atas, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan
>> antara oknum terduga terorisme yang merupakan pengurus MUI, dengan MUI
>> sebagai sebuah lembaga. Seperti apa konstruksi nalar terkait hal ini?
>>   *Meraba Penalaran*
>>
>> Nalar yang membawa narasi pembubaran MUI, pada dasarnya bertolak pada
>> semacam *labelling *terorisme terhadap MUI. George Herbert Mead dalam
>> bukunya *Mind, Self, and Society*, menggambarkan tentang teori interaksi
>> simbolik yang mengilhami lahirnya* labelling theory* atau teori
>> penjulukan yang dapat disebut juga sebagai reaksi sosial. Mead menyebut
>> proses *labbeling *ini lahir dari dunia orang-orang yang menyimpang (
>> *devians*).
>>
>> Teori interaksi simbolik, menggambarkan perilaku manusia yang belajar
>> memainkan peran dan mengasumsikan identitas yang relevan dengan peran-peran
>> dalam sebuah masyarakat. Munculnya penjulukan atau *lebelling *disebabkan
>> oleh sebuah peristiwa sosial yang mengandaikan terjadinya suatu
>> penyimpangan.
>>
>> Penyimpangan dalam konteks ini tentunya terorisme. Masyarakat menilai MUI
>> sebagai lembaga yang luhur karena punya peran mengagregasikan kepentingan
>> umat Islam. Tapi, muncul oknum yang terduga teroris.
>>
>> Namun, seperti yang dikemukakan berbagai pihak, *labelling *terhadap MUI
>> sepenuhnya tidak dapat diterima. Jika menelisik menggunakan ilmu logika,
>> kekeliruan simpulan tersebut berakar pada kesalahan penalaran yang disebut
>> dengan “kuantifikasi tersembunyi”.
>>
>> Yohanes Pande Hayon dalam bukunya *Logika: Prinsip-prinsip Bernalar
>> Tepat, Lurus, dan Teratur, *menyebutkan kuantifikasi tersembunyi adalah
>> bentuk proposisi atau simpulan yang tidak tegas menunjuk jumlah atau
>> kuantitas objeknya. Kuantifikasi tersembunyi dibagi ke dalam dua jenis,
>> yakni “komposisi” dan “divisi”.
>>
>> Komposisi digambarkan ketika seseorang menilai anggapan yang berlaku pada
>> individu atau sebagian kelompok (parsial), pasti berlaku pada seluruh
>> kelompok secara menyeluruh (kolektif). Sementara divisi terjadi ketika
>> seseorang menilai anggapan pada suatu kelompok pasti terjadi pada semua
>> individu dalam kelompok tersebut.
>>
>>
>>
>> *Baca Juga: Intoleransi Mana Yang Dimaksud Jokowi?
>> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/intoleransi-mana-yang-dimaksud-jokowi>*
>>
>>
>>
>> Pada kasus narasi pembubaran MUI, jenis komposisi yang terjadi, yakni
>> kasus salah satu pengurus MUI yang ditangkap Densus 88, kemudian
>> disimpulkan untuk menyebutkan MUI adalah lembaga terindikasi terorisme.
>>
>> Amirsyah, Sekretaris jenderal (Sekjen) MUI, juga mengatakan narasi
>> pembubaran MUI sangat naif dan tidak masuk akal. Logikanya, jika ada warga
>> negara terduga teroris, Indonesia tak akan bubar. Jika ada oknum menteri
>> yang terduga korupsi, maka Indonesia tetap utuh, demikian juga jika ada
>> oknum TNI/Polri yang melanggar peraturan-perundangan-undangan, maka
>> TNI/Polri tetap utuh untuk mengawal NKRI.
>>
>> Komentar Amirsyah dapat menjadi contoh logika penalaran kuantifikasi
>> tersembunyi jenis komposisi yang telah dijelaskan di atas.
>>
>> Setelah membedah penalaran keliru tersebut, mungkinkah ada intrik politik
>> di balik mencuatnya tagar pembubaran MUI?
>>   *Memotret Framing Islamofobia*
>>
>> Din Syamsuddin, Cendekiawan Muslim mantan Ketua Dewan Pertimbangan MUI,
>> mengatakan terdapat pihak tertentu yang mengkampanyekan pembubaran MUI.
>> Menurutnya, desakan dari pihak tertentu untuk membubarkan MUI tidak perlu
>> ditanggapi serius.
>>
>> Setidaknya, terdapat dua alasan untuk itu. *Pertama*, terdapat kelompok
>> anti-Islam atau islamofobia yang merasa mendapat dukungan oleh rezim
>> berkuasa yang diam saja dan terkesan membiarkannya.
>>
>> *Kedua*, desakan itu palsu, yakni hanya merupakan manuver untuk
>> mengalihkan perhatian (pengalihan isu) dari masalah besar yang sedang
>> dihadapi bangsa, atau pelanggaran etika kekuasaan yang sedang disegerakan
>> penyelesaiannya.
>>
>> Dua alasan yang disampaikan Din, sejatinya mengandaikan prinsip
>> kausalitas (sebab-akibat). Sederhananya, narasi pembubaran MUI disebabkan
>> oleh dua kemungkinan, yaitu, karena islamofobia atau karena pengalihan isu.
>> Rasanya, di antara kedua hal tersebut, yang menarik untuk ditelisik lebih
>> lanjut adalah alasan pertama, yaitu tentang islamofobia.
>>
>> Jika melihat sejarah istilah islamofobia, maka kita akan mulai dari
>> peristiwa-peristiwa yang berawal dari pandangan Barat, terutama Amerika dan
>> Eropa, tentang pemahaman mereka akan gagasan agama dan masyarakat Islam.
>>
>> Karen Armstrong dalam bukunya *Islamofobia*, menjelaskan bahwa
>> islamofobia masih menjadi momok menakutkan untuk sebagian kalangan,
>> termasuk kalangan Barat. Salah satu penyebabnya adalah kemunculan
>> representasi Islam yang keras melalui fenomena terorisme, ISIS, dan
>> wahabisme yang dianggap sebagian orang sebagai paham radikalisme. Sumber
>> pengetahuan yang representatif terkait hal tersebut, tentu saja media massa.
>>
>> Walter Lippman dalam bukunya *Public Opinion*, menjelaskan media masa
>> juga memiliki sejumlah fungsi, salah satunya *cultural transmission*.
>> Terkait dengan fungsi ini, dalil populernya ialah “*world outside and
>> pictures in our heads*”, mengartikan bahwa media berfungsi sebagai
>> pembentuk makna.
>>
>> Kemudian, melalui interpretasinya mengenai berbagai peristiwa secara
>> mengakar dapat mengubah interpretasi orang tentang suatu realitas dan pola
>> tindakan mereka. Sederhananya, pandangan terhadap realita ditampilkan oleh
>> media dengan sebuah cara tertentu.
>>
>> Dalam pandangan media Barat, stereotip yang terbangun terhadap Muslim
>> adalah kesan radikal yang kerap melakukan kekerasan dan anti perdamaian.
>> Muslim kerap dianggap sebagai penganut Islam konservatif. Muslim juga
>> dipandang sebagai golongan yang lemah sementara Barat dipersepsikan
>> superior.
>>
>>
>>
>> *Baca Juga:* *Rizieq dan FPI Bangkitkan Islamofobia?
>> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/rizieq-dan-fpi-bangkitkan-islamofobia>*
>>
>>
>>
>> Edward W. Said dalam bukunya berjudul *Orientalisme, *menerangkan media
>> Barat dalam hal ini Eropa dan Amerika, kerap merepresentasikan Islam dengan
>> acuannya sendiri. Umumnya, yang terjadi adalah hegemoni. Adapun sisi yang
>> biasa dilihat oleh media Barat yaitu, *pertama*, Islam dan kekerasan;
>> *kedua*, Islam dan perdamaian; *ketiga*, Islam dan sifat lemah.
>>
>> Dengan gambaran yang timpang tentang Islam, bermuncul pemahaman yang
>> sempit dan membentuk semacam ketakutan yang kita sebut dengan istilah
>> islamofobia. Sekalipun dalam masyarakat Islam, seperti di Indonesia,
>> islamofobia dapat hadir di tengah masyarakat yang terikat oleh makna yang
>> dibuat oleh media, tak terkecuali media sosial maupun media massa.
>>
>> Jika mengikuti perdebatan di media sosial, paradigma orientalisme yang
>> memandang Barat lebih superior dari Timur, termasuk Islam, tidak jarang
>> ditemukan. Dalam perdebatan politik publik sekalipun, berbagai politisi
>> juga tidak jarang membawa narasi betapa berbahayanya intoleransi dan Islam
>> konservatif yang kerap dipersepsikan sebagai “ancaman”.
>>
>> Dengan demikian, pandangan Din Syamsuddin soal narasi pembubaran MUI
>> berkaitan dengan islamofobia, atau tepatnya orientalisme, sekiranya dapat
>> diafirmasi, atau setidaknya layak diperdebatkan lebih lanjut.
>>
>> Sebagai penutup, MUI sebagai organisasi keagamaan di Indonesia, yang
>> lahir dan asli terbentuk melalui kearifan lokal nusantara, harus menjadi
>> katalisator untuk berusaha merekatkan persatuan dalam kebinekaan. Alih-alih
>> merespons keras narasi pembubaran, MUI sekiranya lebih tepat memanfaatkan
>> momen ini untuk berbenah dan menjaga *raison d’etre*-nya. (I76)
>>
>> --
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
>> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/37CA074E2968410FA7ACFE157B376D91%40A10Live
>> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/37CA074E2968410FA7ACFE157B376D91%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
>> .
>>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAEaUOgtL6WmGg8c9dO-Pa_oF0i_i53GMX54Fa5C4%3Dd4A5Rj4gQ%40mail.gmail.com
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAEaUOgtL6WmGg8c9dO-Pa_oF0i_i53GMX54Fa5C4%3Dd4A5Rj4gQ%40mail.gmail.com?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2B7kZB%2BgRWAnF7P6_pJEeiW7f8K6sChrv%3DE7wAm_diuxA%40mail.gmail.com.

Reply via email to